
Nindi semakin panik dan cemas saat hujan yang turun semakin deras. Bahkan kilat dan Guntur sudah sejak tadi saling bersahutan diatas langit sana. Jalanan mulai lengang, bahkan tidak ada pengendara yang lewat karena hujan yang benar benar deras dan lebat.
Mata Nindi sudah lelah menangis, sudah setengah jam dia berada disini. Dan sudah pasti, orang bengkel yang di hubungi oleh Brian tadi pasti tidak akan datang secepat ini, atau mungkin bahkan tidak datang dengan hujan yang sederas ini.
"Ya Allah, Nindi takut" gumam Nindi yang semakin memeluk erat tubuhnya. Bahkan jalanan didepan nya sudah tidak lagi nampak akibat hujan yang memutih menutupi pandangan mata nya.
Bibir Nindi terus bergumam dan berzikir, berharap hatinya bisa tenang dan tidak takut lagi. Dia benar benar sudah bergetar karena takut.
Bahkan ketika ada petir yang menyambar kuat Nindi langsung menyembunyikan wajahnya dibalik lengan seraya bibir nya yang semakin kuat memanggil nama Allah.
"Huhuuuu Nindi takut ya Allah. Nindi takut. Kenapa kak Brian gak mau nganterin aku pulang sih tadi" gumam Nindi dengan nada suara yang bergetar dan dalam.
Sungguh, ini adalah malam yang begitu menakutkan bagi Nindi. Bukan saja takut karena hujan dan petir, tapi dia juga takut karena dia sendirian ditengah jalan yang sepi ini.
Bagaimana jika ada orang jahat?
Bagaimana jika ada yang menculiknya?
Ya Allah... Nindi benar benar lemas dan takut. Bahkan jantung nya sejak tadi tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang.
Namun, tanpa sepengetahuan Nindi, tidak jauh dari mobil nya berada. Disebuah saung yang sudah usang, Brian berdiri dengan memeluk tubuhnya sendiri seraya memperhatikan jauh kearah mobil Nindi.
Sejak tadi, setelah meninggalkan Nindi, dia bukan nya pergi dan meninggalkan Nindi sendirian di tempat sepi seperti ini. Brian tidak akan tega. Dan dia memilih untuk menemani Nindi dari jauh, menjaga gadis itu dan memastikan dia aman dan tanpa diganggu oleh siapapun. Meskipun saat ini Brian tidak tahu jika Nindi sedang ketakutan, tapi setidaknya dia tidak meninggalkan Nindi sendirian.
Hujan yang mengguyur begitu deras membuat seluruh tubuh Brian sudah basah kuyup. Bahkan bibirnya sudah bergetar dibalik helm yang masih dia pakai. Saung ini sudah usang, dan atap nya juga sudah banyak yang bolong. Tapi disinilah tempat yang cocok untuk dia menjaga Nindi, dan agar tidak diketahui oleh gadis itu.
Saung yang berada dibawah pohon rindang, dan tempat yang cukup gelap. Namun dia masih bisa dengan jelas melihat mobil Nindi diujung sana. Mobil yang kini masih terparkir rapi dengan lampu yang menyala.
Nindi pasti takut, dan Brian tahu itu. Tapi untuk menemani nya didalam mobil berdua, itu bukan hal yang bagus.
Dan untuk mengantar nya pulang, itu juga tidak mungkin dilakukan.
Brian hanya ingin membantu Nindi untuk bisa istiqamah dan benar benar meyakinkan hatinya agar dia bisa kuat dalam memperbaiki diri.
Benci?
Tidak, Brian tidak membenci Nindi. Justru dia sangat senang melihat Nindi yang berubah. Brian hanya ingin mematahkan perkataan orang orang yang menyebutkan jika Nindi berubah karena dia.
Brian tidak ingin perkataan orang orang itu menjadi kenyataan. Dan oleh sebab itu, dia memutuskan untuk menjauh dari Nindi, seolah olah membenci nya dan termakan dengan omongan satu kampus. Namun yang terjadi sesungguhnya adalah, Brian hanya ingin Nindi menunjukkan jika niatnya memang tulus untuk berubah jadi lebih baik.
Sedikit demi sedikit, sebenarnya Nindi memang sudah menarik perhatian nya. Tapi karena Nindi memutuskan berhijrah, maka Brian juga memutuskan untuk membantu nya.
Meski terkadang hatinya tersentuh saat melihat wajah sedih Nindi dikampus. Tidak ada lagi godaan yang keluar dari mulutnya, tidak ada lagi senyum ceria yang selalu terlihat ketika dia menyapa semua orang orang yang dia bilang tampan itu. Ya, tidak ada lagi Nindi yang dulu, Nindi yang sekarang sudah berubah, dia lebih menjaga pandangan nya, dan yang pasti dia benar benar sudah untuk menjadi lebih baik.
