The INDIGO

The INDIGO
Tuyul kena bully lagi


__ADS_3

Nuri yang selesai melaksanakan shalat subuh menghampiri Ari di kamar nya ,namun ia terkejut saat tak mendapati anak perempuan nya tak ada di tempat tidur.


Akan tetapi ia mendengar isakan dari dalam kamar mandi.Dengan cemas Nuri segera pergi menuju kamar mandi.


Karena pintu kamar mandi tak dikunci juga tak tertutup rapat ,Nuri pun langsung memasuki nya.


"Astaghfirullah....Ari.....sayang kamu kenapa , apa yang terjadi pada mu ,kenapa kamu berada di sini " cemas Nuri saat melihat putri nya menangis seraya menyentuh kaki nya.


Karena terlalu senang Ari pun menangis haru.


"aku...kaki ku ....." ucapan Ari tergantung


"lebih baik aku rahasiakan dulu,siapa tahu setelah ini aku bisa benar-benar menggerakan kaki ku dan berdiri hingga berjalan ,akan aku kasih mereka kejutan " batin Ari


"kaki mu kenapa,apa sakit ?" tanya Nuri seraya menyentuh kaki Ari dan memeriksa nya


"tidak ma..." lirih Ari menggeleng


"Ya Allah....terus kenapa kamu berada di sini,bagaimana caranya kamu bisa berada di kamar mandi sayang ?" tanya Nuri lagi


"aku....aku ngesot sampai sini ma" Ari meringis senyum


"Ya Allah sayang ....kenapa gak tunggu mama atau manggil mama nak, lalu bagaimana cara kamu turun dari tempat tidur ?"


"aku....berusaha turun dan terjatuh " jawab Ari jujur


"tapi kamu tidak apa-apa nak,tak ada yang sakit ?" tanya Nuri yang nampak sekali mengkhawatirkan putri nya


"tidak kok ma "


"syukurlah kalau begitu,ya sudah ayok mama bantu ke kamar kamu " Nuri pun membantu Ari setelah sebelum nya ia membawa kursi roda


**


Saat matahari sudah menampakkan cahaya nya,Ari yang sudah selesai mandi juga masih dibantu Nuri pun segera di gendong oleh Rifki menuju lantai bawah untuk selanjutnya sarapan bersama


"pagi ini rasanya beda ya ,gak ada kakak jadi terasa aneh "ucap Ari seraya mengaduk-aduk nasi goreng seafood kesukaan nya


"kita harus terbiasa sayang,sekarang kan kakak mu sudah menikah,pasti setelah ini kakak mu akan mencari rumah baru,dan sepertinya mama juga harus membiasakan diri jauh dari anak-anak mama sebab kamu juga nanti akan kuliah,bekerja dan pasti nya akan jarang berada di rumah " ucap Nuri


"oh ya Ari ,sekarang kan kaki kamu masih sakit ,terus sekolah mu bagaimana ?" tanya Desi tiba-tiba


"itu....sepertinya aku mau home schooling saja ,gak apa-apa kan mah,pah?" tanya Ari lirih


Nuri dan Rifki pun saling lirik.


"kenapa home schooling?" tanya Ifel


"pasti akan repot kalau aku harus pergi ke sekolah dengan kursi roda,dan juga aku gak tahu sampai kapan aku seperti " jawab Ari


Ia memang enggan untuk kembali ke sekolah itu, rasa trauma karena kejadian yang menimpa nya dan Yoga membuat nya merasa takut untuk kembali menginjakan kaki nya di sekolah itu,apalagi dengan keadaan Yoga saat ini ditambah Yoga juga akan pergi ke luar kota.


Tunggu ... ngomong-ngomong luar kota,Ari pun mendongak menatap kedua orang tua nya.


