The INDIGO

The INDIGO
Berakhir nya sekte sesat


__ADS_3

Langkah kaki ku terasa berat sebab tanah yang ku pijak ikut menempel pada sepatu ku , di tanah perkebunan warga aku menghentikan langkah ku saat seseorang berdiri menghadang ,dengan membawa tongkat kayu yang ia mainkan , kemudian ia berucap


"kamu fikir bisa lolos begitu saja "


Aku mengernyit saat mengenali suara nya


"kenapa diam cepat serahkan Aranta pada ku,maka kamu akan aku biarkan pergi dengan selamat " ucap nya lagi


"Wisnu.....aku tahu itu kamu, untuk apa kamu melakukan hal ini ,menyingkirlah semuanya sudah berakhir , kelompok yang kamu ikuti sudah hancur " ucap ku pada orang yang berjubah dan bertudung hitam yang tak lain adalah Wisnu


"hahaha.....kamu mengenaliku rupanya , apa yang kamu katakan tadi itu tidak mungkin terjadi,karena kelompok kami kuat dan anggota nya banyak mana mungkin bisa di kalahkan oleh kalian yang hanya bertiga " seru nya lalu membuka penutup kepala nya


"rupanya kamu tak mengenalku dengan baik ya Nu ,...terserah kalau tak percaya ,sekarang minggir waktu ku tak banyak " ucap ku seraya nafas tersengal ,kondisi Aranta semakin melemah saat ini .


"kamu begitu mengkhawatirkan nya ,dia siapa mu sampai kamu bisa sekhawatir itu ,dan lagi bukan nya kamu tak ingin menyentuh wanita...tapi apa ini?" tanya Wisnu lagi


"bukan urusan mu ,sekarang .... CEPAT MINGGIR....... " teriak ku semakin merasa panik sebab aku tak merasakan jika Aranta bernafas


"gibraaaaannnn........." suara seseorang berteriak memanggil ku ,itu suara mama


"Gibran ......"


mama datang bersama Bu Fuji beserta warga juga para polisi yang tadi mengamankan lokasi dan para pengikut sekte sudah berada di belakang ku ,papa bersama Riswan juga terlihat berjalan bersama mereka .


"sekarang menyerah lah ,kamu lihat sendiri kan kalau kelompok sesat mu itu sudah hancur " ucap ku lagi


"tidak ....tidak ada yang salah dengan kelompok kami ,lepas kan ....lepaskan aku ...." teriak Wisnu saat pak Kompol Bima meringkus nya


Wisnu terus memberontak saat digiring polisi ,ia bahkan sampai melawan dan menyerang polisi ,hingga polisi pun terpaksa menembak kaki nya karena Wisnu hendak kabur meski kedua tangan nya di borgol .


DORRR.....


"aaakkkhhh......" pekik nya memegangi kaki nya yang tertembak di bagian betis


Akhirnya Wisnu pun di bawa paksa oleh polisi dengan sedikit di seret meski langkah nya terpincang-pincang .


"Ya Allah....itu teh beneran Wisnu....." gumam Bu Fuji memperhatikan Wisnu


"Astaghfirullaah.....Ya Allah.....Aranta ....Gibran kenapa Aranta bisa jadi seperti ini ?" tanya mama panik


"itu terjadi begitu cepat ma ,aku tak bisa mencegah nya " lirih ku


"Aranta ....kamu harus bertahan ....." mama terisak dan segera mendapat pelukan dari papa


Tak lama muncul beberapa orang dengan membawa tandu dan meminta ku meletakan Aranta di atas nya ,bahkan kedua orangtua Aranta pun turut di tandu


"papa tadi yang panggil ambulan " ucap papa


Aku menatap sendu Aranta yang di bawa oleh petugas ambulan dengan tandu .Polisi juga menggiring para pengikut sekte yang masih sadar, sedangkan yang tak sadarkan diri juga di tandu warga yang di bantu para polisi,bahkan para polisi juga membawa beberapa kantong jenazah .


