The INDIGO

The INDIGO
Bang Popo bebas


__ADS_3

Tepat tengah malam Aranta terbangun ,ia menangkap suara denting benda seperti stenles atau besi saling berbenturan


Trang....Trang....


Trang....


Semakin lama suara itu semakin mendekat ,gadis itu melihat pada kedua orangtua nya yang sudah terlelap di kasur lantai ,perjalanan yang cukup memakan waktu membuat sepasang suami istri itu merasa lelah dan akhirnya tertidur dengan sangat pulas.


Trang....


G'debuk


Terdengar sesuatu menabrak pintu ruangan Aranta ,Aranta yang terkejut pun hanya bisa beristighfar dalam hati.


Sebenarnya ia merasa penasaran akan suara apa itu ,namun ia pun kembali teringat akan kejadian yang menimpa nya sebelum berada di rumah sakit ini,Aranta pun mengurungkan niat nya untuk melihat dan kembali berbaring di ranjang nya.


Akan tetapi seakan mencari perhatian ,suara itu kembali terdengar namun kali ini suara itu benar-benar terdengar sangat dekat bahkan saking dekatnya,telinga Aranta sampai sakit dibuat nya.


nguuuunnggg........


Telinga nya sampai berdengung ,Aranta pun menutup telinga nya dengan bantal yang ia kenakan ,ia sampai tidur menyamping menghindari asal suara itu.


"please .... jangan ganggu ,aku juga gak ganggu ,aku mohon pergi jangan mengganggu ku ,aku ingin bahagia bersama laki-laki yang aku cintai " lirih nya ,Aranta mengira jika sosok yang saat ini tengah mengganggu nya merupakan sosok yang sama dengan yang telah mencoba mengusik nya,tanpa ia tahu jika sosok itu berbeda


Sosok tanpa kepala tengah memegangi tongkat besi yang ia pukul-pukul kan pada lantai juga ranjang besi yang Aranta tiduri


getaran yang dihasilkan dari pukulan itu sampai terasa oleh Aranta


Trang....


Kembali sosok tanpa kepala itu memukul tempat tidur


"Ya Allah...." lirih Aranta ,ia pun teringat akan Gibran yang selalu tenang dalam menghadapi situasi seperti ini ,ia pun mencoba untuk bisa tenang seperti Gibran


"huuuuuffftt....aku pasti bisa " perlahan Aranta membuka bantal yang menutupi kepala nya , sebenarnya ia tak pernah takut menghadapi hantu hanya saja entah kenapa saat ini ia merasakan sensasi yang berbeda ,jantung nya berdebar kuat ,perlahan Aranta mengubah posisi tidur nya menjadi duduk dengan mata terpejam ,perlahan Aranta membuka mata nya namun sosok tanpa kepala itu tiba-tiba menghilang.


"loh kok gak ada " Aranta pun menengok kiri kanan dan sekeliling ruangan itu ,namun tak ada sosok apa pun di sana


"kaya nya mau ngerjain aku deh " tiba-tiba Aranta merasakan ada yang menyentuh pundak nya ,gadis itu pun sampai berlonjak karena terkejut


"astaga....."


"kamu kenapa kok bisa kaget gitu ?" tanya Thalia


"duh mama....bikin kaget saja " Aranta pun mengusap d*da nya


"kamu gak apa-apa kan?"tanya Thalia lagi


"enggak kok ma,hanya kebangun saja ,habis mimpi buruk " ucap Aranta berbohong


"ya sudah ,mama tadi bangun karena mendengar suara ponsel mu ,mama fikir kamu masih tidur "ucap Thalia seraya menyerahkan ponsel milik Aranta


"oh... kok aku gak denger ya ,makasih ya ma,maaf suara nya sudah ganggu tidur mama " ucap Aranta tak enak


"iya gak apa-apa,mama ke kamar mandi dulu " ucap Thalia laku berlalu ke kamar mandi


Namun sesuatu yang janggal tiba-tiba terjadi


"mana ...gak ada notifikasi apapun ,Adnan juga gak ada nelpon ,alarm juga masih lama bunyi nya ,tapi kok mama bilang ponsel ku bunyi " gumam Aranta setelah mengecek ponsel nya yang nampak biasa saja ,akan tetapi kening nya berkerut setelah melihat Thalia,mama nya sudah berada di tempat tidur nya


"kapan mama kembali ,kok gak kelihatan lewat nya "gumam nya lagi


"pintu kamar mandi juga tak terdengar terbuka " tambah nya


Saat tengah bingung sendiri sesuatu kembali mengejutkan nya


Trang.....


sebuah tongkat besi tiba-tiba menggelinding ke arah pintu kamar mandi ,yerlihat juga sepasang kaki yang nampak mengambang di dekat nya


Aranta pun melihat nya dari bawah sampai atas ,dan betapa terkejut nya ia saat melihat sosok itu tanpa kepala


"astaghfirullah....."

