The INDIGO

The INDIGO
Resepsi bagian 1


__ADS_3

Setibanya di hotel,Gibran dan Aranta segera menuju restoran di hotel tersebut, Wewe seperti biasa mengikuti mereka dari belakang,namun saat Aranta dan Gibran sudah memasuki resto seorang pengunjung pria muda nampak memperhatikan kedua nya dengan tatapan tak biasa.


Wewe yang mengetahui nya pun menatap pria tersebut.


"silahkan duduk " ucap Gibran menarik kursi


"kau ini jangan terlalu berlebihan " ucap Aranta


"tak berlebihan kok " Gibran pun duduk di kursi samping Aranta


Tak lama seorang pelayan datang membawa buku menu ,kedua nya pun segera memesan makanan.


Selama menunggu pesanan datang ,Gibran tak henti-hentinya menatap Aranta.


"Adnan....jangan terus melihat ku" ucap Aranta


"kenapa ,sekarang sudah tak ada lagi yang akan menghalangi aku,kita sudah sah jadi tak akan dosa lagi buat ku kalau mau menatap mu" sahut Gibran seraya menopang dagu dengan sebelah tangan nya


"iya tapi kan gak enak dilihatin orang,aku nya juga malu " lirih Aranta


"kenapa mesti malu ?" tanya Gibran


"isshh....kau ini "


Gibran menoleh pada Wewe yang duduk di kursi sebelah nya lalu bertanya dalam hati


"kenapa nek ?" tanya nya


"ehehehehe.... seperti nya laki-laki itu bisa melihat nenek" sahut Wewe


"siapa?" tanya Gibran


Namun belum sempat Wewe menjawab pria muda tadi menghampiri


"maaf ,bisa bicara sebentar "ucap nya


"ada apa ya ?" tanya Gibran mengerutkan kening


"perkenalkan nama ku Ronald,maaf jika aku mengganggu waktu kalian " ucap nya memperkenalkan diri


"aku Adnan,ini istri ku Aranta ,ada apa ya?"tanya Gibran lagi


"mungkin ini terdengar aneh dan konyol dan mungkin kalian tak akan percaya dengan apa yang aku katakan " ucap Ronald


"memang nya ada apa ya?" tanya Gibran lagi


"ada sosok yang mengikuti kalian,aku akan mengusir nya agar tak mengganggu kalian lagi " ucap nya ,membuat Gibran dan Aranta saling lirik


"oh...memang nya bisa kamu mengusir nya dari kami?" tantang Gibran


"jadi kalian sudah mengetahui nya ?" tanya nya sedikit terkejut


"ya ,tapi selama ini dia tak pernah mengganggu kami kok,mungkin terdengar aneh bin ajaib tapi memang begitulah fakta nya,sosok itu adalah pengasuh sekaligus penjaga ku ,yang sampai kapanpun tak akan pernah pergi meski banyak orang memisahkan kami " tutur Gibran membuat mulut pria bernama Ronald itu menganga


"pengasuh?" tanya nya sedikit tak percaya


"memang nya kamu tahu wujud nya seperti apa?" tanya nya lagi


"Wewe gombel " tukas Gibran


"hah..." pria bernama Ronald sampai tak bisa berkata-kata,sebab menurut nya itu hal yang langka ,seorang manusia mempunyai pengasuh sosok astral ,sejenis Wewe gombel pula


Ronald pun memilih untuk pergi saja,dan meminta maaf karena sudah mengganggu pasangan suami istri itu.


"ada-ada saja " gumam Gibran menggelengkan kepala


"pantas saja dari pas kita masuk orang itu memperhatikan kita terus ,rupanya ia melihat nek Wewe " ucap Aranta


"benarkah ,kok aku gak sadar ya kalau dia tadi merhatiin kita " gumam Gibran


"kamu mana ngeh,orang kamu nya saja melihat ku terus " dengus Aranta pelan


"hehehe...abisnya kamu cantik , jadi nya aku gak bisa melihat yang lain selain kamu " ucap Gibran


"ih....kamu tuh , kenapa jadi begini " lirih Aranta ,ia seakan aneh melihat Gibran yang sekarang ,yang ia tahu Gibran itu dingin namun manja ,ia tak menyangka jika sekarang sikap nya malah berbanding terbalik lebih ke romantis dan pintar gombal


"ehehehehe......baru tahu ya kalau Gibran seperti itu " Wewe terkekeh melihat reaksi Aranta


"ehehehehe..... sebenarnya anak ini selalu mengagumi kecantikan mu,tapi ia gengsi dan pura-pura cuek,padahal hati nya pada mu"


"ah nek jangan bongkar kartu dong " wajah Gibran nampak merah padam karena malu

__ADS_1


Aranta melihat pada Gibran,ia pun tersenyum melihat wajah malu Gibran.


