
Di salah satu rumah sakit Jakarta
Yoga beserta mama nya juga Ari tengah menunggu kedatangan jenazah Dirga.
Yoga duduk terdiam pada kursi panjang tanpa sandaran,dengan menyandarkan punggung nya pada tembok dengan pandangan kosong nya ,angan nya menerawang jauh membayangkan kebersamaan nya bersama papa nya dari kecil hingga ia saat ini.
Sedangkan Bu Nur Aini nampak tak berhenti meneteskan air mata nya meski tak ada isakan dari nya.
Ari yang melihat pemandangan itu pun turut bersedih ,ia yang duduk di antara Yoga dan mama nya pun tak dapat mengatakan apa pun. Yang ia bisa lakukan hanyalah dengan mengusap punggung tangan kedua nya sebagai bentuk empati nya .
Tak lama suara sirine ambulan pun terdengar menguar-nguar di luar ,mereka bertiga pun sontak beranjak dan berjalan cepat ke luar.
Benar saja dua mobil polisi ,satu ambulan dan mobil SUV milik Rifki tiba dan segera parkir di tempat yang sudah di sediakan.
Sementara untuk mobil ambulan segera menuju ke arah ruang jenazah.
Yoga dan yang lain pun hendak mengikuti kemana kantung jenazah yang baru di keluar kan dari ambulan itu dibawa ,akan tetapi seruan seseorang membuat Yoga dan yang lain menengok.
"Ari....."
"mama...." Ari pun segera menuju mama nya dan memeluk nya erat
"ma..." lirih Ari
"iya mama tahu ,kita bantu Yoga dan mama nya agar bisa lebih sabar dan kuat ya sayang " ucap Nuri mengusap kepala putri nya
"iya ma..." Ari mengangguk
"Yoga....kami turut berdukacita ,kamu yang sabar ya " ucap Rifki
"iya om ,makasih " sahut Yoga
Untuk saat ini baik Yoga maupun mama nya tak berfikir bagaimana mereka bisa sampai datang barengan dengan mobil ambulan,sebab perasaan dan hati mereka
tengah kacau saat ini.
Nuri lalu mendekat ke arah bu Nur Aini
"saya mama nya Ari ,mbak yang kuat ya , insyaallah almarhum akan ditempatkan di tempat paling indah di sisi Allah SWT" ucap Nuri
"iya terima kasih " sahut Bu Nur Aini lirih
Salah satu rekan nya Rifki yang merupakan seorang polisi menghampiri ,dan mengatakan jika jenazah akan dilakukan otopsi jika pihak keluarga menyetujui nya.
"lakukan saja yang terbaik buat almarhum suami saya pak ,agar kita tahu penyebab kematian nya " ujar Bu Nur Aini yang nampak nya belum mengetahui penyebab kematian suami nya ,yang ia tahu suami nya ditemukan meninggal di dasar sungai.
"maaf ,jika menurut saya , otopsi tak perlu dilakukan ,sebab korban meninggal bukan karena di racuni atau tanpa sebab pasti ,korban meninggal karena pembunuhan " ujar Gibran
"a...apa...suami ku dibunuh ,siapa ....siapa yang sudah tega membunuh suami saya ...siapa...?" pekik Bu Nur Aini histeris
"ma....sabar ma..." ucap Yoga ,ia yang sudah mengetahui nya pun hanya bisa mendesah berat
"kenapa kamu tak mengatakan pada mama penyebab kematian papa mu , huuuu...." Bu Nur Aini pun menangis dipelukan Yoga
"maaf ma ....aku hanya tak mau membuat mama semakin bersedih " lirih Yoga
"huuuhhuu....siapa yang sudah tega membunuh papa mu "
"pelaku pembunuhan sudah tertangkap ,nanti ibu bisa tahu siapa orang nya " ucap Rifki
"benarkah pelaku sudah tertangkap,siapa dia ...siapa dia..." jerit Bu Nur Aini lagi semakin histeris lalu tak sadarkan diri
__ADS_1
"mama ...." seru Yoga panik dan langsung sigap menangkap perempuan paruh baya itu hingga tak sampai terjatuh ke lantai
"suster.....dokter...." panggil Nuri
Para petugas rumah sakit pun dengan sigap membawa Bu Nur Aini ke ruangan rawat jalan ,sebab Bu Nur Aini hanya pingsan.
Sosok Dirga pun hanya bisa menatap pilu anak dan istri nya.
