The INDIGO

The INDIGO
Menuju hutan bambu


__ADS_3

Hujan sudah membasahi bumi dengan deras ,laju mobil papa pun sedikit melambat sebab kondisi hujan yang lebat membuat jarak pandang sedikit berkurang ,asap putih yang keluar dari jalanan beraspal pun mengharuskan papa untuk lebih berhati-hati .


"ini apa masih jauh Bu tempat nya ?" tanya mama yang tak kalah tegang nya dengan ku


"sebentar lagi Bu nanti teh di depan ada pertigaan nanti kita teh ambil jalan ke kiri,nanti ada gang atau gapura ,kita masuk gapura itu " tutur Bu Fuji menjelaskan


Papa terlihat fokus memperhatikan jalan sedangkan mungkin Bu Fuji bertanya-tanya dalam hati nya tentang mama dan papa yang malah ikut mencari dan mengkhawatirkan Aranta . Terlihat dari raut wajah Bu Fuji yang nampak sesekali melirik mama ataupun papa di kursi depan ,sedangkan Bu Fuji di kursi tengah , aku dan Riswan duduk di kursi belakang ,beruntung papa membawa mobil Toyota Alphard hingga kami bisa masuk tanpa berdesakan .


"gapura yang ini?" tanya papa menghentikan mobil di depan gapura


"iya pak, kita teh nanti masuk gapura ini ,nanti di ujung jalan kita semua turun karena mobil teh tak bisa masuk ,kita jalan kaki mengikuti jalan setapak " jawab Bu Fuji


"kenapa ibu kaya nya hafal betul wilayah itu?" tanya Riswan tiba-tiba


"oh....itu teh kan ibu orang Bandung asli ,ibu juga waktu masih gadis suka main ke kampung itu jadinya teh tahu lah seluk beluk nya ,semua tempat di Bandung mah ibu tahu Riswan" jawab Bu Fuji


"oh gitu ya ,bagus lah setidak nya kita gak akan nyasar di sana " ucap Riswan lagi


"baiklah ,.... bismillah....semoga kita tak terlambat" gumam papa


Aku pun melirik arloji ku masih menujukan pukul 21:50 ,berarti masih ada waktu ,aku yakin mimpi tadi bukan hanya mimpi biasa ,tapi sebuah petunjuk buat ku untuk menemukan Aranta ,aku pun sudah menghubungi polisi agar secepatnya mengikuti kami .


Perlahan papa melajukan mobil nya masuk melewati gapura ,terlihat rumah-rumah sudah nampak sepi karena penghuni nya sudah masuk ke dalam rumah , tapi ada sebagian dari warga laki-laki nya yang masih berada di luar rumah , terlihat mereka tengah ngopi dan ngobrol sambil terus menghembus kan asap putih yang berasal dari pembakaran rokok.Hujan pun nampak mereda dan tinggal menyisakan rintik saja .


Papa menghentikan mobil nya saat ada portal yang menghalangi,salah satu warga pun mendekat untuk mengangkat portal itu ,dengan senyum ramah bapak-bapak itu mengangkat portal sambil mengangguk kan kepala ,kemudian papa memberikan uang satu lembar sepuluh ribu .


"permisi ya pak ,numpang lewat " ucap papa seraya menyodorkan yang


"sebentar pak saya ambil kembalian nya dulu " ucap bapak-bapak itu hendak berlari ke arah rumah nya


"tidak apa-apa pak ,tak perlu ,saya buru-buru" ucap papa menghentikan langkah bapak-bapak itu


"memang nya bapak mau kemana ,jalan ini tak ada terusan nya pak ,hanya kebun warga dan hutan di ujung jalan " ucap bapak itu


"kita mau mencari anak saya ,ada petunjuk kalau anak kami di culik dan di bawa ke hutan di ujung jalan ini,benarkan ada hutan bambu nya ?" tanya papa


"wah benar sekali pak,malah sebagian dari hutan nya pohon bambu semua " jawab bapak itu


