
Kita beralih dulu pada Nuri ya.....
NURI POV
Hari ini aku dan mama serta mbak Wulan akan pergi untuk menghadiri prosesi pemakaman suami mbak Wulan ,selama dalam perjalanan Rendi anak dari mbak Wulan nampak rewel dan terus merengek minta turun ,anak itu berdalih takut bertemu papa nya , namun aku begitu terhenyak saat mendengar ucapan mbak Wulan pada anak nya .
"sudah lah Rendi gak apa-apa ya ,kita kesana juga gak bakal ketemu papa kok ,tapi kita hanya melihat nya saja " ucap nya
"tapi ma....nanti papa pasti akan maksa aku lagi buat makan makanan yang penuh dengan api ma...aku gak mau ...aku mau kembali ke rumah Tante " rengek nya
"kamu tenang saja Rendi ,papa kamu sudah meninggal ,dan gak bakal bisa memaksa mu lagi,lagi pula dia bukan lah papa mu ,jadi kamu jangan takut lagi ok " ucap nya membuat ku menoleh ke belakang ,begitupun dengan mama ,mama pun yang duduk di samping ku ikut menoleh
"maksud kamu ?" tanya mama
"eh....em....nanti saja saya jelaskan " sahut nya membuat perhatian kami teralih pada si kecil Rendi yang nampak nya masih mencerna ucapan mama nya
"kalau papa bukan papa aku ,lalu siapa papa aku ma?" tanya nya dengan wajah sendu
"nanti mama kasih tahu kalau sudah saat nya ya" ucap nya seraya mengusap kepala anak nya
Rendi mengangguk ,anak itu memang penurut .
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kami pun sampai di kediaman rumah duka ,yaitu di rumah saudara suami mbak Wulan .
Mbak Wulan sendiri segera masuk sambil menggendong anak nya ,aku dan mama pun turut di belakang nya .
Saat kami baru saja tiba banyak pasang mata melihat pada kami terutama aku dan mama ,mungkin mereka tak tahu siapa kami ,kami pun tak menghiraukan tatapan ingin tahu mereka dan terus saja mengikuti langkah mbak Wulan sampai akhirnya kami tiba di ruangan tempat jenazah masih tertutup kain batik atau kain jarik,tadinya aku berfikir jika jenazah belum dikafani namun rupanya sudah dikafani bahkan sudah siap untuk di bawa ke TPU,hanya saja anggota keluarga masih menghargai mbak Wulan , mereka menunggu kedatangan mbak Wulan karena mbak Wulan merupakan istrinya.
Melihat pemandangan memilukan tersebut entah mengapa hal itu malah mengingatkan ku pada saat-saat dulu dimana aku sangat terpukul karena kehilangan suami yang amat aku cintai , namun aku bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan mas Rifki untuk kembali pada ku ,tak terasa air mataku luruh ,mama yang seperti nya mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini hanya bisa merangkul ku seraya mengusap punggung ku .
Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir Mbak Wulan ,hanya air mata yang dapat melukiskan betapa ia sangat terpukul atas meninggal nya suami tercinta , sedangkan Rendi sudah di bawa anggota keluarga yang lain.
Namun Wowo membisik kan sesuatu membuat ku sontak menilik pada mbak Wulan yang tengah menangis tersedu.
Meskipun aku tak tahu apa maksud mbak Wulan berpura-pura seolah terpukul atas kepergian suaminya ,aku masih mencoba berfikir positif,mungkin ia sudah lelah dengan kelakuan almarhum suami nya semasa hidup hingga menjadikan perasaan nya terkikis hingga tak merasa kehilangan sama sekali.
"astaghfirullaah halazim" lirih ku dalam hati
Hingga akhirnya proses pemakaman pun segera di mulai,aku dan mama juga ikut ke pemakaman , pihak keluarga almarhum juga sudah tahu tentang ku dan mama yang merupakan teman dari mbak Wulan.
Hari sudah mulai petang ,matahari pun sudah semakin condong ke barat ,aku mama dan mbak Wulan memutuskan untuk segera pulang,kenapa mbak Wulan ikut pulang bersama ku ? karena mbak Wulan tak punya siapa-siapa lagi rencana nya aku dan mama akan membantu mencarikan kontrakan tentu nya dengan uang untuk modal usaha nya.Karena sebentar lagi mas Rifki pasti pulang ,dan aku selalu merasa tak enak hati jika mas Rifki pulang aku belum ada di rumah ,makanya selesai pemakaman aku langsung pulang .
