
Sosok kuntilanak merah itu nampak panik saat orang misterius itu semakin mendekat
"aduh ini gimana ,kalau aku pergi bagaimana dengan Aranta ,tapi aku harus ngasih tahu Gibran kondisi Aranta ,nek...nek Wewe .... Wowo....kalian pada kemana sih tolongin Aranta " ucap Lasmi sambil mondar-mandir saking cemas dan panik nya
"Buto....Nagin....." Lasmi sampai memanggil kedua sosok yang sering ikut menjaga Gibran dan keluarga nya,namun sama saja kedua sosok itu tak menampakan wujud nya
ckleek....ckleek....
Lasmi terkesiap saat handle pintu bergerak-gerak pertanda orang itu tengah berusaha membuka pintu nya ,beruntung pintu itu terkunci ,namun alangkah terkejut nya saat Lasmi melihat kunci yang menggantung pada pintu terlihat memutar
"oh tidak ....orang itu bisa memutar kunci meski kunci nya di dalam " semakin panik lah kuntilanak merah itu
"aku harus bisa amankan Aranta " Lasmi pun tak ingin diam saja
Saat kuntilanak merah itu berbalik ia terkejut saat tiba-tiba saja seseorang sudah ada di dekat Aranta dan hendak membawa Aranta
"Gibran " seru kuntilanak merah itu dengan suara tertahan
"shyuuut.....ayo secepat nya kita pergi dari sini ,orang itu cukup berbahaya " bisik Gibran
kuntilanak itu mengangguk dan mengikuti Gibran yang sudah menggendong Aranta
Dengan langkah cepat namun tak meninggalkan suara Gibran berhasil membawa Aranta keluar dari rumah itu lewat pintu belakang ,dengan hati-hati pula Gibran menutup kembali pintu belakang agar tak mengundang perhatian si pelaku.
"kamu mau bawa Aranta kemana?" tanya Lasmi
"ke suatu tempat ,yang lain sudah menunggu" sahut Gibran tanpa berhenti melangkah
"kemana Wowo dan yang lain ?" tanya Lasmi yang begitu penasaran karena teman-teman nya mendadak menghilang
"yang lain sudah bersama mama tapi ...bang Popo berhasil tertangkap ,nanti kita fikirkan bagaimana cara membebaskan nya yang terpenting sekarang kita selamatkan dulu Aranta " sahut Gibran ia sangat mengkhawatirkan kondisi Aranta yang saat ini tengah pingsan
Gibran membawa Aranta ke sebuah pintu rahasia di dalam rumah nya ,pintu itu mengarah ke bawah yang artinya ruangan bawah tanah ,tak ada seorang pun yang mengetahui mengenai pintu rahasia tersebut termasuk Rifki juga Dewi ,kecuali Gibran.
Entah bagaimana caranya Gibran bisa mengetahui perihal ruangan tersebut ,namun yang pasti saat Gibran menemukan ruangan tersebut saat dirinya masih sangat kecil , Gibran kecil tak sengaja terjatuh saat bermain petak umpet dengan para tak kasat mata.
Setelah itu Gibran pun kembali menutup pintu rahasia tersebut dan lalu pintu itu pun kembali berubah menjadi rak buku.
"Aranta kenapa nak?" tanya Nuri saat melihat Aranta yang tak sadar
"Aranta tak sengaja melihat sebuah mantra sihir yang di lempar seseorang ,maaf karena aku tak bisa mencegah nya " sahut Lasmi si kuntilanak merah merasa bersalah
"terus apa kak Ara gak apa-apa?" tanya Ari sambil menghadapkan cermin kecil nya dengan sebelah tangan menggendong kucing nya
"Tante tak tahu karena efek mantra itu mungkin akan membuat Aranta tak mengenali kita ,tapi kita tunggu saja sampai Aranta siuman , mudah-mudahan Aranta masih bisa mengenali kita " ucap Lasmi berubah sendu
"astaghfirullah...... sebenarnya siapa orang yang sudah mengganggu kita ?" lirih Dewi terduduk lemas
"ini baru dugaan ku tapi tak tahu apa benar dia pelaku nya atau bukan ,sebab aku sendiri belum yakin " ucap Gibran tiba-tiba
__ADS_1
"maksud kakak siapa ?" tanya Ari
"kamu ingat laki-laki bernama Arkan ? kakak tidak bermaksud menuduh tapi sudah berapa kali kakak melihat nya ada di sekitar kakak dan Aranta ,mengingat aura negatif di tubuh nya sama dengan aura si pengirim santet banaspati malam itu " tutur Gibran
"Arkan....siapa dia?"tanya Nuri
"itu loh ma...anak nya yang punya kontrakan yang kak Ara sewa ,yang aku tangkap dari pembicaraan mereka katanya si Arkan itu pulang karena ibu nya mau mengenalkan anak nya itu sama kak Ara " tutur Ari
"jadi maksud mu dia ingin merebut Aranta kita?"tanya Rifki
"sepertinya iya " sahut Wowo
"Ya Allah......." lirih Nuri
Aranta yang sudah di baringkan dengan alas kardus pun terlihat damai dalam tidur nya, raut wajah Gibran menyiratkan kesedihan juga kemarahan yang terpendam,namun ia tak bisa melakukan apapun saat ini ,hanya doa yang bisa ia panjatkan pada Tuhan Semesta Alam.
