
Ervan duduk termenung diatas sajadah nya. Dia baru saja selesai melaksanakan ibadah shalat isya nya. Cukup lama, karena Ervan mengaji dan juga berzikir terlebih dahulu. Rasanya memang ada yang berbeda, hatinya jauh lebih tenang dan tidak lagi merasa gelisah dan gundah dengan semua permasalahan hidup yang pernah dia hadapi.
Tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan hidayah ini, tapi kenyataan nya, ketika melihat Maira bersama dokter Danar, Ervan sungguh ingin berubah menjadi baik.
Ya, dia sadar, selama ini dia sudah sangat jauh dari Tuhan nya. Bahkan Ervan sudah melupakan ibadah terpenting yang menjadi kewajiban nya. Sungguh malu dirinya, pantas saja Allah membuat hidupnya kacau seperti ini, jika nyatanya, dia saja sudah melalaikan apa yang seharusnya dia wajibkan.
Sudah beberapa Minggu Ervan mulai belajar agama kembali. Dia sudah memiliki guru agama sendiri. Bahkan sekarang, Ervan sudah fasih dalam mengaji, karena memang dasar ilmu agama itu memang sudah ada.
Ervan hanya perlu mendalami nya lagi.
Meskipun dia memang masih sulit untuk bisa merubah segalanya. Tapi setidaknya nya, keinginan untuk berubah sudah tertanam di hatinya.
Apalagi sekarang dia memiliki seseorang yang menjadi moto hidupnya.
Dokter Danar.
Aneh kan, dia begitu mengagumi sosok itu. Sosok yang menjadi panutan nya. Sosok yang membuat dia mendapatkan hidayah untuk menjadi lebih baik lagi.
Maira...
Gadis itu begitu beruntung mendapatkan sosok suami seperti dokter Danar.
Dan Ervan, dia sudah merelakan gadis yang dia cintai untuk dokter Danar.
Sudah tidak ada lagi rasa sakit yang dia rasakan. Semua sudah baik baik saja.
Memperbaiki diri untuk mendapatkan yang terbaik pula.
Ervan mengusap wajahnya dengan pelan. Namun entah kenapa tiba tiba matanya malah terpandang pada lukisan yang terpajang rapi di dinding kamar nya.
Lukisan bunga layu....
Lukisan yang tidak tahu kenapa sudah mencuri perhatian Ervan saat pertama kali melihatnya.
Lukisan yang seperti menggambarkan sebuah makna yang mendalam. Tidak tahu siapa pelukisnya, tapi Ervan suka dengan lukisan ini.
Dia beranjak dari atas sajadah nya. Sajadah yang sekarang sudah sering di datangi. Namun saat berbalik arah, Ervan terkejut ketika melihat ibunya yang berdiri diambang pintu dan tengah tersenyum memandang nya.
"Mama... kenapa disitu?" tanya Ervan seraya melepaskan peci dan sarung nya.
Mama Ervan tersenyum dan masuk kedalam kamar putra semata wayangnya itu.
"Mama senang banget lihat kamu sekarang Van. Kamu bahkan buat mama terharu dengan perubahan kamu ini" ungkap mama dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
Ervan langsung tersenyum simpul mendengar itu. Dia mendudukkan dirinya diatas ranjang, tepat disamping mama.
"Doakan saja supaya Ervan bisa Istiqomah ya ma. Terkadang masih terasa berat untuk mengerjakan semuanya" ungkap Ervan.
Mama mengusap bahu Ervan dengan lembut.
"Doa mama selalu untuk kamu nak. Semoga kamu bisa selalu seperti ini terus dan bisa mendapatkan jodoh yang terbaik" jawab mama.
Ervan tersenyum dan mengangguk, namun pandangan matanya menoleh kearah lukisan itu.
"Ma... jodoh tidak ada yang tahu kan. Dulu mama sangat tidak menyukai Maira. Tapi kenyataan nya Maira malah mendapatkan orang sebaik dokter Danar. Dan jika itu Ervan, apa mama akan menerima nya?" tanya Ervan, yang kini menoleh dan memandang mama nya dengan lekat.
"Kamu masih belum bisa melupakan Maira?" tanya mama
Ervan terlihat menghela nafasnya. Dia menggeleng pelan dan kembali memandang lukisan yang ada didepan nya.
"Ervan sudah merelakan nya ma. Dia sudah bahagia dengan orang yang tepat, yang bisa membuat dia berubah menjadi lebih baik" jawab Ervan.