"ternyata seperti itu wajahmu ketika malu " batin Aranta


"lucu " gumam nya


"apa nya yang lucu?" tanya Gibran


"tidak,bukan apa-apa " sahut Aranta


Saat hendak kembali bertanya,pesanan mereka pun sampai ,dan akhirnya Gibran menunda pertanyaan nya.


Di lantai lain di gedung itu.


Nuri dan yang lain nampak sibuk berias, mereka pun di rias oleh tim perias profesional yang Nuri sewa.


Kamar para perempuan dan laki-laki di pisah ,juga termasuk kamar untuk Gibran dan Aranta.


Desi berkali-kali berdecak kagum melihat berbagai bentuk dan merek kosmetik yang para tim perias keluarkan.


"enak ya jadi kak Nuri, apa-apa serba mewah ,ngadain resepsi di gedung,biasa nya di kampung kalo mau resepsi ya di rumah saja atau gak di lapangan luas ,baju nya juga bagus,yang ngerias juga seperti nya bukan perias sembarangan , huuuuh....aku kapan ya bisa seperti kak Nuri " gumam Desi dalam hati


"kamu kenapa melamun ?" tanya Nuri


"eh kak,...enggak kok gak apa-apa" sahut Desi


"oh " Nuri pun mengangguk


"Nuri,aku keluar ya ,disini aura nya panas ,seperti nya salah satu perias yang datang membawa sesuatu,aku tidak nyaman ,aku tunggu di luar saja " ucap Wowo tiba-tiba


"baiklah "batin Nuri


"membawa sesuatu....jimat kah ?" tanya Nuri membatin pada diri sendiri


Nuri pun mulai memperhatikan para perias yang berjumlah empat orang itu,namun ia tak melihat gelagat apa pun pada salah satu nya.


"mungkin semacam pegangan kali ya " fikir Nuri lagi


Di kamar lain


"pah....aku mau sama mama..." rengek Ariq


"iya sebentar ya , nanti juga mama ke sini,jangan ganggu mama dulu,mama lagi di bedakin ,nanti kalau kamu ke sana entar ganggu ,bedak mama jadi gak bagus " ucap Ifel


"hahaha...iya kan kasihan mama kalau jadi sama seperti badut " sahut Ifel


"iiih....jangan , badut kan serem, nanti mama malah nyanyi lay....lay ...lay...lay....lay...." Ariq malah bernyanyi menirukan soundtrack nya Joker


"lah ,anak piyik tau-tau an Joker segala " gumam Ifel


Sementara itu ,Gibran dan Aranta yang selesai mengisi perut,mereka pun segera menuju kamar hotel yang sudah di siap kan untuk mereka.


Saat keduanya memasuki lift, tiba-tiba tercium bau amis yang menyengat ,hingga Aranta pun mual dibuat nya.


"duh ,...kok bau amis sih " keluh Aranta menutup mulut dan hidung nya


"iya ,tapi gak ada apa-apa" sahut Gibran ,ia juga dapat mencium bau amis tersebut namun tidak melihat apa pun di sana


"nenek bau ya ?" tuduh Aranta


"ehehehehe..... enak saja ,bukan nenek " seru Wewe


Tiba-tiba dari belakang mereka muncul sosok laki-laki dengan wajah hancur dan kepala nya yang retak,nampak darah segar berbau amis dan karat nampak mengalir dari retakan nya,sontak saja Aranta yang melihat dari pantulan dinding lift pun terkejut dan segera menutup kedua matanya seraya menunduk.


"ternyata kamu yang bau amis,ngapain sih bang ?" tanya Gibran


"kamu bisa melihat ku?" tanya sosok itu


"ya iya lah kalau enggak mana mungkin aku nanya kamu " sahut Gibran


"hm... kalau gitu bisa gak kamu menolong ku?" tanya sosok itu


"menolong apa? asal jangan berat dan ribet ,aku gak ada waktu soal nya " sahut Gibran


"tolong pencetin tombol angka sepuluh,aku mau ke lantai sepuluh tapi tak bisa menyentuh nya " sahut sosok itu


"lalu apa yang akan kamu lakukan di lantai itu ?"tanya Gibran lagi


"ada deh, kamu manusia jangan pernah kepo urusan hantu"ucap sosok itu mencebik


"lah,bisa gitu ya itu hantu"lirih Gibran

__ADS_1


"baiklah aku bantu pencetin tombol nya " Gibran pun menekan angka sepuluh ,kebetulan lantai yang akan ia tuju bersama Aranta berada di lantai sebelas.


Setelah pintu lift terbuka di lantai sepuluh barulah sosok itu melayang keluar,saat pintu lift hendak menutup nampak seseorang berlari dan menahan pintu lift, ia nampak terburu-buru.


