
Maira memeluk botol jus kiwi nya dengan wajah yang begitu senang. Jus dengan botol berukuran 5 liter itu membuat ibu dan dokter Danar saling pandang takjub. Bisa bisa nya Maira meminta dibuatkan sebanyak itu. Dan dari tadi pagi itulah yang membuat wajahnya segar dan tidak lesu lagi.
Saat ini Maira tengah berbaring disofa seraya menonton televisi. Dia berbaring dipangkuan dokter Danar yang sedari tadi mengusap kepala nya dengan lembut.
"Botol itu coba ditaruh dulu dibawah Mai" ucap ibu yang duduk tidak jauh dari mereka.
Maira menoleh sejenak kearah ibu.
"Enggak Bu, kalau jauh jauh takut mual" jawab Maira.
"Kan bisa diambil kalau mau minum" kata ibu lagi.
"Enggak, Maira suka meluk begini. Harus dipegang, kalau gak dipegang nanti mual lagi" jawab Maira.
Dokter Danar langsung tertawa geli mendengar itu. Ya, ampun dia seperti sedang menjaga adik nya sekarang. Adik entah anak yang cocok nya.
Ibu hanya menggeleng jengah melihat Maira. Antara lucu dan kesal melihat kelakuan menantunya ini. Untung saja dia sedang mengandung cucu pertama nya, jika tidak mungkin ibu sudah akan menggeret Maira untuk kedapur.
Sedari tadi dia tidak pernah lepas dari dokter Danar. Entah bagaimana nanti kedepan nya. Mungkin cucunya itu memang akan manja pada ayahnya. Kelihatan dari sikap Maira. Atau memang Maira yang manja pada dokter Danar? entah lah.
"Ayah kapan datang Bu?" tanya dokter Danar seraya memandang ke arah ibu.
"Kayak nya gak jadi datang, salah satu hotel nya ada yang bermasalah, ada yang meninggal mendadak katanya." ungkap ibu
"Kok Danar gak tahu?" tanya dokter Danar. Maira masih diam dan menikmati usapan lembut dikepala nya.
"Baru aja ayah nelpon. Seharusnya kan hari ini. Tapi kayak nya gak jadi. Dia sibuk ngurus masalah itu" jawab ibu.
"Apa Danar perlu kesana untuk bantu ayah?" tanya dokter Danar.
"Gak usah lah, ayah bisa sendiri. Lagian udah diserahin sama polisi." jawab ibu.
"Tapi mungkin besok ibu yang pulang, kasihan ayah kamu gak ada yang ngurus. Gak apa apa kan kalau ibu tinggal? nanti kalau udah selesai urusan nya, ibu sama ayah kemari lagi" ucap ibu lagi.
Maira langsung menoleh pada ibu.
"Kalau ibu pulang yang buatin jus kiwi Maira siapa dong?" tanya Maira.
Ibu langsung tertawa mendengar itu.
"Danar kan ada Mai. Lagian bu Ijah juga ada. Nanti bisa minta buatin dia" ujar ibu.
"Tapi nanti rasanya beda" sahut Maira.
"Enggak, sama aja. Nanti ibu ajarin bu Ijah buat nya" jawab Ibu.
Maira hanya menghela nafas pelan dan mengangguk pasrah seraya kembali merebahkan kepala nya dipangkuan dokter Danar.
Siang itu mereka berkumpul bersama. Dan memang karena jus kiwi buatan ibu, Maira jadi tidak merasa pusing dan mual lagi.
...
Keesokan harinya..
__ADS_1
Maira dan dokter Danar mengantar ibu ke bandara. Ibu pulang sendiri dan tidak mau diantar. Jadi mereka hanya mengantar ibu sampai dibandara saja.
"Yah, sepi deh rumah" gumam Maira seraya memeluk botol jus nya.
Mereka sudah berada dijalan pulang.
Dokter Danar menoleh kearah Maira dan mengusap kepala nya dengan lembut. Dokter Danar benar benar tidak menyangka jika ibunya dan Maira sudah bisa akrab dan baik baik saja. Bahkan terlihat seperti ibu dan anak kandung saja. Maira bahkan tidak segan segan bermanja dengan ibu. Dan itu sungguh membuat dokter Danar sangat bahagia.
Mungkin ini juga karena pengaruh calon bayi mereka.
Sungguh membawa berkah.
"Kenapa gak hubungi Putri dan Nindi aja sayang. Bukan nya mereka nyariin kamu dari kemarin?" ujar dokter Danar.
"Iya ya, kemarin Mai mau ajak mereka kerumah. Tapi takut sama ibu" jawab Maira.
"Takut kenapa. Ibu gak apa apa kok. Kan mereka temen kamu" sahut dokter Danar.
