
Erika memandang gedung tempat pernikahan Putri yang sudah dipenuhi oleh orang orang yang hadir.
Bahkan bisa dia lihat jika banyak teman kuliah nya dulu yang datang. Apalagi hari sudah mulai sore jadi muda mudi juga mulai berdatangan.
Dia menarik nafasnya dalam dalam. Rasanya benar benar aneh dan canggung sekali. Bukan takut bertemu Maira dan kedua sahabatnya, tapi Erika takut bertemu dengan anak anak kampus yang sudah pasti akan menghujatnya lagi.
Dan bagaimana jika itu terjadi?
Apa dia tidak akan mempermalukan Ervan?
Apa dia tidak akan merusak suasana pernikahan ini nantinya?
"Ayo turun"
Suara Ervan langsung mengejutkan lamunan Erika.
Dia menoleh kearah Ervan sejenak dan mengangguk pelan.
"Jangan gugup, anggap saja kamu tidak mengenal mereka. Kamu bukan Erika yang dulu. Sekarang, kamu adalah orang baru yang jauh lebih baik dari Erika yang mereka kenal" ujar Ervan.
Erika tersenyum tipis dan mengangguk. Meski ragu, tapi sudah terlanjur sampai disini. Jadi mau tidak mau dia memang sudah harus turun.
Semoga fikiran buruknya tidak sampai menjadi kenyataan.
Erika langsung membuka pintu dan mulai turun dari mobil.
Seketika jantung nya langsung berdenyut dengan ngilu saat berjalan menuju lobi gedung. Dimana tatapan tatapan orang orang yang mengenal Ervan langsung tertuju padanya.
Entah kemana Erika yang tidak perduli dengan perkataan orang orang. Entah kemana Erika yang terkesan cuek dan begitu angkuh dulu. Kenapa sekarang rasanya sangat takut melihat orang orang ini???
Erika berjalan dengan ragu disamping Ervan. Lelaki ini nampak santai dengan wajah cool nya seperti biasa. Apalagi dia yang dikenal sebagai pangeran kampus, sudah pasti kedatangan nya pasti sudah dinantikan oleh semua orang.
"Van... Lo sama Erika?" tanya Ciko yang nampak terkejut. Dia kelihatan nya baru datang juga.
"Iya" jawab Ervan.
"Gile, pantas aja gue ajak bareng Lo gak mau. Sialan emang. Sejak kapan Lo modusin Erika lagi ha" ledek Ciko
Ervan langsung berdecak kesal dan mendengus gerah seraya mereka yang berjalan kemeja panitia.
"Berisik deh Cik. Sana Lo ah" usir Ervan pada Ciko.
Ciko tergelak dengan mata yang melirik Erika yang nampak terdiam dan canggung.
"Erika..." panggil seseorang
Erika langsung menoleh.
"Bener, Lo Erika. Wah gila... udah lama gak kelihatan Lo berubah banget. Lo udah taubat Rik?" tanya seorang gadis dengan gaya nya yang elegan.
Olive, teman dekat Erika dulu nya. Dia bersama dua teman nya yang lain langsung mendekat kearah Erika dan memperhatikan penampilan Erika dengan lekat. Bahkan terkesan sinis.
"Kalian apa kabar?" tanya Erika.
"Baik dong. Gila ya gak nyangka banget ketemu sama Lo"
"Kayak nya yang digosipin anak anak kalau Lo udah gak tinggal dirumah orang tua Lo lagi benar kan Rik?" tanya teman Erika yang lain.
"Iya, katanya Lo udah susah sekarang. bahkan tinggal dirumah kumuh"
"Miris banget ya, padahal dulu gayanya setinggi langit. Tapi sekarang malah begini" ucap Olive.
Erika hanya bisa tersenyum getir mendengar itu. Sudah dia duga.
"Bahkan gue kira Lo masih dipenjara Rik" sinis teman yang lain. Bahkan beberapa orang yang mengenal Erika langsung mendekat kearah mereka.
Dan tentunya juga dengan perkataan perkataan yang cukup membuat hati dan jantung Erika berdenyut sakit.
"Tapi kenapa bisa sama pangeran kampus. Lo pasti godain Ervan lagi kan. Padahal yang gue dengar pertunangan kalian kan udah dibatalin" tuding Olive.