Namun sesampainya di rumah aku dibuat terkejut dan shock saat mendengar penuturan mbak Wulan yang mengatakan jika Rendi adalah anak kandung mas Rifki ,sebagai seorang istri tentu saja aku tak terima ,namun aku juga tak mau mempercayai nya begitu saja sebelum aku mendengar sendiri dari mas Rifki.
"apa kamu yakin jika Rendi anak nya Rifki ?" tanya mama yang juga sama-sama shock ,mama sampai memegangi d*da kiri nya ,aku pun segera membawa mama masuk ke kamar untuk beristirahat .
"mama jangan banyak fikiran ,aku yakin mas Rifki bukan orang seperti itu ,kita tunggu penjelasan mas Rifki dulu , sekarang mama istirahat saja ,ingat jangan berfikir macam-macam dulu" ucap ku setelah membantu mama untuk tidur di tempat tidur ,tak lupa aku juga memberi obat dan vitamin karena kesehatan mama juga sudah mulai tak stabil dimakan usia .
"tapi Nuri mama memikirkan mu ,mama yakin kamu juga pasti terluka mendengar nya " ucap mama lirih
__ADS_1
"aku gak apa-apa kok ma, memang sakit ,tapi aku juga tak ingin dulu mengambil kesimpulan sendiri tanpa mau mendengar penjelasan mas Rifki, sebentar lagi mas Rifki pasti pulang ,aku mau menunggu nya di bawah mama istirahat ya" aku pun segera beranjak menuju ke ruang depan untuk menunggu mas Rifki ,masih ada mbak Wulan di sana bersama Rendi yang masih tertidur di pangkuan nya , beruntung saat mbak Wulan mengatakan hal itu Rendi sudah tidur ,jadi anak itu tak tahu menahu tentang pembicaraan tadi.
Ya Allah....ingin rasanya aku menjambak rambut perempuan ini dan membenturkan nya ke tembok tapi aku sadar jika aku melakukan hal itu maka urusan nya akan jadi panjang ,aku ingin terlihat kuat dan elegan saat menghadapi nya ,karena aku yakin dan percaya pada mas Rifki. Suami ku tak akan mengkhianati ku begitu saja.
Tak berselang lama deru mobil terdengar ,aku yakin itu pasti mas Rifki
"assalamualaikum..." suara nya terdengar tak sendiri
"waalaikum salam" sahut ku lalu melihat ke luar , ternyata mas Rifki datang bersama Gibran.
Aku menyambut nya seperti biasa ,namun sepertinya aku tak dapat membohongi diri sendiri sampai akhirnya mas Rifki bertanya
"kamu kenapa , sakit?" namun aku menggeleng ,rupanya Gibran yang memang sangat peka terhadap ku lalu menatap ku tajam , anak itu terkesiap dan terlihat geram ,aku yakin anak itu sudah tahu dengan apa yang terjadi pada ku
Meski aku sudah bersikap senormal mungkin air mata ku tak bisa di ajak kompromi ,dengan sigap Gibran mengusap air mata di pipi ku .
"jangan pernah menangis apalagi untuk menangisi hal yang yang tak pernah terjadi ,aku percaya pada papa " ucap nya ,sudut bibir ku tertarik mendengar nya
"ada apa sih ? kenapa dengan papa?" tanya mas Rifki
"mas masuk dulu , aku buatkan teh hangat dulu" kebiasaan ku kalau mas Rifki pulang selalu menyiapkan minum .
Aku pun segera ke dapur , di dapur nampak mbok Marni juga memperhatikan
"kamu percaya pada perempuan itu?" tanya mbok Marni
"shyuuut....jangan bicara seperti itu ,tak baik ,kasihan anak-anak , lagi pula belum terbukti juga kan ?" ucap mbok Marni segera merangkul ku
"hiks...jika itu benar meski aku tetap bertahan keadaan nya pasti tak akan mungkin seperti biasa mbok ,hati ini sakit,hancur mbok " aku menangis di pelukan mbok Marni ,sekuat apa pun aku menahan diri untuk tidak menangis ,nyatanya aku sangat rapuh,Ya Tuhan....kuatkan hati ku.
