
Suasana pernikahan Putri semakin sore semakin meriah. Bahkan tamu undangan yang datang juga semakin ramai. Apalagi Putri juga mengundang seluruh teman teman dikampus nya. Jadi cukup ramai muda mudi yang datang.
Erika duduk tersenyum memandang kearah panggung dimana Ervan masih bernyanyi disana. Mereka sudah ingin pulang tadi, tapi Maira malah memaksa Ervan untuk menyanyi. Keinginan bayi katanya. Aneh sekali memang.
Tapi Erika juga ikut bahagia melihat Maira dan Ervan sekarang. Mereka sudah terlihat biasa dan terlihat seperti teman pada umumnya. Bahkan dengan dokter Danar Ervan juga dekat.
Berada di antara mereka membuat Erika begitu terharu.
Mereka yang mempunyai alasan untuk tertawa tanpa menghujat, mereka yang selalu ceria tanpa beban yang tersimpan. Dan mereka yang saling perduli tanpa kepalsuan sungguh membuat Erika sangat terharu.
Dia masih tidak menyangka jika dia akan disambut seperti ini oleh mereka. Disaat orang lain menghujat dan menghina nya, tapi Maira dan kedua sahabatnya malah menerimanya dengan baik. Padahal dulu mereka adalah orang yang selalu Erika usik. Tapi sekarang, malah mereka yang mau menerima nya.
"Hei... gak usah dipandangi kali Rik" goda Nindi membuat Erika yang sedang memandang kearah Ervan langsung terkesiap kaget.
"Sirik aja sih Nin. Lagian suara Ervan juga enak, makanya aku mau dia nyanyi. Tuh lihat, pada suka semua kan" sahut Maira seraya mengusap perutnya.
Erika langsung melirik pada dokter Danar yang nampak tenang. Tidak cemburu kah dia saat Maira memuji Ervan?
"Hiss kamu gak ngerti. Pandangan Erika bukan kagum sama suara nya. Tapi kagum sama orang nya. Ya kan" goda Nindi lagi. Bahkan dia langsung menyikut lengan Erika dan memainkan matanya dengan centil.
Erika tersenyum dan menggeleng.
"Enggak kok. Sama kayak yang lain" jawab Erika. Namun kelihatan sekali jika dia malu membuat Nindi langsung terbahak sedangkan Maira nampak mengulum senyum.
Jika dulu dia akan marah sekali melihat Erika yang memandang Ervan, tapi kini entah kenapa dia malah bahagia. Bahkan dia berharap mereka bisa bersatu. Karena Maira tahu, sejak dulu Erika memang sudah menyukai Ervan.
Jangan sia sia kan dulu dia yang menjadi pengacau di dalam hubungan mereka.
Astaghfirullah... kenapa jadi julid sih.
"Ngeles aja sih Rik. Kalau bener juga gak ada yang marah" ucap Nindi lagi. Namun Erika hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Kamu pulang malam aja kan Rik?" tanya Maira pada Erika.
"Enggak deh kayak nya. Kasihan adik adik aku dirumah sendirian" jawab Erika.
"Si Akbar ya, sama siapa sih satu lagi. Lupa aku?" tanya Nindi.
"Ayu" jawab Erika.
"Nah iya itu" jawab Nindi.
"Yah... padahal acara masih sampai malam Lo. Kan seru kalau kamu malam aja balik nya" ucap Maira lagi.
"Maaf Mai. Aku benar benar gak enak." ucap Erika.
"Padahal dia sendiri juga gak sampai malam" gerutu Nindi
Maira langsung tertawa dan kembali mengusap perutnya.
"Kaki aku pegal, gak sanggup lama lama duduk dan berdiri. Ini aja udah pengen baring" jawab Maira.
Bahkan dia sudah tidak lagi mengenakan sepatu nya karena kakinya yang sudah bengkak.
"Kaki kamu bengkak Mai" ucap Erika. Membuat dokter Danar yang sejak tadi berbicara dengan teman nya langsung menoleh kearah Maira.
"Bengkak lagi sayang?" tanya nya seraya menunduk dan memeriksa kaki Maira.
"Dikit doang mas" jawab Maira
"Sini" dokter Danar langsung meraih kaki Maira dan meletakkan nya diatas pangkuan nya. Membuat Maira langsung terkesiap kaget
"Eh jangan mas. Malu" ucap Maira seraya ingin menurunkan kakinya, namun dokter Danar malah menahan nya.
