Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Mulai Mengingat


__ADS_3

Dan waktu berlalu tanpa terasa. Hari yang terasa berat, kini mulai terbiasa dijalani. Dan hari yang sempat membuat mood jatuh, kini sudah mulai membaik kembali.


Seminggu sudah Maira dan Putri begitu setia menemani Nindi dirumah nya. Menghabiskan waktu bersama sama. Meskipun Maira hanya ada dirumah Nindi jika siang hari saja.


Setiap pagi dia selalu di antar dokter Danar kerumah Nindi, dan ketika sore hari saat dokter Danar pulang dari rumah sakit, dia akan ikut pulang juga. Hanya Putri yang sesekali tidur dirumah Nindi. Karena memang Nindi dirumah hanya berdua saja dengan mama nya, dan juga beberapa pelayan tentu nya.


Keadaan Nindi sudah mulai membaik. Bahkan dia sudah bisa menggerakkan kepala nya pelan pelan tanpa rasa sakit lagi. Maira dan Putri juga sudah mulai menunjukkan semua kenangan yang mereka miliki. Menceritakan tentang apa saja yang pernah mereka lakukan dulu nya.


Dan seperti sore ini, Maira dan Putri berbaring ditempat tidur Nindi seraya mereka yang melihat album foto yang dibawa oleh Putri dari rumah nya. Ya, diantara mereka, Putri adalah orang yang paling suka mengabadikan setiap moment yang tercipta.


"Jadi kita senakal itu dulu?" tanya Nindi tidak percaya. Apalagi saat dia melihat foto foto mereka saat masih nakal dulu.


Foto diclub malam dengan pakaian yang sangat seksi. Apalagi Nindi, yang memang paling seksi diantara mereka.


Maira tertawa melihat wajah Nindi yang meringis geli.


"Risih ya lihat penampilan kita dulu" tanya Maira.


Nindi mengangguk dengan wajah sedih nya.


"Kenapa aku begitu ya" gumam nya dengan wajah lesu. Namun mampu membuat Maira dan Putri menahan tawa mereka.


"Nama nya juga masa lalu. Dulu kita nakal, tapi sekarang kan udah berubah" sahut Putri.


Nindi menghela nafasnya dengan pelan.


"Tapi aku memang sudah berubah kan. Tidak seperti ini lagi?" tanya Nindi memandang Maira dan Putri bergantian


Putri dan Maira langsung mengangguk dengan cepat.


"Enggak. Kamu memang sudah berubah. Sudah tertutup. Dan sekarang juga sudah mulai memperbaiki diri lagi. Kami bangga sama kamu" ucap Putri.


"Iya Nin, kamu hebat, kamu bisa dapet hidayah semuda ini. Semoga tetap Istiqomah ya walaupun kamu sakit dan belum bisa berbuat banyak" sahut Maira pula.


Mendengar perkataan teman teman nya, Nindi langsung bisa tersenyum. Dia mengangguk dengan pelan dan menutup rapat album itu.


"Aku bisa berubah terinspirasi dari siapa?" tanya Nindi.


Dan pertanyaan Nindi itu membuat Putri dan Maira langsung saling pandang bingung.


Haruskah mereka berkata yang sebenarnya???


Putri menghela nafas pelan dan mengangguk pada Maira.


Membuat Nindi memandang mereka dengan pandangan bingung nya.


"Ada apa?" tanya Nindi.


"Nin, Lo udah harus tahu ini" ucap Putri


Dahi Nindi langsung mengernyit bingung mendengar itu. Apa ada sesuatu yang belum mereka ungkapkan pada nya?


Maira menunduk dan menghela nafasnya. Sudah seminggu, dan dokter Danar juga bilang jika kesehatan Nindi juga mulai membaik. Jadi sudah saat nya Nindi tahu semua nya. Siapa tahu jika mereka menceritakan tentang hal itu ingatan Nindi bisa terbantu untuk pulih lagi.


"Sebenarnya Lo itu berubah karena kak Brian" ucap Putri


deg


Nindi langsung mematung mendengar itu.


"Kak Brian?" gumam Nindi. Dan entah kenapa setiap menyebutkan nama lelaki itu jantung nya terasa berdebar debar. Ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.


