
Maira memandang area kampus dengan pandangan kesal nya. Rasanya dia ingin menangis dan marah sekarang. Mood nya benar benar buruk dengan perkataan teman teman sekelas nya tadi.
Hanya terus beristighfar didalam hati yang bisa membuat Maira bisa sedikit tenang.
"Mai" panggil Putri.
Maira sedikit terkesiap dan memandang heran ke arah Putri.
"Kok lo keluar juga?" tanya Maira.
"Males gue didalem. Panas dengar omongan mereka" jawab Putri yang juga ikut bersandar dipembatas roof top.
"Nindi sendirian dong disana" ucap Maira
"Palingan bentar lagi juga dia nyusul" sahut Putri.
Maira menghela nafasnya perlahan dan kembali memandang kearah kampus. Dimana masih banyak mahasiswi yang berseliweran disana.
"Kayak nya Lo memang harus ajak dokter Danar buat klarifikasi dan ngasih tahu dosen deh Mai. Mulut mereka semakin pedes aja. Sakit telinga gue denger nya lama lama" ungkap Putri.
Maira mengangguk pelan.
"Iya, nanti gue bakal bilang sama mas Danar untuk datang kesini. Atau kalau gak, gue keluar aja kali ya" ucap Maira
"Keluar? gak kuliah lagi, gitu maksud Lo?" tanya Putri begitu terkejut.
Maira mengangguk pelan.
"Gue takut gue gak bisa ngontrol emosi gue Put. Lagian lo tahu sendiri kan, kalau gue gak bisa tenang. Gue sering mual dan muntah kalau udah kesel. Belajar juga udah gak fokus lagi sekarang" ungkap Maira.
Putri menghela nafas lesu.
"Kalau Lo keluar bakalan sepi dan gak enak banget deh" ucap Putri.
"Apa, Lo mau keluar Mai?" tanya Nindi tiba tiba, nafasnya nampak terengah karena dia yang terburu buru naik keatas tadi.
"Kok keluar juga sih?" tanya Maira
"Ck, gak betah lah gue didalam gak ada kalian" jawab Nindi
"Jadi Lo mau niat keluar gitu?" tanya Nindi lagi.
"Masih rencana" jawab Maira.
"Gak enak banget dong Mai" ucap Nindi terdengar sedih.
"Lagian nanggung Mai. Tinggal satu tahun lagi kita disini." ujar Putri. Dan Nindi langsung mengangguk.
"Setidak nya sampai Lo lahiran Mai" sahut Nindi.
__ADS_1
Maira terlihat menghela nafasnya dengan berat. Dia mengusap perutnya yang masih rata namun sudah terasa keras.
"Apa gue sanggup, kalian kan tahu gue kalau udah kesel bawaan nya pengen muntah terus" jawab Maira.
"Gak apa apa, Lo bisa muntahin aja tuh mulut orang yang usil" sahut Putri.
Nindi langsung tertawa kecil mendengar itu. Sepertinya Putri mendendam sekali dengan teman teman sekampus nya.
"Gak boleh gitu Put" ujar Nindi seraya mengusap bahu Putri sejenak.
"Coba ajak dulu untuk dokter Danar klarifikasi tentang hubungan kalian. Siapa tahu dengan begitu anak anak udah gak julid lagi. Apalagi Erika" ujar Nindi.
"Bener, palingan mereka semua sakit jantung kalau tahu suami Lo dokter Danar" sahut Putri.
"He'em, dan si Ervan yang semakin ngenes" ucap Nindi.
"Ervan kan lagi sibuk ngurus papa nya dirumah sakit. Udah seminggu juga dia gak masuk" kata Putri.
"Pantesan gue gak lihat" sahut Maira.
"Yaudah ngapain juga mikirin mantan. kalau gitu Lo coba dulu ya Mai, siapa tahu setelah mereka tahu yang sebenarnya, mereka gak akan julid lagi" pinta Nindi.
"Iya Mai, mereka juga harus tahu kalau yang Lo kandung ini anak dokter Danar. Bukan anak sembarangan" sahut Putri.
Maira langsung tertawa mendengar itu. Ya ampun, rasa kesal nya jadi hilang jika sudah berkumpul seperti ini.
"Iya, nanti gue coba deh." jawab Maira.
"Lo udah kayak mas Danar aja deh Nin, suka banget ngajakin anak gue ngomong. Padahal belum tumbuh lagi" ucap Maira
Nindi tertawa dan masih memandang perut Maira.
