
Lima hari sudah semenjak Ari dan Yoga masuk rumah sakit,lusa rencana pernikahan Gibran dan Aranta di laksanakan,namun Yoga tak kunjung juga tersadar dari koma nya.
Ari yang hari ini sudah diperbolehkan pulang pun menemui Yoga untuk berpamitan.
"kami tunggu kamu di sini ya nak" ucap Nuri saat Ari hendak memasuki ruangan Yoga
"iya mah " sahut Ari
Dengan dibantu Riswan ,Ari memasuki kamar itu.
"kakak kembali ke luar ya " ucap Riswan yang tak ingin mengganggu
"iya kak " sahut Ari
Setelah Riswan menutup pintu ruangan itu,barulah Ari berbicara
"selamat siang Yoga...bagaimana kabar mu hari ini....aku harap kamu bisa mendengar ku " ucap Ari seraya meraih tangan Yoga
"hari ini aku sudah diperbolehkan pulang,tapi aku janji akan sering datang menemui mu,aku harap kamu cepat bangun ya "
"oh iya ,lusa kak Gibran akan menikah ,maaf jika nanti lusa aku telat atau bahkan tak bisa mengunjungi mu"
Tak ada kata-kata lagi dari mulut Ari,hanya helaan nafas yang terdengar.
"cepat bangun ya ....aku merindukan mu ...aku pulang dulu ya ,keluarga ku sudah menunggu ,nanti aku datang lagi " ucap Ari lirih ,lalu ia menggerakkan kursi roda nya menuju pintu
"ayo kita pulang " ajak Ari pada keluarga nya
"sudah nak?" tanya Nuri ,Ari mengangguk
"ya sudah,mbak kita pamit ya,maaf untuk sementara waktu mungkin aku dan Ari tidak bisa datang menjenguk sebab pasti nanti akan repot" ucap Nuri merasa tak enak
"iya tak apa ,saya mengerti ,dan mungkin saya juga minta maaf jika nanti di hari pernikahan kakak nya Ari saya tak dapat hadir ,tak mungkin saya meninggalkan Yoga di sini sendiri" ucap Bu Nur Aini
"iya ,tak apa-apa, baiklah kami pulang ya , assalamualaikum" ucap Nuri
"aku pulang ya Tante ,jangan lupa untuk hubungi aku jika ada apa-apa" ucap Ari
"iya sayang ,kalian hati-hati" ucap Bu Nur Aini
"assalamualaikum...." ucap Ari seraya mencium punggung tangan nya
"waalaikum salam....."
Bu Nur Aini pun menatap sendu kepergian Ari dan keluarga nya.
"kasihan Ari,Yoga ....cepat lah bangun nak " gumam nya
Sementara itu para keluarga yang lain tengah sibuk menyiapkan hantaran untuk Aranta.
Bahkan dengan kemampuan Febry ,ia dapat menyulap berbagai macam pakaian dan benda lain nya menjadi terlihat cantik dan menarik,hingga Nuri pun tak perlu repot-repot menyewa jasa perias hantaran.
Meski tak banyak,namun harga dari semua hantaran itu tak main-main.
Desi yang melihat nya pun tak henti-hentinya berdecak kagum melihat betapa bagus dan mewah nya semua hantaran itu.
"bang....Abang kapan belikan aku baju seperti ini,bagus tahu bang ,aku juga mau,pasti semua teman-teman aku pada iri melihat ku nanti" lirih Desi berbisik
"kamu jangan aneh-aneh deh,aku mana sanggup beli baju seperti ini,uang segitu lebih baik simpan buat beli rumah ,kalau baju setahun dua tahun pasti gak dipake lagi tapi kalau rumah bisa sampai seumur hidup " bisik Ifel
"ih Abang mah gitu ,gak sayang istri nya " Desi merajuk
"bukan tak sayang,tapi ya mau gimana lagi segala sesuatu itu kan harus dengan kemampuan,bisa makan dan tidur enak tanpa mikirin utang pun kita harus bersyukur sayang ,banyak loh di luaran sana yang rela utang sana sini demi gaya hidup,yang akhirnya hidup nya tak tenang karena dikejar-kejar penagih utang,dan aku tak mau jika kita sampai mengalami hal serupa, nauzubillah himindzalik....." lirih Ifel
"Abang cari kerja apa kek gitu yang gaji nya gedean dikit "
"kerja apa,sekarang tuh cari kerja susah jangan kan yang lulusan SD seperti ku,yang sarjana saja masih banyak yang nganggur, kamu lihat bang Jerry ,dia S1 tapi kerja nya malah ngojek ,Sahrul teman ku S1 juga malah ternak ikan mujair,masih mending aku dikasih kepercayaan sama kakak ipar mu buat ngelola counter hp,dan hasil nya juga kan lumayan ,bahkan kak Nuri juga tak pernah meminta hasil penjualan nya juga " ucap Ifel ,ia memang suka menyebut nama Nuri dengan kata kakak jika bersama istri nya ,sebab ia ingin istri nya itu menghormati kakak nya.