"waduh kalau gitu saya kecolongan ,pantas saja tadi pas saya kembali dari pasar banyak mobil yang masuk dan keluar kampung ini , apa jangan-jangan mereka itu penculik nya,tapi kenapa para warga tak ada yang menegur mereka saat masuk kampung ini " gumam bapak itu


"ya sudah kalau begitu saya permisi pak " ucap papa


"baiklah ,kalau begitu saya juga akan kerahkan warga untuk membantu karena hutan itu juga termasuk wilayah kami ,jadi kami akan ikut bertanggung jawab " tutur bapak itu lagi


"Alhamdulillah...kalau begitu terima kasih pak ,permisi , assalammualaikum" ucap papa lalu kembali menjalankan mobil


"waalaikum salam pak ,semoga anak bapak cepat di temukan "


"Amin " ucap kami mengamini

__ADS_1


papa pun menjalan kan mobil dan mengikuti jalan yang berlubang ini menuju jalan setapak di ujung jalan .


Sampai akhirnya kita sampai di ujung jalan papa pun menghentikan mobil .


Kening ku berkerut saat melihat beberapa mobil terparkir.


"kenapa ini teh banyak pisan mobil bagus-bagus parkir di pinggir hutan seperti ini" gumam Bu Fuji


"Bu....sepertinya di dalam sana akan sangat bahaya ,lebih baik ibu tunggu saja di sini ,nanti akan ada warga juga yang datang " ucap ku


"iya Bu,kita gak akan tahu apa yang akan terjadi di dalam hutan sana , lebih baik kita tunggu saja di sini" ucap mama juga


"kamu tuh tahu banget ya kalau aku mau nyuruh kamu nunggu " ucap papa menatap hangat mama


"ya aku kan tahu ,kamu pasti gak akan ngizinin aku ikut masuk , apapun cara ku membujuk mu aku tetap gak akan dapet izin " jawab mama


"bagus lah itu baru istri ku ,makin sayang aku " ucap papa seraya meraih tangan mama dan mengecup nya


"khem...."


"pa....ayo...kita lagi dalam keadaan genting nih " seru ku menghentikan adegan sweet mama dan papa ,sedangkan Bu Fuji beliau nampak nya sudah salah tingkah melihat pasangan suami istri di depan nya


"baiklah kalian hati-hati, mas....jaga anak-anak ,kalian harus kembali dengan selamat dan bawa Aranta bersama kalian " ucap mama sebelum kami keluar dari mobil


"iya ,tentu saja sayang , kamu juga hati-hati apalagi Wowo saat ini tak bersama kita , jika ada apa-apa,cepat hubungi aku " ucap papa mengecup kening mama


"tapi aku di sini" ucap bang Popo tiba-tiba muncul di depan kaca mobil dengan kepala di bawah


"Ya Allah....dimana kuntilanak nya Bu" Bu Fuji nampak terkejut karena mama tiba-tiba berteriak ,beliau menengok kiri kanan dan sekitar


"eh ...tidak kok Bu ,tak ada kuntilanak " ucap mama meringis ,aku dan Riswan hanya tersenyum namun meski aku tersenyum tapi hatiku masih saja merasa cemas


"ya sudah kami bertiga masuk hutan itu ya ,kamu janji hati-hati, bang Popo jaga istriku " ucap papa setelah kami keluar dari mobil


"siapa ?" Bu Fuji celingukan


"bukan siapapun Bu , ma...kami berangkat doakan kami , assalammualaikum" ucap ku


"waalaikum salam,....."


Kami pun mulai melangkah kan kaki kami menuju hutan ,tanah becek dan licin membuat langkah kami sedikit susah karena salah berpijak sedikit saja sudah dapat di pastikan kami pasti akan tergelincir dan jatuh .


Suara jangkrik dan binatang malam lain nya terdengar bersahutan . Pohon dan daun nampak basah bekas hujan yang tadi mengguyur hingga tetesan air nya pun mengenai tubuh kami .