"innalilahi wa innailaihi rojiun......" lirih ku


"Riswan kamu tak apa-apa?" tanya paman Haris yang rupanya sudah berada di tempat ini

__ADS_1


"aku tak apa-apa pa....hanya sedikit sakit saja ,mungkin memar " sahut Riswan


"sebaik nya kita harus secepat nya ke rumah sakit ,kasihan Aranta dan kedua orangtua nya " ucap papa mengingat kan


"jadi ....yang tadi itu Seno dan istrinya?" lirih mama menutup mulut ,dan papa mengangguk mengiya kan


"astaghfirullaah....." lirih paman Haris


Akhirnya kami pun segera beranjak menuju rumah sakit ,Bu Fuji juga ikut bersama kami ,beliau segera menelpon pihak sekolah jika Aranta sudah di temukan ,juga tentang Wisnu yang ditangkap polisi karena terlibat dalam kelompok sekte yang menculik Aranta .


Setibanya di rumah sakit kami segera menuju IGD ,sedangkan papa mengurus administrasi agar Aranta dan kedua orangtua nya segera mendapat tindakan medis .


Aku menatap nanar pintu ruangan bertuliskan IGD ,sejuta rasa cemas membuat perasaan ku tak menentu ,namun aku tetap membingkai nya dengan tenang dalam hati aku berdoa dan berdzikir ,memohon keselamatan untuk Aranta dan kedua orangtuanya.


"Ya Allah....semoga saja mereka teh dapat di selamatkan" gumam Bu Fuji yang berada di dekat paman Haris


"amin " sahut paman Haris


Lama.....kita menunggu,hampir satu jam namun pintu IGD tak kunjung terbuka ,mama yang tak pernah jauh dari papa pun masih tak berhenti menghapus air mata nya .


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke masjid yang terletak di samping rumah sakit ,masjid itu pun masih termasuk area rumah sakit ,terlihat dari atap kanopi nya yang menyatu.


Dalam sujud aku berdoa meminta keselamatan untuk Aranta dan kedua orangtuanya, entah kenapa aku merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Aranta .


Selesai shalat aku pun kembali ke ruangan IGD ,berharap ada kabar baik setelah ini ,aku pun mempercepat langkah ku ,namun tiba-tiba aku tersandung hingga hampir terjatuh ,aneh nya tak ada apa pun yang menghalangi langkah ku .


"astaghfirullaah..... ada-ada saja " gumam ku


Aku yakin itu hanya ulah jahil dari makhluk tak kasat mata ,aku pun kembali berjalan ,namun saat aku melihat sesuatu di bawah ku aku melompati nya .


"eh kok dia bisa nyentuh kita " tanya salah satu hantu itu


"kebetulan saja mungkin " sahut hantu satu nya


"kita coba lagi" hantu itu masih penasaran da terus mencoba mengganggu ku


Akhirnya aku yang sudah tak tahan pun menarik kedua hantu itu dan menatap nya


"sudah jadi hantu masih saja usil" ucap ku menatap mereka


"nah loh dia bisa melihat kita "


"kok bisa " tanya yang satu nya


"ya bisa lah ,nek Wewe...." aku memanggil nek Wewe


"ehehehehe.....ada apa cu.... ehehehehe...." nek Wewe segera datang memenuhi panggilan ku


"tolong urus kedua hantu ini,beri mereka pelajaran agar tak lagi mengganggu manusia" ucap ku menyerahkan kedua hantu itu pada nek Wewe


"pelajaran apa?" tanya kedua hantu itu bersama an


"tentang tata cara bersikap baik sebagai hantu" setelah itu aku pun kembali berjalan menuju IGD,beruntung malam ini keadaan di lorong rumah sakit sudah sepi ,tapi mungkin apa yang aku lakukan tadi akan terekam kamera cctv .

__ADS_1


Jantung ku berdetak kencang saat melihat dokter tengah ber bicara pada papa dan mama .


Dari pembicaraan itu aku menangkap jika telah terjadi sesuatu yang serius ,entah itu pada Aranta atau kedua orang tua nya.