"Alhamdulillah keperluan kamu juga anak kita juga kan terpenuhi berkat counter hp itu,doakan saja semoga kita selalu diberikan rezeki oleh Allah,dan dihindarkan dari yang nama nya setan kredit dan kamu juga jangan pernah tergiur dengan yang nama nya kredit-kredit tan" tambah Ifel lagi
Dengan menghela nafas Desi pun hanya bisa diam pasrah jika suami nya sudah berbicara seperti itu.
__ADS_1
Melihat istri nya hanya diam Ifel pun menggelengkan kepala.
"maafin aku jika aku belum bisa membahagiakan mu ,rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau ,tapi jika kita menjalani nya dengan penuh rasa syukur , insyaallah keluarga kita tak akan kekurangan apapun" bisik Ifel seraya meraih tangan Desi ,Desi pun mengangguk faham
**
Ari dan yang lain nya sudah sampai di rumah,ia langsung di bawa ke kamar nya dengan di gendong Rifki sebab harus menaiki tangga.
"kamu istirahat lah ,jangan banyak fikiran ,jika perlu apa-apa telpon saja mama atau papa " ucap Rifki seraya mengusap kepala Ari
"iya pah.... aku juga mengantuk " sahut Ari
Ari pun memejamkan mata nya setelah papa nya keluar meninggalkan kamar nya.
Rifki menghampiri yang lain yang sedang merapikan barang hantaran.
"sudah selesai?"tanya nya seraya meraih goreng pisang di piring
"sudah " sahut Bu Maryam
"ini semua kamu yang buat Febry ?" tanya Rifki ,ia tadi di beritahu kan oleh Nuri jika Febry lah yang membuat hantaran itu.
"iya kak ,lumayan kan daripada sewa jasa perias " sahut Febry
"iya lebih hemat budget" Rifki terkekeh
**
Hantaran sudah siap,mas kawin dan segala perlengkapan lain nya sudah nampak rapih,semua nya diletakan di atas tempat tidur Gibran.
Gibran menatap semua nya lalu duduk dan meraih satu hantaran yang paling istimewa dari yang lain yaitu seperangkat alat sholat.
"huuuuh.....sebentar lagi status ku berubah jadi seorang suami " batin nya tak menyangka
"semoga aku mampu membimbing dan membawa rumah tangga kami menuju sakinah mawadah dan warohmah,semoga Allah meridhoi pernikahan kita " lirih Gibran tersenyum
"ehehehehe...... amiiin...." ucap Wewe
"ehehehehe.....kenapa memang nya ?" tanya Wewe balik
"aku harap nenek akan tetap bersama ku" lirih Gibran seraya meletakan mas kawin dan merebahkan tubuh nya lalu meletakan kepala nya pada pangkuan Wewe gombel itu
"ehehehehe....kamu tenang saja,nenek akan selalu ada bersama mu ,tapi mungkin nenek juga tak bisa seperti ini terus pada mu,karena nanti ada istri mu yang akan melakukan hal yang sama seperti nenek saat ini" ucap Wewe
"iya ,makasih ya nek,aku tak mau nenek pergi " ucap Gibran lagi seraya memejamkan mata nya ,sebab ia sangat menyukai di saat Wewe gombel itu mengusap kepala nya
"ehehehehe....."
Tak terasa Gibran pun tertidur lelap,dengan kemampuan nya Wewe memindahkan barang-barang hantaran itu tanpa menyentuh nya ke lantai dekat lemari.
"ehehehehe....semoga pernikahan mu bahagia selama nya "
Matahari kini mulai condong ke barat, semburat jingga pun menghiasi langit sebelah barat.
