
Dokter Danar memandangi kelima orang yang nampak lelah dan lesu. Dua orang pemuda nampak diam dan memandangi ketiga gadis yang terlihat lesu dan merasa tidak enak.
Mereka semua baru saja selesai membersihkan diri masing masing. Semua nampak kotor dan berantakan. Hanya Brian saja yang masih tetap dengan keadaan semula. Putri dan Nindi sudah mandi dan berganti pakaian menggunakan pakaian Maira. Sedangkan Dika mengganti celana, dengan celana dokter Danar.
Dokter Danar masih mengobati lengan dan wajah Maira yang melepuh terkena minyak goreng.
"Sakit?" tanya Dokter Danar seraya memandang wajah Maira yang meringis
Maira mengangguk dengan mata yang berkaca kaca
"Kenapa sampai seperti ini coba?" tanya dokter Danar lagi.
"Maira pengen masak dokter, dia mau buat kejutan untuk dokter. Ternyata malah hancur" sahut Nindi, dia juga meringis sakit, bahkan lengan nya sudah nampak melepuh.
Dokter Danar menghela nafasnya dan menggeleng pelan.
"Maaf, Mai cuma pengen masak" ucap Maira dengan wajah sendu nya.
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk. Mau marah sebenarnya, bukan karena dapur yang berantakan, tapi karena mereka semua yang terluka. Tapi mengingat niat Maira yang ingin menyenangkan hatinya, dokter Danar tidak mungkin bisa marah.
"Sudah lah, tidak apa apa. Tapi jangan diulangi lagi ya" ujar dokter Danar. Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Tangan kamu diobatin juga, bisa infeksi nanti. Ini salep nya" dokter Danar menyerahkan sebotol salep pada Nindi.
"Tapi gimana ngolesin nya dokter, tangan saya dua dua kena minyak. Lihat nih" Nindi langsung menunjuk kedua lengan nya yang memang merah semua. Bibir nya menahan tangis, namun penuh arti.
Dokter Danar menoleh pada Putri, namun Putri langsung mengangkat tangan nya yang terluka terkena pisau.
"Kena pisau dokter, lengan saya juga bengkak ini karena ditimpa tuh orang" sahut Putri seraya menunjuk Dika dengan dagunya.
Dokter Danar kembali menoleh pada Dika.
"Kepeleset mas, dapur nya licin. Eh malah nimpah temen istri mas" jawab Dika pula.
Dokter Danar menghela nafasnya dengan jengah. Baru ditinggal satu hari sudah kacau semua nya. Ampun sekali dia.
"Yasudah, Brian tolong obati tangan Nindi" ujar dokter Danar pada Brian.
Nindi langsung tertunduk dan menyembunyikan senyum nya. Senang sekali dia, dokter Danar memang paling mengerti.
"Kamu antar Putri kerumah sakit" kini dokter Danar memandang Dika
"Gak usah deh dokter, saya mau pulang aja. Istirahat dirumah" jawab Putri.
__ADS_1
"Takut lengan kamu bengkak, masih sakit kan" kata dokter Danar
"Sakit" jawab Putri seraya mengangguk pelan.
"Yasudah, saya tidak bisa memeriksa nya sekaligus. Kamu diantar Dika saja ya. Dia yang berbuat, dia yang harus tanggung jawab." kata dokter Danar lagi.
"Iya Put, nanti emak Lo marah lagi. Pergi deh periksa, jangan sampai kakak itu didatengi sama Tante Lidya" ujar Nindi pula
"Jangan dong, aku juga gak sengaja. Yauda yuk, kita kerumah sakit" sahut Dika dengan cepat.
Putri terlihat ragu, namun tangan nya memang sakit karena tertimpa tubuh Dika tadi.
"Pergilah Put, kak Dika orang baik kok, ya kan mas" tanya Maira pada dokter Danar
Dokter Danar mendengus senyum dan mengangguk.
"Tidak apa apa, pergilah. Nanti tangan kamu bengkak jika dibiarkan" ungkap dokter Danar
"Yauda yuk" ajak Dika yang langsung menarik lengan Putri
"Dikaa" panggilan dokter Danar membuat Dika langsung terkesiap dan segera melepaskan lengan Maira.
