Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Perasaan Ervan


__ADS_3

Ervan duduk dengan cemas dan tegang sejak tadi. Sudah hampir tiga jam dia menunggu didepan ruang operasi Erika. Tapi sampai saat ini dokter Danar dan juga staf medis yang lain belum ada juga yang keluar.


Nindi dan kakak Erika juga ada disana. Mereka juga nampak gelisah, pasalnya saat akan masuk kedalam ruang operasi tadi keadaan Erika memang lemah. Dia tidak sadarkan diri sejak semalam.


Saat ini, mereka hanya bisa berdoa, semoga operasi ini berjalan lancar dan Erika akan baik baik saja.


Hingga beberapa jam kemudian, barulah lampu ruang operasi mati, pertanda operasi Erika telah selesai dilakukan.


Dokter Danar keluar dengan wajah lelah nya. Namun tetap saja, senyum ramah nan teduh itu tidak tertinggal.


"Dokter, bagaimana?" tanya Luna


"Alhamdulillah operasi nya berjalan lancar, meski ada sedikit kendala tapi semua bisa diselesaikan dengan baik. Hanya saja Erika masih kritis saat ini. Kita berdoa bersama ya" ujar dokter Danar.


"Sudah boleh dilihat dokter?" tanya Ervan pula.


Dokter Danar menggeleng pelan.


"Belum Van. Kondisi Erika terlalu lemah. Dia masih belum bisa dijenguk." jawab dokter Danar.


Ervan dan Luna nampak lemas mendengar itu, meski mereka juga bersyukur jika operasi nya berjalan dengan lancar.


"Saya permisi dulu. Mau dhuhur, kalian sudah?" tanya dokter Danar. Mereka menggeleng serentak.


"Ayo sama sama. Sekalian kita berdoa untuk kesembuhan Erika" ujar dokter Danar lagi


"Iya dokter" jawab Ervan yang langsung berjalan mengikuti dokter Danar menuju tempat shalat yang ada dirumah sakit itu. Begitu pula dengan Nindi dan Luna.


Apa yang dikatakan dokter Danar benar. Meratapi dan hanya berharap tidak akan menghasilkan apa apa. Usaha sudah, dan sekarang waktunya untuk berdoa. Semoga semua akan baik baik saja.


...


Tiga hari kemudian....


Ervan baru tiba dirumah sakit sore ini. Siang tadi dia keperusahaan karena diminta ayahnya untuk memimpin rapat.


Meski tidak fokus karena memikirkan Erika, tapi mau tidak mau Ervan harus tetap datang.


Sudah tiga hari berlalu, namun Erika juga belum sadar. Meski keadaan nya sudah membaik dan dia juga sudah dipindahkan keruang perawatan. Tapi entah kenapa Erika belum sadar juga.


Ervan mengetuk pintu sebelum masuk, dan ketika membuka pintu, ternyata didalam ada Maira dan juga Nindi.


"Assalamualaikum" sapa Ervan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka.


"Aku kira kamu gak datang hari ini Van" ucap Nindi.


"Datang kok, baru selesai kerja" jawab Ervan.


"Karena kamu udah datang, kalau gitu kami yang pamit pulang ya" ujar Nindi


"Kok cepat banget, udah dari tadi?" tanya Ervan, seraya matanya yang melirik Maira sekilas. Istri dokter Danar sekaligus mantan nya ini terlihat begitu kepayahan berdiri dari kursinya.


"Udah dari siang tadi. Kasihan Maira, dokter Danar gak disini soal nya" jawab Nindi.


"Loh, kemana?" tanya Ervan


"Ada janji temu sama teman nya yang dari Jepang" jawab Maira seraya berjalan menuju Ervan yang masih berdiri didekat pintu. Mereka berbicara berbisik, takut akan membuat keributan.


"Mau aku antar?" tawar Ervan. Dia memandang ngerih pada Maira. Perutnya besar sekali. Apalagi sudah memasuki bulan kedelapan ini.


"Enggak usah Van, ada supir yang nunggu didepan. Kamu disini aja. Kak Luna lagi pulang, dia mau lihat anak nya yang demam" jawab Maira.


"Oh yaudah deh. Kalau gitu hati hati. Ngerih banget aku ngelihat kamu Mai. Besok besok gak usah kemari lagi deh." ucap Ervan dengan ringisan diwajahnya.