Maira mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Mas kan tahu gimana Putri dan Nindi. Mereka itu bar bar, nanti kalau mereka cerita yang aneh aneh, gak enak dong sama ibu. Bisa bisa Maira langsung dipecat jadi menantu" ucap Maira.
Dokter Danar langsung terkekeh mendengar itu.
"Kamu ini ada ada aja. Mana mungkin ibu begitu" sahut nya.
Maira hanya mengendikan bahu nya saja dan kembali meminum jus kiwi nya.
"Kita ke showroom dulu ya. Ada yang mau mas cek. Gak apa apa kan?" tanya dokter Danar.
"Gak pusing lagi?" tanya dokter Danar.
"Enggak kok. Kan ada ini" kata Maira seraya mengangkat botol jus nya.
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng lucu melihat nya.
"Bahkan jus itu sekarang lebih menarik dari pada mas ya sayang" ucap dokter Danar.
Maira langsung tertawa mendengar itu.
"Cuma dia yang buat gak mual mas. Kalau mas yang malah buat mual" jawab Maira.
"Kenapa mas?" tanya dokter Danar.
"Lah iya, mas yang buat Dedek bayi ada diperut. Kan berarti mas yang buat Maira mual terus" jawab Maira.
Dokter Danar langsung mendengus tawa kembali mendengar itu.
"Iya maaf. Tapi kan karena ada Dedek bayi hubungan kita semakin dekat, bahkan sama ibu juga" ungkap dokter Danar.
Maira langsung mengangguk setuju, seraya mengusap perutnya dengan lembut.
"Maira udah gak sabar pengen jadi mamud" ucap Maira.
__ADS_1
"Marmud?" gumam dokter Danar.
"Kok marmud, mamud mas. Mama muda" kata Maira dengan sedikit menekan kata kata nya.
"Ya kamu ada ada aja bahasa nya. Mas mana ngerti sayang" jawab dokter Danar.
"Mas sih, udah tua, kerjaan nya cuma dirumah sakit aja, jadi mana ngerti bahasa anak muda sekarang" gerutu Maira.
"Bukan mas yang udah tua, tapi kamu yang kelamaan lahir nya" sahut dokter Danar.
"Mana ada begitu" dengus Maira
Dokter Danar hanya tertawa saja seraya membelokkan kemudi nya memasuki area showroom. Dan langsung memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk.
Dokter Danar langsung turun dari mobil dan bergegas untuk membukakan pintu mobil Maira. Maira masih sibuk membenarkan jilbab nya yang sedikit berantakan.
Dan setelah itu dia langsung tersenyum saat dokter Danar menjulurkan tangan nya pada Maira.
"Terimakasih sayang nya Maira" ucap Maira dengan begitu manja.
Dokter Danar terkekeh dan mengusap kepala nya dengan gemas.
Dia langsung membawa Maira masuk kedalam showroom. Dan mereka langsung disambut oleh beberapa karyawan yang ada disana.
Maira benar benar tidak menyangka jika suami nya mempunyai bisnis ini. Pantas saja dokter Danar bisa bergonta ganti mobil dengan mudah nya setiap bulan. Jika dia lah yang menjadi pemilik showroom mobil mobil mewah ini.
"Selamat datang mas, sudah lama tidak berkunjung" sapa salah satu karyawan.
"Iya, baru sempat. Dika ada?" tanya Dokter Danar.
"Ada, mas Dika diruangan nya, Dia juga baru datang tadi, sama temen nya" jawab karyawan itu.
Dokter Danar langsung mengangguk dan tersenyum.
"Yasudah, saya masuk dulu ya" pamit dokter Danar.
"Iya mas" jawab karyawan itu begitu patuh
Maira hanya diam dan mengikuti langkah dokter Danar memasuki showroom itu. Sembari matanya yang memandangi seluruh SPG dan sales sales cantik yang memandang mereka dengan lekat.
Dan karena melihat pandangan penuh kagum mereka pada suaminya, Maira langsung merangkul lengan dokter Danar dengan begitu posesif.
Dokter Danar langsung memandang Maira dengan aneh.
"Mata nya gak bisa dijaga, heran deh" gerutu Maira.
Dokter Danar langsung mendengus senyum mendengar itu. Sepertinya istri kecilnya ini sedang cemburu.
Dokter Danar membawa Maira kelantai dua, dimana ruangan Dika selaku menenjer di showroom nya berada.
Namun mereka terlihat tertegun saat mendengar suara laki laki dan perempuan yang sedang berbicara diruangan yang tidak ditutup pintunya itu.
Maira seperti mengenal suara ini.
__ADS_1
Dan benar saja, saat tiba diambang pintu dia langsung terperangah ketika melihat seseorang sedang berdiri dengan wajah ketus nya seperti biasa.
"Putri....