Dia langsung tertawa canggung
"Dak dek, dak dek. Emang nya aku adik kakak" gerutu Putri yang langsung berjalan keluar duluan.
"Galak amat nih cewe" gerutu Dika.
Nindi dan Maira langsung saling pandang dengan senyum penuh arti.
"Nanti gue sama siapa?" seru Brian pada Dika yang sudah berjalan keluar. Dia sedang mengobati lengan Nindi sekarang.
"Kamu bisa pakai mobil saya Brian" ucap dokter Danar.
Brian langsung menghela nafasnya dan mengangguk pasrah. Dia kembali mengobati lengan Nindi yang sejak tadi tidak berhenti memandang wajah datar Brian. Tampan sekali.
Maira bahkan takut jika mata Nindi akan keluar karena terus memandangi Brian seperti itu.
"Sudah, jangan kena air dulu ya, jangan sampai terluka juga. Nanti pedih dan lama sembuh nya" ujar dokter Danar.
"Tapi ini udah luka dokter" adu Nindi seraya meringis sakit saat Brian mengoleskan salep diatasnya.
"Gak apa apa, tahan pedih sebentar." ujar dokter Danar seraya merapikan peralatan nya kembali.
__ADS_1
"Lagian kenapa coba berani banget mau masak kalau gak bisa. Enggak dikampus, enggak dirumah, kalian memang selalu aja buat onar" ucap Brian yang masih mengoleskan salep dengan begitu hati hati dilengan Nindi.
Maira dan Nindi langsung berdecak kesal mendengar itu.
"Buat onar apaan, fitnah aja" sahut Maira, mulutnya ingin kembali menggerutu, namun melihat dokter Danar yang menggeleng, Maira langsung terdiam dan mendengus.
"Aku kan gak pernah buat onar kak" sahut Nindi memandang Brian yang mendengus gerah.
"Yang kemarin itu berantem sampai guling guling dilantai siapa?" sindir Brian
"Noh Maira, bukan aku" sahut Nindi dengan cepat.
Mata Maira langsung melebar mendengar itu. Dia saja malu jika mengingat hal memalukan itu. Dan semua karena Erika dan Ervan. Sialan memang.
"Sama aja" jawab Brian.
"Enak aja sama, aku kan cuma ikut ikutan" gumam Nindi. Brian hanya mengendikan bahu nya dan meletakkan salep diatas meja.
Dia kini menoleh pada dokter Danar yang membersihkan luka dilengan Maira.
"Gak nyangka banget saya kalau istri mas adalah Maira" ucap Brian
Dokter Danar tersenyum dan terus melanjutkan pekerjaaan nya.
"Kenapa, gak cocok gitu" sergah Maira
"Memang gak cocok" jawab Brian
Maira langsung memandang Brian dengan kesal.
"Tapi Allah memang adil sih, kalau kamu masih sama si pangeran kampus itu, dunia gak akan baik baik aja, beruntung kamu dapetin dokter Danar" ucap Brian tanpa filter
"Bener, Maira bahkan jadi baik sekarang kak" bisik Nindi, namun masih terdengar ditelinga Maira.
"Jodoh itu ditangan Allah, gak ada yang bisa mengatur selain dia. Dan Maira yang berjodoh sama saya, itu artinya dia yang terbaik untuk saya" sahut dokter Danar
Maira langsung memandang dokter Danar dengan haru. Bisa bisa nya dia berkata jika Maira yang terbaik, padahal kenyataan nya, dokter Danar lah yang terbaik untuk Maira. Ya Allah...
"Aaah so sweet banget. Kapan bisa dapet suami yang bisa membimbing ya" gumam Nindi tanpa malu.
"Perbaiki diri mulai sekarang, insha Allah, Allah akan kasih yang terbaik" jawab dokter Danar.
"Tuh denger, jangan bisanya cuma cari perhatian sama manusia aja, tapi cari perhatian sama Allah, supaya semua keinginan kamu bisa terkabulkan." sindir Brian
__ADS_1
Maira langsung mendengus tawa mendengar itu. Apalagi melihat wajah Nindi yang merona.