Dan kini mama yang ikut memandang kedepan dengan helaan nafas yang cukup panjang.
"Mama tahu mama salah karena sudah menghina Maira dan selalu bersikap kasar padanya dulu. Tapi kamu tahu jika mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak. Kamu bersama Maira hanya selalu menambah dosa. Kalian sering keluar malam bahkan sampai pagi menghabiskan waktu di club', sering berbohong, dan sering bolos kuliah." ungkap mama
Ervan langsung tersenyum tipis mendengar itu. Ya, dia dan Maira memang senakal itu dulu nya.
Ervan terdiam, benar juga. Apa jadinya mereka jika terus bersama?
"Maira pasti tidak akan bisa berubah menjadi lebih baik sekarang. Dia tidak akan bisa seperti ini tanpa dokter Danar " ucap Mama
Ervan mengangguk pelan.
"Dan kamu, kamu belum tentu mendapatkan hidayah untuk mencapai titik ini jika tidak berpisah dengan Maira" kata mama lagi.
Ervan mendengus senyum dan mengangguk.
"Mama benar. Entah apa jadinya jika Ervan masih bersama Maira. Jodoh memang sudah ada yang mengatur. Maira mendapatkan seseorang yang bisa membimbing nya menjadi seperti sekarang. Karena dengan bersama Ervan, dia pasti tidak akan bisa seperti itu" ungkap Ervan.
"Mama berharap kamu juga mendapatkan jodoh yang terbaik pula nak" harap mama.
"Bagaimana jika tidak?" tanya Ervan pula.
Mama langsung tertegun memandang Ervan.
"Dokter Danar yang sudah seperti itu saja mendapatkan Maira yang tidak tahu apa apa. Apalagi Ervan yang seperti ini ma" ucap Ervan.
__ADS_1
Mama tersenyum dan menghela nafasnya dalam dalam.
"Mama tidak ingin lagi menjodohkan kamu atau memilihkan kamu jodoh. Mama sudah pasrah. Melihat dokter Danar dan Maira, mama jadi tahu, jika jodoh, memang sudah ditetapkan oleh Allah " jawab mama.
Ervan langsung tersenyum memandang mamanya. Dia merangkul bahu mama dengan lembut.
"Siapapun jodoh Ervan nanti, Ervan hanya berharap dia bisa sayang pada mama dan papa. Masalah akhlak dan adab, semoga Ervan bisa menjadi seperti dokter Danar yang bisa membimbing istri Ervan kelak" ungkap Ervan.
Mama langsung mengangguk. Dia begitu bangga dengan anak lelaki nya ini. Anak lelaki yang dulu begitu nakal dan suka membangkang, kini ternyata sudah mulai beranjak dewasa.
"Mama tidak akan lagi memaksa nak. Mama hanya berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik yang bisa menerima kamu setulus hatinya" harap mama.
"Aamiin ma. Semoga. Doa mama pasti dikabulkan Allah" jawab Ervan.
Mama tersenyum dan mengangguk, dia langsung memeluk Ervan dengan lembut.
Sungguh, bangga sekali dia melihat Ervan yang sekarang. Setelah semua yang terjadi, ternyata bisa menjadi pelajaran untuk merubah mereka menjadi lebih baik.
Semua karena Maira dan juga dokter Danar.
"Sejak kapan kamu suka lukisan nak?" tanya mama
Ervan kembali memandang lukisan itu.
"Tidak tahu, lukisan nya bagus. Jadi Ervan beli" jawab Ervan.
"Padahal cuma bunga layu, bagus dari mana?" tanya mama lagi yang langsung mendekat kearah lukisan itu.
"Entahlah ma, Ervan juga gak tahu. Tapi sekali lihat, Ervan udah jatuh cinta" jawab Ervan dengan tawa kecilnya. Membuat mama juga ikut tertawa.
Dia memandang tulisan kecil dipojok kanan bawah lukisan itu.
Sepertinya itu nama pelukisnya.
Tapi tidak tertulis nama. Hanya inisial saja dan tanggal lukisan itu dibuat.
"Inisial saja, E..art" gumam mama.
Ervan mengangguk dan juga ikut mendekat kearah mama nya
"Yang jelas bukan Ervan ma" ucap Ervan
"Ya, karena kamu hanya bisa mencoret-coret buku." sahut mama. Membuat Ervan langsung tertawa.
__ADS_1