The INDIGO

The INDIGO
Butuh privasi


__ADS_3

Seekor ular berjenis piton berukuran besar tengah mendekati seorang anak kecil yang masih bisa disebut balita,sebab usia nya baru menginjak lima tahunan.


Anak itu nampak ketakutan dan menangis karena melihat semua orang berteriak,awal nya anak itu hanya diam memperhatikan ular itu ,namun saat mendengar teriakan orang banyak anak itu pun menjadi ketakutan.


Namun Ari yang berada di kursi roda nya dengan pelan mendekati ular itu.


Menyadari ada yang mendekat ke arah nya ular tersebut beralih pada Ari.


Hal itu pula yang membuat Nuri dan yang lain tak kalah histeris dengan orang tua si balita.


Nuri memang tak takut dengan ular namun jika melihat ular nya sebesar dan sepanjang itu ia pun merasa ngeri melihat nya bahkan saking besar nya ular itu mungkin akan menyamai besar paha orang dewasa.


"Ya Allah.... lindungilah putri ku " lirih Nuri


Seorang laki-laki paruh baya bergerak ke arah Ari dengan membawa tongkat kayu,sontak saja Ari berteriak


"tidak...jangan sakiti ular itu "


"tapi ular itu berbahaya " seru laki-laki itu


"lebih baik hubungi tim damkar,daripada melukai ular ini " ucap Ari


"tim damkar ?"


"iya cepat lah " seru Ari lagi


Tanpa menyahut lagi laki-laki itu pun segera menghubungi tim damkar sesuai yang diperintah Ari.


Ular itu nampak diam memperhatikan Ari,meskipun penglihatan ular tak sebagus penglihatan manusia namun entah bagaimana ular itu seakan bisa melihat Ari dengan jelas.


Perlahan-lahan ular itu bergerak ke arah Ari dan mulai mengelilingi Ari yang duduk di kursi roda.


Dan ajaib nya ular itu pergi menuju semak yang tak jauh dari tempat itu .


Orang tua bocah balita itu pun segera meraih anak nya lalu merangkul nya.


Tak lama kemudian tim damkar datang ,dan langsung menanyakan keberadaan ular tersebut.


Ari pun memberitahukan jika ular itu sudah pergi ke semak,tak menunda waktu lagi tim damkar bergerak ke arah semak yang ditunjuk Ari.


Melihat itu Nuri dan yang lain menghampiri Ari.


"Ari.... Masya Allah nak,....kamu bikin jantung mama mau jatuh, kamu tak apa-apa?" tanya Nuri


"tidak ma,ular itu juga tak menyerang kok ,"sahut Ari


"ternyata benar " gumam Gibran dalam hati nya


"syukurlah sayang ,....sekarang kita pulang ya..." ajak Nuri


"iya mah...tapi aku mau ke rumah sakit dulu melihat Yoga tak apa-apa kan mah?" tanya Ari


"iya sayang boleh ,kalian langsung pulang saja ,aku mau mengantar Ari dulu " ucap Ari pada yang lain


"ya sudah ,kalian berdua berhati-hati lah "ucap Rifki ,ia tak mungkin ikut dengan Nuri ,sebab dirumahnya sudah ada beberapa kerabat dekat Rifki yang sudah menunggu


"iya ,kita duluan , assalamualaikum" ucap Nuri seraya mendorong Ari.


Rifki pun berjalan dibelakang nya sebab ia nanti akan membantu Ari masuk ke mobil.


Setelah Ari dan Nuri masuk mobil,mobil yang membawa kedua nya pun melaju meninggalkan pelataran masjid.


Rifki dan yang lain pun turut masuk ,dan mereka menuju ke rumah kediaman Rifki.


Sementara itu Mahendra dan yang lain nya masih berputar-putar di sekitar kawasan hutan.Rupanya Wowo masih tak mau menyudahi aksi jahil nya menyesatkan mereka.


Hingga akhir nya mobil yang di kendarai Mahendra dan anak buah nya kehabisan bensin,Wowo baru menyudahi nya ,ia pun segera pergi dengan pasukan demit nya.


"hahahaha.....selamat tinggal ,semoga kalian beruntung bisa keluar dari tempat ini" ucap Wowo sebelum pergi


Di rumah sakit


Ari dan Nuri yang baru sampai segera menuju ruangan tempat Yoga dirawat.


tok tok tok


Nuri mengetuk pintu ,tak lama kemudian Bu Nur Aini pun membuka pintu .