"duh...maaf ya ,aku buru-buru soal nya " sahut perempuan itu berdiri di tengah-tengah Gibran dan Aranta


"iya tak masalah " sahut Gibran


Namun dengan posisi seperti itu membuat Gibran tak nyaman , akhirnya ia pun mundur lalu menarik Aranta ke belakang ,dan merangkul nya.


Tentu saja hal itu dapat di lihat dari pantulan dinding lift oleh si perempuan tadi,ia pun jadi kikuk sendiri.


Tak lama pintu lift kembali terbuka,Gibran dan Aranta melangkah keluar meninggalkan perempuan itu sendiri.


Keduanya pun berjalan melewati pintu demi pintu hingga akhirnya mereka sampai di kamar mereka.Sebelum nya Gibran sudah menerima kunci kamar nya dari resepsionis.


"yuk masuk ,sebentar lagi para perias juga pasti datang" ajak Gibran


Saat memasuki kamar tersebut entah kenapa perasaan Aranta menjadi tidak enak,seolah telah terjadi sesuatu sebelum nya di sana,hal itu pun dapat dirasakan oleh Gibran.


Aranta melangkah canggung menuju tempat tidur sementara Gibran memindai seisi kamar dengan tatapan tajam.


"astaghfirullah....." lirih Gibran tiba-tiba


"kenapa ?" tanya Aranta


"apa kamu merasakan sesuatu di kamar ini?" tanya Gibran seraya berjalan ke arah Aranta


"maksud mu ?"


"rupanya dikamar ini pernah ada yang melakukan tindakan bunuh diri,dia menggorok leher nya sendiri di hadapan anak nya ,sungguh ironi sebab penyebab nya adalah ia sakit hati melihat suami nya berselingkuh" ucap Gibran


"hah....darimana kamu tahu?" tanya Aranta bingung


"kamu pasti belum tahu ya ,... Alhamdulillah....Allah memberikan ku anugerah sebuah kemampuan yang dapat melihat masa lalu dari sebuah tempat atau benda " tutur Gibran


"begitu ya ,keren dong" cetus Aranta


"itu berat buat ku,sebab aku harus melihat hal-hal yang lebih menyeramkan,yaitu pembunuhan dan pemerkosaan, dan tindakan kejahatan itu selalu membekas di ingatan ku " lirih Gibran


"iya juga ya ,tapi aku salut pada mu , kamu bisa tahan dengan kemampuan mu itu,tidak trauma atau shock"


"mungkin karena sudah terbiasa,dulu saat aku masih kecil ,aku juga sempat shock hingga tak bisa makan hingga demam sampai beberapa hari ,tapi lama kelamaan juga akhirnya aku terbiasa" tutur Gibran


"aku gak nyangka ternyata kamu....." ucapan Aranta terhenti sebab sebuah ketukan di pintu membuat nya teralihkan


tok tok tok


"sebentar aku lihat dulu siapa yang datang " ucap Gibran seraya menyentuh pipi Aranta lalu beranjak menuju pintu


Sebelum membuka pintu nya,terlebih dahulu Gibran melihat nya pada lubang kecil pada pintu.


"oh mama..." Gibran pun membuka pintu


Rupanya Nuri datang tak sendiri ,ia bersama para perias pengantin.


Saat itu juga Aranta lalu di rias oleh mereka ,sementara Gibran hanya duduk di sofa sambil memperhatikan,karena Gibran tak perlu berias seperti Aranta ,jadi ia hanya duduk santai sebelum nanti mengganti pakaian nya.


Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat ,kini Aranta sudah siap begitu pun dengan Gibran.Hanya tinggal menunggu sebentar lagi untuk segera memulai acara.


Sementara di ruangan ballroom semua tamu undangan nampak sudah hadir termasuk anak-anak panti asuhan.


"kalian siap ?" tanya Rifki


"iya pah" sahut Gibran sedangkan Aranta hanya mengangguk


"wah...kamu sangat cantik sekali " puji Nuri pada Aranta


"ah mama,bisa saja " ucap Aranta bersemu


"ya pasti cantik lah ,kalau tidak mana mungkin Gibran klepek-klepek ,ya gak " celetuk Desi


"benar itu ,siapa dulu dong papa nya " seru Seno berbangga diri


Namun semua yang ada di sana hanya diam seolah tak mendengar ucapan Seno


"ck.....gak asik " decak Seno menggerutu


"hahaha....sudahlah ,sebaik nya kita segera pergi ,acara nya sudah akan dimulai , kalian berdua tunggu saja ,papa dan mama akan menyambut tamu dulu " ucap Rifki mengajak Nuri dan Seno beserta istri nya untuk menemui para tamu terlebih dahulu.


Sementara di ruangan ballroom sudah ada Haris dan Riswan yang sudah menyambut tamu yang hadir.

__ADS_1


***


__ADS_2