Bukan ia tak berani menghadapi lawan nya hanya saja saat ini ia tak ingin terjadi sesuatu pada Aranta ,sedetik pun ia tak ingin pergi meninggalkan nya meski bersama kedua orangtua nya.
Gibran beranjak ke sebelah pojok ruangan ,lalu ia menempel kan kedua telapak tangan nya pada dinding yang berdebu itu lalu menepuk nepukan tangan nya setelah itu ia mengusapkan pada sebagian tubuh nya,yang Gibran lakukan dinamakan tayamum.
Tayamum mengacu pada tindakan menyucikan diri tanpa menggunakan air dalam Islam ,yaitu dengan menggunakan pasir atau debu. Secara literal atau bahasa tayamum bermakna al-qashd , wa al-tawajjuh ,tayamum di syariatkan berdasar kan firman Allah SWT dalam surah berikut
( QS. Al Maidah [5]:6 dan QS.An-Nisa [4]:43 ).
Mereka yang berada di ruangan itu pun mengikuti apa yang Gibran lakukan,setelah mereka selesai ber tayamum Gibran memimpin doa meminta perlindungan dan pertolongan pada keluarga nya.
Tak lupa Gibran pun membaca beberapa surah Al-Quran
Ari yang sudah merasa ketakutan pun semakin merapatkan diri pada kedua orangtua nya ,begitupun dengan Dewi yang sudah sangat gelisah mencemaskan keselamatan keluarga nya.
"Ya Allah lindungilah kami" lirih nya dalam hati
Wewe,Wowo dan Lasmi ketiga hantu itu menghadap pada pintu masuk ,mereka bersikap waspada jika misalnya persembunyian mereka di ketahui , sedangkan untuk Nagin dan Buto mereka tengah menghadapi makhluk astral kiriman yang dibawa orang misterius itu.
Kuntilanak itu sebenarnya sudah merasa kepanasan dan tak kuat dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di lantunkan Gibran dan Nuri ,namun demi keselamatan bersama Lasmi mencoba bertahan ,bahkan bibir nya tengah mencoba mengucapkan dua kalimat syahadat meski sulit ,ia meyakini jika ia berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat itu ia tidak akan tersiksa saat mendengar lantunan ayat Al-Quran.
Sementara di luar sana orang bertopeng itu pun sudah merasa geram dan emosi tingkat tinggi ,ketika mendapati rumah itu kosong ,ia fikir semua penghuni nya sudah tertidur pulas terkena ilmu sirep nya tapi kenyataan nya tak satu pun orang yang berada di rumah itu ,beruntung para pembantu di rumah itu tak pernah menginap ,mereka akan datang di pagi hari dan pulang diwaktu petang.
Saat ia tak mendapati Aranta dia beralih ke rumah Gibran ,dan ia benar-benar murka saat tak menemukan siapa pun di sana
"kurang ajar....pergi kemana mereka .... kenapa rumah ini kosong " pria itu bertolak pinggang dengan mata yang sudah merah
"sialan ....ternyata dia tak bisa dianggap remeh ,tak hanya bisa menghindari bola api tapi dia juga bisa mengelabuhi ku" namun sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum nya
"tapi ...seperti nya gadis itu sudah membuka dan melihat mantra itu ,mau lari kemana pun kalian ,gadis itu akan mencari ku " pria itu tersenyum licik ,ia teringat pada saat memasuki rumah Aranta ,ia melihat kertas yang ia lempar menggunakan pemberat batu sudah terbuka ,ia yakin jika Aranta sudah terkena mantra sihir nya
"hahaha.....lari lah ...pergi lah sejauh yang kalian bisa ,tapi kemenangan akan ada pada ku , hahahaha......" tawa nya menggelegar memenuhi seluruh penjuru rumah itu,pria itu pun melangkah keluar dari rumah itu
Namun tiba-tiba langkah nya terhenti setelah ia melihat beberapa makhluk astral bawaan nya musnah di depan mata nya ,sosok siluman ular dan raksasa menatap tajam pada pria tersebut.
