Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Rumah Sakit


__ADS_3

Brian terlihat mondar mandir didepan ruang IGD dimana Nindi baru saja dibawa masuk kedalam sana. Hatinya benar benar cemas mengenangkan nasib Nindi. Bahkan ketika Brian membawanya kemari Nindi sudah tidak lagi sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat. Tubuhnya juga sudah mendingin karena darah yang begitu banyak keluar dari kepala nya. Seperti nya Nindi mengalami pendarahan yang cukup hebat.


Brian sungguh berharap jika tidak akan terjadi sesuatu pada gadis itu.


Terlihat dari kejauhan Putri berlari mendekat kearah nya. Putri langsung menemui Brian saat melihat lelaki ini berdiri didepan ruang IGD. Sedangkan Maira dibawa ke lantai atas dimana dokter Kemala berada. Dokter Danar bilang, jika Mira tidak apa apa, hanya perut nya saja yang kram akibat sedikit benturan saat dia terjatuh tadi, dan juga pengaruh dengan kejadian yang menganggu mental nya hari ini. Namun tidak ada yang serius dengan Maira. Dan karena itu Putri memutuskan untuk menemui Brian saja. Dia cukup cemas dengan Nindi.


"Kak Brian, gimana Nindi" tanya Putri langsung.


Brian menggeleng pelan.


"Masih didalam, dokter sama sekali belum ada yang keluar" jawab Brian.


Putri tertegun, dan langsung terduduk dikursi tunggu yang ada disana. Dia memandang Brian yang masih berdiri dengan wajah cemasnya. Bahkan dapat Putri lihat jika pakaian yang Brian kenakan juga terdapat banyak bercak darah, mungkin itu darah Nindi tadi.


Ya Allah...


selamatkan lah Nindi. Sungguh Putri dan Brian benar benar cemas dan takut.


Brian berkali kali mengusap wajah nya dengan kasar. Pandangan matanya terus memandang pintu ruang IGD ini. Berharap ada seseorang yang keluar dan memberitahu nya tentang keadaan Nindi.


Brian takut, dan Brian tidak ingin terjadi sesuatu pada Nindi.


Sungguh, dia benar benar menyesal dengan sikap nya yang seolah olah membenci Nindi selama ini. Jika tahu sekarang Nindi sudah tidak lagi berdaya. Bahkan bisa Brian lihat, jika keadaan nya memang tidak baik baik saja.


"Putri... gimana Nindi. Kenapa dia bisa jatuh dari tangga?" suara seseorang membuat Brian terkesiap kaget. Dia sampai tidak menyadari jika ada yang datang.


"Tante, maaf, Putri gak bisa jaga Nindi. Ini karena kami yang berantem sama Erika. Erika dorong Nindi sama Maira, tapi malah Nindi yang jatuh" jawab Putri langsung. Dia juga terlihat merasa begitu sedih.


"Ya Allah Nindi, terus gimana sekarang?" tanya mama Nindi.


Ya, ternyata wanita ini adalah ibu Nindi.


"Belum tahu Bu, semoga baik baik saja" jawab Brian.


Mama Nindi memandang Brian dengan linangan air mata nya. Dia benar benar cemas dengan keadaaan anak nya.


"Dia kak Brian Tante, kak Brian yang bawa Nindi kerumah sakit" jawab Putri yang kini sudah beranjak dan merangkul mama Nindi yang nampak terpukul.

__ADS_1


"Dia gak parah kan nak?" tanya Mama Nindi pada Brian.


Brian menggeleng dengan wajah sendu nya. Dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Brian juga sangat ingin Nindi baik baik saja. Tapi....


Ceklek...


Pintu yang terbuka membuat mereka langsung menoleh. Seorang dokter dan perawat keluar dengan wajah panik mereka.


"Pasien kehilangan banyak darah, kami butuh dua atau tiga kantung darah. Tapi stok darah pasien sedang kosong dirumah sakit ini" ungkap dokter itu.


deg


Mama Nindi langsung menangis terisak mendengar itu.


"Ayah Nindi sedang berlayar keluar negeri. Dimana mencari donor nya" tanya Mama Nindi begitu panik.


"Apa golongan darah nya dokter?" tanya Brian langsung


"AB negatif" jawab dokter itu.


