The INDIGO

The INDIGO
Berusaha tegar (Yoga )


__ADS_3

Langit kelabu serta gerimis yang turun membasahi tanah mengiringi langkah para pelayat yang mengantarkan Dirga pada tempat peristirahatan terakhir nya.


Rifki dan Gibran turut ikut menggotong keranda di bagian depan , Ari berjalan di samping Yoga bersama Nuri yang juga berjalan sambil merangkul Bu Nur Aini.


Di bagian terdepan ada pihak keluarga Dirga yang membawa foto almarhum Dirga.


Setelah sampai di dekat liang lahat , keranda pun di turunkan perlahan ,para penggali kubur pun bersiap.


Proses demi proses pemakaman pun dilakukan ,hingga tiba lah saat nya jenazah di adzani , Yoga pun turun untuk mengadzani jenazah papa nya ,dengan suara lirih menahan isakan, Yoga berhasil menyelesaikan nya,hingga akhirnya proses selanjutnya yaitu menguburkan jenazah , Yoga turut andil dalam proses tersebut.


Degan d*da sesak Yoga terus menutupi jenazah papa nya dengan tanah bersama yang lain.


Kini sosok ayah yang selalu memanjakan ,membela ,dan menyayangi nya telah tidur tenang selama-lamanya.


Tak akan ada lagi candaan seorang ayah yang selalu menghibur nya di kala gundah.


Yoga benar-benar kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai pahlawan nya.


Tapi Yoga sadar hidup nya masih harus berjalan ,ia harus ikhlas dan tegar menerima kenyataan ini.


Sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama sang ayah, Yoga memanjatkan doa bagi ayah nya itu.


"pah....aku ikhlas jika memang takdir harus seperti ini, semoga papa di sana juga bahagia ya ,apalagi papa sudah bersama mama di sana ,aku di sini juga akan bahagia ,meski papa dan mama sudah tak ada lagi,doakan aku agar aku bisa meraih kebahagiaan ku ,aku juga mendoakan papa dan mama ,semoga Allah menempatkan kalian berdua di tempat paling terbaik di surga " lirih Yoga dengan berlinang air mata


"pah...mama tahu ikhlas itu susah tapi mama akan berusaha melakukan nya untuk kebahagiaan mu di sana bersama mama nya Yoga, kalian berbahagia lah di surga ya, walau sebenarnya aku merasa cemburu ,tapi aku juga akan mencoba mencari kebahagiaan ku di sini ,jika papa mengizinkan boleh kah mama menikah lagi ,itu pun kalau papa mengizinkan " ucap Bu Nur Aini tiba-tiba


Suasana yang tadinya mengharu biru berubah keki setelah mendengar ucapan Bu Nur Aini barusan.


"ma...." lirih Yoga


"maaf mama becanda , mama hanya tak ingin terlarut dalam kesedihan ,benar kata papa mu ,kita harus kuat,tegar,dan bahagia meski tak ada lagi papa mu bersama kita" ucap Bu Nur Aini mencoba untuk tersenyum


Yoga pun langsung memeluk Bu Nur Aini ,mereka pun kembali menangis.


"ayo kita pulang ,yang lain sudah pada pulang ,sebentar lagi pasti turun hujan " ucap Nuri menyentuh pundak Bu Nur Aini


"baiklah ,pah.... kita pulang ya , assalamualaikum....." lirih Bu Nur Aini seraya mengusap air mata nya


Yoga pun berpamitan pada papa nya, setelah itu mereka akhirnya pulang.


"Yoga....Tante .... maaf ya aku dan keluarga ku harus pulang ,kalian yang sabar ya " ucap Ari


"iya sayang ,terima kasih ,maaf sudah merepotkan keluarga mu " ucap Bu Nur Aini


"kami tidak merasa direpotkan kok,sebagai sesama muslim kan kita harus saling membantu " sahut Nuri menghampiri


"sekali lagi terima kasih banyak Tante ,karena keluarga Tante, akhirnya papa saya ditemukan ,meski dalam keadaan dan kondisi yang berbeda" ucap Yoga tulus


"tidak perlu berterima kasih ,kami hanya tulus ingin membantu " ucap Nuri lagi


"ya sudah kalau begitu ,kami semua pamit ya , assalamualaikum...."