__ADS_1
"tak main-main peliharaan nya ,tapi tak masalah seperti apa pun makhluk yang menjaga nya aku akan bisa mengalahkan nya " pria itu mengatupkan kedua telapak tangan nya ,kemudian muncul cahaya kemerahan dan berubah menjadi api yang berkobar ,Nagin dan Buto akhirnya tahu siapa pria tersebut dan apa yang ada di tubuh pria itu
"hahahaha...... enyah lah kalian makhluk jelek " seru pria itu mengarahkan kedua telapak tangan nya pada Nagin dan Buto ,api tersebut segera menyambar Nagin dan Buto ,akan tetapi serangan nya itu meleset karena tepat sebelum api itu menyambar Nagin dan Buto sudah lebih dulu menghilang.
"sial.....mereka kabur " geram nya
pria itu pun akhirnya pergi dengan perasaan kesal
Sebelum nya yang terjadi
Setelah Wewe mengantarkan Aranta sampai rumah nya ,Wewe melihat gelagat aneh dari seseorang yang berdiri di dekat tembok gerbang tempat bang Popo nangkring.
Pria itu terlihat seperti bisa melihat sosok pocong yang memperhatikan nya ,Wewe pun dengan segera memberi tahu kan nya pada Gibran dan yang lain,Wowo si genderuwo yang bisa membaca isi hati pun bisa tahu apa maksud orang itu , genderuwo itu pun memberitahukan nya pada Gibran dan Nuri , akhirnya Gibran pun teringat akan ruang bawah tanah di rumah nya ,Gibran langsung meminta keluarga nya untuk masuk ke dalam nya setelah di beri aba-aba oleh Wowo yang memantau langsung pergerakan seseorang misterius itu , karena Wowo dan Wewe tak mungkin memberi tahu Popo akan rencana nya makanya kedua hantu itu menggunakan bang Popo sebagai pengalihan sementara mereka bergerak menuju ruang bawah tanah.
Hingga akhirnya jam menunjukan pukul sembilan malam orang misterius itu pun beraksi ,terlihat dia menghidupkan dupa lalu berkomat kamit ,saat itulah Wowo menginterupsi Gibran dan yang lain untuk segera bersembunyi ,meski Aranta harus pingsan karena pengaruh mantra yang dikirimkan lewat pesan namun Gibran berhasil membawa nya sebelum orang itu berhasil menemukan Aranta.
"sepertinya orang itu sudah pergi " ucap Lasmi setelah berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat ,mereka juga sudah tak mendengar suara-suara aneh seperti tadi
"wauuw....kamu berhasil mengucapkan syahadat" seru Wowo
"khikhikhikhi......karena aku tak mau kepanasan mendengar lantunan doa mereka " kuntilanak merah itu terkikik dengan suaranya yang khas
"Lasmi ....udah deh jangan tertawa begitu ,bikin merinding saja " tegur Nuri
"apa kita sudah aman?"tanya Rifki
"untuk sementara seperti nya iya " Gibran pun mencoba berkomunikasi dengan Buto dan Nagin yang berada si luar
"bagaimana keadaan di luar ,apa orang itu sudah pergi ?" tanya Gibran membatin
"dia sudah pergi tapi...." sahut Nagin menggantung
"tapi apa ?"tanya Gibran penasaran
"seperti nya orang itu punya rencana lain , cegah Aranta keluar dari tempat persembunyian kalian sebelum pengaruh sihir pada dirinya hilang ,sebab bisa bahaya jika dia keluar dengan kondisi masih terpengaruh sihir " sahut Buto menimpali
"baiklah " jawab Gibran seraya menghela nafas
"kakak...lihat kak Ara bangun " seru Ari lalu mendekat pada Aranta ,sontak saja Gibran dan yang lain menengok dan mendekati Aranta
gadis itu mengerjapkan mata nya lalu melihat sekeliling
"aku dimana?" lirih nya
"Aranta ....." ucap Gibran pelan
"kamu.........." Aranta nampak terdiam saat melihat wajah cemas Gibran ,lalu ia beralih pada Nuri ,Rifki ,Ari dan Dewi ,lalu pandangan nya teralih pada ketiga sosok hantu yang berdiri tak jauh dari pintu
"kalian.......siapa ?"
__ADS_1
DEG
***