The INDIGO

The INDIGO
Kepulangan kakek


__ADS_3

Ragu dan canggung saat menerima telpon dari Aranta, apalagi om Febry dari tadi malah ngeledikin terus.


"ayo cepat angkat telpon nya ,malah di diemin begitu" seru om Febry lagi


"kalau gitu aku keluar dulu " ucap ku seraya beranjak


"cie... yang mau kangen-kangenan ,gak apa-apa kali di sini juga kita akan pura-pura gak denger " sahut om Febry


"dek,...sudah ah kasian tuh muka nya udah merah gitu kamu godain terus ,iya nak sana angkat dulu telpon nya , mama juga pernah muda kok" ucap mama melayang kan senyum pada ku


tanpa menyahut lagi aku pun segera keluar dan pergi ke taman belakang rumah sakit


"ya assalamualaikum...." jawab ku setelah aku sudah duduk di kursi taman


"waalaikum salam.... akhirnya kamu angkat juga telpon nya ,kenapa lama sekali sih ,kamu gak apa-apa kan?" tanya nya


"ya aku gak apa-apa,emang nya aku kenapa?" tanya ku balik


"syukurlah kalau kamu tak apa-apa ,aku hanya merasa tak enak saja ,entah kenapa dari kemarin aku merasa gelisah terus " ucap nya


"kalau gelisah kenapa kamu hubungin aku ?" tanya ku lagi


terdengar helaan nafas nya panjang kemudian ia malah kembali bertanya


"lalu bagaimana keadaan kakek mu ,aku dengar dari Ari katanya kalian sedang berada di kampung halaman Tante Nuri karena kakek mu masuk rumah sakit ?"


"Alhamdulillah,kakek ku sudah sadar dari koma nya "


"Alhamdulillah....."


"Adnan ...." panggil nya


"hm...." namun kemudian terdengar suara seseorang memanggil Aranta


"Aranta .....ayok sebentar lagi acara nya dimulai"


"oh iya ,Adnan sudah dulu ya ,ada acara di sekolah baru ku ,dan katanya sebentar lagi acara nya dimulai ,by Adnan assalamualaikum..."


"waalaikum salam...." sambungan telpon pun terputus


Aku menghela nafas panjang dan menghembuskan nya kasar


Aranta memang orangnya pandai bergaul hingga tak sulit baginya untuk mendapat kan teman baru di tempat baru , tapi kenapa yang manggil tadi suara nya seperti suara laki-laki ,ah mikir apa sih aku ,mau laki-laki atau perempuan kan gak masalah jika berteman,tapi kenapa aku malah merasa kesal


"astaghfirullaahal'aziim.....ada apa dengan ku "lirih ku


Kemudian aku pun segera kembali ke kamar tempat kakek di rawat .


"loh kenapa muka nya di tekuk begitu?" tanya om Ifel yang baru datang kita bertemu saat hendak masuk ruangan kakek


"masa sih ,gak ah biasa aja" ucap ku


"tapi....ya sudah lah ,yuk masuk " kami berdua pun masuk


"assalamualaikum" ucap kami berdua


"waalaikum salam ....." sahut semua nya


"loh kakek udah bisa pulang sekarang?" tanya ku saat melihat barang-barang sudah rapi di atas tempat tidur


"Alhamdulillah....dokter sudah mengizinkan kakek pulang ,Ari pasti senang ,hari ini kita akan pulang " ucap mama tersenyum sambil memeluk lengan kakek


"Alhamdulillah....tahu gitu tadi aku diem aja di rumah ,kan jadinya bolak balik aku ,ya sudah kita jalan sekarang ?" ucap om Ifel


"ya udah ayuk...."


kami bertujuh pun berjalan bersama meninggalakan kamar yang sudah di huni kakek beberapa malam .


Bang Wowo and the geng pun sudah berada di depan mobil ,mereka melambaikan tangan nya pada ku .


Karena kami bertujuh ,maka mobil nya pun dua aku ,om Ifel dan om Febry bertiga di mobil rental yang papa sewa dengan om Ifel yang nyetir ,sedangkan mama,papa ,nenek dan kakek di mobil punya papa .


Selama perjalanan om Febry tak henti nya menggoda ku


"gak kerasa ya ponakan kita udah besar ,udah punya pacar cantik lagi ,aku kalah saing nih " ucap om Febry


"terus aja terus ledekin aku " ucap ku pelan seraya menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi jok

__ADS_1


lantas aku menengok ke arah luar


"hahaha....makanya cari pacar sana umur sudah berapa masih jomblo aja ,tuh lihat kucing aja sepasang masa kamu sendiri hahahaha....." giliran om Febry yang di ledek om Ifel seraya menujuk pada dua ekor kucing yang sedang bermain di jalanan .