"Dulu itu Lo suka banget sama dia" Putri mulai bercerita tentang Brian pada Nindi. Sedangkan Maira terus memperhatikan ekspresi Nindi. Dokter Danar bilang, jika ekspresi Nindi sudah lain, mereka jangan lagi meneruskan pembicaraan yang sensitif.


"Kak Brian adalah cowo yang paling cool dikampus kita. Bukan cuma cool, tapi dia juga taat. Agama nya cukup bagus" kata Putri lagi.


Dan Nindi masih memperhatikan Putri dengan lekat seraya dia yang mencoba untuk mengingat tentang itu.


"Kamu nge-fans banget sama kak Brian. Sampai sampai setiap hari kamu godain dia terus. Kamu deketin dia dengan segala tingkah kamu yang centil itu" ungkap Putri dengan senyum lucunya. Dia jadi terbawa perasaan mengenang masa masa itu. Masa masa dimana dia yang selalu malu melihat tingkah Nindi yang selalu menggoda para senior tampan dikampus. Terutama Brian.

__ADS_1


"Benarkah seperti itu. Jadi aku berubah karena dia. Bukan karena dari hatiku sendiri?" gumam Nindi.


Namun Maira langsung menggeleng dengan cepat.


"Enggak bukan begitu, belum selesai" sahut Maira.


Putri langsung mengangguk.


"Dengerin dulu baik baik, dan jangan dipotong " ujar Putri


Nindi mengerjapkan matanya dan kembali memandang ke arah Putri.


"Kamu kekeh banget deketin kak Brian waktu itu, sampai kamu berani minta nomor nya dan menghubungi dia setiap malam. Tapi kak Brian cuma ngasih kesempatan untuk kamu seminggu sekali aja. Dan mulai dari situ. Kalian mulai dekat." ungkap Putri.


Dan jantung Nindi semakin berdebar mendengar nya.


Hubungan nya dengan Brian sedekat itukah?


Jadi dia yang meminta Brian untuk menjauhi nya adalah sebuah kesalahan???


"Dan disaat kalian mulai dekat itu. Kamu mulai terbiasa dengan semua kebaikan Brian. Ketaatan nya, kesolehan nya, dan semua kebaikan dia, bisa membuka hati kamu yang selama ini gak mengenal Tuhan" ungkap Putri.


Dan entah kenapa mendengar itu mata Nindi langsung berair.


"Nin.. kamu baik baik aja. Kalau ini menganggu, kita bisa lanjutin besok lagi" ujar Maira


Namun Nindi langsung menggeleng dan mengusap air matanya.


"Gak tahu kenapa hati aku tersentuh. Gak apa apa Maira." jawab Nindi pada Maira.


" Ayo Put, lanjutin" pinta Nindi lagi.


Putri menghela nafas nya sejenak dan mengangguk pelan.


"Kamu tersentuh untuk mulai menjalankan kewajiban kamu yang udah lama kamu tinggalin. Kamu juga udah mulai mengubah penampilan kamu jadi lebih tertutup. Bukan karena kak Brian, tapi karena kamu merasa, jika selama ini kamu udah salah" ungkap Putri.


"Sama sekali bukan karena kak Brian. Tapi karena keinginan hati kamu yang memang sudah tahu jika selama ini, kamu memang sudah menimbun dosa" kata Putri lagi.


Nindi menggeleng dan kembali menghapus air matanya yang entah kenapa malah turun dengan deras. Ada rasa yang tidak bisa di ungkap kan mendengar penuturan Putri.


"Dan karena itu. Kamu memutuskan untuk berhijrah Nin" ucap Putri akhirnya.


"Menjadi diriku yang sekarang?" tanya Nindi.


Putri dan Maira langsung mengangguk dan tersenyum.


"Apa aku sudah salah karena meminta kak Brian untuk menjauhiku? padahal karena perantara dari dia aku bisa berubah menjadi lebih baik. Dan seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Kak Brian pasti sedih" ungkap Nindi.


Namun Putri dan Maira malah terdiam mendengar itu.


"Dia pasti senang melihat perubahanku dulu. Yakan?" tanya Nindi seraya memandang Maira dan Putri bergantian.


