
Gibran dan yang lain nya tertegun saat mendengar jika ada anak yang hilang .
"maksud nya hilang bagaimana pak?" tanya Aranta
"hilang ya hilang ...gak tahu kemana tadi subuh anak nya masih ada tapi pas sudah pagi anak itu sudah tak ada " sahut bapak itu rada nge gas sampai Aranta terkesiap
"biasa saja kali gak usah ngegas " gumam Riswan pelan
"ya sudah terima kasih info nya ya pak " ucap Gibran ,bapak itu pun langsung pergi begitu saja
"huh dasar semprul udah ngomong nya nge gas pergi main nyelonong aja " gerutu Riswan lagi
"kamu gak apa-apa?" tanya Gibran pada Aranta mengalihkan perhatian nya dari Riswan
"enggak kok emang nya aku kenapa?" tanya Aranta balik
"aku takut kamu tersinggung dengan cara bicara bapak tadi " tutur Gibran
"apa sih ,aku gak ngerasa gimana-gimana kok ,mungkin itu sudah jadi ciri khas nya bapak tadi ,udah gak usah terlalu di fikirkan ,lebih baik kita bantu mencari anak nya yang hilang itu ,kasihan orang tua nya pasti mereka sangat sedih " ucap Aranta yang memang sudah memaklumi bapak tadi,dan sedikit pun gadis itu tak merasa tersinggung atas sikap bapak tadi
"iya Aranta benar sebaiknya kita bantu warga mencari anak itu" sahut Merlin dan langsung di setujui teman-teman nya yang lain.
Di saat mereka sudah bersiap untuk berangkat Coky pun akhirnya bangun dari tidur nya .
"kalian mau pada kemana?" tanya nya seraya mengucek mata nya sambil berjalan menghampiri yang lain
"gw kira lu gak bakal bangun lagi " ucap Dika
"enak aja gue itu tidur bukan mati , sembarangan kalau ngomong " semprot Coky yang tak terima atas ucapan Dika barusan
"ya habis nya elu , dari semalem gak bangun-bangun ,bikin repot saja kita sampai harus gotong elu ke kursi itu , kecil-kecil tapi berat nya ngalahin gentong nenek gue " ucap Dika lagi
"enak aja gue disamain dengan gentong,eh tapi tunggu ,elu...eh kalian pada gotong gue ,emangnya kenapa dengan gue?" tanya nya kemudian
"elu gak inget ?" tanya Davin
Coky pun terdiam dan mengingat-ingat apa yang terjadi semalam
"udah lah gak usah di inget-inget ,kamu mau ikut gak bantu nyari anak kecil yang hilang?" tanya Gibran
"anak siapa yang hilang?" tanya Coky
"anak nya warga sini " sahut Davin
"nanti lah gw nyusul mau mandi dulu ,kalian duluan aja " ucap Coky
"ya udah kalau gitu kita berangkat duluan " ucap Gibran ,Coky mengangguk ,dan akhirnya mereka meninggalkan Coky yang hendak mandi dulu ,akan tetapi saat semua nya sudah pergi ,ia tiba-tiba terkesiap saat berada di depan kamar mandi ,sekilas ingatan nya yang tadi malam tergambar jelas di memori nya .
__ADS_1
"hah....gue inget sekarang... dasar kampret kenapa baru inget sekarang ,gak jadi mandi deh gw " Coky pun berpindah haluan yang tadinya hendak mandi pun kini malah pergi keluar dan lari begitu saja meninggalkan rumah ,ia sampai lupa menutup pintu ,bahkan ia pun sampai lupa mencuci wajah nya . Beruntung di sana ada sosok hantu nenek-nenek yang kemudian menutup pintu nya .