Maira tertawa kecil mendengar itu seraya dia yang mengusap perutnya.


"Perhatian banget sama mantan" goda Nindi. Membuat Ervan langsung mencebikkan bibirnya.


"Bukan gitu, cuma kan Maira udah hamil besar. Jalan aja kepayahan. Aku takut kenapa kenapa. Gimana kalau lahiran dijalan nanti" jawab Ervan.


"Jangan dong. Aku juga baru ini ngelihat Erika. Itu juga udah atas izin pak dokter" sahut Maira.


"Yasudah, kami pulang dulu. Kata mas Danar, orang yang spesial untuk dia, bisa cepat buat Erika sadar Lo Van" ucap Maira.


"Orang yang spesial?" tanya Ervan.


Maira mengangguk cepat, sedangkan Nindi nampak menahan senyum.


"Iya, semangat dari orang yang spesial bagi Erika. Coba aja bangunin, siapa tahu dia bangun. Udah tiga hari, kamu gak khawatir " tanya Maira


"Ya khawatir lah" jawab Ervan langsung


"Nah maka dari itu, usahain kamu bangunin Erika" ujar Nindi.


Ervan menghela nafas dan memandang pada Erika sekilas.


"Dokter Danar aja susah apalagi aku" gumam Ervan.


"Dicoba dulu." ujar Maira


Ervan memandang Maira dengan tatapan bingung.


"Sejak dulu kamu kan memang orang yang spesial buat dia. Dan sekarang mungkin begitu." ucap Maira lagi.


"Yaudah, kami pamit dulu ya. Udah mulai sore. Assalamualaikum " pamit Maira


"Waalaikumsalam " jawab Ervan.


"Semangat Van" Ucap Nindi.


Namun Ervan mengabaikan nya dan kembali memandang Erika.

__ADS_1


Membiarkan Nindi dan Maira yang keluar dari dalam ruangan itu.


"Kamu sadar gak sih Mai kalau Ervan itu suka sama Erika?" tanya Nindi disela sela perjalanan mereka.


"Sadar kok, kalau gak suka dia gak akan belain Erika sampai kayak gini" jawab Maira.


"Iya benar juga ya" gumam Nindi


"Sejak dulu, mungkin kalau aku lama gak kembali, udah jelas Ervan bakalan luluh sama setiap usaha Erika. Kamu lihat sendirikan, kalau akhirnya Ervan Nerima untuk tunangan sama Erika" ucap Maira seraya memandang Nindi sekilas.


"Mungkin itu bentuk pelampiasan hatinya aja kali" jawab Nindi.


Namun Erika menggeleng.


"Sejak awal masuk kampus sampai aku nikah sama mas Danar, Erika udah masuk kedalam hubungan kami. Segala cara dia lakuin untuk ngambil hati Ervan. Sebenarnya tanpa disadari sedikit banyak nya Ervan udah jatuh hati sama Erika. Dia cantik, pintar dan menarik. Beda kan sama aku yang gak ada apa apa nya. Cuma karena udah ngejalani hubungan cukup lama, jadi Ervan gak bisa ninggalin aku gitu aja" ungkap Maira.


Nindi mengangguk pelan.


"Dia berusaha untuk setia" gumam Nindi


"Ya, dia hanya mencoba setia. Tapi bukan memperjuangan. Maka dari itu Ervan gak pernah bisa belain aku didepan orang tuanya. Bahkan didepan Erika sekalipun. Karena sekarang, aku baru sadar, kalau sebenarnya sejak dulu hati Ervan memang udah berhasil direbut Erika sedikit demi sedikit" ucap Maira.


Membuat Nindi langsung menoleh kearah nya.


"Karena melihat perjuangan Ervan untuk Erika yang sekarang?" tanya Nindi.


Maira mengangguk pelan dengan senyum tipis nya.


"Ya, dia bilang benci, tapi ketika melihat sisi lemah dan terpuruk Erika, dia langsung luluh dan ngelakuin segala cara untuk Erika. Itu udah nunjukin bagaimana hati Ervan yang sesungguhnya. Tapi mungkin, dia gak sadar sama perasaan nya sendiri" jawab Maira.


Nindi mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Ini bukan ungkapan kecemburuan kamu kan Mai?" tanya Nindi.


Maira tertawa kecil dan menggeleng.


