Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Rasa Penasaran Nindi


__ADS_3

Erika meringis sakit dan langsung terduduk disebuah kursi halte dipinggir jalan. Dia baru saja pulang dari salah satu sekolah dasar untuk mendaftarkan Akbar sekolah. Hari ini dia libur lagi bekerja, dan seperti nya Erika memang tidak akan lagi bekerja di cafe, mengingat dia yang sepertinya tidak sanggup untuk bekerja terlalu lelah lagi.


"Kak, sakit lagi pinggang nya ya?" tanya Akbar nampak khawatir. Apalagi ketika melihat wajah Erika yang memucat.


"Iya, kamu tolong belikan air putih dulu ya. Tuh disana" tunjuk Erika pada sebuah kedai kecil dipinggir jalan.


Akbar mengangguk dan meraih uang pemberian Erika. Dia berlari dengan cepat untuk membeli air minum. Sedangkan Erika menunggu bersama Ayu.


"Kakak, kenapa gak beli obat aja?" tanya Ayu. Dia memandang Erika dengan sedih.


Erika tersenyum dan mengusap kepala Ayu dengan lembut.


"Nanti kakak beli obat. Jangan khawatir. Kakak gak apa apa kok" jawab Erika.


Ya, sepertinya dia memang harus membeli obat nanti. Setidaknya obat pereda nyeri untuk meringankan rasa sakit ini. Jika begini terus, bagaimana dia bisa mencari uang. Setidaknya dia bisa melukis sekarang, lumayan hasil karya nya dibayar cukup tinggi.


Tin tin


Bunyi klakson mobil membuat Erika dan Ayu terkesiap. Sebuah mobil pink terparkir didepan mereka.


Siapa???


Erika mengerjapkan matanya saat melihat ternyata Nindi yang keluar dari dalam mobil. Gadis cantik itu nampak tersenyum ramah padanya. Padahal Erika sudah membuat dia celaka, tapi masih saja ramah seperti ini. Dan itu membuat Erika malu sebenarnya.


"Rik, ngapain kamu disini?" tanya Nindi seraya mendekati Erika.


Erika tersenyum dan menggeleng.


"Enggak ada, cuma jalan jalan aja" jawab Erika.


Nindi mengangguk dan langsung duduk disamping Ayu.


"Hai... kamu cantik. Siapa nama kamu?" tanya Nindi pada Ayu


"Ayu kak" jawab Ayu


"Wah nama yang bagus. Jalan jalan kok siang begini sih Rik. Panas tahu" ujar Nindi.


"Kak Erika habis daftarin kakak Ayu sekolah kak" sahut Ayu.


Erika langsung tersenyum masam mendengar itu.


"Ooohhh pantesan keluar siang siang. Terus itu kenapa wajah kamu pucat. Lagi sakit?" tanya Nindi lagi


"Enggak apa apa. Kamu ngapain disini?" tanya Erika langsung. Jangan sampai Ayu membocorkan lagi tentang dia. Erika sungguh tidak ingin dikasihani.


"Jalan aja habis nyebar undangan. Oh iya, ini undangan buat kamu. Jangan lupa datang ya." ucap Nindi seraya mengeluarkan selembar undangan cantik dari dalam tas nya dan menyerahkan nya pada Erika.

__ADS_1


Erika menerima nya dengan pelan.


"Putri" gumam Erika


Nindi langsung mengangguk cepat.


"Iya, dia mau nikah sama menejer di showroom dokter Danar. Kamu harus datang nanti" kata Nindi lagi


"Insha Allah" jawab Erika.


"Oh iya Rik, tadi pagi kami jenguk papa kamu dirumah sakit. Kok kamu gak ada, kami tanya sama mama kamu juga mereka bilang mereka gak tahu kamu dimana?" tanya Nindi


Erika tertegun. Harus menjawab apa dia???


"Aku kan sedang mengantar kakak Ayu daftar sekolah " jawab Erika dengan senyum canggung nya.


"Tapi mereka bilang kamu udah lama gak pulang kerumah dan ngeliat mereka"


deg


Jantung Erika langsung tertohok mendengar itu.


Kenapa tega sekali, padahal kemarin dia datang tapi mereka usir. Apa Nindi yang berbohong?