Maira tertunduk sedih dan menggeleng.


Nindi langsung memandang Putri yang kembali terlihat menghela nafasnya.


"Karena kamu berubah, kak Brian jauhi kamu. Kamu juga dihujat satu kampus karena perubahan kamu itu Nin" ucap Putri.


deg


Jantung Nindi serasa berdetak tidak karuan.


Dijauhi Kak Brian?


Dihujat satu kampus?


Benarkah itu?


"Satu kampus bilang jika kamu berubah hanya karena ingin mencari perhatian kak Brian."

__ADS_1


deg


Tiba tiba sekilas perkataan seperti itu langsung melintas dikepala Nindi


"Mereka bilang jika kamu hanya ingin menutupi kebusukan kamu"


ugghh


Nindi langsung meringis dan memegangi kepala nya yang tiba tiba berdenyut saat kata kata menyakitkan itu melintas begitu saja. Disertai dengan pandangan pandangan sinis dari orang orang.


"Put .. stop" pinta Maira yang langsung merangkul Nindi dan mengusap bahu nya dengan lembut.


"Hei... tarik nafas kamu pelan pelan. Bawa relaks oke" pinta Maira .


Nindi memejamkan matanya dan menarik nafasnya perlahan lahan. Hingga rasa sakit itu mulai menghilang sedikit demi sedikit.


"Kenapa... kenapa hal hal menyakitkan itu bisa aku ingat. Samar samar aku bisa mendengar perkataan yang menyakitkan itu, samar samar aku juga bisa melihat pandangan sinis dari orang orang yang tidak aku tahu" ungkap Nindi


Maira masih mengusap bahu Nindi.


Putri memandang Nindi dengan lekat. Sepertinya Nindi sudah mulai bisa mengingat sesuatu yang menyakitkan hati nya dari pada kenangan kenangan manis yang mereka ceritakan sebelumnya.


"Itu perkataan orang orang yang gak suka sama kamu Nin" jawab Putri.


"Dan kak Brian juga gak suka aku berubah. Apa dia termakan omongan mereka?" tanya Nindi. Wajahnya terlihat sendu.


Maira dan Putri langsung menggeleng pelan.


"Dia bukan gak suka kamu berubah, bukan juga benci sama kamu. Tapi dia membantu kamu untuk Istiqomah dalam perubahan kamu." ungkap Putri.


"Dia ingin kamu berubah dengan keyakinan hati kamu yang kuat. Dia ingin meyakinkan hatinya sendiri jika kamu memang berubah bukan karena untuk mencari perhatian nya."ungkap Putri


" Dan menjauhi kamu adalah cara terbaik yang dia lakukan" tambah nya lagi.


Dan lagi lagi..


Sebuah perasaan aneh langsung menjalar dihati Nindi. Rasa sedih, rasa haru dan rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan bagaimana bentuknya.


"Selain kami dan mama kamu, dia adalah orang yang paling cemas dan takut saat melihat kamu celaka Nin" sahut Maira


Nindi menoleh pada Maira dengan mata yang berkaca-kaca


"Dia bahkan menangis sambil membawa tubuh kamu yang penuh darah dengan berlari dari tempat kejadian itu " kata Maira lagi.


"Dan dia juga yang udah donorin darah nya untuk kamu" sahut Putri


deg


deg


deg


"Mukenah yang kamu pakai juga pemberian dari dia." tambah Putri.


Nindi langsung terisak dan menangis dengan sedih mendengar itu


Kenapa , kenapa Bria melakukan itu.


Hingga tiba tiba..


"Uhg" Nindi kembali memegangi kepala nya yang terasa pusing saat lagi lagi dia melihat sebuah bayangan Brian yang memandang nya dengan pandangan hancur dan tidak berdaya.


"Nindi... stop jangan dipaksain" ucap Maira yang panik.


"Ayo relaks. Kamu harus bisa mengontrol emosi kamu" sahut Putri pula.


Nindi memejamkan matanya dan mengangguk pelan.


Dia pusing, tapi dia masih bisa menahan. Hanya saja, air mata ini bukan lah air mata kesakitan. Tapi air mata kerinduan.

__ADS_1


__ADS_2