Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Bertemu Mama Ervan (Erika)


__ADS_3

Siang ini mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tapi mau tidak mau Erika memang harus tetap keluar rumah. Karena dia yang ingin mencari cat untuk lukisan nya yang sudah banyak habis.


Malam ini Erika ingin menyelesaikan satu lukisan nya lagi, agar besok sudah bisa dia jual. Lumayan uang nya bisa dia kumpulkan. Lagipula sekarang, hanya melukislah pekerjaan Erika.


Alhamdulillah, hobi yang sempat terpendam itu ternyata bisa menghasilkan sekarang. Apalagi dia yang sudah tidak bisa lagi untuk bekerja berat.


Melukis tidak melelahkan, dia hanya harus memiliki imajinasi yang tinggi. Dan beruntungnya dia, Allah permudahkan segala nya.


"Yu, dirumah dulu ya. Kakak mau belanja. Kalau kamu ikut, takut hujan. Sebentar lagi kayak nya mau turun hujan" pamit Erika pada Ayu.


"Iya kak. Ayu tunggu dirumah kok. Tapi kakak jangan main hujan lagi. Nanti kakak sakit lagi kayak kemarin" ujar Ayu.


Erika tersenyum dan mengangguk.


"Iya, kamu baik baik dirumah ya. Kakak pergi dulu. assalamualaikum" pamit Erika.


"Waalaikumsalam... da kak" balas Ayu seraya melambaikan tangan nya.


Erika melambaikan tangan nya sekilas dan langsung pergi dari rumah itu meninggalkan Ayu sendirian. Gadis kecil itu cukup pintar dan tidak banyak menuntut. Erika beruntung mempunyai mereka.


Erika berjalan dengan cepat, keluar dari gang rumah nya. Mendung sudah sangat kelam, dan sebenarnya ini membuat Erika was was. Tapi jika tidak keluar, cat nya sudah banyak yang habis.


Hingga akhirnya Erika naik angkutan umum untuk pergi ketempat penjualan alat alat lukisnya.


Tidak lama, tidak sampai satu jam dia sudah tiba ditempat langganan nya. Erika membeli apa yang dia butuhkan dan juga alat tulis untuk Ayu. Ayu sangat suka mewarnai, dan buku mewarnai nya juga sudah habis, jadi Erika memutuskan untuk membelikan nya lagi.


Dan sialnya, ketika dia selesai membayar, hujan malah turun, membuat Erika jadi tidak bisa kemana mana. Untuk berhujan lagi, dia yakin tubuhnya pasti tidak akan tahan. Kemarin saja dia sampai demam dua hari karena menunggu hujan reda.


Dan sekarang jangan sampai dia demam lagi dan merepotkan Akbar dan Ayu.


Erika memilih duduk didepan toko, dimana banyak juga orang orang yang sedang berteduh disana. mata Erika mengedar seraya dia yang menunggu angkutan umum yang lewat. Semoga saja dia tidak menunggu sampai malam.


Hujan belum begitu deras, hingga banyak kendaraan yang berlalu lalang dijalan itu. Apalagi pengendara motor yang membawa motornya dengan kecepatan cukup tinggi.


Hujan...


Meski suasana ramai, tapi tetap saja Erika selalu merasa kesepian.


Sepi bukan karena tidak bersyukur dengan segala yang dia terima. Hanya saja Erika rindu, rindu dengan orang tua nya, rindu dengan teman teman nya, dan rindu dengan kehidupan nya yang dulu.


Sekarang, semua terasa menyakitkan. Disaat dia terjatuh, disaat itu pula semua orang meninggalkan nya.


Meninggalkan dia sendirian, dalam rasa sakit dan takut yang luar biasa.


Helaan nafas Erika cukup berat, seiring dengan matanya yang memandang kearah toko pernak pernik yang berada tepat disamping toko peralatan menulis ini.


Dan ketika melihat seseorang keluar, Erika cukup terkejut, karena ternyata itu adalah mama Ervan.


"Tante Dona" gumam Erika.

__ADS_1


Namun dia terkejut saat melihat mama Ervan yang tiba tiba tertunduk dan merintih seperti menahan sakit.


Ada apa?


Erika melirik disekitar butik itu. Terlihat sepi karena pegawai butik dan pengunjung sepertinya masih berada didalam sana.


Erika semakin panik saat melihat mama Ervan tersandar didinding butik seraya memegangi perutnya, dia bahkan sampai tertunduk dan menjatuhkan belanjaan nya.


Dengan sigap Erika langsung berlari keluar dari emperan toko, dan berlari kecil menuju kearah butik.


Pakaian nya basah kembali, tapi dia khawatir dengan mama Ervan yang terlihat kesakitan seperti itu.


"Tante, Tante kenapa?" tanya Erika yang langsung mendekati mama Ervan dan membantu memegangi lengan mama Ervan yang hampir tersungkur.


"uhhh perut saya sakit, sepertinya magh saya kambuh" jawab mama Ervan yang belum memandang Erika. Mungkin karena dia sedang menahan sakit, jadi dia belum menyadari kedatangan Erika disana.