"dasar cah gendeng " gumam hantu nenek-nenek itu
**
Sementara itu Gibran dan yang lain tengah sibuk mencari anak yang hilang itu di sekitaran rumah ,sedangkan Aranta dan yang lain membantu menenangkan ibu anak itu
"anak nya umur berapa tahun Bu?" tanya Merlin pada ibu sang anak yang tengah menangis
"baru juga umur satu tahun" jawab ibu itu terisak ,ia bahkan terus saja menatap foto sang anak
"anak nya cantik ya Bu?" puji Aranta
"menurut kalian anak ibu ini kemana,apa jangan-jangan diculik?" ucap Luna
"kami orang susah ,siapa yang mau nyulik anak kami , lagipula mau bayar tebusan pake apa ?" ucap si ibu itu
"ya kali aja diculik nya buat di jual atau di bunuh untuk kemudian di ambil organ dalam nya "celetuk Ana hingga membuat ibu itu histeris dan akhirnya pingsan
"Ana ngomong tuh di jaga ,kenapa malah bicara seperti itu ,kalau terjadi apa-apa pada ibu ini gimana ,kamu mau tanggung jawab " seru Merlin
"lah apa salah nya dengan omongan gue ,kan gue hanya berpendapat" jawab Ana tak merasa bersalah sama sekali
"ya salah lah ,loe belum pernah sih ngerasain jadi orang tua ,loe gak bakal faham dengan apa yang di rasain ibu ini " seru Maya yang ikut kesal dengan Ana
"sekarang lihat apa yang sudah loe lakuin ,ibu ini pingsan bagaimana jika terjadi apa-apa dengan ibu ini" sambung Lisa
"sudah-sudah kalian ngapain malah jadi ribut sih,ini ada yang bawa minyak angin gak?" Aranta berseru
"ada sebentar saya ambilkan " ucap salah satu ibu-ibu lalu pergi mencari minyak angin ke salah satu kamar
Tak berapa lama ibu itu pun kembali dengan membawa sebotol minyak angin ukuran besar
"ini ...minyak apa Bu?" tanya Aranta yang baru kali ini melihat jenis minyak angin seperti itu ,bahkan dari aroma nya saja terasa asing di penciuman nya
"saya juga tak tahu ,tapi katanya minyak angin ini sangat ampuh untuk meringankan gejala masuk angin , pegal-pegal ,dan cocok di buat obat urut ,juga untuk membantu menyadarkan orang pingsan , minyak ini sudah turun temurun keluarga ibu Arni (Bu Arni yang pingsan ) " tutur ibu itu menjelaskan
"oh gitu ,baiklah ,makasih ya Bu" Aranta pun lalu meraih minyak angin itu ,gadis itu segera mengoleskan sedikit minyak angin di telapak kaki juga tangan yang dibantu Merlin juga Lisa ,Aranta juga mengusapkan sedikit minyak angin itu di pelipis dan menaruh telunjuknya yang sudah di olesi minyak angin itu di bawah lubang hidung nya
Sementara saat ini Gibran tengah menatap langit-langit kamar di rumah itu ,Riswan yang melihat nya pun turut melihat ke arah yang sama
"ada apa nak?" tanya salah satu warga
"aku tak tahu apa ini hanya perasaan ku saja atau apa ,kita sudah mencari ke segala penjuru di desa ini bahkan setiap kolong tempat tidur pun tak luput dari pencarian warga ,dan hanya bagian loteng atap rumah yang belum kita periksa " tutur Gibran ,ia jadi teringat akan masa lalu nenek nya yang juga pernah tiba-tiba menghilang namun ditemukan di loteng rumah ,dan ia berfikir apa yang terjadi pada anak itu juga sama dengan yang terjadi dengan nenek nya ,tapi ada yang aneh bagi nya ,yaitu ia tak merasakan keterlibatan makhluk halus dalam hilang nya anak itu
"jadi maksud lu anak itu ada di atas sana ,jangan ngaco deh bagaimana cara nya tuh anak bisa naik ke atas sana ,berjalan saja belum bisa katanya " seru Barra
__ADS_1
"kan gak ada salah nya kalau kita mencoba ,siapa tahu anak itu benar-benar ada di atas " sahut Gibran lagi
"ya elah buang-buang waktu saja ,mending kalau bener ada kalau gak ada kasihan kan anak itu kalau kita menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengecek ke atas sana "timpal Gio