"Enggaklah, aku malah senang kalau mereka bisa sama sama. Gak ada lagi yang aku cemburuin. Aku bakalan berdosa kalau cemburu sama mantan. Suami ku udah terlalu sempurna buat aku Nin" jawab Maira.


Dan kali ini Nindi yang tertawa.


"Ya, dan akhirnya, semua pasti akan menemukan jodoh masing masing" sahut Nindi.


"Benar, semoga jodoh kita adalah jodoh yang terbaik dari yang baik" harap Maira.


"Aamiin ya Allah" jawab Nindi.


Ya, siapa sangka, jika pertemuan, jodoh, dan segala hal yang ada didalam kehidupan ini tidak ada yang bisa menebak.


Semua adalah rahasia Allah. Meski bagaimana pun rencana kita, tapi jika Allah sudah berkehendak kita bisa apa selain menerima. Karena walau bagaimanapun, rencana dan takdir Allah adalah yang paling baik.


Masha Allah....


...


Ervan masih duduk dikursi yang ada disamping ranjang Erika.


Dia memandang Erika dengan sedih. Wajah Erika masih pucat, meski sudah tidak lagi sepucat kemarin.


Tapi alat alat medis yang menempel ditubuh Erika ini cukup membuat hati Ervan bersedih.


Entah sampai kapan Erika akan tertidur seperti ini.


Apa dia lelah?


Atau dia yang tidak ingin bangun lagi?


Kenapa dia membiarkan Ervan menunggu dan terus menunggu?


"Erika .. assalamualaikum" bisik Ervan yang sedikit mendekat kearah Erika.


"Kapan kamu bangun?" tanya Ervan


"Aku sudah lelah menunggu. Kenapa sejak dulu kamu suka sekali membuat aku kesal?"


"Apa itu memang hobi kamu?" tanya Ervan lagi.


"Cepatlah bangun. Aku tidak akan menawarkan kesempatan ketiga untuk mu. Kesempatan pertama sudah kamu sia siakan. Dan kesempatan kedua ini aku ingin kamu bisa menggunakan nya dengan baik Erika. Kamu harus bangun, dan aku janji, setelah kamu bangun. Aku pasti akan melamarmu" ucap Ervan.


Dia menghela nafas dan mengusap wajahnya sekilas


"Aku bahkan sudah meminta restu mama dan papa. Jika kamu tidak bangun sekarang, mungkin mereka tidak akan merestui kita lagi" ucap Ervan.


Dan kali ini matanya berair, entah kenapa berbicara seperti ini malah membuat hatinya semakin sedih. Ada rasa takut, rasa cemas dan juga perasaan aneh yang membuat batin nya bergejolak.


Apalagi melihat Erika yang tidak berdaya seperti ini.


Apa perasaan nya akan terhempas untuk yang kedua kali?


Apa dia akan patah hati lagi?


Jika kemarin dia patah hati karena melihat gadis yang dia cintai pergi bersama orang lain, apa sekarang Ervan akan bersedih karena melihat gadis yang dia cintai pergi menghadap tuhan?


Jangan ya Allah...


Ervan tidak akan sanggup.


Tapi... tunggu dulu. Ervan langsung terkesiap dan duduk dengan tegak seraya memandang Erika dengan lekat.


Gadis yang dia cintai???


Maira sudah jelas dulu, ya dulu, karena sekarang tidak mungkin lagi, sebab hanya akan menjadi dosa jika Ervan masih menyimpan perasaan nya itu pada istri orang.


Tapi Erika????

__ADS_1


Apakah Ervan sudah memiliki hati padanya???


Tidak mungkin kan.


Tapi jika tidak, sudah sejauh ini dia mengorbankan waktu dan tenaga untuk kesembuhan Erika? Apa nama nya jika bukan cinta??


Bahkan Ervan dengan gila nya malah berkata ingin melamar Erika, dan lagi, dia bahkan sudah membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya.


Apa ini bukan cinta???


Ervan menggeleng pelan dan semakin memandang wajah Erika dengan pandangan yang begitu dalam.


Cinta itu ketika kita senang melihat senyum nya.


Cinta itu ada debaran didada ketika melihat wajahnya.


Dan cinta itu ingin selalu dekat terus menerus disamping nya.


Begitu kan?


Tapi bersama Erika....