"Gue udah gak sabar pengen lihat perut Lo buncit Mai. Gak sabar pengen lihat anak Lo lahir. Pasti gemesin banget" ungkap Nindi.
"Lo gak sabar lihat anak Maira, atau udah kepengen hamil juga?" sahut Putri.
Nindi tersenyum dan menggeleng pelan.
"Enggak, gue memang pengen lihat anak Maira kok. Dedek utun pasti ganteng kalau dia laki, kalau dia cewe, udah pasti cantik."
"Gue pengen jadi aunty, aunty yang bisa bikin dia betah dan seneng sama gue" ucap Nindi lagi.
Maira dan Putri langsung mendengus senyum mendengar nya.
"Dia pasti senang lah sama Lo, sekarang aja dia udah betah waktu Lo ngusap perut gue" jawab Maira.
Nindi tertawa senang mendengar itu. Namun tiba tiba...
"Wow ... wow" ucap seseorang yang datang dari bawah.
__ADS_1
"Bener kan dugaan gue, kalau Lo emang hamil. Hamil anak haram siapa Lo?" tanya Erika langsung. Dia datang bersama dengan beberapa orang teman teman nya.
"Jaga mulut Lo ya, sembarangan aja ngatain anak gue anak haram. Mulut Lo itu yang haram" jawab Maira yang langsung tersulut emosi.
Bisa bisa nya Erika mengatai anak nya seperti itu. Tentu Maira tidak terima. Boleh menghina nya, tapi jangan anak nya.
"Heran deh gue, suka banget nyari masalah. Gak kapok juga Lo ha" seru Putri pula.
Nindi mengusap bahu Maira dengan lembut, dia takut Maira kelepasan emosi dan berdampak buruk pada bayi nya.
"Heh, kenapa marah memang begitu kan kenyataan nya. Hamil, tapi diluar nikah, apa dong nama nya kalau bukan anak haram. Penampilan aja berubah, tapi nyata nya cuma topeng" ucap Erika begitu sinis.
"Lo memang kurang ajar" geram Putri yang ingin maju menampar Erika, namun Nindi segera menarik nya.
"Udah Put, jangan diladeni orang gila begitu. Kita turun. Yuk Mai" ajak Nindi langsung.
Maira memejamkan matanya sekilas dan beristighfar dalam hati. Dia benar benar emosi melihat Erika. Bahkan sangking emosi nya mata Maira sampai berair, sedangkan perut nya mulai mual kembali.
"Udah pantas orang tua Ervan gak ngerestui hubungan kalian. Lihat aja sekarang, hamil diluar nikah dan cuma buat malu kampus. ****** memang gak pantes kuliah disini. Mending Lo keluar deh" usir Erika
plak
Satu tamparan langsung mendarat diwajah Erika. Maira sudah benar benar geram.
"Jangan kira Lo udah bagus ya , apa hak Lo ngatain gue ****** ha" seru Maira begitu emosi
Nindi langsung terperangah melihat Maira. Dia langsung menarik Maira menjauh saat Erika ingin membalas nya, dan dengan cepat pula Putri menghalangi nya.
"Kurang ajar Lo, berani Lo ha" teriak Erika tidak terima.
"Jangan sentuh dia, Lo yang ******" teriak Putri pula. Dia mendorong Erika dengan kuat, sedangkan Nindi langsung menarik Maira untuk turun kebawah.
Dibawah sudah banyak orang yang menyaksikan perkelahian mereka lagi.
"Kurang ajar" Erika menggeram.
Teman teman Erika langsung menarik Putri menjauh, sedangkan Erika terlihat mendekati Maira dan Nindi yang sudah ingin turun.
"Mau kemana Lo," seru Erika.
Dia ingin menarik tangan Maira, namun Maira menghindar dengan cepat. Dan entah apa yang ada difikiran Erika, dia malah mendorong Maira dengan kuat, hingga Maira hampir terjatuh dari atas tangga kebawah.
"Maira" teriak Putri dan Nindi bersamaan.
Namun dengan sigap, Nindi langsung menarik baju Maira dengan kuat dan menghempaskan tubuh Maira kearah Putri.
Putri dengan sigap langsung menangkap tubuh Maira, hingga mereka jatuh bersamaan diatas lantai.
Namun naas, akibat menolong Maira, Nindi tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya, dan dialah yang akhirnya terjatuh dari atas tangga itu.
__ADS_1
"Nindi!!!" teriak semua orang saat tubuh Nindi terguling dari atas tangga kebawah dengan begitu mengerihkan.