"yang lebih menyia-nyiakan waktu ya berdebat kaya gini , gini saja , mendingan kalian berdua bersama warga yang lain cari ke tempat lain yang menurut kalian belum kalian datangi ,aku dan Gibran akan melihat ke atas ,sisa nya bisa mencari ke tempat lain " ucap Riswan
"ya udah , yuk siapa yang mau ikut kita?" tanya Gio ,beberapa warga pun akhirnya ikut bersama Gio dan Barra
"menurut bapak-bapak semua bagian mana yang belum di datangi?" tanya Barra menatap beberapa warga yang mengikuti nya
"kaya nya gudang dekat balai desa deh ,kalau di balai desa kan gak mungkin,kalau pun ada pasti pihak petugas desa bisa langsung nemuin " ujar salah satu warga
Sontak saja Gio dan Barra terpaku di tempat nya dan saling lirik ,kedua nya masih trauma dengan tempat itu dan enggan untuk menginjakan kembali kaki mereka di gudang sana
"k...kalau begitu bagaimana kalau bapak-bapak saja yang melihat ke gudang ,biar kita mencari ke sebelah sana" ucap Gio menujuk ke arah toilet di samping balai desa
Warga yang tak merasa curiga pun hanya mengangguk dan segera menuju gudang
"haduh aman ,selamet ..... selamet .....gak lagi-lagi deh gw pergi ke tempat itu " ucap Barra sambil bergidik ngeri
"kamu manggil saya " suara seseorang yang nampak asing tiba-tiba bertanya di sertai aroma bau busuk nan amis menyeruak juga bulu kuduk pun ikut berdiri ,perlahan Barra dan Gio pun menoleh
"aaaaaaakkkkhhh......." keduanya pun lari terbirit-birit setelah melihat sosok hantu menyeramkan dengan wajah hancur dengan tempurung yang retak , terlihat bagian dalam kepala nya yaitu otak nya mengintip di sertai lelehan darah yang terus mengalir
hantu itu menatap lirih pada Gio dan Barra yang tengah berlari
"kenapa malah lari tadi panggil nama aku ,pas aku datang eh malah kabur " lirih nya
"ya jelas aja mereka kabur ,mereka tuh takut melihat penampilan mu yang seperti itu ,jangan kan manusia ,aku saja sesama hantu sama takut nya ,untung saja aku sadar kalau kita itu sama-sama hantu , hihihi" ucap hantu kuntilanak yang pernah ikut menyerang kedua pemuda itu
"memang nya aku semenyeramkan itu ya" lirih nya lagi
Saat Gio dan Barra tengah berlari mereka tak sengaja menabrak Coky yang juga tengah berlari ,karena Coky yang berlari dari arah belokan menjadikan ketiga nya tak tahu jika ada orang lain di arah berlawanan ,saat mereka sama-sama berlari karena panik dan takut ,akhirnya tabrakan pun tak terelakan
Bruugh'
"ADUH"pekik ketiga nya
Sementara itu di tempat Gibran berada ,Wewe mengatakan jika anak kecil itu bukan nya hilang melain kan anak itu merangkak ke luar rumah saat baru bangun tidur dan tepat saat itu keadaan rumah masih sepi,si ibu pun pergi ke kamar mandi saat anak itu masih tertidur ,namun saat ibu nya ke kamar mandi anak itu terbangun lalu merangkak ke luar rumah ,pintu rumah yang tak tertutup sempurna karena suami ibu itu keluar untuk pergi ke masjid ,akhir nya anak itu terus merangkak tanpa ada yang tahu ,hingga ada salah satu kerabat yang menemukan nya lalu membawa nya pergi bersama nya ,karena saat itu ia sangat terburu-buru dan akan terlambat jika mengantar pulang anak itu , akhirnya ia pun memutuskan untuk membawa nya,tanpa ia sadari jika perbuatan nya sudah membuat panik seisi kampung.
"ya ampun nek ,bagaimana cara menjelaskan pada warga " batin Gibran
"ehehehehe.....tunggu saja lah cu....sebentar lagi anak itu juga pulang , ehehehehe....." tutur Wewe
Benar saja apa yang Wewe katakan tak sampai satu menit setelah Wewe mengatakan nya terdengar suara riuh dari luar ,Gibran dan yang lain pun keluar
"Alhamdulillah......." anak perempuan itu pun dipeluk erat oleh kedua orang tuanya ,namun mereka tiba-tiba menatap tajam pada seseorang yang mengantarkan anak itu pulang atau yang lebih tepat nya membawa anak itu
__ADS_1
"hehehe.....aku bisa jelaskan " ucap nya seraya meringis
***