"assalamualaikum "


"waalaikum salam,Ari ...kalian... berdua saja" sahut Bu Nur Aini lalu bertanya

__ADS_1


"iya " sahut Nuri


"ya ampun seharusnya kalian datang saja lain waktu ,tak enak kan pasti acara nya belum selesai,maaf saya tak bisa datang " ucap Bu Nur Aini merasa tak enak hati


"tak apa-apa mbak, acara nya hanya akad saja ,kan besok resepsi nya ,ini juga sudah selesai" ucap Nuri


"oh gitu ,ya sudah yuk masuk ,maaf ya "


"lebih baik kita menunggu di luar " ajak Nuri pada Bu Nur Aini


"iya " Bu Nur Aini pun mengikuti Nuri keluar ruangan


"assalamualaikum..." ucap Ari pelan


Yoga yang tengah memainkan ponsel pun menengok pada Ari


"kau lagi" kening Yoga berkerut melihat Ari


"bagaimana kabar mu ?" tanya Ari


"baik ,ada perlu apa ?" tanya Yoga dingin


"aku hanya ingin melihat mu itu saja " sahut Ari


"oh ,ya sudah sekarang kamu sudah melihat ku kan ,untuk apa lagi kamu masih berada di sini?" usir Yoga secara langsung


Ari menghela nafas, hati nya sakit ketika Yoga dengan terang-terangan mengusir nya.


"Yoga....aku tahu aku terlambat menyadari nya,tapi kamu tenang saja aku akan menunggu mu sampai kapan pun" ucap Ari


"kau tahu kepala ku selalu sakit kalau melihat mu, jadi ku mohon pergilah ,aku tak mau melihat mu " usir Yoga lagi


"maafkan aku tapi aku benar-benar tak bisa melihat mu ,kepalaku sungguh sakit ssshhh" desis Yoga menahan rasa sakit


Entah kenapa melihat Ari yang sudah berkaca-kaca hendak menangis membuat Yoga tak tega ,ia pun meminta maaf.


"baiklah ,aku akan pergi ,jaga dirimu baik-baik,cepat hubungi aku jika kamu sudah bisa mengingat ku" lirih Ari


Mau tidak mau Ari pun harus bisa menjauh dari Yoga ,sebab ia tak mau melihat Yoga yang selalu kesakitan jika berada di dekat nya,jadi ia pun rela mengorbankan perasaan nya.


"assalamualaikum...." ucap Ari lalu memutar kursi roda nya menuju pintu


Air mata nya pun kini tak bisa lagi di bendung,dengan berlinang air mata Ari pun pergi meninggalkan Yoga.


"sebenarnya siapa dia,apa hubungan nya dengan ku?" lirih Yoga seraya meremas rambut nya karena kepala nya kembali berdenyut.


"loh Ari ,sudah sayang ?" tanya Nuri


Ia dapat menebak apa yang terjadi pada putri nya di dalam,namun ia tak mau bertanya takut jika Ari akan semakin sedih.


"sudah mah,ayok kita pulang " ajak Ari


"Ari..." ucap Bu Nur Aini


"iya Tante" sahut Ari


"Tante minta maaf atas sikap Yoga pada mu, Tante juga mau sekalian pamit akan membawa Yoga ke luar kota untuk pengobatan nya, insyaallah jika ingatan nya sudah kembali kami akan kembali " ucap Bu Nur Aini


"luar kota? kenapa mesti ke luar kota Tante ?" tanya Ari


"di sana ada ibu nya Tante yang akan membantu menyembuhkan Yoga, mudah-mudahan dengan bantuan obat herbal Yoga bisa cepat sembuh" ucap Bu Nur Aini


Ia beralasan jika akan mengobati Yoga secara herbal ,padahal ia sudah kehabisan uang untuk biaya rumah sakit, usaha nya pun ia jual ke orang lain ,bahkan rumah yang baru mereka tempati pun harus ia jual kembali,hingga menyisakan rumah peninggalan almarhum suami nya Dirga ,ia tak ingin menjual nya ,makanya ia akan pindah ke desa tempat nya di lahir kan,karena di sana memang ada ibu nya yang berprofesi sebagai tabib desa.


Sebenarnya Rifki pun sudah mengatakan akan menanggung semua biaya rumah sakit Yoga sampai benar-benar pulih namun Bu Nur Aini menolak nya,ia tak ingin merasa berhutang budi dan nanti nya akan membuat hidup nya tak nyaman,baik Rifki maupun Nuri tak bisa memaksa karena itu sudah keputusan Bu Nur Aini. Namun kedua nya juga tak mengetahui jika Bu Nur Aini akan pindah ke desa nya.


"apa aku masih bisa menghubungi kalian?" tanya Ari lirih


"entahlah karena setahu Tante sinyal di sana masih buruk,tapi mudah-mudahan sekarang sudah bisa " sahut Bu Nur Aini


"kapan kalian akan berangkat?" tanya Ari lagi


" mungkin lusa ,sebab Tante juga harus memesan tiket pesawat nya dulu" sahut Bu Nur Aini


"baiklah,tapi apa boleh aku mengantarkan kalian ?" tanya Ari lagi


"tentu saja" sahut Bu Nur Aini


"ya sudah ,Tante dan Yoga hati-hati ya disana,hubungi aku jika disana sinyal nya bagus " ucap Ari pasrah ,ia tak mungkin mencegah kepergian mereka ,sebab alasan Bu Nur Aini jelas untuk pengobatan Yoga


"kamu juga hati-hati ya sayang ,jaga diri baik-baik ,kamu juga harus berjuang untuk sembuh" ucap Bu Nur Aini seraya membungkuk memeluk Ari

__ADS_1


"iya Tante "


"kalau begitu kami pulang , assalamualaikum" ucap Ari di ikuti Nuri


"waalaikum salam "


Sementara itu di rumah , Gibran dan Aranta yang telah selesai menyambut para tamu yang hadir pun segera menuju kamar untuk istirahat,Aranta merasa malu dan canggung di saat bersamaan saat ia berdiri di depan pintu kamar.