"kamu harus kuat nak, mbok yakin dan percaya senakal-nakal nya Rifki dia tidak akan pernah melakukan hal serendah itu ,mbok pastikan itu,karena mbok sudah tahu dan kenal Rifki dari dulu ,jadi dia tidak mungkin melakukan itu ,perempuan itu lah yang pasti sudah berbohong " ucap mbok Marni mencoba menenangkan ku
"iya mbok ,makasih ,aku buatkan minum buat mas Rifki dulu " aku menarik diri dari pelukan mbok Marni dan segera membuat teh hangat kesukaan mas Rifki.
Sebelum aku menghampiri mas Rifki aku menghela nafas dulu untuk menenangkan fikiran ku ,agar aku bisa mengontrol emosi nanti nya .
"kamu perempuan hebat Nuri, kamu kuat " bisik mbok Marni
"iya mbok ,aku kesana dulu" pamit ku
"bismillah...." lirih ku
Setiap langkah ku terasa berat apalagi saat melihat wanita itu kini juga berada di sana ,mas Rifki nampak cuek memainkan ponsel , sedangkan Gibran ia menatap datar mbak Wulan .
"mas ini minum nya ,diminum ya " ucap ku
"makasih sayang " ucap mas Rifki segera meraih teh hangat itu dan menyeruput nya perlahan
"hm....memang istri ku ini tak hanya cantik tapi juga pandai dalam memanjakan lidah suami , rasa minuman nya tak pernah berubah " puji mas Rifki ,aku yang biasa nya tersipu setiap mendengar pujian mas Rifki kali ini perasaan ku hambar , tak ada senyum sama sekali membuat mas Rifki menatap ku heran
__ADS_1
"sayang kamu itu kenapa sih ,kok dari tadi sikap kamu aneh begitu ,kamu sakit hem,mana yang sakit ?" tanya mas Rifki
"mas tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur ,ada hubungan apa antara mas dan dia" tanya ku enggan menyebut nama nya
"maksud kamu sayang ?" tanya mas Rifki
"apa benar jika Rendi adalah anak kandung mas Rifki?" tanya ku lagi dengan nada yang sedikit bergetar menahan isakan,sungguh aku tak ingin terlihat lemah di mata wanita itu
"hah....anak kandung ku ,mana mungkin,siapa yang bilang ?" seru mas Rifki
"aku "sahut mbak Wulan
"hah....jangan gila kamu ,kamu fikir kamu itu siapa berani-beraninya mengatakan hal yang bukan-bukan" seru mas Rifki melotot
"yang bukan-bukan gimana maksud kamu ,kamu lupa kita kan pernah berhubungan dan kamu lupa dengan apa yang terjadi pada kita dulu?" ucap wanita itu
Allah....aku benar-benar tak sanggup mendengar apa yang terjadi antara mereka ,hatiku sakit ,hancur ,tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapan mereka yang mungkin akan membuat ku semakin sakit aku pun lantas pergi meninggalkan mereka .
"ma...." Gibran memanggil ku
"sayang ....kamu salah faham ,tunggu.... dengarkan penjelasan ku dulu" seru mas Rifki
Aku tak menyahut dan terus berjalan menuju kamar ku ,namun tiba-tiba langkah ku terhenti saat melihat Ari tengah berdiri mematung di depan tangga ,sepertinya ia baru turun .
"Ya Allah....apa Ari mendengar nya ?" batin ku
"mama....kenapa menangis ?" tanya nya
"gak apa-apa sayang ,tadi mama habis bantu nek Marni potong bawang di dapur ,jadi matanya perih " jawab ku berbohong
"sayang " seru mas Rifki
"papa , papa sudah pulang ?" tanya Ari
"nak ,kita ke kamar yuk ,mama kaya nya kurang enak badan ,kamu bisa kan pijitin mama ,mama pengen dipijitin nih " ucap ku memberi alasan agar bisa menghindari mas Rifki
"mama sakit?" tanya Ari mencemaskan ku
"iya sayang ,rasa nya sakit sekali ,ya udah yuk kelamaan di sini membuat mama semakin sakit " ujar ku
"ya udah ,pa aku pijitin mama dulu ya" ucap Ari seraya menggandeng tangan ku
"sayang ,kita harus bicara ,ini tak seperti yang kamu bayangkan aku dan dia ...."
"cukup mas ,kita bicarakan lain waktu ,beri aku sedikit waktu untuk bisa menenangkan hati ku ,aku belum siap mendengar kan nya " ucap ku lalu pergi bersama Ari
Ya Allah....aku memang percaya pada suami ku ,tapi aku pun belum siap jika seandainya itu benar ,kuatkan aku Ya Allah.....
***
__ADS_1