"Gak kelihatan, dibawah meja juga" jawab dokter Danar. Dia langsung memijat kaki Maira dengan lembut.
Membuat Nindi dan Erika yang memandang langsung terharu melihat nya.
"Huh... gak kelihatan gimana. Suka banget buat orang baper" gerutu Nindi.
Maira langsung tersenyum masam melihatnya.
"Jangan dilihat" ucap dokter Danar tanpa memandang Nindi yang nampak kesal. Dan Erika hanya tertawa kecil. Beruntung sekali Maira mendapatkan suami seperti dokter Danar. Dia benar benar tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita dengan lembut.
Bisakah Erika mendapatkan suami seperti itu?
Ya Allah....
Bahkan untuk membayangkan nya saja Erika tidak berani.
"Heii kenapa sudah turun. Aku belum puas Van" seru Maira tiba tiba. Membuat mereka langsung menoleh kearah Ervan yang ternyata sudah berada didekat mereka.
"Udah dong Mai, udah tiga lagu Lo. Ya kali aku terus yang nyanyi. Bisa ditimpuk aku lama lama" gerutu Ervan seraya duduk disamping Erika dan meraih air putih di atas meja.
"Haus banget Van" ucap Nindi seraya memandang Ervan yang terlihat kehausan.
"Iya ... tiga lagu. Lumayan juga. Kayak nya anak dokter bakalan hobi nyanyi deh nanti" ucap Ervan pada dokter Danar.
Dokter Danar langsung tersenyum dan menggeleng pelan.
"Ayah dan ibunya tidak ada yang bisa menyanyi, bagaimana mungkin anak nya hobi nyanyi" ucap dokter Danar.
"Itukan mau nya Maira aja yang pengen lihat kamu sibuk" ucap Nindi dengan tawa lucunya.
__ADS_1
Ervan langsung memandang Maira dengan lekat.
"Enggak... beneran kok bukan aku yang pengen. Eh maksudku bukan keinginan aku. Duh gimana sih ngomongnya. Pokok nya aku pengen Ervan nyanyi. Suka aja lihat dia nyanyi. Kalau gak dituruti nanti anak aku ileran lagi" ucap Maira dengan cepat.
Nindi dan Erika langsung tertawa mendengar nya. Apalagi saat melihat wajah dokter Danar yang memandang Maira dengan lekat dan penuh arti. Apa dia mulai cemburu????
"Maaasss jangan begitu mandang nya" seru Maira seraya mengusap wajah dokter Danar dengan cepat.
Ervan langsung terkekeh geli melihat Maira yang ketakutan.
"Aku gak ikutan ya Mai" ucap Ervan.
"Dokter bisa cemburu juga kah?" goda Nindi dengan tawa geli nya.
Erika tersenyum memandang mereka, namun tiba tiba senyum nya langsung hilang, saat dia merasa pinggang nya yang berdenyut kembali.
Ya Allah...
Jangan sekarang!
"Enggak cemburu kok. Cuma lihat aja, bohong atau enggak" jawab dokter Danar.
Maira langsung mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Kalau gak cemburu kenapa gitu Ngelihat nya. Salahin nih anak mas yang pengen" jawab Maira.
"Kenapa anak mas yang disalahin hmm" dokter Danar langsung mencubit gemas hidung Maira membuat Nindi dan Ervan langsung tertawa lucu melihat mereka.
Erika sudah terdiam, dia tidak lagi bisa ikut merasakan bahagia mereka. Rasanya pinggang nya ini sakit sekali. Padahal tadi Erika sudah meminum obatnya. Tapi kenapa sekarang malah sakit? Apa ada sesuatu yang dia makan tadi?
"Aaahh maasss iih. Nanti mereka pengen cepet kawin kalau lihat kita begini" sindir Maira dengan tawa nya.
"Udah deh, males banget kalau udah bahas kawin. Mana hilal belum kelihatan lagi." gerutu Nindi.
"Nunggu Brian ya" goda Ervan.
"Nunggu jodoh yang terbaik" sahut Nindi.
Ervan dan Maira langsung tertawa mendengar itu. Sementara dokter Danar nampak memperhatikan Erika yang sudah terdiam.