"ayo masuk " ajak Gibran setelah ia membuka pintu


"ah...i...iya ..." sahut Aranta gugup


Gibran pun meraih tangan Aranta lalu menarik nya pelan memasuki kamar nya.


Aranta dan Gibran terkesiap saat melihat isi kamar nya. Jantung kedua nya pun kian berdebar saat melihat tempat tidur yang sudah dihias sedemikian rupa hingga terlihat romantis untuk sepasang pengantin baru.


Bagaimana tidak di atas sprei putih sudah dihiasi taburan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati,di dekat nya terdapat kain yang sudah di bentuk menjadi bentuk dua ekor burung merpati saling berhadapan,di bawah kaki mereka tersusun rapi lilin-lilin aroma terapi di kiri kanan yang menyala yang aroma nya membuat tenang siapa pun yang mencium nya.


"astaga... apa-apa an mereka " lirih Gibran menundukan kepala sambil tersenyum kecil


"ayo masuklah ,pakaian mu sudah di dalam lemari " ucap Gibran


"hah...?"


"hm..iya...tadi kata mama,mama yang pindahin " ucap Gibran


"oh...gitu ya...ya...sudah aku atau kamu dulu yang ke kamar mandi ?" tanya Aranta


"kita barengan saja " sahut Gibran cepat


"hah..." kejut Aranta


"becanda,kamu saja duluan,aku bisa kok nunggu" sahut Gibran seraya tersenyum


"oh baiklah " Aranta pun dengan cepat menuju kamar mandi ,saat ini ia masih mengenakan kebaya pengantin.


Akan tetapi ia menepuk kening saat tiba di kamar mandi.


"duh...lupa ,aku gak bawa baju ganti " lirih nya ,ia pun kembali keluar


"kok sudah keluar lagi?" tanya Gibran menoleh


"aku lupa bawa baju ganti" sahut Aranta gugup ,sebab saat ini Gibran tengah mengenakan kaos singlet .


Aranta pun mencoba bersikap biasa lalu berjalan ke arah lemari, namun karena tak bertanya lebih dulu akhirnya Aranta membuka lemari yang salah ,sontak saja ia pun berteriak.


"aaakkkhhh..."


Bruukk'


Aranta menutup kembali pintu lemari ,Gibran mengernyitkan kening melihat nya


"kenapa ?" tanya Gibran


"kamu kok gak bilang kalau itu lemari baju mu " sahut Aranta kikuk


" memang nya kenapa?" tanya Gibran


"bukan apa-apa, apa yang sebelah sini baju ku di simpan?" tanya Aranta pada pintu lemari sebelah nya


"iya mungkin aku juga belum tahu " sahut Gibran


Tanpa berkata lagi Aranta pun membuka pintu lemari yang satu nya ,dan benar saja di sanalah tumpukan baju nya tersusun rapih.


"ya ampun ,kenapa ini diletakkan di sini ,duh malu banget kalau sampai Adnan melihat nya "batin nya


Aranta pun segera memindahkan semua ****** ***** nya yang tersusun di bagian depan menjadi ke bagian lebih dalam


"nah kalau gini kan aman" gumam nya dalam hati


Setelah selesai membawa pakaian ganti Aranta pun kembali ke kamar mandi.


"sebenarnya apa yang membuat nya berteriak tadi,memang nya ada apa di lemari ku " Gibran bangkit dari duduk nya lalu melangkah menuju lemari,dan membuka nya.


"gak ada apa-apa kok ...eh... jangan-jangan...dia melihat ini "Gibran pun terkikik saat melihat tumpukan ****** ***** nya. Ya...tadi Aranta memang terkejut melihat ****** ***** milik nya


"ehehehehe.... baru melihat bungkus nya sudah terkejut , apalagi jika melihat isi nya " Wewe tiba-tiba terkekeh


"ah nenek apa sih ,bikin aku malu saja" lirih Gibran ,jujur ia pun merasa canggung ,ia bingung dan tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini


"nek ,karena sekarang aku sudah nikah ,jadi aku butuh privasi ,nenek bisa kan pindah dari kamar ini dan dari lemari itu " ucap Gibran menujuk lemari satu nya.

__ADS_1


"ehehehehe......tentu saja,nenek tidak keberatan" sahut Wewe yang pengertian


***


__ADS_2