Gibran tengah melakukan sambungan video call bersama Aranta ,sebelum besok ia mulai di larang untuk menghubungi nya,ia dan Aranta akan di pingit. Selama satu hari,mereka tak diperbolehkan untuk bertemu dan menghubungi satu sama lain. Bahkan sekedar mengirim pesan pun kedua nya di larang ,ponsel kedua nya juga akan disita.
"bagaimana perasaan mu saat ini?" tanya Gibran
"hm...deg deg gan " sahut Aranta tersenyum malu
"sama " sahut Gibran
"kamu kenapa liatin aku seperti itu ?" tanya Aranta tersipu
"enggak ,... siapa juga yang liatin kamu ,aku lihatin kamera ponsel ku kok" sahut Gibran tersenyum
"isshh....sama saja " gumam Aranta ,Gibran pun terkekeh pelan
"Masya Allah....cantik nya calon istri ku,terima kasih atas karunia Mu Ya Allah...." lirih Gibran dalam hati
"Aranta ...." panggil Gibran
__ADS_1
"iya "
"nanti kamu mau bulan madu kemana?"tanya nya
Mendapat pertanyaan seperti itu wajah Aranta memerah,ia nampak malu dan tersipu.
"kenapa diam...jawab dong" tanya Gibran
"hm...itu...aku gak tahu " jawab Aranta
"kok gak tahu,memang nya tak ada tempat yang ingin kamu datangi bersama ku ?" tanya Gibran mengerut kan kening
"hm....i...itu...aku...ini...hm...duh...aku beneran gak kefikiran ke sana " sahut Aranta mendadak jadi gugup
"bisa menikah dengan mu saja aku sudah bahagia Adnan,kemana pun dan dimana pun asal itu bersama mu aku yakin akan sangat bahagia "lanjut Aranta dalam hati
"bagaimana kalau kita pergi ke Bali atau ke Paris ?" tanya Gibran
"enggak ah kejauhan " tolak Aranta
"hm... Adnan...." ucap Aranta ragu
"apa..?"
"s.. sebenarnya....ada satu tempat yang ingin aku datangi " ucap Aranta akhir nya
"oh ya ,dimana itu ?" antusias Gibran
"Borobudur " jawab Aranta
Gibran mengerutkan kening mendengar nya ,ia fikir tempat apa yang ingin di kunjungi nya.
"kenapa ke Borobudur? bukan kah kita pernah satu kali ke sana saat karya wisata SMA dulu ?" tanya Gibran
"kapan?" tanya Aranta bingung
"oh iya aku lupa kamu kan sudah pindah sekolah ya waktu itu,maaf " lirih Gibran ,ia benar-benar lupa jika saat itu Aranta sudah pindah ke Aceh
"iya ,tak apa" sahut Aranta
"lalu kenapa kamu ingin pergi ke sana ?" tanya Gibran lagi
"entah ,rasanya ingin saja ke sana,melihat sunset di atas candi Borobudur pasti akan sangat menyenangkan " ucap Aranta antusias
"baiklah , aku akan mencari hotel atau villa yang terdekat dengan candi Borobudur,kita akan pergi bulan madu ke sana " kata Gibran
Aranta kembali merona saat mendengar kata bulan madu ,ia hanya tersipu menahan malu.
"memang nya gak ngerepotin?" tanya Aranta ragu
"enggak dong masa gitu saja repot,kalau gitu sudah dulu ya ,aku mau langsung cari hotel nya ,sebentar lagi juga Maghrib, sampai bertemu di hari H " ucap Gibran
"iya " sahut Aranta
panggilan pun terputus
"oh ya ampun ..... jantung ku " Aranta menyentuh d*da nya yang terus berdebar selama ia melakukan video call
"semoga kamu memang calon imam ku yang terbaik dari Allah " lirih Aranta seraya mendekap ponsel nya lalu merebahkan diri di tempat tidur
Tak lama kumandang adzan Maghrib pun berkumandang
Para penghuni rumah baik di rumah Gibran maupun Aranta ,kedua keluarga itu bersiap untuk mengerjakan shalat Maghrib.
Di rumah Rifki ,mereka berencana untuk shalat Maghrib berjamaah, mumpung semua nya berkumpul,Ari pun ikut berjamaah namun ia shalat menggunakan kursi roda.
Sementara di rumah sakit
Bu Nur Aini yang juga hendak melaksakan shalat Maghrib di ruangan Yoga pun tak menyadari jika Yoga menggerakkan jari tangan nya.
***
__ADS_1