__ADS_1
Rindu, tentu saja Brian rindu senyum itu. Tapi mau bagaimana lagi.
Untuk sekarang, menjauh mungkin adalah pilihan yang baik, untuk membantu Nindi mencapai niatnya.
Jika Allah sudah mentakdirkan mereka bersama, Brian yakin, mereka pasti akan bersatu.
Malam ini juga Brian tahu, sebenarnya Nindi dari rumah Maira, istri dokter Danar. Dia tahu dari Dika karena yang dia hubungi adalah Dika tadi.
Dan Brian hanya sengaja berkata seperti itu. Bukan karena ingin menyindir, hanya saja dia sangat tidak suka melihat Nindi yang pulang sendirian seperti ini.
Dan sekarang lihatlah, untung saja dia ada, jika tidak, entah bagaimana nasib gadis itu.
Cukup lama mereka menunggu orang yang akan menjemput mobil Nindi. Hingga lebih dari satu jam kemudian, barulah mobil derek datang bersamaan dengan sebuah taksi yang memang dipesan Brian untuk mengantar Nindi pulang.
Hujan sudah mulai reda, hingga Brian bisa melihat Nindi yang keluar dari mobil nya.
Brian hanya memandangi saja tanpa ingin mendekat. Memastikan jika Nindi sudah naik kedalam taksi. Bahkan saat taksi yang membawa Nindi pergi, Brian juga langsung naik keatas motor dan mengikuti taksi itu dari jauh.
Tidak tahu kenapa, dia sangat ingin memastikan Nindi sampai dirumah dengan selamat.
...
Keesokan hari nya....
"Tumben bawa mobil, Nindi mana?" tanya Maira
"Mobilnya mogok, dia dianter hari ini. Mau gue jemput katanya gak usah, udah dijalan. Mungkin bentar lagi juga sampai" jawab Putri
Maira hanya mengangguk saja
"Masih aja bawain tuh botol Mai" ucap Putri seraya memandang botol jus kiwi Maira.
Maira tertawa seraya mengangkat botol jus nya.
"Kalau gak ada ini gak bisa bangun gue" jawab Maira
"Masih mual?" tanya Putri
"Iya, kata dokter Kemala selama tiga bulan awal memang bakalan mual terus" ungkap Maira
"Wah, susah dong" sahut Putri.
Maira langsung mengangguk dengan helaan nafas yang cukup panjang.
__ADS_1
"Mau gimana lagi, udah resiko. Tapi gue seneng kok, dia udah ada didalam sini. Mudah mudahan dia mirip ayah ganteng nya" ucap Maira.
Putri langsung mendengus senyum mendengar itu.
"Aamiin. Ya memang jangan sampai dia nurut emak nya. Bisa gawat" jawab Putri
Maira langsung terbahak seraya mengusap perutnya.
"Maira, Putri" seru Nindi tiba tiba.
Maira dan Putri langsung menoleh kebelakang dan tersenyum memandang Nindi yang baru tiba.
"Katanya tadi udah dijalan, gue kira Lo udah sampai duluan" ucap Putri
"Supir gue lelet" jawab Nindi dengan helaan nafas yang panjang. Berlari sedikit saja sudah membuatnya lelah.
"Mobil lo mogok, kan semalam masih baik baik aja" tanya Maira.
Nindi mengangguk dengan wajah sedihnya.
"Malam tadi gue kejebak hujan ditengah jalan, mana sendirian, ditempat sepi pula" ungkap Nindi.
"Loh, tapi kan ada kak Brian" sahut Putri
Maira dan Nindi langsung mengernyit, namun berbeda artian.
"Kak Brian?" gumam Maira
"Kak Brian cuma bentar doang, siap nelpon bengkel langsung pergi. Lagian dari mana Lo tahu?" tanya Nindi pada Putri.
"Kak Dika yang ngomong, waktu kak Brian nelpon kan kak Dika lagi sama gue. Katanya juga Lo ditemenin sama kak Brian sampai mobil derek dan taksi Dateng" ungkap Putri.
Nindi tertegun dan menggeleng pelan.
"Gue sendirian Put" sahut Nindi
"Masak sih, bohong kali Lo. Orang kak Dika nelpon kak Brian lagi kok, buat mastiin Lo baik baik aja. Nomor Lo gak bisa gue hubungi, jadi gue minta kak Dika untuk nelpon kak Brian lagi" ungkap Putri.
Nindi terdiam bingung.
Jelas jelas dia sendirian menunggu disana, dan tidak ada siapapun. Apalagi Brian.
Tapi kenapa Putri bisa berkata seperti itu?
__ADS_1