The INDIGO

The INDIGO
Perasaan Aranta


__ADS_3

AUTHOR POV


Di hari Minggu ini ,Gibran mengantar Ari adik kesayangan nya ke kebun binatang sebab Ari yang sangat menyukai binatang apalagi hewan-hewan buas seperti singa ,harimau , Leopard ,beruang ,dan masih banyak lagi hewan-hewan ekstrim lain nya,hal yang sama pun dilakukan oleh seorang gadis berkerudung biru pastel ,sebab ia ingin menenangkan diri dengan melihat burung-burung dan mendengarkan suara kicau nya yang membuat hati nya damai.


Semenjak kedatangan nya sekitar satu tahun yang lalu ,ia kerap mengenakan cadar untuk suatu alasan ,dan hari ini pun ia mengenakan cadar itu ,akan tetapi saat ia tengah fokus mengirimkan sebuah pesan di ponsel nya , tiba-tiba saja seseorang menabrak nya hingga ia terjatuh ,saat itu seorang laki-laki yang tadi menabrak nya pun hendak membantu ,namun ia terkesiap saat melihat laki-laki itu adalah orang yang ia kenal ,dan ia perhatikan dalam diam selama ini,sungguh jantung nya terasa berhenti berdetak saat menatap mata nya ,begitu pun dengan laki-laki itu yang juga sama-sama terpaku melihat tatapan mata wanita di hadapan nya ,gadis itu pun tersadar dan cepat-cepat bangkit dari duduk nya, laki-laki itu pun merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan


"astaghfirullaah....maaf " ucap nya


"hm...iya tak apa-apa" sahut gadis itu berbalik hendak beranjak,namun belum juga kaki nya melangkah ,seruan seorang gadis cantik yang bersama laki-laki itu membuat langkah nya terhenti


"kak Ara "


"astaga ....apa dia mengenali ku" batin sang gadis ,ya gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Aranta , ia sudah kembali dari Aceh sekitar satu tahun yang lalu ,namun ada alasan nya kenapa ia tak pernah muncul di hadapan keluarga Ari terutama pada Gibran ,hatinya terasa sesak mengingat satu tahun yang lalu saat ia hendak menemui pria yang sudah membuat nya jatuh hati itu,namun ia bisa bernafas lega saat gadis cantik bernama Ari mengatakan jika ia menerima pesan dari seorang bernama Ara yaitu dari dirinya.


"huuufthhhh.... aku fikir dia mengenali ku " batin nya lagi lalu cepat-cepat pergi sebelum pria bernama Adnan alias Gibran melihat kepergian nya ,dan benar saja setelah Aranta berhasil pergi Gibran menoleh dan tak mendapati nya .


"kenapa aku malah bertemu dengan nya di sini, alih-alih menenangkan hati malah semakin galau aja " gumam Aranta yang diam-diam memperhatikan Gibran dan Ari


buru-buru ia bersembunyi saat Gibran menengok


"sepertinya dia tahu kalau aku perhatikan " gumam nya lagi


hingga suara gaduh yang di hasilkan dari teriakan histeris para pengunjung pun membuat nya ingin mengetahui apa yang terjadi ,ia pun menyelinap bersama para pengunjung lain menyamarkan keberadaan nya agar Gibran maupun Ari tak menyadari keberadaan nya


Ia sangat terkejut dan shock melihat insiden tewasnya pengunjung yang disebabkan oleh beberapa ekor singa ,hingga sosok hantu korban pun mendatangi nya dan memintai nya tolong


"maaf tapi aku tak bisa ,kamu datangi saja laki-laki itu yang memeluk adik nya ,dia lah yang bisa membantu mu " ucap Aranta lalu pergi dari tempat itu


Sosok hantu itu pun menuruti ucapan Aranta ,dan mengikuti Gibran meski ia pura-pura tak melihat nya .


**


Di rumah kontrakan nya Aranta kembali termenung di kamar nya ,ia teringat akan setahun yang lalu


Saat itu dengan hati berbunga Aranta bersiap menuju rumah Gibran ,kedatangan nya ke Jakarta yaitu untuk melanjutkan studi nya ia ingin berkuliah di Jakarta ,kedua orangtua nya pun mendukung saja sebab Aranta merupakan gadis yang mandiri, sesampai nya di Jakarta ia langsung menuju kediaman keluarga Gibran tanpa mencari dulu kosan atau kontrakan tempat ia akan tinggal nanti ,ia tak ingin merepotkan keluarga yang sudah sangat baik pada nya dulu ,makanya sepulang dari rumah itu ia akan pergi mencari tempat kos .


Akan tetapi baru saja ia sampai di depan gerbang ia melihat Gibran bersama gadis lain yang hendak masuk ke dalam mobil ,tadinya ia kira itu adalah Ari ,namun dilihat dari wajah nya tidak ada mirip-mirip nya sama sekali dengan Ari ,hati nya sakit saat melihat betapa dekat nya mereka ,bahkan Gibran pun tak segan mengusap kepala gadis itu.