"ma...pa...bagaimana keadaan Aranta ?" tanya ku ,dokter yang tadi pun sudah kembali ke ruang IGD


"mereka bertiga kritis.... ketiga nya membutuhkan donor darah ,tapi stok darah di bank darah hanya ada untuk mama nya Aranta saja,Aranta dan papa nya mereka berdua berbeda dengan mama nya dan golongan darah untuk Aranta dan papa nya stoknya habis , kita harus secepat nya dapatkan donor darah untuk mereka" lirih mama


" biar ibu saja atuh yang donorin darah ibu, kebetulan golongan darah ibu teh sama " ucap Bu Fuji


"benarkah ?" tanya mama yang di jawab anggukan oleh Bu Fuji


"syukuran.... Alhamdulillah...." gumam mama


"tapi kita masih butuh satu orang lagi" ucap papa


"memangnya golongan darah nya apa?" tanya ku


"golongan darah nya AB " ucap Riswan


"Ya Allah...... ternyata beda dengan ku" aku mengusap wajah kasar


"terus akan kita cari kemana golongan darah nya?" tanya ku pelan


"papa akan hubungi teman-teman papa yang lain semoga saja ada yang sama" ucap papa seraya merogoh ponsel nya


"biar saya saja yang mendonorkan darah saya" seseorang tiba-tiba menyela ,aku pun mendongak dan melihat pada seseorang itu


seorang laki-laki bertubuh tegap memakai seragam kepolisian .


"pak Bima" ucap ku


"ya , kebetulan golongan darah saya AB ,baiklah mari kita ambil darah kita kasihan yang didalam " ucap pak Bima membawa Bu Fuji ke salah satu ruangan


Semoga saja setelah ini Aranta dan kedua orangtuanya kembali pulih dan keluar dari masa kritis .


Setelah selesai dokter segera melakukan transfusi darah pada Aranta dan papa nya ,kami pun kembali menunggu, kedatangan pak Bima untuk menyampaikan jika Oma nya Aranta meninggal dunia setelah melakukan tindakan bunuh diri dengan menembak kepala nya sendiri menggunakan pistol milik salah satu perwira polisi yang berhasil di dapatkan nya secara diam-diam.


"innalilahi wa innailaihi rojiun....." lirih kami bersama


Untuk pemakaman kata pak Bima akan di tanggung dan di urusi pihak keluarga Aranta yang merupakan anak dari Oma nya .


Kamipun hanya bisa diam karena kami tak ada hak untuk itu,selama masih ada keluarga .


Hingga beberapa saat kemudian dokter keluar dengan membawa kabar yang melegakan di hati, Alhamdulillah akhirnya Aranta dan kedua orang tua nya sudah melewati masa kritis mereka .


Aranta ,paman Seno dan istri nya di satukan dalam satu ruangan VIP , Bu Fuji sudah kembali ke penginapan dan akan kembali ke Jakarta pagi nya dan akan ikut bersama Riswan dan paman Haris ,tadinya Riswan menolak saat di ajak pulang , namun akhirnya Riswan mau juga ikut pulang bersama papa nya ,sedangkan aku ,mama dan papa masih berada di ruang VIP tempat Aranta dan kedua orang tua nya di rawat.


Pak Bima sendiri beliau pun sudah pergi ,aku melihat jam di dinding sudah menujukan pukul 03:00 ,rasa kantuk pun mulai menyerang ku .


Aku yang tengah duduk di sofa pun akhirnya tak kuasa menahan kantuk dan mulai memejamkan mata . Sedangkan mama dan papa berbaring di atas kasur lantai yang di sediakan pihak rumah sakit .


Aku berharap dengan meninggal nya Oma nya Aranta,dapat mengakhiri kegiatan sesat itu , aku bersyukur bukan berarti aku mensyukuri juga meninggal nya Oma nya Aranta tetapi karena kegiatan sesat itu sudah tak akan ada lagi penerus nya, sebab semua nya sudah papa musnah kan .

__ADS_1


Usapan lembut tangan nek Wewe di kepala ku membuat rasa lelah ku menjadi rileks ,mata pun semakin merapat dan akhirnya aku pun larut dalam tidur ku .


***


__ADS_2