The INDIGO

The INDIGO
Ari yang tak dapat melihat


__ADS_3

Dengan tangisan yang tiada henti Ari terus memanggil-manggil nama Yoga,sementara Yoga di dalam sedang mendapat tindakan medis dari beberapa dokter.


"Yoga..."


"kamu yang kuat nak,kita doakan yang terbaik untuk Yoga" ucap Nuri seraya memeluk putri nya


"tapi ma...bagaimana kalau terjadi sesuatu pada nya " ucap Ari sesegukan


"kita doakan saja yang terbaik, mudah-mudahan Yoga bisa kembali sehat seperti sedia kala " lirih Nuri ,ia pun tak tega melihat putri nya


"Ya Allah....selamat kan anak ku " lirih Bu Nur Aini ,hati nya sangat gelisah sebab sudah tiga puluh menit berlalu namun dokter tak kunjung keluar.


Rifki yang baru mendapat kabar jika Ari sudah sadar pun segera menuju rumah sakit setelah pekerjaan nya di luar kota selesai,tadi nya ia tak ingin pergi ,namun karena salah satu cabang perusahaan nya sedang dalam masalah,mau tidak mau ia pun harus pergi meski hati nya berat meninggalkan putri nya yang tengah terbaring di rumah sakit. Sesampai nya di rumah sakit,Rifki pun segera menuju ruangan Yoga sebab Nuri memberi tahu nya jika saat ini mereka sedang berada di sana.


"sayang.... Alhamdulillah....maafin papa nak, baru bisa sampai " ucap Rifki pada Ari lalu mencium pucuk kepala nya


"iya pah...tidak apa-apa " sahut Ari lirih


"apa terjadi sesuatu pada Yoga?" tanya Rifki


"tadi...tadi... Yoga kejang pah...." tangis Ari pun kembali pecah di pelukan papa nya


"astaghfirullah....." lirih Rifki


Beberapa saat kemudian akhirnya pintu terbuka ,dokter pun keluar


"bagaimana anak saya dok?" tanya Bu Nur Aini


"Alhamdulillah....kondisi nya sudah kembali membaik setelah tadi sempat drop " ucap dokter


"lalu kenapa tadi dia kejang dok ?"tanya Ari


"itu mungkin karena pasien dapat merespon baik itu ucapan atau sentuhan ,namun pada dasar nya pasien koma itu tidak dapat merespon ,namun berbeda dengan kasus saat ini ,pesan saya lakukan hal-hal yang akan membuat nya merespon,misal nya ajak pasien berbicara,dan ini sebuah keajaiban menurut saya,sebab cedera di otak nya lumayan parah,jarang ada pasien dengan cedera yang sama dapat bertahan meski dalam keadaan koma " tutur dokter menjelas kan


"kapan dia akan sadar dok?" tanya Ari lagi


"saya tak bisa memastikan ,bisa satu Minggu ,satu bulan,bahkan ada yang sampai tahunan,kalian berdoa saja supaya pasien bisa segera sadar,kalau begitu saya permisi " ujar dokter lalu pergi di susul dokter lain nya dan beberapa perawat.


"Ya Allah... Yoga...." lirih Ari ,kembali air mata nya jatuh,Rifki yang berada di samping kursi roda Ari pun terus berusaha untuk menguatkan putri nya dengan mengusap-usap nya.


"Ari...lebih baik sekarang kamu kembali ke ruangan mu , istirahat lah, kamu juga kan baru saja siuman, tak baik buat kesehatan mu "ujar Bu Nur Aini seraya menyentuh tangan Ari


"tapi bagaimana dengan Yoga Tante ?" tanya Ari yang enggan meninggalkan nya


"ada Tante yang menunggui nya,kamu bisa datang lagi lain waktu,nanti jika ada sesuatu Tante pasti akan kabari kamu " ucap nya lalu menyentuh pipi Ari


"iya sayang ,lebih baik kamu kembali ke kamar ,percayakan Yoga pada dokter ,papa akan datang kan dokter paling terbaik untuk menangani nya,kalau perlu dari luar negeri sekalipun, jadi kamu tak usah khawatir" ucap Rifki tak main-main dengan ucapan nya


"baiklah,....aku kembali ke ruangan ku " sahut Ari pasrah ,ia juga masih merasa lemas ,apalagi ia belum memakan apapun dari semenjak ia tersadar tadi


Kini hanya tinggal Bu Nur Aini sendirian yang menunggui Yoga,ia menatap sendu lalu mendekat.