"siapa gadis itu....kenapa mereka terlihat sangat dekat sekali .... apa jangan-jangan dia kekasih Adnan ,tapi ...kenapa Ari tak pernah bilang apa-apa" hatinya bertanya-tanya dengan perasaan tak menentu


Dengan segudang rasa sesal di hati nya,gadis itu pun pergi tanpa bertanya siapa gadis itu


"ternyata keputusan ku untuk pergi itu salah , aku juga sudah salah menilai sikap Adnan selama ini ,rupanya dia tak pernah merasakan apa yang kurasakan selama ini padanya , cinta ku .... bertepuk sebelah tangan" lirih Aranta seraya meremas d*da nya yang terasa sangat sesak dan sakit, air mata nya pun jatuh seiring rasa sakit di hati nya yang terasa tersayat-sayat.


Aranta pun tak ada pilihan lain untuk tetap bertahan di Jakarta,sebab ia sudah diterima di universitas yang orangtua nya daftarkan ,dan hal yang tak disangka nya sama sekali jika ia ternyata satu universitas dengan Gibran,ia memutar otak memikirkan bagaimana caranya agar tak ada yang tahu jika dia juga kuliah di universitas yang sama ,dan dari sejak itulah Aranta memakai cadar.

__ADS_1


"seperti ini saja sudah cukup bagiku ,melihat mu dari jauh cukup membuat hati ku senang ,tapi kenapa sekarang Adnan tak terlihat lagi bersama gadis itu,apa mereka melakukan hubungan jarak jauh " batin Aranta yang teringat jika sudah lama sekali ia tak melihat gadis yang selalu bersama Gibran


"sampai kapan ini semua berakhir ,kenapa sulit sekali melupakan nya ,setiap aku melihat nya walau dari jauh rasa itu malah semakin dalam " lirih nya lagi


Ya selama ini Aranta terus berusaha untuk melupakan perasaan nya , meski tak bisa karena setiap hari ia selalu saja melihat Gibran di kampus ,bahkan ia pun tak pernah lagi menghubungi Ari seperti biasa nya ,ia melakukan hal itu agar ia tak terus berharap bisa menjadi bagian dalam keluarga itu ,karena kini ia tengah sibuk menata hati.


Aranta bahkan melarang kedua orangtuanya untuk memberitahu keberadaan nya di Jakarta ,sebab bisa saja kedua orang tua Gibran datang dan mengajak nya kembali ditengah-tengah mereka ,dan itu akan menyulitkan nya melupakan Gibran .


"ok Aranta.... kamu wanita hebat dan kuat ,kamu pasti bisa menjalani hari-hari mu meski semesta tak memihak pada mu ,yakin lah Allah pasti punya rencana lain untuk mu " ucap Aranta menyemangati diri nya sendiri ,sebab mau siapa lagi yang akan memberi nya semangat ,teman saja ia tak punya ,karena ia yang selalu memakai cadar menjadikan nya terlihat aneh dimata teman-teman kuliah nya ,bahkan mereka berfikir jika Aranta itu tak asik untuk di ajak berteman.


Kumandang adzan ashar terdengar merdu di telinga nya ,ia pun bergegas mengambil air wudhu ,namun saat akan beranjak dari duduk nya ponsel nya tiba-tiba berbunyi , buru-buru ia meraih ponsel nya yang ia letakan di tempat tidur.


"papa...." gumam nya ,Aranta pun dengan cepat mengangkat telpon nya


"hallo assalamualaikum....... " ucap Aranta begitu mengangkat telpon nya


(.....................)


"alhamdulillah pa,....aku baik-baik saja"


(......................)


"pulang ke Aceh,besok ....memangnya ada apa pa....apa ada sesuatu yang terjadi "


(.......................)


(.......................)


"tapi pa......sebentar lagi akan ada program KKN di kampus ,mana mungkin aku pulang besok "


(..........................)


"tapi pa........."


(.........................)


"iya iya...baiklah aku pulang besok ,hm...iya waalaikum salam......."


panggilan pun terputus


"YA Allah.... kenapa harus seperti ini" lirih nya


"apa mungkin dengan cara seperti ini aku bisa melupakan Adnan ,tapi ...siapa laki-laki yang hendak ditunangkan dengan ku ,kenapa mama dan papa tidak bertanya dulu pada ku " gumam Aranta lemas ,saking lemas nya ia sampai terduduk di lantai dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya,bak tertimpa gunung es ditengah teriknya matahari ia begitu terkejut dengan apa yang Seno katakan di telpon,hatinya berdenyut sakit hingga ke ubun-ubun saat ia tiba-tiba diminta pulang dan akan melangsungkan pertunangan ,sungguh ia benar-benar tak menduga akan hal ini.


