
Gibran yang tiba-tiba di gampar pun tentu merasa terkejut ,ia bahkan tak bisa berkata-kata ,sampai akhirnya si ibu itu berhenti mengoceh , baru Gibran buka suara
"maaf Bu ,apa maksud ibu ya ,aku tak mengerti ?" tanya Gibran
"halah ...jangan berlaga bego kamu ya ,kamu fikir saya tak tahu apa yang kamu lakukan pada anak ku " ibu itu memaki
"astaghfirullah.....begini Bu ,jika ibu ada dalam posisi saya jika seseorang tiba-tiba mengirimkan ilmu ghaib untuk mengganggu ibu dan keluarga ibu,apa ibu mau diam saja,tidak kan ,lagipula apa untungnya buat saya hingga saya harus repot-repot mengirimkan santet pada anak ibu ,justru anak ibu lah yang mencari gara-gara dengan ku , ibu juga salah sebagai seorang ibu ,ibu harus nya bisa membimbing dan mengarahkan anak ibu bukan nya malah mendukung niat buruk anak ibu untuk merebut Aranta dan menyingkirkan ku ,ibu fikir saya tak tahu,saya juga tahu apa yang akan ibu lakukan setelah ini,ibu akan mendatangi dukun yang membantu anak ibu itu kan ,ibu mau seperti almarhum suami ibu ,membantu anak ibu dan mengorbankan nyawa ibu,saya tahu semua nya bu,saya tahu " skak Gibran hingga membuat ibu itu tak berkutik ,namun nafas nya nampak naik turun ,ia bingung sekaligus terkejut bagaimana bisa ada orang lain tahu tentang masa lalu keluarga nya sampai sedetil itu
"ba...bagaimana...kamu bisa tahu ... siapa kamu sebenarnya?" tanya ibu itu dengan wajah yang sudah pucat pasi
"tak perlu ibu tahu darimana aku mengetahui nya ,yang pasti aku saran kan pada ibu ,bertobatlah ,minta lah ampunan pada Allah ,karena apa yang ibu dan suami ibu lakukan itu sudah sangat dibenci Allah" ucap Gibran dengan tetap melembutkan suara nya
"huh...tak perlu kau menggurui ku ,kamu fikir siapa kamu hah ,dasar tukang santet " hardik ibu itu lagi
"astaghfirullah...." lirih Gibran mengelus d*da nya
"ada apa ini?" tanya Rifki tiba-tiba ,ia yang baru sampai pun melihat anak nya tengah di maki seorang ibu paruh baya yang ia sendiri tak tahu siapa ,Rifki pun langsung menghampiri
"jangan ikut campur " hardik ibu itu
"bagaimana saya tak ikut campur melihat anak saya di maki-maki oleh orang lain ,masalah ibu apa hingga ibu memaki anak saya ?" ucap Rifki tegas
"oh jadi kamu bapak nya ,dengar nya anak mu ini tukang santet ,hey....kalian semua ... berhati-hati lah pada nya ,dia ini tukang santet anak saya saja sampai terluka dan masuk rumah sakit gara-gara di santet oleh nya" teriak ibu itu seraya menunjuk Gibran
"jaga ucapan anda ya ,saya bisa saja mempidanankan anda dengan tuduhan pencemaran nama baik,siapa yang tukang santet" seru Rifki merasa geram
"ya anak mu lah ,silahkan saja melapor ke polisi emang nya kamu siapa bisa-bisa nya bilang mau mempidanakan saya hah" hardik ibu itu lagi tanpa tahu siapa Rifki
Dua orang satpam yang mengenali Rifki pun langsung menghapiri
"maaf pak Rifki ...ini ada apa ya kenapa ribut-ribut?" tanya salah satu satpam berperut buncit
"tidak apa-apa hanya salah faham saja " sahut Gibran
"begini ya Bu ,saya tak tahu ada masalah apa antara ibu dan anak saya ,tapi saya minta selesai kan masalah nya secara baik-baik " ucap Rifki yang masih mencoba berbicara baik meski hati nya tak terima dengan perkataan dan sikap ibu itu
"apa kalau kita menyelesaikan secara baik-baik anak saya bisa kembali seperti sebelum nya ?"tanya ibu itu masih dengan nada ketus
"Gibran tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Rifki menatap anak nya
Kedua satpam pun ikut menyimak
"ini semua berhubungan dengan teror semalam yang hampir mencelakai ku juga Aranta " sahut Gibran
"apa....jadi begitu" Rifki mulai mengerti sekarang ,ia pun menatap tajam ibu itu
"jadi ibu mau menyalahkan anak ku atas apa yang sudah anak ibu lakukan ?" tanya Rifki
"ya...ya karena anak mu itu yang malah menyerang balik anak ku" seru ibu itu masih tak mau mengalah