"baru juga 23" ucap om Febry manyun


**


Setelah setengah jam akhirnya kita sampai juga di depan rumah nenek dan kakek .Bibi Desi (istri Ifel) pun sudah berdiri di teras rumah dengan perut buncitnya.


Kampung ini sungguh semakin maju dari sebelum nya ,sudah banyak warung dan stand makanan yang berjajar di sepanjang jalan , rumah-rumah sudah banyak perubahan jadi lebih kekinian model nya ,jalanan pun semakin mulus dan licin .


Aku ,om Ifel dan om Febry pun keluar dari mobil ,tak berselang lama mobil papa juga datang dan langsung memarkirkan nya .


"assalamualaikum...." ucap ku di susul papa dan yang lain


"waalaikum salam..... Alhamdulillah ayah sudah bisa pulang ,maafin Desi yah,karena tak bisa menengok ayah " ucap bibi Desi menyalimi kakek


"iya ...tak apa ,ayah maklum dengan kondisi kamu , gak bagus juga buat kesehatan mu jika berada di rumah sakit " sahut kakek


"Apa kabar kak?" tanya bibi Desi pada mama


"Alhamdulillah,baik Des, wah... sudah besar ya perut nya ,ini sudah berapa bulan ?" tanya mama mengusap perut bibi Desi


"baru mau masuk ke tujuh kak " jawab nya


"Alhamdulillah....." ucap mama


Setelah itu kami pun segera masuk ke rumah kakek dan nenek ,nampak nya Ari masih belum tahu kedatangan kami ,saat semua sedang beristirahat di ruang tengah tiba-tiba Ari berteriak dari luar.


"mamaaa.....papaaa........"


"ma...pa....kenapa kalian pulang gak bilang ?" tanya nya setelah berada di depan kami


"kejutan " ucap kakek yang sepertinya Ari tak terlalu memperhatikan keberadaan kakek ,Ari pun menengok


"kakek....." Ari segera memeluk kakek


"huuu....kakek.... akhirnya kakek pulang juga dari rumah sakit ,aku kangen kakek , aku takut kakek meninggal huuuhhuuu....." Ari menangis tersedu di pelukan kakek ,kakek pun mengusap kepala Ari


"tidak dong ,kan belum saat nya kakek pergi ,kakek masih mau bermain dengan mu ,apalagi sebentar lagi kamu bakal punya sepupu " ujar kakek


"iya " ucap kakek


"udah ah jangan nangis lagi,entar hilang loh cantik nya " goda om Febry


"iya ,aku gak akan nangis lagi kan sekarang kakek udah pulang " jawab nya seraya mengusap pipi dan tersenyum


"nah gitu dong " ucap mama


"ma,Ari gak nyusahin mama kan?" tanya mama pada nenek Dewi


"enggak kok ,Ari malah lebih banyak diem sepulang dari rumah sakit " ucap nenek


"terus mama abis dari mana ,kok pas kami datang mama dan Ari gak ada di rumah " tanya papa ,karena sesampai nya tadi papa langsung mengecek rumah


"tadi mama sama Ari abis lihat yang kebakaran " ucap nenek


"kebakaran? rumah siapa yang kebakaran ?" tanya nenek Maryam


"gak tahu ,tapi rumah nya cukup besar dan bagus ,itu loh yang abis tikungan yang deket gang yang banyak bunga nya ,kasihan pemilik rumah nya meninggal dunia " lirih nenek Dewi


"astaghfirullaahal'aziim...... Innalilahi wa innailaihi rojiun......" lirih kami bersama


"apa mungkin rumah yang dimaksud nenek itu rumah orangtua nya kak Resti" batin ku


"apa jangan-jangan rumah nya pak Nugroho ,di sama kan yang rumah nya paling bagus dan besar ya rumah pak Nugroho" seru om Ifel


"bisa jadi , Ya Allah kenapa bisa terjadi hal seperti itu ?" tanya nenek Maryam


"tapi apa pembantu nya selamat? "tanya nenek Maryam lagi


"Alhamdulillah.....beruntungnya pembantu nya malah selamat padahal pembantu nya juga berada di dalam rumah ,dia ditemukan berada di kamar mandi " tutur nenek Dewi


"Allahu Akbar..." gumam kami lagi


"pantas saja pas kita sampai desa ini kaya sepi banget " ucap om Febry

__ADS_1


"tapi tadi sebelum berangkat ke rumah sakit belum ada kabar kebakaran itu " ucap om Ifel


"ya kan terjadi nya setelah Abang berangkat, aku tadi gak cerita karena kan kalian juga baru sampai " sahut bibi Desi


"oh gitu " gumam om Ifel lagi


"emang gak di ketahui darimana asal api nya ,atau penyebab kebakaran nya ? tanya mama


"itu masih di selidiki Nur" jawab nenek


Saat kami sedang berbincang tentang kebakaran itu tiba-tiba sekelebat bayangan terlihat melintas dari arah pintu masuk ,tadinya aku fikir itu orang-orang yang lalu lalang ,tapi mengingat jika orang tidak akan lewat tepat depan pintu karena rumah ini sekarang di pasang pagar , jadi sangat tidak mungkin akan ada orang lewat depan pintu .