__ADS_1


sosok hantu tanpa kepala tersebut meraih tongkat besi itu lalu mengacungkan nya ke atas hendak melempar kan nya pada Aranta


Sontak saja Aranta menjerit


"aaaakkkhhhh......"


Mendengar teriakan Aranta ,Seno dan Thalia pun terbangun lalu menghampiri Aranta yang sudah menunduk dengan wajah yang ditutupi kedua telapak tangan nya


"Aranta .....Aranta ...kamu kenapa sayang ...?" tanya Thalia seraya mengguncang bahu Aranta


"mama...." Aranta pun memeluk mama nya dengan tubuh yang bergetar


"iya sayang ini mama ,kamu kenapa hem....mimpi buruk ya?" tanya nya seraya mengusap kepala Aranta


"ini kamu minum dulu" Seno pun menyerahkan segelas air dan langsung diminum oleh Aranta dibantu Thalia


"coba cerita ada apa ,kenapa bisa sampai teriak-teriak begitu " tanya Thalia lembut


"tadi....ada hantu tanpa kepala mau lempar aku pakai besi di sana" tunjuk Aranta


"mungkin kamu bermimpi " ucap Seno


"tidak pa...tadi itu benar-benar terjadi ,malah hantu itu sempat menyamar menjadi mama dan memberikan ponsel ku ,katanya ponsel aku bunyi ,setelah itu mama masuk kamar mandi tapi sesaat kemudian aku lihat mama sudah ada di tempat mama tidur" Aranta pun menceritakan kembali apa yang ia alami barusan


"jadi itu beneran sayang ?" tanya Thalia


"iya ma...aku tahu kok mana mimpi dan mana yang nyata " sahut Aranta


"ya ampun kok rumah sakit ini horor sih" gumam Thalia lirih


"ya...nama nya juga rumah sakit ,banyak yang meninggal dengan berbagai alasan ,ada yang karena sakit ,karena kecelakaan bahkan korban pembunuhan pun pasti lah ada " sahut Seno


"ya ampun iya juga ya ,duh aku kok jadi takut ,ini masih lama ya siang nya .... duh mana masih jam satu malam lagi " lirih Thalia


"sudahlah ma...mungkin hantu itu hanya mau iseng saja ,kita berdoa saja supaya tidak ada hal-hal aneh lagi kedepannya " tutur Aranta


"ya sudah kalau gitu kita tidur lagi saja ini masih terlalu larut " ucap Seno


"kok tidur sih pa...sudah kebangun juga ,lebih baik kita shalat ,agar hantu itu tak kembali mengganggu " ucap Aranta


"eh enggak ya ,kita barengan saja ,nanti ambil wudhu nya baru gantian " seru Seno cepat


"huuu....bilang saja takut " cibir Thalia seraya membantu Aranta bangun


"siapa yang takut ,kita itu kan keluarga yang harus kompak jadi wudhu pun harus sama-sama" kilah Seno tak mau di bilang penakut


"halah alasan mu saja" sahut Thalia ,sementara Aranta hanya bisa tersenyum melihat kedua orang tua nya


"gak apa-apa ma...aku bisa kok " tolak Aranta yang memang merasa baik-baik saja.


"benarkah kamu bisa jalan sendiri?" tanya Thalia lagi ,Aranta pun mengangguk


Mereka akhirnya melakukan wudhu secara bergantian lalu setelah itu melakukan shalat malam berjamaah


Hal yang sama pun tengah dilakukan Gibran dan keluarga nya ,hanya saja mereka shalat di waktu dan ruangan berbeda.


Gibran yang masih berzikir setelah shalat pun merasa tenggorokan nya tercekat mulut nya pun terasa pahit ,ia lalu menyudahi dzikir nya ,dan beralih pada meja nakas nya untuk meraih minum ,namun rupanya air minum nya habis , mau tak mau Gibran harus keluar kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum kembali


Saat kaki nya menapaki lantai marmer pada tangga ,ia merasa seolah seseorang tengah memperhatikan nya ,namun Gibran bersikap seolah tak merasakan nya .


Dengan santai nya Gibran mengisi gelas besar nya dengan air pada dispenser ,setelah itu Gibran duduk dan langsung meminum nya setelah sebelum nya membaca bismilah.


Setelah itu Gibran pun kembali mengisi gelas nya untuk nanti diminum dikamar jika ia kembali haus,habis itu Gibran pun kembali ke kamar nya ,akan tetapi sekelebatan bayangan seseorang terlihat melintas di jendela,Gibran pun melangkah menuju ke jendela untuk melihat nya


"nek Wewe...kak Wowo...Tante Lasmi " panggil Gibran dalam hati nya


"kami di sini" sahut Lasmi


"di sini dimana?" tanya Gibran


"di samping rumah mu dekat pohon nangka" sahut Lasmi lagi


Gibran pun menuju ke tempat dimana para hantu itu berada, namun Gibran kembali melihat sosok yang tadi siang sempat ia lihat di rumah sakit

__ADS_1


"kalian ngapain ngumpul disini?"