"Kamu dimana sekarang?" tanya Nindi


"Kak... ini air nya. Tadi Akbar juga beli obat untuk kakak" ucap Akbar.


Erika tersenyum dan mengangguk.


Dan tiba tiba matanya memandang sebuah bis yang lewat.


"Nin... aku pamit dulu ya. Udah siang sekali. Terimakasih undangannya. Jika ada waktu aku pasti datang" pamit Erika seraya beranjak dan sedikit meringis.


Nindi memandang Erika dengan heran.


"Yuk... kita naik bis aja" ajak Erika pada Akbar dan Ayu. Dan saat bis itu berhenti, Akbar dan Ayu langsung naik duluan.


"Mari Nin. Assalamualaikum" pamit Erika. Dan setelah itu dia langsung naik kedalam bis tanpa menunggu jawaban dari Nindi.


"Waalaikumsalam" gumam Nindi seraya memandang kepergian Erika yang sudah pergi bersama bis itu.


"Sebenarnya apa yang udah terjadi sama Erika?" gumam Nindi terlihat bingung.


Wajah Erika pucat, sepertinya dia sedang sakit. Dan lagi, semalam dia bersama Putri menjenguk papa Erika dirumah sakit, bersamaan dengan Maira yang juga cek kandungan. Dan aneh nya ketika menjenguk papa Erika, mereka berkata jika Erika sudah berbulan bulan tidak pulang kerumah. Tidak ada menjenguk mereka.


Aneh sekali kan...

__ADS_1


Erika anak yang manja dan sangat dekat dengan orang tuanya. Mustahil sekali jika dia pergi begitu saja. Apalagi sekarang bisa dilihat jika Erika sudah berubah menjadi lebih baik. Meskipun sekarang Erika terlihat lebih sederhana. Ya, tidak ada lagi Erika dengan pakaian dan barang branded nya. Sekarang hanya Erika dengan baju muslimah nya yang Nindi tahu itu adalah barang murah yang tersebar dipasar pasar pinggir jalan.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


Ah kenapa Nindi jadi ingin tahu tentang kehidupan gadis itu?


Apalagi ketika melihat Erika yang selalu bersama kedua anak itu. Yang dia yakin jika anak itu pastilah hanya anak jalanan.


Sungguh... dia benar benar penasaran.


..


Sementara didalam bis... Erika duduk bersandar setelah meminum obat dari Akbar. Obat pereda nyeri yang tidak tahu entah dari mana Akbar mendapatkan itu.


Erika masih terngiang dengan perkataan Nindi tadi yang mengatakan jika orang tuanya yang sudah lama tidak bertemu dengan nya. Kenapa mereka bisa berkata seperti itu.


Kenapa mereka kejam sekali. Erika datang tapi mereka usir dengan tega, dan berkata pada orang lain malah sebaliknya.


Tidak mungkin Nindi berbohong kan..


Uh... ini menyedihkan sekali.


Mata Erika kembali berkaca kaca sekarang. Kenapa sesakit ini ya Allah. Tidak cukupkah dengan penyakit yang dia derita. Kenapa ditambah lagi dengan cobaan dari orang tuanya?


Lihatlah, jangankan meminta uang untuk biaya pengobatan nya, untuk datang dan melepas rindu saja dia sudah di usir.


Erika menghela nafas perih dan memejamkan matanya, hingga bulir air itu menetes diwajah nya yang pucat. Namun segera dia hapus kembali.


Apa jika dia mati mereka akan senang?


Tidak tahukah mereka jika Erika takut sekarang. Takut sekali.


"Kakak" panggil Ayu yang duduk disebelahnya.


Erika menoleh pada Ayu dengan pandangan sendu nya.


"Kakak nangis?" tanya Ayu.


Erika tersenyum dan menggeleng.


"Enggak" jawab Erika


"Jangan menangis, nanti kalau nangis kakak jelek loh" ucap Ayu. Membuat Erika langsung tertawa kecil namun matanya kembali berair. Dia merangkul bahu Ayu dan mengusap kepala nya.


Yah, untung saja dia punya kedua anak ini. Setidaknya ada yang mengkhawatirkan dia kan.


"Kakak enggak nangis, kakak cuma capek" jawab Erika.

__ADS_1


Lelah... lelah sekali....


__ADS_2