"paman yang sabar ,mereka akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu ,saat ini mereka hanya shock menerima kenyataan ,tapi percayalah suatu saat nanti mereka akan kembali tersenyum " ucap Gibran membatin
Ari yang melihat kakak nya terdiam pun mencurigai sesuatu,gadis itu pun segera mengeluarkan cermin kecil nya lalu diarahkan kearah Gibran.
Benar saja sosok laki-laki berbadan gemuk berdiri tak jauh dari kakak nya, Ari lagi-lagi dapat melihat kemiripan pada wajah Dirga dan Yoga apalagi pada tubuh keduanya yang juga sama-sama gemuk.
Namun tiba-tiba Ari merasa bingung sebab sosok Dirga sudah tak ada lagi di samping kakak nya.
"loh...kemana ....?" batin nya ,Ari pun mencari sosok itu dari cermin kecil nya yang ia arahkan ke sembarang arah ,akan tetapi ia menjadi terkejut saat tiba-tiba ia bisa melihat nya
Tepat di belakang nya sosok Dirga berada.
"ha...hai...om " sapa Ari
"hai juga ,terima kasih karena kamu sudah ada untuk Yoga di saat keadaan seperti ini,maaf om tidak tahu tentang mu saat masih hidup,om mau minta sesuatu pada mu " ucap Dirga
"a..apa itu om ,asal jangan yang susah dan berat karena aku tak bisa mewujudkan nya " sahut Ari
"tak susah kok ,om hanya minta kamu terus bersama Yoga ,menerima dia apa adanya" ucap Dirga
"ta..tapi om ,aku dan Yoga...." belum sempat Ari menyelesaikan kata-katanya Yoga bersama mama nya yang di papah Nuri datang menghampiri.
"Alhamdulillah Tante sudah baik-baik saja?" tanya Ari
"iya ,Tante mau melihat jenazah papa nya Yoga sebelum di kafan kan " sahut nya
Mereka pun bersama-sama menuju kamar jenazah.
Langkah kaki Bu Nur Aini semakin berat dan lemas saat sudah melihat pintu ruangan itu ,apalagi semakin lama langkah nya semakin dekat .
"mbak pasti bisa " ucap Nuri menyemangati
Ia tahu dan mengerti bagaimana perasaan wanita paruh baya di samping nya sebab ia juga pernah merasakan hal yang sama, sama-sama merasa kehilangan orang yang di cintai,hanya beda nya suami nya yaitu Rifki dapat hidup kembali meski sudah berada dalam kubur.
Sosok Dirga pun turut mengikuti dari belakang bersama Lasmi ,Wewe ,dan Wowo.
Dengan menahan nafas nya Yoga mencoba untuk menarik kain putih penutup jenazah papa nya.
"astaghfirullah...." lirih Yoga,tangis mama nya pun kembali pecah saat melihat kondisi jenazah yang sudah tak utuh ,kulit membiru ,dengan sudah banyak rongga-rongga kecil ,mungkin karena di makan binatang air seperti kepiting,ikan ,atau binatang lain nya.
Jenazah Dirga pun sudah mengeluarkan aroma yang tak sedap. Hingga membuat siapa pun tak tahan menghirup aroma nya.
Begitupun dengan Ari,namun ia yang mempunyai kemampuan menahan nafas dalam jangka waktu lama pun membuat nya tak kesulitan berada di dekat jenazah nya.
Bagaimana Ari bisa melakukan hal itu? itu karena Ari sangat menyukai renang ,apalagi menyelam ,ia bisa menyelam di kedalaman hingga seribu meter bahkan lebih tanpa bantuan alat selam sekali pun ,berbeda dengan Nuri dan Rifki yang sudah tak tahan ,mereka memutuskan untuk keluar dari ruangan jenazah tersebut.
"maaf aku tak tahan bau nya " lirih Nuri pada hantu Dirga
Karena tak tahan melihat kondisi papa nya yang seperti itu, Yoga pun menutup kembali jenazah nya.
"baiklah pak silahkan bawa jenazah papa saya ke tempat pemulasaraan jenazah,tolong mandikan,dan kafan kan dengan baik ya pak" pinta Yoga pada petugas ruang mayat
"iya ,anda tenang saja ,itu sudah menjadi kewajiban kami " sahut petugas itu lalu meminta rekan nya yang lain untuk membawa jenzah Dirga ke ruang pemulasaraan jenazah ,di sana para jenazah akan dimandikan secara syariat Islam,termasuk di wudhu kan,lalu di kafan kan,semua tergantung pada apa keyakinan para jenazah yang di anut.
__ADS_1
Selepas kepergian para petugas ,Gibran pun berbicara.