"aku tak pernah menyerang nya ,yang aku lakukan hanya lah meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah, jika Arkan sekarang terluka itu karena ulah nya " tutur Gibran
Saat ibu itu hendak kembali berbicara tiba-tiba ponsel nya berbunyi,ibu itu pun segera menerima panggilan telpon nya
"ya....APA....bagaimana bisa ?" pekik nya terkejut
"ya sudah kalau gitu aku tak jadi ke sana " ibu itu pun mengakhiri sambungan telpon nya
"kenapa Bu,dukun langganan ibu tewas?" tanya Gibran tiba-tiba,Rifki sampai menoleh pada anak nya itu
"kamu....bagaimana kamu tahu ?" tanya nya
"bukan kah sudah ku katakan jika aku tahu semua nya tentang ibu ,dan anak ibu ,bahkan tentang dukun yang menumbalkan suami ibu saja pun aku tau " sahut Gibran lagi
__ADS_1
"aku harap ibu bisa berfikir lebih jernih lagi ,semua yang terjadi itu karena akibat dari perbuatan nya ,maaf aku dan papa ku harus kembali ke dalam ,permisi assalamualaikum" ucap Gibran yang tak mau lagi berdebat meski hanya si ibu itu saja yang ngotot.
Tanpa menunggu jawaban salam si ibu ,Gibran pun mengajak Rifki untuk segera beranjak
"permisi pak" ucap Gibran pada kedua satpam itu ,dan langsung mendapat anggukan dari kedua satpam tersebut
"sebenarnya siapa dia ,kenapa dia sampai tahu sedetil itu tentang keluarga ku" batin ibu nya Arkan menatap punggung Gibran yang mulai menjauh kemudian hilang setelah masuk dan berbaur dengan orang-orang yang berlalu lalang
Sesampainya Gibran dan Rifkii di depan kamar rawat Aranta,Gibran tak langsung membuka pintu nya melainkan mengetuk dulu
tok tok tok
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam ..." sahut yang didalam ,barulah Gibran dan Rifki pun masuk ,namun begitu masuk Rifki nampak mengerutkan kening nya saat melihat ada laki-laki asing di ruangan itu,ia menatap Yoga
"papa...." Ari langsung memeluk dan bergelayut manja di lengan kekar Rifki
"hey...awas ini papa ku" ucap Gibran menarik dan mendorong pelan Ari lalu bergelayut di sisi lain nya
"iiihh.....kakak apa an sih gak malu tuh sama kak Ara " ucap Ari sebal
"kamu sendiri gak malu tuh sama pacar nya " ledek Gibran
"ih enak saja ,apa sih kak Gibran ini Yoga itu teman aku " sangkal Ari
"teman?" tanya Rifki
"he...em..." angguk Ari
"Ari ,Gibran ....sudah biarkan papa kalian duduk dulu ,kalian ini sudah pada besar juga kelakuan masih saja seperti itu " ucap Nuri
Aranta yang melihat nya pun hanya bisa tersenyum
"nih punya mu " Gibran menyerahkan dua bungkus mie kwetiau pada Ari
"asik makasih kakak" Ari pun segera membawa nya pada Yoga yang duduk canggung di samping Rifki
"kalian kaku banget kaya musuhan saja " celetuk Ari pada kedua nya
"ini kamu tuangin sendiri bisa kan " tanya Ari pada Yoga seraya memberikan mangkuk plastik yang sengaja di bawa Nuri dari rumah
"iya ,bisa kok " sahut Yoga
"nama mu siapa ?" tanya Rifki
"Yoga om "
"tinggalnya dimana ?" tanya Rifki lagi
"di jalan xxx di sekitar Cawang " jawab nya
"cukup jauh juga ya ,sudah berapa lama kalian berteman ?" lagi-lagi Rifki melontarkan pertanyaan
"papa....ih ngapain sih kok Yoga di interogasi seperti itu?"tanya Ari ,ia merasa tak enak pada Yoga
"papa kan ingin tahu siapa teman mu,darimana asalnya ,dan orang tua nya ,jadi jika dia macam-macam pada mu papa akan lebih mudah mencari nya " jawab Rifki apa adanya ,Yoga pun semakin berkeringat dingin dibuat nya
"mati aku... papa nya ketat banget ,tapi kok heran ya Ari bisa-bisa nya jadi play girl,apa mungkin papa nya tak mengetahui kelakuan anak nya " batin Yoga , sebenarnya ia kecewa karena baru tadi pagi Ari kembali jadian dengan teman sekelas nya , tentu saja hal itu membuat nya sakit hati namun apa mau dikata ia tak ingin Ari tahu akan perasaan nya,ia tak ingin bernasib sama dengan para mantan nya Ari yang langsung di hempas begitu saja saat jadi kekasih nya.