Suara burung hantu pun terdengar seakan dekat dengan kami ,hingga akhirnya Riswan pun berlonjak setelah melihat sepasang mata merah nampak menyala melihat kami .


"Allahu Akbar" Riswan merangkul lengan papa


"apa sih hanya burung hantu saja kamu takut" ucap papa

__ADS_1


"burung hantu ya...." gumam Riswan seraya memperhatikan ke dahan pohon dimana burung hantu itu bertengger


"oh ....iya ya... hehehehe...." Riswan terkekeh ,aku menggeleng dengan terus melangkahkan kaki ku


Kini aku,Riswan dan papa sudah berada di kebun warga ,terlihat dari tanaman yang tumbuh di sisi kiri kanan ,lahan perkebunan ini pun lumayan luas ,kami terus berjalan menapaki jalan berlumpur ,tak ku hiraukan sepatu ku yang menjadi kotor akibat tanah dan lumpur yang mengenai nya .


Perkebunan warga sudah terlewati kini kita berjalan di hutan dengan banyak nya pohon Alba ,mungkin sengaja ditanam warga karena jarak dari pohon satu ke pohon lain nya nampak rapi,rumput liar pun nampak tak ada.


Ku lirik Riswan yang semakin merapatkan tubuh nya pada papa saat terlihat beberapa sosok putih berdiri diantara pohon-pohon itu .



Kami berjalan melewati sosok-sosok itu .


"selamat malam mbak-mbak ....maaf numpang lewat ,permisi " ucap ku menundukan tubuh saat melewati mereka


"dasar..." gumam papa melihat tingkah ku


Sampai di ujung jalan aku menghela nafas melirik papa dan Riswan ,kami mengangguk dan bersama-sama masuk ke hutan itu ,seraya mengucap bismillah,dan berdoa dalam hati .


keadaan semakin gelap setelah sampai di hutan , semakin ke dalam semakin lebat pohon bambu nya ,rumpun bambu yang tumbuh di sisi kiri-kanan pun terlihat seperti lorong ,tak dipungkiri ada kengerian tersendiri dalam hati ku saat melihat jalan setapak yang nampak mengecil dan gelap di ujung jalan sana .


"huuuuuuuhhhh....." aku menghembuskan nafas


dengan berbagai doa ku rapalkan dalam hati aku langkahkan kaki ku ,bayangan dalam mimpi ku membuat ku mempercepat langkah ,nafas ku pun semakin memburu dengan d*da yang terasa sesak kala bayangan itu terus menari-nari di benak ku .Papa dan Riswan pun tak banyak bicara ataupun bertanya .


Hingga akhirnya aku terdiam dengan nafas terengah saat melihat cahaya kuning kemerahan sekitar dua ratus meteran di depan sana,persis seperti dalam mimpi ku .


"Ya Allah........cahaya itu......."


"ada apa ?" tanya papa


"itu.... kemungkinan Aranta disana ,ini persis seperti mimpi ku pa...Riswan ... ayo ...sebelum terlambat " aku bergerak di kegelapan malam tak peduli tubuhku tergores ranting ataupun duri dari tanaman ,yang ada di kepala ku saat ini adalah menyelamatkan Aranta .


Sosok astral yang ada dalam mimpi ku pun juga terlihat berdiri menatap kerumunan orang-orang bertudung hitam .Nyanyian yang membuat pusing kepala karena aku tak mengerti pun membuat bulu kuduk berdiri .


"apa yang mereka lakukan ?" bisik Riswan


"mereka sedang melakukan ritual ,ayok kita lebih mendekat lagi ,tapi pelan-pelan jangan sampai mereka tahu" bisik ku lalu mengajak papa dan Riswan berjongkok lalu mendekat secara perlahan


"lalu apa yang akan kita lakukan?" bisik Riswan bertanya


"kita selamatan Aranta ,bagaimana pun caranya " jawab ku


Saat aku ,papa dan Riswan tengah mencoba menuju semak belukar aku melihat benda panjang berkilauan diacungkan ke atas


Deg....


"tidak mungkin ........"

__ADS_1


***


__ADS_2