"maaf Tante ... Yoga....ada yang ingin berbicara pada kalian ,aku harap kalian tidak terkejut nanti nya " ucap Gibran
"siapa kak?" tanya Yoga
"bismillah.... bersiap lah " Gibran pun menjentikan jemari nya di depan wajah Yoga dan mama nya
Keduanya terkesiap saat melihat sosok orang yang mereka tangisi kini berada di hadapan mereka dengan wajah pucat nya.
"pa...papah...." lirih Bu Nur Aini
"ini...beneran papa...?" tanya Yoga
"iya ,nak ,ini papa mu ,aku suami ma...." sahut Dirga lirih
"maafkan aku jika aku harus meninggalkan kalian dengan cara seperti ini ,mungkin sudah takdir aku untuk pergi dengan cara seperti ini pula,aku sayang kalian berdua" tutur Dirga seraya menitikan air mata
"tapi kenapa....?" isak Bu Nur Aini
"takdir " sahut Dirga
"ma...tolong jaga Dirga ,sayangilah dia meski aku sudah tak ada di sisi mu ,minimal sebelum ia berkeluarga " pinta Dirga
"tanpa diminta pun aku akan menjaga dan menyayangi Yoga, bagaimanapun pun aku sudah menganggap nya anak kandung ku sendiri" sahut Bu Nur Aini sambil terisak
"Yoga....jadilah kamu anak berbakti,hormati mama mu meski papa sudah tak ada ,jangan kalian bersedih terus ,karena papa akan merasa sedih jika kalian terus bersedih , tersenyum dan doakan papa " ujar Dirga
"papa....." lirih Yoga ,ia bergerak maju memeluk papa nya tersebut namun tak bisa
"kalian harus kuat untuk ku, ma...jika masih ada rezeki nya ,papa membelikan kalung sebagai hadiah pernikahan kita ,tapi saat ini kalung itu ada ditangan para pembunuh papa ,pakailah kalung itu sebagai tanda kenang-kenangan kita,terima kasih karena mama sudah mau menjadi istri dan ibu yang baik untuk ku dan Yoga ,aku titipkan Yoga pada mu ,seperti nya waktu papa sudah tiba ,lihat lah sudah ada yang menjemput" ucap Dirga melihat pada sosok wanita cantik berlesung pipi.
"itu...."
"mama mu ,yang sudah berjuang melahirkan mu " ujar Dirga lalu berjalan menuju sosok wanita cantik itu dan berdiri di samping nya
"hai tampan anak nya mama ,kenapa kamu malah mirip sekali dengan papa mu ,gendut , tapi tetap tampan, maafkan mama yang harus menjemput papa mu juga ya ,jadilah anak baik ,berbakti pada orang tua ,dan kejarlah kebahagiaan mu ,mbak Nur ....terima kasih karena sudah menyayangi anak ku layak nya anak kandung ,aku titip anak aku ya , waktu kita sudah habis ,kita pergi .... assalamualaikum...." ucap sosok wanita itu ,lalu meraih tangan Dirga dan menghilang seiring cahaya putih yang berpendar menyilaukan mata.
"itu ..tadi..." tanya Bu Nur Aini menatap bingung
"maaf " Gibran pun kembali menjentikan jemari nya sebelum hantu-hantu lain menampakan diri nya
"tadi itu apa beneran ?" tanya Yoga
"nanti aku jelaskan ,sekarang bagaimana kalau kita makan dulu,kau dan Tante pasti belum makan kan?" ucap Ari
"Tante tak ingin makan " sahut Bu Nur Aini pelan
"Tante ,Tante harus makan nanti kalau Tante sakit bagaimana ,kasihan Yoga,siapa yang akan membantu nya makan dan mandi " gurau Ari
"dasar ,baiklah ayo kita makan " sahut Bu Nur Aini sedikit tersenyum
"Alhamdulillah ya sudah ayo ,mama papa juga pasti sudah nunggu ,ayo Yoga " ajak Ari
"ingatlah untuk tetap bahagia nak" suara Dirga terngiang di telinga Yoga
"huuuuuffftt.... ok kita makan dulu sambil menunggu jenazah papa selesai di kafani" sahut Yoga berusaha tegar
"baiklah pah....aku akan mengikhlaskan papa ,aku akan mencari kebahagiaan ku ,semoga papa diberikan tempat yang terbaik di surga sana , amin" lirih Yoga
Kini hanya tinggal ibu Nur Aini bersama nya ,meski mereka tak sedarah akan tetapi ikatan batin dan kasih sayang mereka melebihi ibu dan anak kandung.
__ADS_1
***