Akhirnya Ari dan keluarga nya pun pergi meninggalkan rumah Yoga.


Sepi menghinggapi setelah kepulangan keluarga Ari, kerabat dan sodara Bu Nur Aini pun sudah kembali ke rumah masing-masing,kini tinggal mereka berdua di rumah itu.


"sekarang apa yang akan kita lakukan ma?" tanya Yoga


"entahlah ,tapi seperti ya kita harus pindah dari rumah ini" sahut mama nya

__ADS_1


"loh....kenapa pindah ma,di rumah ini kan banyak menyimpan kenangan bersama papa?" tanya Yoga yang kurang setuju dengan usulan mama nya


"justru karena itu kita harus pindah, mama tak sanggup kalau terus teringat kenangan kita bersama papa ,mama ingin sedikit melupakan papa sejenak ,tapi bukan berarti mama ingin benar-benar melupakan papa mu ,mama hanya ingin menata hati mama dulu di tempat baru sampai nanti mama bisa benar-benar menerima kepergian papa mu,nanti jika mama sudah bisa mengontrol emosi mama , baru lah kita kembali ke rumah ini ,bagaimana?" tutur mama nya lagi


"jika itu akan membuat kita menjadi lebih ikhlas ,baiklah ,aku siap pindah dari rumah ini , tapi janji ya ,jangan sampai rumah ini di jual " pinta Yoga


"iya kamu tenang saja ,mama juga tak ingin menjual rumah ini ,kita tinggalkan dulu rumah ini untuk sementara waktu ,lalu kita akan kembali begitu keadaan membaik " ucap mama nya lagi


"lebih baik sekarang kamu istirahat ,kamu pasti sudah lelah kan ,mama juga ingin istirahat " ucap mama nya


"janji ya ma jangan menangis lagi " ucap Yoga


"iya ....mama tak janji " sahut nya


"maa...."


"iya....."


ting nong....


belum juga kedua nya masuk ke kamar ,suara bel rumah tiba-tiba berbunyi


"siapa yang datang ?" gumam Yoga


"aku lihat dulu ya ma " Yoga beranjak


ckleek'


Yoga membuka pintu ,namun kening nya berkerut saat melihat seorang kurir yang menenteng beberapa kantung kresek warna putih.


"maaf mau cari siapa?" tanya Yoga


"saya mau antar pesanan atas nama Yoga" ucap kurir tersebut


"maaf ,tapi saya tak merasa memesan sesuatu " tolak Yoga


Namun tiba-tiba ponsel nya berbunyi , Yoga pun segera mengangkat telepon nya setelah melihat jika Ari yang menghubungi nya


"ya ... Ari ada apa ,apa ada yang tertinggal ,biar besok aku bawa kan " tanya Yoga


"tidak kok, aku hanya ingin memastikan apa makanan nya sudah sampai ,aku tadi memesankan beberapa makanan untuk mu dan mama mu ,karena aku tahu kalian pasti tidak akan sempat buat makanan kan ,jadi aku berinisiatif memesankan nya , jangan khawatir aku sudah membayar nya kok ,kamu tinggal terima saja " sahut Ari di sebrang telepon


"oh,jadi kamu yang memesan makanan nya ,ya sudah terima kasih ya , ini kebetulan kurir nya sudah sampai "ucap Yoga


"ya udah kalau gitu udah dulu ya ,by assalamualaikum...." ucap Ari


"waalaikum salam " sahut Yoga seraya tersenyum


"jadi ini bagaimana pesanan nya ?" tanya kurir itu


" baiklah saya terima ,makasih ya mas ,dan ini ada sedikit uang rokok dari saya" ucap Yoga seraya memberikan uang lima puluh ribu


"tapi makanan nya sudah di bayar " tolak kurir nya


"tak apa-apa anggap saja tambahan rezeki , ambil lah" Yoga menarik tangan kurir itu dan meletakan uang nya di telapak tangan sang kurir