"Kita duduk dulu Tante" Erika langsung memapah lengan mama Ervan dan membawa nya kekursi panjang yang ada disana.


"Saya ada obat magh, Tante mau minum nya, siapa tahu bisa sedikit mengurangi rasa sakit Tante" ujar Erika seraya menyerahkan obat magh dari dalam tasnya. Obat yang selalu dia bawa bersamaan dengan obat pinggang nya.


Mama Ervan mengangguk dan dengan cepat meraih obat itu. Bahkan tanpa ragu dia langsung menelan nya dengan cepat.


Erika mengusap punggung mama Ervan dengan lembut. Sangat lama mereka terdiam, hingga lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh mama Ervan sedikit berkurang dan bisa membuat nya bernafas dengan baik. Setelah tadi rasa sakit dan menggigit yang dia rasakan benar benar membuat nya hampir mati.


"Terimakasih ya, saya....."


"Kamu... Erika?" tanya mama Ervan begitu terperangah, apalagi ketika melihat penampilan Erika yang benar benar sudah berubah.


Erika tersenyum getir dan mengangguk pelan.


"Iya Tante. Sudah baikan sakit Tante?" tanya Erika.


Mama Ervan hanya diam, dia masih memperhatikan Erika dengan tidak menyangka.


"Kamu dari mana memakai pakaian seperti ini?" tanya mama Ervan.


"Tidak ada Tante. Saya habis belanja disebelah" jawab Maira seraya menunjuk barang barang nya yang dia letakkan diatas lantai karena menolong mama Ervan tadi.


Mama Ervan menggeleng tidak percaya melihat ini. Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan mantan tunangan anak nya ini. Terakhir kali saat mereka membatalkan pertunangan itu.


Dan sekarang, mama Ervan terlihat begitu terkejut melihat penampilan Erika. Benar benar berbeda. Jika dulu Erika selalu memakai pakaian terbuka dan terlihat modis. Maka kini pakaian nya terlihat sangat tertutup dan sederhana. Bahkan dia mengenakan hijab panjang yang menutupi dada nya.


"Kamu memang sudah berubah atau hanya ingin mencari perhatian orang orang?"


deg


Lagi dan lagi, perkataan itu selalu saja disematkan untuk nya.


Erika harus menjawab apa???

__ADS_1


Apalagi dengan pandangan mata mama Ervan yang begitu memperhatikan seluruh penampilan nya, membuat Erika benar benar canggung.


Dan tiba tiba, perhatian mereka teralihkan saat mobil yang mendekat kearah depan butik.


Mata Erika kembali melebar sekilas saat melihat seseorang turun dari dalam mobil dan berlari mendekat kearah mereka.


"Mama.. maaf telat. Macet banget, ada kecelakaan disimpang tiga" ungkap Ervan. Namun sedetik kemudian dia terkesiap saat menoleh pada Erika.


"Kamu? ngapain disini?" tanya Ervan begitu heran.


Apalagi karena melihat Erika bisa bersama dengan mama nya.


Erika tidak menjawab, dia hanya melirik Ervan sejenak dan setelah itu dia membungkuk meraih punggung tangan mama Ervan.


"Tante, Erika pamit dulu. Assalamualaikum" pamit Erika yang langsung meraih tangan mama Ervan dan mencium nya sekilas.


"Tunggu" panggil mama Ervan. Erika yang sedang mengambil belanjaan nya kembali menoleh.


"Terimakasih sudah menolong saya. Saya harap itu bukan sebuah pencitraan" ucap mama Ervan.


Erika tersenyum tipis dan terkesan getir. Dia mengangguk pelan memandang mama Ervan.


"Saya tidak mempunyai niat apapun Tante. Saya pamit dulu" ucap Erika.


Bahkan tanpa menunggu jawaban dari mama Ervan, Erika kembali berlari menerobos hujan dan mencari tempat berteduh untuk menunggu angkutan umum.


Ervan memandang mama nya dan Erika yang sudah menghilang dibalik pagar. Dia heran, apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Mama, kenapa wajah mama pucat?" tanya Ervan


"Magh mama kambuh, untung ada Erika yang ngasih obat. Jadi bisa duduk disini nunggu kamu" Jawab mama Ervan.


"Erika" gumam Ervan.


Mama mengangguk seraya memandang kearah jalanan dimana Erika sudah menghilang.


"Kenapa dia bisa berubah seperti itu?" tanya mama


Ervan menggeleng pelan. Dia juga tidak tahu.


"Kita pulang ma, mama harus banyak istirahat" ajak Ervan. Dia membuka jaket nya untuk menutupi kepala dan tubuh mama yang terkena air hujan.


Dan setelah itu dia langsung membawa mama kedalam mobil.


Hati Ervan tiba tiba terenyuh, saat melihat Erika yang berdiri dengan memeluk dirinya sendiri dan juga belanjaannya dibawah sebuah ruko kosong.


Ada rasa penasaran yang begitu besar didalam hatinya melihat Erika yang sekarang.


Apa dengan dia mencari tahu yang sebenarnya itu hal yang baik????

__ADS_1


__ADS_2