__ADS_1
Ervan yang baru selesai mendata nama mereka langsung berjalan mendekat kearah Erika.
"Berisik saja kalian. Jangan membuat keributan disini. Kenapa memang nya kalau dia pergi sama gue?" tanya Ervan dengan wajah kesal nya.
"Ya apa Lo gak malu Deket sama mantan napi. Orang tuanya aja udah gak Sudi Nerima dia" sahut mereka.
Ervan tersenyum sinis memandang manusia manusia sok suci ini.
Dulu ketika Erika berada dipuncak kejayaan nya, mereka bagaikan semut yang mengerubuti nya. Tapi sekarang, disaat Erika jatuh dan terpuruk, jangan kan membantu, untuk melihat pun sudah tidak ingin lagi.
Menjijikkan memang.
"Gue malu karena masih satu kampus sama kalian. Orang orang munafik yang tahunya cuma cari muka doang. Kemari juga karena ngelihat Maira dan dokter Danar kan" tuding Ervan begitu sinis.
Maaf ya Allah.. Untuk sekarang dia serasa ingin memaki orang orang ini.
"Erika memang pernah buat salah, tapi setidaknya dia sadar sama kesalahan nya. Enggak seperti kalian. Tahunya cuma menghujat tapi tidak sadar diri" ucap Ervan lagi.
Erika bahkan sampai terperangah memandang Ervan.
"Sudah... kita masuk. Membuang buang waktu saja meladeni mereka"
Ervan langsung menarik tangan Erika masuk kedalam, meninggalkan teman teman mereka yang nampak terperangah takjub melihat Ervan yang membela Erika.
Bahkan Ciko juga sampai ternganga melihat sepupunya ini. Pasalnya dia tahu jika sejak dulu Ervan begitu membenci Erika. Tapi kenapa sekarang malah berubah sekali?
Bahkan bisa bisanya dia membela Erika dihadapan orang orang ini.
Wow.... menakjubkan!
Sesampainya didalam, Ervan langsung melepaskan tangan Erika dan berjalan dengan santai diatas karpet merah yang membentang sepanjang jalan menuju ke tempat pesta.
"Terimakasih Van" ucap Erika.
Ervan langsung menoleh ke arah Erika dan tersenyum tipis.
"Tidak perlu berterimakasih. Orang orang seperti mereka itu memang perlu diberi pelajaran sesekali" jawab Ervan.
"Sudahlah.. Aku tidak mempermasalahkan itu. Lebih baik sekarang pasang senyum mu. Aku tidak ingin terlihat buruk karena membawa gadis yang tidak bisa tersenyum" ujar Ervan
Erika langsung memandang nya dengan aneh.
"Aku meminta mu untuk tersenyum, bukan untuk melihatku" kata Ervan lagi
Erika langsung mengerucutkan bibirnya sekilas dan langsung memandang kedepan. Tapi senyum tipis langsung terbit diwajahnya.
Membuat Ervan yang melirik nya juga ikut tersenyum.
Tidak mudah jadi Erika, dia tahu itu. Bahkan saat sudah didalam pun mereka langsung disambut dengan pandangan pandangan mata yang sinis dan terkesan terkejut saat melihat Ervan datang bersama Erika.
"Tetaplah tersenyum, dan abaikan pandangan mereka. Kita kemari untuk mengucapkan selamat pada Putri" bisik Ervan.
Erika menghela nafas dan mengangguk pelan. Matanya memandang kedepan dimana Putri dan suaminya duduk dipelaminan yang dihias dengan sangat indah.
Ada Maira dan Nindi juga disana, sepertinya mereka akan foto foto.
Dan melihat itu, Ervan langsung membawa Erika menuju ke mereka.
"Apa gak nunggu nanti aja Van?" tanya Erika terlihat ragu.
"Sekarang aja. Kebetulan ada mereka. Mereka gak akan menghujat kamu seperti yang lain" jawab Ervan.
Erika terlihat ragu apalagi saat pandangan Maira dan Nindi yang langsung menuju kearahnya. Membuat Erika langsung tertunduk canggung. Tapi karena Ervan yang terus berjalan, membuat dia mau tidak mau langsung mengikutinya.
"Waahhh kalian udah Dateng. Aku kira gak jadi Dateng Van" sapa Nindi yang nampak cantik sore ini.