"Darah saya AB negatif dokter. Dokter bisa periksa darah saya. Mudah mudahan cocok" ujar Brian.


"Nak" lirih mama Nindi.


"Tante, semoga darah saya cocok untuk menyelamatkan nyawa Nindi" jawab Brian.


"Baiklah, kita harus cepat. Kondisi gadis itu benar benar lemah" sahut dokter itu.


Brian langsung mengangguk dengan cepat dan segera mengikuti langkah perawat yang akan mengambil darah nya diruangan yang sudah tersedia.


Sedangkan Putri membawa mama Nindi untuk duduk dikursi kembali.


"Nindi ya Allah. Tante benar benar takut Put. Kenapa Nindi begini" ucap mama Nindi yang kembali terisak pedih.


Putri mengusap bahu mama Nindi dengan lembut.


"Kami juga gak tahu bakal kayak gini jadinya Tante. Maaf, tapi semoga Nindi baik baik aja" jawab Putri yang juga ikut menangis sedih.

__ADS_1


Mama Nindi hanya bisa menangis karena takut jika terjadi sesuatu pada anak perempuan satu satunya ini. Dan tentu itu membuat Putri semakin merasa bersalah dan juga sedih.


Dia sedih, karena tidak bisa menolong Nindi saat dia terjatuh tadi.


Dan ini semua karena Erika. Gadis itu memang harus mendapatkan ganjaran nya. Semoga saja dokter Danar bisa memberikan sanksi yang tegas untuk Erika.


Ya, apalagi dengan kekuasaan yang dia punya. Putri berharap dokter Danar tidak memakai hati untuk memberikan balasan yang setimpal pada makhluk kurang ajar itu.


...


Sementara diruangan Maira...


Dokter Danar masih duduk dan memperhatikan Maira yang sedang diperiksa oleh dokter Kemala. Saat ini Maira sudah tidak sadarkan diri, mungkin karena lelah dan juga tekanan yang diterima nya. Dokter Danar benar benar cemas sebenarnya. Dia takut terjadi sesuatu pada Maira dan calon anak mereka.


"Bagaimana?" tanya dokter Danar saat dokter Kemala selesai memeriksa keadaan nya. Bahkan dia juga melakukan USG untuk mengetahui keadaan janin Maira.


"Tidak apa apa. Hanya sedikit hentakan yang membuat posisi janin menurun. Juga karena tekanan emosional yang Maira hadapi hingga membuat perut nya kram" ungkap dokter Kemala.


Dokter Danar langsung bernafas lega dan mengucap syukur mendengar itu.


"Yang terpenting jangan sampai kejadian serupa terjadi lagi. Bayi kalian bisa tidak tertolong. Apalagi usia kehamilan Maira masih terlalu muda. Harus di jaga baik baik" ujar dokter Kemala.


Dokter Danar mengangguk pelan dan menyelimuti lagi tubuh Maira.


"Aku lalai dan tidak bisa menjaga nya dengan baik" ungkap dokter Danar.


Dokter Kemala yang sedang membereskan alat alat nya nampak tersenyum sendu. Entah kenapa hatinya masih saja merasa tercuil jika melihat dokter Danar dan istri kecil nya ini.


"Itu memang tugas utama suami. Mungkin karena Maira masih terlalu muda hingga dia masih belum bisa menjaga emosi nya dengan baik. Lagi pula mood wanita memang cukup sensitif. Dan sebaiknya memang dia harus beristirahat dulu dirumah. Mungkin ketika dikampus, ada banyak tekanan yang dia terima" ungkap dokter Kemala.


"Kamu benar. Mungkin setelah ini aku akan meminta nya untuk belajar dirumah saja sampai keadaan nya membaik" jawab dokter Danar.


"Itu lebih baik. Ini adalah anak pertama kalian. Kamu memang harus bisa sedikit tegas jika tidak ingin hal ini terjadi lagi" ujar dokter Kemala.


"Ya, terimakasih Kemala" ucap dokter Danar.


Dokter Kemala langsung tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Aku senang masih di izinkan untuk menjadi dokter pribadi istri kamu" jawab dokter Kemala.


"Aku tahu kamu yang terbaik" sahut dokter Danar.


__ADS_2