"sini... kamu pasti bisa bebasin Popo " ujar Lasmi


"loh kok aku ,kalian juga kan bisa?" tanya Gibran


"kami gak bisa makanya minta tolong kamu ,karena hanya air kencing perjaka yang bisa bebasin dia " tutur Wowo


"hah...air kencing perjaka?" seru Gibran terbelalak


"ehehehehe.. .iya cu...,kamu kan masih perjaka ehehehehe...." timpal Wewe


"ya...tapi ini gimana cara nya ,masa aku harus pipis di sini sih?" tanya Gibran


"gak perlu pipis di sini juga ,kamu bisa nampung air pipis mu lalu kamu siramkan air pipis nya di sini " sahut Wowo


"khikhikhikhi....pipis di sini juga gak apa-apa aku temenin" ujar Lasmi seraya terkikik sambil mengedip-ngedipkan mata nya


"enak aja ,aku pipis di kamar mandi lah,dasar Kunti " Gibran pun lantas menuju ke kamar mandi yang berada di kamar tamu


sementara Lasmi si kuntilanak merah itu nampak cekikikan membayangkan bagaimana Gibran pipis di sana


"kamu tuh jadi kuntilanak mesum banget" seru Wowo langsung menoyor kepala kuntilanak itu hingga si kuntilanak itu pun jatuh tersungkur


"ehehehehe..... ehehehehe...ehehehe......"


Sementara itu di atas atap rumah itu sosok Nagin dan Buto nampak menggelengkan kepala melihat para hantu itu


Tak beberapa lama Gibran pun keluar dengan membawa sebuah kaleng bekas minuman yang berisi kan air seni nya


"iiiiihhh....." meskipun milik sendiri nampak nya Gibran merasa geli dan jijik sampai-sampai ia pun bergidik


"nih terus aku harus apa kan, langsung siram saja kan?"tanya Gibran


"iya tinggal siram doang ,mudah kan" sahut Lasmi


"ok kalau gitu " Gibran pun segera menyiramkan air seni nya tersebut ke sekitar tanah yang dijadikan tempat menguburnya botol yang mengurung bang Popo


Asap putih tipis pun mulai keluar lalu berubah pekat ,hingga menghilang terbawa angin , secara ajaib botol yang berisi sosok pocong tersebut pun muncul di bagian atas nya ,Gibran langsung meraih dan mengangkat nya dengan membalut tangan nya menggunakan kantung kresek hitam yang ia bawa dari dalam rumah nya tadi.


Setelah itu Gibran pun membuka penutup nya


Wuuusss.....


bayangan putih pun keluar dari botol kaca itu


"akhirnya aku bebaaassss....." pekik bang Popo seraya melompat-lompat memutari Gibran


bruugh'


"berisik " seru Lasmi menghalangi pocong tersebut dengan sebelah kaki nya hingga pocong itu jatuh dengan wajah yang lebih dulu menghantam tanah


"sakit Kunti " pocong itu pun hanya bisa menggeliat-geliat kan tubuhnya persis seperti ulat tebu


"lagian bukan nya bilang makasih malah teriak-teriak gak jelas dasar pocong kumis baplang " cibir Lasmi


"terserah aku lah , oh iya karena kamu sudah membebaskan ku aku beri kamu tiga permintaan " ucap pocong itu pada Gibran seraya bangkit


"dih garing sejak kapan ada pocong berubah jadi jin ,sudah lah aku mau kembali ke kamar "Gibran pun pergi seraya mengacuhkan gurauan bang Popo


"ada-ada saja ,tapi syukurlah sekarang bang Popo sudah bebas " gumam Gibran sambil berjalan menuju kamar nya


"wudhu lagi deh " Gibran yang tadi sudah batal wudhu karena pipis pun harus kembali mengambil air wudhu sebelum ia tidur ,sebab ia selalu merasa tak tenang jika tidur dalam keadaan tak punya wudhu.


Setelah itu Gibran pun membaringkan tubuh nya di pembaringan , tiba-tiba ia teringat Aranta ,timbul di benak nya untuk menghubungi gadis nya itu ,namun mengingat jam menunjukan pukul dua dini hari ia pun mengurungkan niat nya


"nanti subuh saja lah ,pasti sekarang dia masih tidur " gumam nya


Gibran pun hanya bisa menatap layar ponsel nya yang terdapat foto dirinya dan Aranta saat di desa unik beberapa waktu lalu


Seutas senyuman di bibirnya mengiringi lelap nya pria berparas tampan itu


"bismillahirrahmanirrahim....... selamat malam " Gibran pun terlelap setelah membaca doa sebelum tidur

__ADS_1


***


__ADS_2