"mas....sudahlah ,ini mas mau tidak kita makan bakso nya berdua ,ini kebanyakan aku mana habis makan sendirian" sela Nuri
"baiklah " Rifki pun menghampiri Nuri dan makan bakso nya semangkuk berdua ,beruntung Gibran memesan bakso ektra jumbo jadi bisa dimakan berdua
__ADS_1
"maafin papa aku ya" bisik Ari
"i...iya...gak apa-apa kok" sahut Yoga
"kamu pokok nya jangan bilang-bilang kalau tadi pagi aku habis jadian " bisik Ari lagi
"hm...jadi benar " batin Yoga
"kok malah diem,kamu tak ada niat buat ngember kan?"tuduh Ari
"enggak lah ,kamu tenang saja " bisik Yoga
Gibran yang tengah membuka kan mie kwetiau punya Aranta pun sebenarnya tahu Ari tengah berbisik-bisik ia pun memperhatikan gerak bibir adik dan teman nya itu
"huuuuhh....dasar ....awas nanti kamu ya dek..." gumam Gibran
"kenapa ?"tanya Aranta
"gak apa-apa kok" jawab Gibran
"kamu bisa makan ini sendiri atau mau aku suapin ?" tawar Gibran ,ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Aranta tak kembali bertanya
"gak usah ,aku bisa kok makan sendiri ,lagian aku juga gak apa-apa,cuman lemes dikit saja " tolak Aranta ,ia merasa malu jika harus di suapin oleh Gibran ,meskipun sebenarnya ia sangat menginginkan nya
"ya sudah , ini ...sambel nya cukup?" tanya Gibran
"udah cukup kok ,makasih ya" ucap Aranta
"hm...tak masalah " sahut Gibran juga menyiapkan untuk nya
Nuri dan Rifki yang memperhatikan kedua nya pun hanya bisa mengulum senyum sambil saling menyuapi ,apalagi Nuri,ia kembali teringat masa muda nya yang nampak malu-malu tapi mau saat bersama Rifki dulu.
Karena Aranta sakit nya tak serius dokter pun tak menemukan diagnosa apa pun pada Aranta ,maka dokter pun tak melarang makanan apa saja yang harus di makan Aranta ,karena memang dalam medis dan kedokteran Aranta dinyatakan sehat walafiat.
Setelah mereka selesai menyantap makanan nya pintu diketuk dari luar
tok tok tok
"iya masuk " seru Nuri
ceklek' pintu terbuka
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam ....mama...papa...." seru Aranta senang
"Aranta sayang kamu tuh bikin Mama dan papa khawatir tahu gak ,ya ampun ....tapi kamu gak apa-apa kan ini,tidak ada yang serius sakit nya ?" tanya Thalia seraya menyentuh kening dan memeriksa seluruh bagian tubuh Aranta
"ma...aku gak apa-apa kok ,hanya lemes saja " sahut Aranta
"terima kasih ya kalian selalu ada buat putri kami" ucap Seno pada Nuri dan Rifki
"kamu tuh kaya sama siapa saja pake bilang makasih segala ,Aranta kan sebentar lagi jadi menantu ku,wajar lah aku dan istriku menjaga Aranta " ucap Rifki laku merangkul sahabat nya tersebut
"hahaha....iya ya ...kita sebentar lagi jadi besan ,untung saja anak mu itu tak menuruti mu ,coba kalau Gibran sama playboy seperti kamu dulu aku sudah menolak lamaran mu waktu itu " kelakar Seno menepuk-nepuk bahu Rifki
"kau ini...jangan bongkar aib lama lah " keluh Rifki
Yoga yang kebetulan tengah minum pun tiba-tiba tersedak saat mendengar ucapan teman nya Rifki
"uhhukk.... uhhukk...."
"papa nya Ari mantan playboy...pantas saja ..." batin nya
__ADS_1
***