"Van..." panggil Erika. Membuat Ervan langsung menoleh kearahnya.
"Kita pulang yuk" ajak Erika.
"Cepat banget Rik?" tanya Nindi.
"Iya, sudah mau Maghrib" jawab Erika dengan memaksakan senyum nya. Tapi saat melihat wajahnya yang memucat, membuat mereka semua tahu, jika Sepertinya Erika sudah tidak baik baik saja.
"Kamu baik baik saja Erika?" tanya dokter Danar. Karena dia yang paling tahu.
"Baik dokter. Saya baik baik saja" jawab Erika. Namun keringat dingin itu tidak bisa membohongi semua orang. Apalagi dokter Danar.
"Yasudah. Ayo. Kalau begitu kami pamit duluan. Dokter" pamit Ervan
"Ya, bawa langsung jika tidak memungkinkan Van" uajr dokter Danar..
"Baik dokter" jawab Ervan.
Erika sudah tidak lagi mendengarkan percakapan mereka. Karena rasa sakit ini cukup membuat perhatian nya menjadi tidak fokus.
"Aku pergi dulu Mai... Nin" pamit Erika, bahkan suaranya sudah terdengar begitu pelan.
"Erika, kamu benar baik baik aja?" tanya Nindi yang nampak khawatir.
Namun Erika langsung mengangguk dan tersenyum tipis.
Ervan langsung membawa Erika pergi meninggalkan Maira, Nindi dan dokter Danar yang memperhatikan mereka hingga keluar dari aula gedung.
Wajah Erika yang pucat dan pandangan matanya yang sayu membuat mereka khawatir. Sepertinya Erika memang tidak bisa bertahan lama jika dibiarkan begitu saja. Dia sudah harus mendapatkan penanganan yang tepat.
"Kayak nya dia memang harus dibawa berobat deh" gumam Nindi.
Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Mas... gimana. Apa minta Ervan untuk bawa Erika kerumah sakit langsung?" tanya Maira.
"Sepertinya iya. Mungkin besok mas akan bicara sama Ervan dan orang tua Erika. Bagaimana pun mereka juga harus tahu keadaan anak nya" jawab dokter Danar.
"Iya, mereka keterlaluan banget. Anak sendiri kok malah diusir, mana lagi sakit begitu lagi" gumam Nindi yang merasa kesal dan kasihan melihat nasib Erika.
"Iya, dia sampai berubah banget sekarang. Padahal dulu, dia banyak omong dan paling ribut" gumam Maira pula.
"Kita harus bantu dia Mai. Kasihan" ujar Nindi.
"Iyalah, besok kita bujuk dia ya" sahut Maira pula.
Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
..
Sementara didalam mobil, Erika sudah memejamkan matanya seraya menahan sakit dipinggang yang begitu menggigit. Apa obat yang dia minum sudah tidak lagi berfungsi?
Atau apa penyakitnya yang semakin parah?
__ADS_1
Ya Allah...Erika takut.
"Kita kerumah sakit ya" ajak Ervan
Erika menggeleng.
"Kamu sakit Erika. Jika hanya meminum obat kapan akan sembuh?" tanya Ervan.
Namun Erika hanya diam. Dia masih menahan sakit nya.
Tidak ... Ervan tidak bisa menahan lagi. Dia langsung memutar kemudianya mengarah kearah rumah sakit dimana dokter Danar biasa praktek. Meski dokter Danar tidak ada, tapi setidak nya Erika bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Mungkin jika diberi tahu, malam nanti dokter Danar pasti akan datang.
Erika yang membuka matanya langsung mengernyit saat melihat ternyata ini bukan jalan menuju rumah nya. Melainkan ke ... rumah sakit.
"Van... aku mau pulang aja" ucap Erika pada Ervan.
"Kamu harus diperiksa Erika" sahut Ervan.
"Van... tolong" pinta Erika dengan mata yang berkaca kaca
"Kenapa egois sekali. Kamu itu harus diperiksa. Kenapa malah mau menyiksa diri sendiri ha?" tanya Ervan, nada nya sedikit tinggi karena dia sudah panik dan khawatir melihat Erika yang seperti ini.
"Van kamu tidak mengerti!" seru Erika.
"Aku mengerti. Maka dari itu aku membawa mu kerumah sakit" jawab Ervan tidak mau kalah.