Ervan terdiam, dia suka melihat senyum Erika yang sangat jarang terbit diwajahnya yang pucat. Ervan juga tidak munafik jika setiap hari ini dia ingin selalu ada didekat Erika dan tahu bagaimana kabarnya.


Tapi debaran didada....


sepertinya....


deg


Jantung Ervan langsung terasa berhenti berdetak sejenak, namun kembali bergemuruh dengan hebat saat melihat mata Erika yang mulai bergerak.


Erika sadar???


"Erika" panggil Ervan.


"Ayo bangun" panggil Ervan lagi saat melihat Erika yang terlihat sulit untuk membuka matanya. Bahkan jari jemari Erika juga ikut bergerak.


Dan karena reflek, Ervan malah menggenggam nya dengan erat.


"Kamu bisa, ayo bangun. Aku menunggu kamu bangun Rik" ucap Ervan lagi.


Mata Erika yang tadinya terasa berat untuk terbuka, kini perlahan lahan mulai terbuka. Meski sayu, namun itu bisa membuat Ervan langsung tersenyum dengan haru.


Pandangan mata sendu itu langsung bertatapan dengan mata Ervan, hingga membuat dada Ervan seketika bergemuruh dengan kencang.


Namun dengan cepat Ervan menguasai perasaan nya dan segera memencet tombol pemanggil dokter. Dia juga langsung melepaskan genggaman tangan nya pada Erika saat sadar, jika yang dilakukan itu tidak boleh.


Meskipun dulu dia sudah melakukan yang lebih dari itu...


"Van" panggil Erika. Namun terdengar hanya seperti bisikan saja. Namun Ervan tetap bisa mendengar nya.


"Aku disini. Terimakasih sudah bangun. Aku sudah menunggu kamu sejak lama" ungkap Ervan.


Namun Erika hanya mengedipkan matanya sekilas dan tersenyum tipis, karena mau bagaimanapun, dia masih belum sanggup untuk berbicara banyak.


Ervan terkesiap, saat melihat mata Erika yang tiba tiba malah berair seperti ingin menangis. Bukan ingin lagi, tapi sudah menangis.


"Hei kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Ervan yang langsung panik.


"Sakit" gumam Erika dengan mata yang kembali terpejam, dan tentu saja itu membuat Ervan semakin tidak menentu.


"Erika... hei... jangan tidur lagi" pinta Ervan seraya menepuk nepuk wajah Erika.


"Erika" panggil Ervan lagi


Wajah nya benar benar panik. Tapi setelah melihat Erika kembali membuka mata Ervan langsung bernafas dengan lega.


Dan bersamaan dengan pintu yang terbuka. Asisten dokter Danar yang datang untuk memeriksa keadaan Erika.


"Nona Erika sudah sadar?" tanya dokter itu.


"Ya dokter, tapi dia mengeluh sakit" jawab Ervan.


Dokter itu langsung memeriksa Erika seraya membuka beberapa selang dan alat bantu pernafasan nya dibantu oleh perawat.


"Bekas operasi itu yang sakit?" tanya dokter itu.


Erika mengangguk pelan.


"Tidak apa apa, itu normal. Saya akan menyuntikan obat lagi. Nona bisa istirahat dan jangan memikirkan apapun ya." ucap dokter itu dengan begitu lembut. Seraya menyibakkan sedikit pakaian Erika untuk melihat bekas operasinya. Hingga membuat Ervan langsung memalingkan wajah.


"Sudah mulai kering. Tidak apa apa." gumam nya.


Erika kembali memejamkan mata saat dokter itu menyuntikkan sesuatu kelengan nya.


"Biarkan nona beristirahat dulu tuan. Dia masih terlalu lemah, dan sepertinya masih begitu trauma dengan operasi ini" ungkap dokter itu setelah dia selesai menangani Erika.


"Iya dokter" jawab Ervan


"Saya tinggal dulu. Jika ada apa apa, cepat beri tahu saya" ujar nya lagi.


"Baik dokter, terimakasih" jawab Ervan


Dia memandang sekilas kepergian dokter itu dan kembali menoleh pada Erika.


"Istirahat lagi ya" ucap Ervan seraya menyelimuti tubuh Erika.


"Jangan pergi" pinta Erika dengan lemah.


"Tidak, aku disini. Tidak akan kemana mana" jawab Ervan.


Erika tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2