"kak , kaya nya ada tamu tak diundang" bisik Ari


"tahu dari mana?" bisik ku lagi


"tuh kakak lihat aja " Ari menujuk foto keluarga ,dari kaca nya terlihat seluet bayangan seseorang tengah berdiri memunggungi


"mau kemana kamu ?" tegur om Ifel saat melihat ku hendak beranjak


"aku keluar dulu" ucap ku


"hati-hati nak" ucap mama ,yang seperti nya juga mengetahui


"iya ma.." jawab ku


Aku pun segera menuju ke luar ,dan benar saja sosok wanita dewasa tengah berdiri dengan mengenakan gaun serba putih ,rambut nya ikal dan panjang


"kak Resti" gumam ku


sosok itu menoleh dan tersenyum menatap ku


"sekarang kamu sudah ingat kan ,kalau aku adalah anak perempuan yang kamu lihat di depan rumah dengan wujud seekor monyet dulu ?" tanya nya


"iya kak ,tapi kan waktu itu kakak masih sangat muda ,berbeda dengan yang sekarang" ucap ku


"seperti yang ku perlihatkan padamu dulu ,jika aku bukan nya meninggal tapi berpindah tempat ke kerajaan siluman monyet ,maka aku pun tumbuh besar di sana ,meskipun begitu tubuh ku tetap membusuk seiring berjalan nya waktu ,dan digantikan dengan wujud monyet ,sangat menjijikan " lirih nya


"tapi kini aku bisa tenang ,meski aku tak bisa hidup lagi di dunia setidak nya wujud ku kembali menjadi seperti sekarang" ucap nya lagi


"lalu apa kebakaran itu merupakan ulah siluman itu?" tanya ku


"ya ,harta yang mereka dapatkan dari hasil muja akan kembali diambil sampai habis tak bersisa ,termasuk nyawa yang memang tujuan siluman itu ,ia sengaja mengiming-imingi harta tapi sebenarnya tujuan mereka adalah jiwa pemuja nya untuk dijadikan budak mereka " tutur kak Resti lagi


"astaghfirullaah...."batin ku


sekelebatan bayangan kakek yang di beri makanan oleh seorang pria melintas di penglihatan ku


"maafkan karena kelakuan orang tua ku kakek mu hampir saja jadi tumbal , kakek mu bukan hanya satu dari korban tumbal nya tapi masih banyak lagi korban tumbal nya ,tapi aku bersyukur karena kamu datang tepat waktu menyelamat kan nya "


"sekarang aku ingin pamit ,terima kasih karena berkat kedatangan mu aku jadi bisa keluar dari alam siluman itu ,karena selama ini aku mencoba keluar tapi tetap tidak bisa ,kalau pun bisa hanya dimalam-malam tertentu saja itupun untuk berjaga di depan rumah orangtua ku ,sekali lagi terima kasih Adnan " seberkas cahaya putih bersinar di sekitar tubuh nya lalu lenyap dari pandangan


"semoga kak Resti bisa tenang di alam nya yang sekarang " batin ku lagi


"amiiinnnn......" seru kak Wowo and the geng


**


Saat malam sudah menyambut aku yang baru selesai shalat isya di masjid bersama papa ,kakek ,om Ifel , dan om Febry pun berjalan bersama menuju rumah .


Tapi sesuatu membuat ku penasaran ,hingga aku terdiam memperhatikan nya


"ada apa Bran?" tanya om Febry


"itu pohon pisang itu kenapa goyang-goyang gitu ya ,padahal yang lain nya enggak " jawab ku seraya menunjuk kebun pisang


"ah ...kamu tuh bikin takut aja ,hayu ah cepetan jalan nya ,jangan macam-macam " seru om Ifel menarik tangan ku


"tapi aku penasaran om " sahut ku seraya melangkah menuju pohon pisang yang nampak masih bergoyang meski pohon yang lain takbbergerak sedikit pun


"wah cari penyakit nih anak " gumam om Ifel lagi ,aku gak memperdulikan saat papa dan yang lain memanggil ,aku tetap ingin tahu apa penyebab pohon pisang itu bergerak-gerak.


Saat aku sudah berada di dekat pohon pisang itu ,aku menggelengkan kepala saat melihat pelaku nya



"ngapain di situ bang cong ?"

__ADS_1


***


__ADS_2