Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Berbahagialah Maira


__ADS_3

Pagi ini Maira sudah ada diperjalanan menuju kampusnya. Maira diantar oleh dokter Danar. Entah kenapa dia begitu malas untuk naik motor. Padahal motor Maira sudah ada dirumah.


Mata Maira benar benar masih mengantuk. Malam tadi dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan.. bukan.. bukan tidak bisa tidur, namun terlalu menikmati waktu yang sangat indah untuk dikenang.


Yah, malam dimana dia menyerahkan dirinya pada dokter Danar.


Ya ampun, jika mengingat itu rasanya Maira benar benar tidak bisa untuk berhenti tersenyum. Dia kira bakalan sakit, tapi perlakuan dokter Danar yang lembut sungguh membuatnya terbuai.


Tidak ada malam yang paling indah selain malam tadi. Malam dimana mereka saling melepaskan hasrat masing masing. Sungguh, meski lelah, namun Maira merasakan nikmat dan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan.


"Kenapa, kok lesu gitu?" tanya dokter Danar seraya mengusap kepala Maira sekilas, dia masih fokus pada setir mobilnya.


"Ngantuk" jawab Maira seraya menoleh pada dokter Danar. Yang kini wajahnya semakin terlihat berseri seri, entah karena pemandangan Maira saja. Tapi karena malam tadi, semua nampak berubah sekarang.


Ah... entah lah. Tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Malam pertama yang indah.


Dokter Danar tersenyum dan melirik pada Maira sekilas.


"Kayak nya mas buat kamu lelah. Maaf ya, padahal hari ini kamu masuk kuliah" ucap dokter Danar. Dia malah merasa bersalah, aneh sekali. Padahal Maira senang senang saja.


"Gak apa apa mas. Maira juga senang kok" jawab Maira dengan tawa kecil nya. Bahkan dia langsung memandang kedepan karena wajahnya yang memanas sekarang.


Mengenang kisah malam tadi sungguh membuat nya malu. Dan sekarang masih terbayang bayang saja bagaimana gagah nya dokter Danar.


Ya Allah... ampun.


Dokter Danar tertawa kecil mendengar itu.


"Mau nya setiap malam ya" ucap dokter Danar.


Maira langsung menoleh pada dokter Danar dengan wajah yang terperangah.


"Setiap malam?" gumam nya.


Dokter Danar kembali tertawa kecil.


"Bercanda sayang. Kalau setiap malam nanti kamu gak bisa jalan" sahut dokter Danar.


Maira langsung mencebikkan bibirnya dengan gemas.


"Mana ada begitu" ucap Maira


"Mau dicoba" goda dokter Danar


"Boleh" jawab Maira dengan tawa nya. Membuat dokter Danar kembali tertawa. Dia terlihat bahagia karena telah memiliki Maira sepenuhnya. Dokter Danar kira, jika hubungan mereka akan terus rumit dan butuh kesabaran ekstra, namun ternyata Maira sadar lebih cepat. Dan tentunya dokter Danar benar benar senang. Tugas nya adalah tinggal membimbing Maira untuk menjadi yang lebih baik.


"Jangan marah kalau gak bisa jalan" ucap dokter Danar lagi.


"Nanti mas yang gak bisa kerja" balas Maira.


"Tidak juga, mas sudah siapkan vitamin untuk kita" jawab dokter Danar.


Dan sungguh Maira menjadi tidak bisa untuk berhenti tertawa. Apalagi wajahnya yang sudah memerah bagai tomat.


"Kenapa wajah kamu merah begitu. Pasti membayangkan hal yang enggak enggak kan" goda dokter Danar.


"Gimana gak dibayangin, orang cerita nya menjurus kesitu. Mas yang ngajarin Maira begini" sahut Maira. Dan kali ini dokter Danar yang tertawa kecil, seraya dia yang memutar setir mobilnya memasuki area kampus Maira.


"Kamu kalau gak diajarin gak tahu sayang. Yasudah, sudah sampai. Mau mas antar sampai dalam atau disini aja?" tanya dokter Danar.

__ADS_1


"Disini aja deh. Nanti kalau mas masuk anak anak pada heboh" Jawab Maira.


"Yasudah, siang nanti mas jemput lagi. Belajar yang benar. Jangan nakal lagi" ujar dokter Danar.


"Iya, Maira mana pernah nakal" jawab Maira seraya meraih tangan dokter Danar dan mencium nya dengan lembut.


Dokter Danar tersenyum dan meraih kepala Maira. Mengecup kening nya dengan rasa sayang yang begitu dalam, serta tidak lupa mendoakan yang terbaik untuk istri kecil nya ini.


"Mas juga hati hati ya" ucap Maira


"Iya sayang" jawab dokter Danar.


Maira menoleh kearah sekitar, cukup sepi didepan gerbang itu.


"Mas" panggil Maira seraya melepaskan sabuk pengaman nya.


"Ya" sahut dokter Danar.


"Kemari sebentar" pinta Maira seraya mendekatkan tubuhnya pada dokter Danar.


Dokter Danar mengernyit bingung. Namun dia juga langsung mendekatkan tubuhnya pada Maira.


cup


"Maira pergi ya. Bye" ucap Maira yang langsung berlari keluar setelah mengecup pipi dokter Danar sekilas.


Dokter Danar sedikit terperangah, namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng dengan senyum lucu nya. Memandang Maira yang sudah berlari masuk kedalam kampus.


Istri kecilnya ini mulai nakal ternyata.


"Ya Allah.. tolong jaga dia" gumam dokter Danar.


...