"Masya Allah... kalau begitu terima kasih banyak ya mas ,semoga uang yang mas berikan pada saya dapat tergantikan dengan yang lebih banyak lagi "


"amin..."ucap Yoga mengamini

__ADS_1


Yoga pun masuk ke dalam dengan menbawa makanan yang berada di kantung kresek putih tersebut setelah kurir pengantar sudah pergi


"itu apa?" tanya mama nya


"ini katanya Ari memesankan makanan untuk kita ,kita makan dulu yuk takut keburu dingin" jawab Yoga seraya menyiapkan makanan itu


Bu Nur Aini hanya tersenyum seraya mengangguk,jujur ia kembali teringat pada awal ia menikah dengan Dirga.


Sosok Dirga yang sama sekali tidak romantis namun humoris membuat nya nyaman bersama nya ,Dirga selalu menyiapkan makanan untuk mereka sementara dirinya yang malah sibuk mengurusi Yoga yang waktu itu masih balita ,padahal malam itu adalah malam pernikahan mereka.


Lagi-lagi bayangan momen itu muncul hingga tak terasa air mata nya luruh.


"ma...mama inget papa ya...?" tanya Yoga


"iya maafin mama ya" ucap mama nya seraya menghapus air mata nya


"aku suapin mama ya ,anggap saja aku papa ,kan aku sama papa mirip ,asalkan mama jangan minta tidur bareng aku saja ,aku sudah besar ,malu ,masa sudah besar begini masih tidur di bawah ketiak mama nya " kelakar Yoga sukses membuat mama nya tertawa


"hahaha....kamu nih ada-ada saja "


Sementara itu Ari dan keluarga nya yang baru sampai dirumah langsung di sambut oleh Aranta dan kedua orang tua nya.


"kalian ini pergi gak bilang-bilang mana gak ngajak-ngajak lagi " ucap Seno berdecak


"sorry ....masalah urgen soal nya,tapi gimana persiapan nikahan anak-anak kita?" tanya Rifki ,langsung membuat Gibran dan Aranta salah tingkah


"maaf semua nya aku ke atas dulu ya ,mau mandi gerah" ucap Gibran


"oh iya silahkan " sahut Seno


"Aranta ,aku bersih-bersih dulu,nanti kita nonton kamu juga siap-siap gih "Gibran berbicara pada Aranta


"iya" sahut Aranta malu


Gibran pun pergi ke kamar nya , hal yang sama pun Aranta lakukan,setelah Gibran berlalu ,gadis itu juga berpamitan untuk bersiap-siap.


"kamu yakin ngizinin mereka pergi berdua?" tanya Seno pada Rifki


"mereka tak pergi berdua kok ,sudah ada satpam nya ,kau tak usah khawatir" ucap Rifki , sedangkan Nuri hanya bisa menggeleng pelan


"biarlah mereka pergi nonton ,aku percaya kok pada mereka, sekarang lebih baik kita bahas rencana pernikahan mereka saja ,apa yang sudah kalian urus selama kami pergi?" tanya Nuri


**


Malam pun tiba


Gibran sudah siap dengan kemeja biru dongker lengan panjang yang digulung sampai sikut.


Ia berjalan menuruni tangga dengan gaya cool nya.


"cieee.....yang mau pergi kencan ,happy bener " ledek Wowo


"diem deh jangan rusuh,lagian gegayaan tahu kata happy segala ,tahu dari mana " seru Gibran


"hm... gini-gini aku itu makkhuk astral tergaul sedunia ghaib hahaha....." tawa Wowo menggelegar sampai menggetarkan seluruh rumah


"astaghfirullah....ada gempa ada gempa.....ayo kita keluar... " pekik Dewi histeris berlari keluar dari kamarnya,padahal tadi ia mengeluhkan sakit pada pinggang nya ,namun saat ia mengira terjadi gempa rasa sakit di pinggang nya seakan sirna.


"NURIII.....RIFKIII....ARIIII..... GIBRAN.... ADA GEMPA.....ADA GEMPAAA......."

__ADS_1


"ADA GEMPAAA......"


***


__ADS_2