"hey....gendut....cepat lah bangun ,tak kasihan apa kamu melihat Ari,dia dari tadi menangisi mu terus,mama tak tega melihat nya .....,mama bisa tebak jika Ari juga memiliki perasaan pada mu,jika tidak untuk apa dia bersusah-susah menangisi mu,...maka bangun lah,dan nyatakan perasaan mu pada nya ,sebelum keduluan yang lain ......" ucap Bu Nur Aini menahan tangis


"cepat lah bangun nak ,mama menyayangi mu " lirih nya kemudian


Sementara itu di ruangan Ari


"kamu makan terus kamu minum obat nya ya " ucap Nuri ,kebetulan suster sudah membawakan obat yang harus di minum Ari barusan


"iya ma" sahut Ari pelan


"Gibran , sebaik nya kamu bawa Aranta dan mama nya pulang,kasian mereka sudah dari kemarin berada di sini,pasti lelah " ucap Nuri


"baik lah mah ,Bi ,Aranta ,ayok aku antar pulang,mama benar bibi dan Aranta harus istirahat dulu, apalagi sekarang Ari sudah sadar , sebentar lagi nenek dan kakek juga pasti datang" ucap Gibran


"ya sudah kami berdua pamit ,Ari ...bibi pulang dulu ya ,sudah jangan sedih-sedih,semua nya pasti baik-baik saja " ucap Thalia meraih tangan Ari


"iya bibi ,terima kasih " ucap Ari memaksakan tersenyum


"kami pamit , assalamualaikum"


"waalaikum salam...."


Setelah kepergian Gibran dan Aranta


Duk

__ADS_1


Duk


Duk


"suara apa itu?" tanya Ari


Nuri menoleh pada arah suara


"seperti nya dari dalam kamar mandi,...sebentar mama cek dulu" Nuri pun beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandi


"siapa kamu?" tanya Nuri pada sosok wanita ber daster putih lusuh sambil menggendong seorang bayi yang di bedong


Sosok wanita itu nampak menunduk dengan rambut panjang kusut nya yang menutupi sebagian wajah nya.


Bukan nya menjawab wanita tersebut malah bersenandung ,membuat bulu kuduk berdiri


"ih dasar rese,ditanya malah bikin merinding ,dikira aku takut apa ,hm...sayang Gibran sudah pulang,coba kalau belum,habis kamu tuh " gerutu Nuri gemas


Rifki yang mendengar suara Nuri pun beranjak menghampiri


"ada apa sayang ?" tanya nya melongok di ambang pintu


Sontak saja Nuri menoleh juga sosok wanita itu pun turut menoleh


"ini....." belum selesai Nuri berucap sosok wanita itu tiba-tiba berseru


"sayaaannggg.....akhir nya kau datang ,lihat lah anak kita cantik bukan ...." teriak nya lalu melayang menghampiri Rifki dan menunjukan bayi nya yang dipenuhi belatung ,sampai membuat Rifki mual.


"pait....pait....pait....enak saja sayang sayang ...jauh-jauh sana hus....hus..." Rifki melompat menjauhi toilet sementara Nuri sudah bersedekap d*da menatap hantu wanita itu


"ada apa sih ?" batin Ari kebingungan melihat tingkah papa nya yang seperti menghindari sesuatu


"ada hantu kah ?" batin nya lagi bertanya,Ari pun lantas mencari benda apa pun yang dapat ia gunakan untuk melihat hantu itu


"heh...setan,berani nya kau panggil suami ku sayang, mau aku bacain ayat kursi hah " seru Nuri melotot


"coba aja kalau bisa " tantang hantu itu


"kau belum tahu siapa aku rupanya,baiklah akan ku tunjukan " gumam Nuri


"aaakkkhh....ampun .... ampun.....panas .... hentikan..." jerit nya


"hahaha....makanya kamu jangan nekat godain suami nya,tahu rasa kan" seru Wowo tertawa terbahak


"akkhh...kau kenapa tak kepanasan juga " jerit nya lagi , sementara Nuri tak menghentikan bacaan nya


Wowo tak menjawab,ia hanya menertawakan hantu wanita itu,semakin lama wanita itu semakin tak tahan ,ia pun akhir nya menyerah.


"ok aku tak akan menganggu suami mu lagi, ampuuuunn....." hantu wanita itu pun menghilang setelah menabrakkan diri ke dinding


"huh.....rasakan ,enak saja main ngaku-ngaku suami ku ayah dari anak nya" dengus Nuri menatap kepergian hantu itu


"hahaha....kamu sama hantu juga bisa cemburu" ejek Wowo


"diem kamu Wo,mau aku bacain ayat kursi juga " seru Nuri


"silahkan saja kalau bisa ,kamu lupa aku juga bisa membaca ayat kursi " ucap Wowo


"ah...iya aku lupa " lirih Nuri , namun kemudian Nuri memicing kan mata melihat Rifki


"sayang kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Rifki yang sudah merasa tak enak


"jangan katakan dia mantan mu juga yang meninggal karena aborsi karena tak terima kamu memutuskan nya " tuduh Nuri


"ya ampun sayang ,ya mana mungkin lah ,aku saja sudah lupa siapa saja yang pernah ku pacari dulu,lagian aku pacaran nya juga gak pernah aneh-aneh percaya deh dia bukan salah satu nya" ucap Rifki seraya mengacungkan dua jari tengah dan telunjuk nya membentuk huruf v