"Ya Allah....apa aku harus menerima nya "

__ADS_1


Aranta menjadi bimbang sendiri , satu sisi ia tak ingin bertunangan apalagi sampai menikah dengan laki-laki yang ia sendiri tak tahu siapa ,tapi sisi lain nya ia masih memendam rasa pada Gibran ,meski ia berusaha menghapus rasa itu namun tetap tak bisa ,ia ragu ,apa ia akan bahagia dengan laki-laki pilihan orang tua nya sedangkan hati dan fikiran nya dipenuhi sosok Gibran ,yang belum tentu memiliki perasaan yang sama dengan nya. Tapi ia juga ingin bahagia.


Dengan hati kalut Aranta beranjak ke kamar mandi untuk segera berwudhu dan kemudian shalat ,meminta petunjuk pada Sang Pencipta apa yang harus ia putuskan ,menerima atau menolak.


Hingga malam pun tiba namun Aranta tak menghentikan zikir nya ,ia terus berdzikir dari selesai shalat ashar berlanjut shalat Maghrib dan isya ,ia sampai melewatkan makan malam nya .


"astaghfirullaah halazim..... astaghfirullaah halazim...... astaghfirullaah halazim....."


Entah mungkin karena lelah dengan hati nya atau lelah dengan tangisan nya ,atau mungkin karena ia melewatkan makan malam nya ,Aranta tiba-tiba pingsan dalam keadaan masih mengenakan mukena beralaskan sejadah.


Tak ada siapa pun yang tahu akan pingsan nya Aranta,sebab semua penghuni kontrakan itu semua nya bersikap acuh dan tak saling memperdulikan satu sama lain,kondisi ruangan yang gelap pun menjadikan para tetangga kontrakan nya mengira jika Aranta tak ada di dalam,padahal kalau mereka ngeh mereka pasti akan tahu jika Aranta ada di dalam terlihat dari mobil nya yang terparkir cantik di samping kontrakan .


Namun tiba-tiba saja muncul sosok menyeramkan dengan kedua mata nya merah menyala ,berwajah hijau dan bertubuh setengah kera, ia menyeringai menatap Aranta yang tergelatak tak berdaya ,sosok itu menjulurkan lidahnya yang panjang dan meneteskan liur nya yang berwarna hijau kekuningan dengan bau bangkai yang menyengat ke lantai ,ia hendak menyentuh Aranta dengan lidah menjijikan nya itu namun belum sempat ujung lidah nya mengenai tubuh Aranta ,cahaya putih bersinar terang menyelimuti tubuh Aranta ,hingga sosok itu merasa terbakar di lidah nya karena sempat terkena sinar putih itu.


"aaakkkhhh.....apa ini...kenapa gadis itu tak bisa ku sentuh " erang sosok itu


merasa masih penasaran dengan Aranta sosok itu kembali mendekat kali ini ia hendak menyentuh langsung dengan tangan nya yang berkuku tajam ,akan tetapi tubuh nya malah terpental jauh hingga menabrak dinding dan membuat keretakan halus pada dinding tersebut ,hal itu pun dapat dirasakan para penghuni kontrakan lain nya ,mereka beranggapan jika telah terjadi gempa kecil ,para tetangga kontrakan itu pun berlarian ke luar untuk menyelamatkan diri mereka .


"astaga ada apa ini....kenapa tiba-tiba ada gempa " seru salah satu warga


"iya ,duh untung nya kita segera keluar dari dalam rumah" timpal lain nya


"eh ...itu yang nempatin rumah kontrakan itu apa dia belum pulang ya ,kok lampu nya mati semua ?" tanya salah satu warga yang diam-diam mengamati rumah kontrakan Aranta


"yang penghuni nya mahasiswi itu kan ,itu mobil nya ada,pasti orang nya juga ada dong " sahut yang lain


"iya ya....tapi kok keadaan rumah nya gelap gulita"


"kita cek yuk ,siapa tahu terjadi sesuatu pada nya " ajak warga yang paling belakang


"ogah ah "


"iya gak mau "


Awal nya tak ada yang mau memeriksa keadaan rumah kontrakan Aranta ,namun kedatangan pemilik kontrakan membuat mereka semua mau tidak mau memeriksa keadaan rumah itu .


Mereka pun mengetuk pintu hingga menggedor nya keras sebab Aranta tak kunjung membuka kan pintu , beruntung pemilik kontrakan membawa kunci cadangan hingga ia membuka pintu itu .


Setelah pintu terbuka pemilik kontrakan segera menyalakan lampu,dan betapa terkejut nya mereka saat pemilik kontrakan menyalakan lampu kamar ,mereka melihat Aranta tergelatak dengan masih menggunakan perlengkapan shalat lengkap dengan tasbih di tangan nya .


"astaghfirullaah halazim.....dia pingsan "


"cepat hubungi dokter "


***

__ADS_1


__ADS_2