"kenapa sayang ?" tanya Nuri


"hari ini Yoga berangkat kan,aku mau ikut mengantar nya ke bandara,boleh kan ?" tanya Ari dengan tatapan memelas


"tentu boleh dong sayang "sahut Rifki


"terima kasih pah...mah..." ucap Ari


"iya sayang,ya sudah sekarang habiskan makan mu lalu kita akan pergi menuju bandara " ucap Rifki lagi


"siap boss..." seru Ari lalu dengan lahap menghabiskan makanan nya


"oh iya , kita juga nanti siang akan pulang " ucap pak Maman


"loh kok mendadak banget,apa gak nanti saja besok atau lusa atau kapan gitu" tanya Dewi


"mau nya sih kita masih bisa nginep barang beberapa hari lagi,tapi di kampung sudah masuk musim panen,Febry juga izin nya sudah terlalu lama ,tak enak " tutur pak Maman


"baiklah kalau gitu,tapi kalian akan nunggu Gibran dan Aranta dulu kan?" tanya Dewi lagi


"iya tentu saja " sahut pak Maman

__ADS_1


"yah..jadi tambah sepi deh rumah" keluh Ari


"nanti kapan-kapan kita juga pasti datang lagi ,kamu harus cepat sembuh ya,nanti giliran kamu yang datang dan menginap di kampung " ucap Bu Maryam


"iya ,nek doain aku semoga aku cepat bisa jalan lagi "


"iya sayang itu pasti,setiap malam doa nenek tak pernah putus untuk mu nak" sahut Bu Maryam


Akhirnya selesai sarapan, Rifki juga Nuri mengantar Ari ke bandara,karena pada saat Ari hendak berangkat Bu Nur Aini memberi nya kabar bahwa mereka sudah berada di bandara dan setengah jam lagi pesawat nya mengudara.


Di perjalanan Ari nampak gelisah,ia terus saja melihat pada jam mungil yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"sabar ya sayang sebentar lagi sampai " ucap Rifki yang menyadari kegelisahan putri nya


"hem..." sahut Ari


Tak beberapa lama kemudian mereka pun sampai,dengan cepat Rifki membantu Ari keluar sementara Nuri menyiapkan kursi roda yang di simpan di bagasi.


"ayo pah...mah...cepetan ,takut nya mereka keburu pergi" seru Ari tak sabar


"iya sayang ,nah itu seperti nya mereka " ucap Rifki saat melihat perempuan paruh baya dengan seorang laki-laki bertubuh tambun


"Yoga...." lirih Ari


Jantung nya berdebar kala melihat Yoga yang tengah duduk menunggu bersama ibu sambung nya.


Dengan kepala masih berbalut perban Yoga menunduk memainkan ponselnya, kemudian ia pun mendongak saat menyadari seseorang berada di depan nya.


"kamu ....kenapa ada di sini,kau mengikuti ku " tanya Yoga seraya menyentuh kepala nya yang tiba-tiba terasa sakit saat melihat Ari berada di depan nya


"maaf jika kehadiran ku membuat mu kesakitan,tapi aku janji ini yang terakhir kamu melihat ku,tapi nanti jika kamu sudah mengingat ku lagi , kamu harus datang menemui ku,karena aku akan selalu menunggu mu" ucap Ari dengan nada bergetar


"lalu untuk apa kamu berada di sini?" tanya Yoga lagi


"untuk melihat mu yang terakhir kali nya sebelum nanti kamu datang kembali " lirih Ari


"ssshh..... kenapa kamu percaya diri sekali jika aku akan menemui mu nanti" desis Yoga mencengkram rambut nya


"Yoga..." seru Bu Nur Aini


"karena aku sangat yakin " sahut Ari


" aku akan pergi jika sudah memastikan kamu benar-benar pergi" lirih Ari


"aakkh....terserah lah " Yoga hendak beranjak namun suara peringatan bahwa pesawat dengan keberangkatan menuju Pontianak akan segera lepas landas.