"yakin kamu mas?" tanya Nuri dengan tatapan meng intimidasi


"yakin sayang,aku berani sumpah ,percaya deh" ucap Rifki meyakinkan


"baiklah aku pegang itu ya mas ,tapi kalau terbukti hantu wanita tadi benar mantan mas ,aku tak mau bicara selama satu Minggu " ancam Nuri


Glek


"insyaallah aku jujur sayang " ucap Rifki memelas


Dengan mengangguk malas Nuri beralih menatap Ari yang tercenung dengan memegang nampan stenles

__ADS_1


"kamu kenapa sayang?" tanya Nuri


"mah....kenapa aku gak bisa lihat apa-apa?" tanya Ari


"maksud mu ?" tanya Rifki


"aku tak bisa melihat bayangan hantu di sini" ucap Ari


Rifki dan Nuri saling tatap ,lalu kembali menatap Ari


"mungkin tak terlihat karena itu bukan cermin sayang "ucap Nuri


"enggak mah,biasa nya aku masih bisa melihat lewat benda apapun yang dapat memantulkan bayangan nya,mama punya cermin?" tanya Ari penasaran


"ada.... sebentar mama ambilkan dulu di tas " Nuri pun meraih tas nya ,lalu mengambil sebuah bedak


"ini sayang "


Ari pun meraih bedak tersebut dan membuka nya ,ia lantas mengarah kan cermin kecil di dalam nya ke segala arah.


"gak ada apapun " gumam nya


Nuri dan Rifki kembali saling lirik, pasalnya di sana ada sosok genderuwo bertubuh besar.


"kamu yakin tak bisa melihat bayangan di cermin itu?" tanya Nuri memastikan


"iya ma...aku gak lihat apa-apa" jawab Ari


"masa sih ,coba sini " Nuri pun mengarahkan cermin itu pada Wowo


"sekarang coba kamu lihat ,ada atau tidak " pinta Nuri


Ari pun patuh dan melihat nya ,ia menggeleng pelan


"apa karena benturan itu,...Ari jadi tak bisa melihat mereka meski hanya lewat pantulan" batin Nuri


***


Di rumah


"jadi Ari sudah siuman?" tanya Bu Maryam


"Alhamdulillah nek " sahut Gibran


"Alhamdulillah....Ya Allah....terima kasih " lirih Bu Maryam di ikuti pak Maman dan kedua putra nya Ifel dan Febry (kedua adik Nuri ) sementara istri Ifel hanya diam karena ia baru saja keluar dari kamar setelah menidurkan anak nya yang masih berusia kurang lebih empat tahunan.


"sebentar ini....calon istri mu?" tanya pak Maman melihat Aranta ,mereka baru saja bertemu sebab Ari dan Thalia masih berada di rumah sakit saat mereka tiba


"iya kek , perkenalkan nama nya Aranta ,dan ini mama nya bibi Thalia " ucap Gibran


"wah....kamu pandai sekali cari calon ,cantik banget ,selamat datang di keluarga kami ya sayang ,semoga pernikahan kalian nanti langgeng selama nya " ucap Bu Maryam nampak menyukai Aranta


"iya nek ,Amiin ,terima kasih " ucap Aranta


Aranta dan Thalia pun berkenalan dengan yang lain nya juga.


Setelah itu Aranta dan Thalia pun undur diri karena ingin istirahat.


"jadi mereka tinggal menumpang di rumah belakang?" celetuk istri nya Ifel ,Desi nama nya


"iya untuk sementara,karena nanti setelah kita menikah,orang tua Aranta akan kembali ke Aceh " tutur Gibran


"mereka orang Aceh?" tanya Febry


"sebenarnya mereka dari Jakarta hanya saja mereka pindah ke Aceh beberapa tahun lalu" tutur Gibran


"oh...gitu..."


"sebaiknya kalian makan dulu nanti sore di jam besuk kita ke rumah sakit,kalian pasti ingin melihat Ari bukan?" ucap Gibran


"iya , tapi emang nya gak apa-apa kalau kita datang rame-rame begini?" tanya Desi lagi


"gak apa-apa kok ,kan jam besuk juga ,lagipula ruangan tempat Ari di rawat termasuk yang VIP,jadi tak usah khawatir harus menunggu di luar dan bergiliran masuk" tutur Gibran lagi


"waw.... VIP .... jadi penasaran ruangan VIP tuh seperti apa,apa sama dengan yang di sinetron-sinetron ...hm....kak Nuri memang beruntung mendapat suami kaya raya,rumah besar ,pembantu ada ,mau apa pasti tinggal minta,sementara Ifel....SMP aja gak lulus ,tapi kenapa aku mau ya diajak menikah oleh nya" batin Desi seraya melihat sekeliling dengan tatapan takjub


***

__ADS_1


__ADS_2