"Ervan..." lirih Erika. Namun Ervan hanya diam dan terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang sudah tidak jauh lagi. Bahkan gedung rumah sakit itu sudah kelihatan.
"Kamu tidak mengerti Van. Kamu tidak mengerti" gumam Erika dengan Isak tangis nya.
"Biaya pengobatan ku mahal. Bagaimana aku membayar nya. Aku benar benar tidak ingin merepotkan siapapun " ungkap Erika.
Ervan langsung menoleh kearah nya. Memandang Erika yang menangis begitu pilu dengan wajahnya yang semakin pucat.
"Erika... untuk sekarang jangan fikirkan itu. Kamu hanya perlu ikut dan berjuang untuk sembuh" ujar Ervan.
Namun Erika menggeleng pelan.
"Aku bahkan sudah tidak berharap untuk sembuh"
deg
Jantung Ervan serasa ingin berhenti berdetak mendengar itu.
"Aku hidup sendirian Van. Bahkan orang tua ku tidak lagi menginginkan aku ada. Rasanya untuk apa aku berjuang jika semua orang tidak lagi menyukai gadis jahat seperti ku" ungkap Erika dengan bahu yang bergetar menahan Isak tangis nya. Isak tangis yang penuh dengan beban kesedihan yang mendalam. Membuat Ervan juga merasa ikut sakit mendengar suara tangisan itu.
"Erika... Allah tidak menyukai orang orang yang mudah berputus asa" ucap Ervan.
"Aku tidak putus asa. Aku hanya tidak ingin berharap lagi" jawab Erika.
Ervan menghela nafasnya dengan pelan seraya memutar setir mobilnya masuk kedalam halaman rumah sakit.
"Van..." lirih Erika yang benar benar tidak ingin diperiksa.
"Jika kamu tidak ingin berjuang. Maka biarkan aku yang berjuang untuk kesembuhan mu" ucap Ervan begitu serius. Membuat Erika langsung tertegun.
Dia bahkan langsung tertunduk saat Ervan turun dari mobilnya dan dengan cepat pula membukakan pintu mobil untuk dia.
"Ayo" ajak Ervan.
Erika menggeleng pelan.
"Erika.." tekan Ervan lagi.
"Kenapa kamu begitu memaksa" tanya Erika.
Namun Ervan tidak menjawab melainkan dia yang langsung menarik tangan Erika. Hingga membuat Erika mau tidak mau langsung turun dari dalam mobil. Namun karena pinggangnya yang sakit, membuat dia langsung oleng dan malah tersandar didada Ervan karena Ervan yang dengan sigap menahan tubuhnya.
"Rasa sakit itu dibuang, bukan ditahan" ucap Ervan.
Namun Erika hanya diam dan malah meremas kemeja Ervan karena sungguh pinggang nya benar benar sakit.
"Masih bisa berjalan, atau mau aku gendong?" tanya Ervan.
"Jalan" jawab Erika yang bahkan hanya terdengar seperti gumaman.
Erika menarik nafas nya dalam dalam, dan mulai berdiri dengan tegak.
"Pegang lenganku" ujar Ervan.
Erika mengangguk dan langsung merangkul lengan Ervan. Wajahnya benar benar pucat dan sebenarnya itu membuat Ervan semakin cemas.
Namun belum beberapa langkah mereka masuk, tiba tiba sebuah mobil ambulan berhenti didepan lobi. Membuat Ervan dan Erika menyingkir terlebih dahulu karena banyak orang yang berlarian kesana. Ervan takut jika mereka akan menabrak Erika.
"Pasien kecelakaan. Suami istri, sepertinya istri sudah tidak lagi selamat" ucap salah seorang petugas
Jantung Erika langsung berdenyut ngilu mendengar itu.
Namun matanya langsung melebar saat melihat kakaknya yang turun dari dalam mobil yang berada dibelakang ambulan itu.
Pandangan mata Erika langsung menoleh pada dua brankar yang membawa dua orang itu. Dengan cepat Erika langsung mendekat, bahkan dia sudah melupakan rasa sakit nya dan berganti dengan rasa takut yang luar biasa.
Kaki nya langsung lemas tidak berdaya saat melihat ternyata ayah nya lah yang terbaring tidak berdaya dengan darah disekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Papa....," gumam Erika. Bahkan Ervan pun ikut terkejut melihat itu.