"baiklah sudah saat nya kita berangkat,jaga diri kamu baik-baik ya,doa kan Yoga agar bisa secepat nya mengingat mu dan semua nya,Tante juga doakan semoga kamu cepat sembuh,katakan juga pada kakak mu selamat atas pernikahan nya,maaf Tante dan Yoga tak bisa hadir di acara nya" ucap Bu Nur Aini lantas memeluk Ari


"iya Tante,Tante dan Yoga juga hati-hati ya " sahut Ari seraya menitikan air mata ,Bu Nur Aini pun melepas kan pelukan nya lalu berpamitan juga pada Nuri dan Rifki


"terima kasih karena kalian sudah repot-repot datang ke sini untuk mengantar kami,maaf jika saya dan anak saya sudah banyak merepotkan kalian" ucap Bu Nur Aini


"iya mbak ,tidak apa-apa ,kami sama sekali tak merasa di repot kan,kalian berdua hati-hati di sana,segera hubungi kami begitu kalian sampai di tempat tujuan " ucap Nuri


"iya , mudah-mudahan di sana ada sinyal ,soal nya tempat tinggal kami sangat terpencil ,ya sudah kalau bagitu kami berdua pamit , assalamualaikum" ucap Bu Nur Aini lalu berjalan meninggalkan Ari dan kedua orang tua nya menyusul Yoga yang sudah lebih dulu berjalan.


Ari menatap nanar kepergian mereka. Setetes air mata lolos dan membasahi pipi mulus nya.


"selamat tinggal Yoga,selamat berjumpa lagi di lain waktu , Tuhan....jaga kan dia untuk ku ,dan bawa dia kembali padaku jika waktu nya tiba,besarkan lah rasa sabar di hati ku untuk bisa menunggu nya " lirih Ari di dalam hati nya


Nuri yang mengerti dengan perasaan putri nya hanya bisa mengusap pundak Ari dari belakang.


"mereka sudah pergi ,ayok kita juga pulang ,kakak mu pasti sudah kembali ke rumah " ajak Rifki


Ari mengusap air mata nya,lalu menoleh


"iya pah,ayo "


Dengan perasaan hancur Ari pun pasrah saat kursi roda nya di dorong oleh Rifki.


Saat mereka sudah berada di parkiran,tak sengaja Nuri melihat sosok perempuan berparas cantik namun memiliki ekor di belakang tubuh nya tengah berjalan di samping seorang pria paruh baya yang juga hendak memasuki mobil nya.


Kebetulan juga pria paruh baya itu mobil nya tepat di samping mobil Rifki.


"aura nya sangat tajam,dan sepertinya berbahaya,lebih baik aku coba abaikan saja " batin Nuri lalu masuk mobil setelah Ari masuk ke mobil

__ADS_1


Rifki yang tengah menyimpan kursi roda di bagasi pun juga melihat sosok wanita berekor itu,dan ia sama seperti Nuri untuk memilih tak memperdulikan nya.


"bismilah...." lirih Rifki dan Nuri saat mobil perlahan bergerak untuk meninggalkan area parkiran itu


Sosok wanita itu menyeringai menatap kepergian mobil yang Nuri dan Rifki tumpangi.


"hahaha....manusia memang penakut " ujar makhluk perempuan itu


"maaf aku bukan nya penakut ,tapi aku hanya malas berurusan dengan makkhuk seperti mu atau yang lain nya " tiba-tiba Nuri menyahut


"rupanya kau bukan lah manusia sembarangan " lirih sosok wanita itu menyeringai


Sementara di tempat lain


Gibran dan Aranta yang sudah rapih pun kini bergegas untuk meninggalkan kamar hotel yang menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka.


"sudah ?" tanya Gibran


"iya " sahut Aranta mengangguk


"ya sudah yuk kita keluar,kita sarapan dulu di kafe,resto, atau di rumah saja ?" tanya Gibran


"hm...kita makan di rumah saja ya,kan katanya nenek dan kakek siang ini mau pulang ke kampung,mereka juga kan mau nunggu kita dulu sebelum pulang,kasihan kalau nunggu kita terlalu lama" jawab Aranta


"ya sudah kalau begitu "


Kedua nya pun berjalan menuju ke luar , namun saat mereka baru saja keluar dari pintu hotel,keduanya tak sengaja berpapasan dengan seorang pria dengan kisaran usia 60 tahunan ,pria tersebut nampak tersenyum ramah pada Gibran dan Aranta.