Baru kali ini Maira merasakan bahagia yang lahir dan batin dia rasakan. Dulu, Maira pernah berkeyakinan jika dia hanya akan memberikan apa yang menjadi harta paling berharga nya hanya untuk suami yang dia cintai. Dan sekarang, ternyata Maira malah memberikan itu pada dokter Danar.


Apa mungkin Maira sudah mencintai dokter Danar dan melupakan....


"Ervan" gumam Maira yang terkejut saat tiba tiba tangan nya ditarik oleh Ervan.


"Van... apaan lepas" seru Maira seraya menghempaskan tangan Ervan.


Saat ini mereka sudah berada di koridor kampus yang masih sepi.


"Maira... jawab pertanyaan aku. Apa kamu memang sudah menikah dengan dok...."


"Iya, aku memang udah nikah sama dia" sahut Maira dengan cepat, bahkan sebelum Ervan menyelesaikan perkataan nya.


"Kenapa kamu tega Mai" lirih Ervan. Dan dapat Maira lihat jika wajah Ervan begitu kusut saat ini. Pandangan mata tajam itu benar benar penuh kekecewaan dan kesedihan.


Maira iba, karena bagaimana pun Ervan pernah menjadi orang yang paling dekat dengan nya.


"Van... aku memang salah karena aku udah khianati cinta kita. Tapi dulu aku nerima pernikahan ini karena terpaksa" ungkap Maira. Dia bersandar didinding dengan pandangan nanar memandang tembok yang ada didepan nya. Sedangkan Ervan masih berdiri disamping Maira.


"Aku terpaksa karena ini adalah permintaan ayah" ucap Maira lagi.


"Apa kamu gak pernah mikirin aku Mai. Aku nungguin kamu disini, namun nyatanya kamu malah udah menikah" gumam Ervan yang juga ikut bersandar didinding yang sama dengan Maira.


Maira tersenyum getir mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Kamu gak tahu dimana hancurnya hati aku saat itu Van. Aku nangis setiap malam karena gak terima dengan kenyataan ini. Aku cinta kamu, tapi aku malah harus nikah sama dokter Danar" ungkap Maira.


Ervan langsung menoleh pada Maira.


"Aku kembali ke sini karena aku masih ingin terus sama kamu. Memperjuangkan hubungan kita" ucap Maira lagi


"Lalu kenapa kamu gak ngelepasin dia dan malah ninggalin aku?" tanya Ervan.


Namun Maira malah menggeleng pelan.


"Dokter Danar ngasih waktu tiga bulan untuk aku bisa nerima dia atau enggak. Dan setelah tiga bulan itu, aku berhak milih, milih dia atau kamu" ungkap Maira.


"Aku ingin milih kamu Van, karena aku cintanya sama kamu. Tapi lihat yang kamu perbuat" kini Maira memandang Ervan dengan lekat.


"Kamu nyuruh aku berjuang sendirian Van, apa itu adil buat aku???" tanya Maira


Ervan tertunduk sedih.


"Aku masih cinta sama kamu Mai" ucap Ervan.


"Tapi kita udah gak bisa bersama lagi Van. Aku udah mutusin buat milih dokter Danar. Dia suami ku, dia jodoh yang Allah kirim buat aku" sahut Maira


"Aku sadar, kalau kita sama sama terus, kita gak akan pernah bahagia Van. Meski kita sama sama cinta, tapi gak ada kebaikan yang tercipta dihubungan kita." ungkap Maira lagi.


"Mai... apa udah gak ada harapan lagi buat aku?" tanya Ervan memandang Maira dengan lekat. Hatinya benar benar sakit sekarang. Dia tahu yang dikatakan Maira semua benar. Tapi kenapa perasaan nya ini masih selalu ada untuk Maira.


"Maaf Van. Aku udah nyerahin semua nya untuk dokter Danar" ucap Maira.


Ervan langsung tertunduk dengan mata yang berkaca kaca.


Sakit sekali....


"Van.." panggil Maira


Namun Ervan masih diam tanpa bisa berkata apa apa lagi. Dia masih mencoba menahan rasa sakit dihatinya.


"Aku salah, aku minta maaf. Tapi aku yakin, kalau jodoh, udah ada yang mengatur. Aku ingin kita mendapatkan yang terbaik Van. Aku ingin kita sama sama berubah menjadi lebih baik lagi. Meski kita gak bersama lagi" ucap Maira.


"Maira... apa kamu bahagia bersama dia?" tanya Ervan.


Maira tersenyum tipis dan mengangguk.


"Aku bahagia. Meski bukan seperti yang aku mau. Tapi dia orang yang aku butuhkan Van. Dia yang bisa membimbing aku untuk lebih baik lagi." jawab Maira.


"Aku selalu berdoa, supaya kamu juga bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Yang bisa memberi kebahagiaan dan kebaikan buat kamu" kata Maira, masih memandang wajah sendu Ervan.


"Terimaksih untuk semua nya. Hubungan kita hanya sebatas ini Van. Jaga diri kamu baik baik ya" ucap Maira lagi.


Dia tersenyum tipis seraya mengusap air matanya yang tiba tiba jatuh.


Ervan juga mendengus senyum dan mengangguk. Matanya memerah dan sangat ingin menangis. Namun dia tahan sebisa mungkin.


"Maafin aku Maira. Tapi aku pasti bahagia kalau kamu bahagia. Aku senang kamu dapetin dokter Danar. Dia orang baik. Dan aku udah ngerelain kamu sama dia. Meski aku gak akan bisa ngelepasin cinta ini gitu aja" ungkap Ervan


"Kamu pasti bisa Van." ucap Maira.


Ervan hanya menggeleng dan memalingkan wajahnya.


Sakit...

__ADS_1


tentu saja ...


Dua tahun menjalani hubungan, bukanlah waktu yang sebentar.


__ADS_2