"Dateng lah, bisa diteror aku sama kalian kalau gak datang" Jawab Ervan.
"Erika, cantik banget kamu. Masha Allah, udah lama gak ketemu" ucap Maira seraya mengusap bahu Erika.
__ADS_1
Erika tersenyum malu dan memandang perut Maira yang sudah sangat besar.
"Kamu juga cantik Mai. Apalagi dengan perut ini. Sudah berapa bulan?" tanya Erika berbasa basi. Dia benar benar canggung diperlakukan seperti ini oleh mereka.
Apalagi mengingat bagaimana mereka dulunya.
"Udah mau delapan bulan" jawab Maira.
Erika tersenyum dan mengangguk. Kini dia menoleh pada Putri yang tersenyum padanya. Biasanya gadis inilah yang paling jutek memandang nya, tapi hari ini, dia terlihat begitu ramah.
"Selamat ya Put, semoga bahagia selalu" ucap Erika seraya menjulurkan tangan nya pada Putri.
"Aamiin. Terimakasih sudah mau datang. Nikmati pesta nya ya. Kalian cocok banget" puji Putri.
"Iya kan, mana kopelan lagi baju nya" sahut Nindi pula membuat mereka langsung tertawa.
Erika langsung memandang pakaian nya dan juga pakaian Ervan.
Kenapa dia baru sadar. Ervan juga memakai kemeja batik dengan motif biru seperti warna Bajunya.
Astaga ... apa Ervan sengaja?
"Aku memang sengaja. Biar gak kelihatan banget jomblo ngenes nya" jawab Ervan begitu santai.
Mata Erika langsung melebar mendengar itu. Bahkan dia langsung melirik kearah Maira dan dokter Danar dengan canggung.
"Ah... kamu nyindir aku Van" dengus Nindi. Membuat mereka kembali tertawa. Tertawa dengan lepas seolah tidak pernah terjadi sesuatu dimasa lalu mereka semua.
Erika bahkan tidak menyangka jika Maira dan kedua sahabatnya ini menyambut kedatangan nya dengan begitu ramah dan penuh senyuman. Padahal Erika sudah was was sejak diluar tadi.
"Selamat ya bang. Semoga bahagia selalu" ucap Ervan pada Dika.
"Terimakasih. Kalian juga harus bahagia" jawab Dika. Membuat mereka lagi lagi tertawa.
"Gila ya, udah disangka pasangan aja kami" gumam Ervan.
"Loh bukan ya" kata Dika dengan tawa nya.
"Calon... ya gak Rik" ucap Nindi seraya mengedip kan sebelah matanya.
Erika hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Udah ih... gimana kalau kita foto bareng. Udah lengkap nih. Capek udah aku berdiri lama lama" ajak Maira.
"Oke ayo. Yuk Rik" Nindi langsung menarik lengan Erika untuk berdiri disebelah nya, namun Erika nampak menolak.
"Kalian aja deh" ucap Erika terlihat canggung.
"Jangan dong. Untuk kenang kenangan. Ayo cepat. Nanti kita ngobrol lagi dibawah" ujar Maira.
"Udah ayo" ajak Ervan pula. Bahkan tanpa canggung dia langsung menarik tangan Erika.
"Ervan ..." tegur dokter Danar membuat mereka kembali tertawa.
"Gak bisa sembarangan Van. Halalin dulu, masih ada pawang nya noh" sahut Dika.
"Hehe... reflek dokter" jawab Ervan dengan senyum canggung nya.
Dokter Danar hanya menggeleng pelan melihatnya.
"Mas... fotoin ya" seru Nindi pada fotografer yang ada didepan.
Dan akhirnya mereka berfoto bersama sama. Dengan senyum dan tawa yang lepas. Bahkan mata Erika sampai berkaca kaca dengan suasana yang tidak pernah dia bayangkan ini.
Yang awalnya dia ragu, tapi sekarang, malah dia merasa begitu bahagia.
Orang orang yang dulu dia jahati, tapi sekarang mereka lah yang menerima nya dengan setulus hati.
Masha Allah...
__ADS_1
Ampuni lah segala kesalahannya dulu ya Allah.
Dan terimakasih untuk semua kebaikan yang Erika dapatkan sekarang.