Keduanya pun membalas senyuman pria tersebut,hingga akhirnya pria tersebut berlalu masuk ke dalam hotel.


Akan tetapi saat Aranta dan Gibran hendak berjalan menuju basemen, tiba-tiba Aranta merasakan ada yang menarik-narik baju nya ,sontak Aranta pun menoleh ,nampak sosok anak kecil dengan kepala botak ,berkulit hitam legam dan hanya mengenakan ****** ***** menyerupai popok tengah menatap tajam dengan tersenyum menyeringai menampilkan deretan gusi hitam tanpa gigi alias ompong.


"astaga...." kejut Aranta menggeser tubuhnya hingga mepet pada Gibran


"ada apa?" tanya Gibran


"huuuh...tuh anak kecil ngagetin saja,hampir saja jantung ku copot " jawab Aranta seraya mencebik


"anak kecil " kening Gibran berkerut saat melihat sosok anak kecil yang dimaksud Aranta


"oh...itu tuyul "ucap Gibran santai


"hey ,bocil kamu ngapain di sini, jadi tuyul kok gak ada lucu-lucu nya sih ,udah item ,botak ,cuma pake popok pula,cuaca panas nih gak takut makin gosong tuh kulit " ledek Gibran


"Adnan ,kamu ih " keluh Aranta ,Gibran pun hanya tersenyum pada Aranta


"kamu mau nyuri uang ya " tuduh Gibran ,tuyul itu pun mengangguk


"nah kebetulan ,ini aku ada uang receh ,nih kasih ke majikan mu ,bilang pada nya nyari uang itu yang halal jangan nyuri apalagi nyuruh anak kecil buat nyuri,dosa ,nanti kamu ketularan dosa loh ,masuk neraka tahu rasa " ucap Gibran seraya memberikan uang receh pecahan dua ribu an sebanyak dua lembar


"kok segini om? tanya tuyul itu sambil memperhatikan uang itu di telapak tangan nya


"memang nya mau nya berapa ?" tanya Gibran


"seratus ribu lah ,kan aku tuyul seratus ribu" sahut tutul itu


"duh sayang sekali,kalau ada pasti aku kasih ,tapi ada nya cuman segitu ,gak apa-apa ya ,cukup kok buat beli permen di warung " ucap Gibran lagi


"hm...ya sudah deh daripada gak dapet,nanti aku kasih ke bapak " sahut tuyul itu lalu berlari dan menghilang di pintu masuk


"hahaha.....ya ampun polos banget itu tuyul " Gibran pun sampai tergelak karena ulah nya sendiri


Sementara Aranta jangan ditanya lagi ,ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat keusilan suami nya itu.


"haha...ya sudah yuk sayang "


Deg


Aranta hanya menurut saat Gibran meraih tangan nya,dan membawa nya menuju mobil yang di parkir,gadis itu tersipu saat Gibran memanggil nya sayang.


Sementara di dalam kamar salah satu hotel ,tuyul yang tadi di beri uang empat ribu oleh Gibran segera memberikan uang itu pada majikan nya yang dipanggil pria tersebut adalah pria yang tadi berpapasan dengan Gibran dan Aranta.


"kenapa cuman segini?"tanya majikan tuyul itu


"kata om tadi ,uang ini cukup untuk beli permen di warung,om tadi gak punya uang ,punya nya segini jadi aku dikasih nya segini,dan om tadi bilang katanya bapak harus cari uang yang halal ,jangan nyuri apalagi nyuruh anak kecil,dosa bisa masuk neraka katanya " tutur tuyul itu menyampaikan apa yang Gibran katakan tadi ,sontak saja pria tersebut melotot

__ADS_1


"orang tadi bisa melihat mu ? bisa ngomong juga sama kamu ?"


***


__ADS_2