
Ari yang baru saja keluar dari kelas nya hendak menghampiri Yoga yang masih berada di kelas nya karena jam istirahat sudah tiba.
Akan tetapi baru saja gadis cantik itu hendak berbelok ke arah kelas yang dituju ,ia melihat Yoga keluar dari kelas nya dan berjalan begitu saja tanpa melihat pada nya sebab ia berjalan dengan tergesa sambil membawa tas nya di punggung .
"Yoga...." seru Ari memanggil nya
Yoga pun menghentikan langkah nya lalu menengok pada Ari
"Ari...maaf aku tak melihat mu" sesal Yoga
"iya tak apa-apa,kamu mau kemana ,kok buru-buru gitu ,itu lagi bawa tas segala ,kamu gak apa-apa?" tanya Ari saat melihat raut wajah Yoga yang terlihat sedih
brukkk
Tiba-tiba Yoga memeluk Ari lalu menumpahkan tangis nya ,banyak yang memperhatikan pun merasa bingung dan berbisik.
Awalnya Ari terkejut dan ingin mendorong tubuh gempal Yoga yang seenaknya saja main peluk ,namun saat mendengar isakan dari laki-laki tambun itu Ari pun mengurungkan niat nya ,dan membiarkan Yoga meluapkan rasa sedih nya dengan menangis ,ia tahu jika kini jenazah papa nya Yoga sudah di temukan ,hal itu lah yang membuat Ari hendak menghampiri Yoga dan berniat menguatkan teman nya itu.
"seperti nya Yoga sudah tahu " batin Ari,ia mengusap punggung Yoga sekena nya sebab besar nya tubuh Yoga membuat tangan Ari tak bisa sampai sepenuh nya
"kita pindah dari sini ,malu dilihatin banyak orang " bisik Ari
"maaf ,aku tak bermaksud kurang ajar pada mu" sesal Yoga menarik diri nya
"iya ,tidak apa-apa, sebaiknya kita pindah dari sini yuk" ajak Ari
Yoga mengangguk dan langsung pergi membuntuti Ari yang berjalan mendahului nya.
Hingga sampai lah mereka di taman sekolah
"ada apa,kenapa kamu sedih begitu?" tanya Ari ,padahal ia sudah bisa menebak nya tentang apa yang sudah terjadi pada Yoga
"tadi ada dari kepolisian menghubungi ku ,katanya papa aku ..... huuuuh....papa aku ditemukan meninggal di dasar sungai ,kemungkinan karena pembunuhan " lirih Yoga yang nampak susah berkata-kata
"innalilahi wainailaihi rajiun.....lalu bagaimana dengan mama mu ,apa mama mu sudah tahu?" tanya Ari
"sudah ,rencana nya kami akan menuju rumah sakit tempat papa aku di otopsi" sahut Yoga
"aku ikut" seru Ari cepat
"tapi ini masih jam nya sekolah ,aku tadi sudah mendapat izin ,sebab saat polisi menghubungi ku guru masih ada di dalam kelas ,dan langsung memberi ku izin" tutur Yoga
"kamu tunggu di depan ya,aku mau minta izin dulu,gak lama kok ,awas kalau kamu ninggalin aku " ucap Ari sedikit mengancam Yoga
"iya aku akan menunggu mu " sahut Yoga lirih
Dengan cepat Ari pun segera menuju ruangan guru ,ia hendak meminta izin pada guru nya langsung.
Setelah itu Ari pun segera berlari menuju parkiran ,sebab Yoga sudah menunggu nya di sana.
Akan tetapi langkah Ari terhadang oleh beberapa wanita yang memasang tampang jutek sejutek jutek nya.
"maaf ,aku buru-buru" ucap Ari berjalan sedikit mepet pada mereka yang menghalangi nya
"heh ,loe apain Zeky?" tanya salah satu wanita yang merupakan pimpinan geng nya
Kening Ari berkerut
"maaf maksud nya apa ya?" tanya Ari tak mengerti
"jangan sok polos deh ,kita tahu loe main guna-guna kan ,loe guna-gunai Zeky agar terlihat jelek ,iya kan ,ngaku loh " tuduh salah satu nya
"hah" kejut Ari
Sementara itu di parkiran , Yoga yang tengah gelisah sebab ia mendengar kabar jika mama nya pingsan pun semakin ingin cepat-cepat pergi namun ia ingat akan janjinya untuk menunggu Ari,namun Ari tak kunjung datang.
__ADS_1
"Ari mana ya,kok lama banget ,apa gak dapet izin?" gumam Yoga semakin gelisah ,apalagi ponsel nya kembali berbunyi
"apa aku tinggal saja ya,tapi dia marah gak ya,ah ...pasti dia ngerti kok " batin Yoga ,ia pun lalu memasuki mobil nya ,namun karena ia yang terlalu panik dan buru-buru , Yoga sampai kesusahan memasukan kunci mobil nya
"yah elah ....kenapa jadi susah sih" gerutu nya dengan tangan yang bergetar
Di sisi lain Ari yang terus dituduh sesuatu yang ia tak mengerti pun mulai merasa jengah,ia berharap Lasmi akan segera membantu nya.
Beruntung Lasmi datang, kuntilanak merah itu rupanya habis kencan bersama hantu penunggu gudang dekat toilet tak terpakai.
Melihat Ari yang dipojokan begitu membuat kuntilanak itu merasa geram.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang sampai menerbangkan beberapa benda seperti dedaunan dan bahkan tempat sampah pun turut terbawa angin.
Hal itu membuat semua orang yang berada di sana menjadi heboh dan panik hingga lari ke arah kelas untuk melindungi diri dari amukan angin.
Berbeda dengan Ari yang sudah mengetahui jika hal itu pasti ulah Lasmi si kuntilanak merah.
Jika yang lain berlari ke arah ruang kelas berbeda dengan Ari yang malah berlari menuju parkiran.
Akan tetapi saat Ari handak menuju parkiran ia melihat mobil Yoga yang sudah melaju perlahan ke arah gerbang ,lantas Ari pun berlari dengan memanggil nama Yoga.
"Yoga...tunggu ...."
Yoga yang kebetulan saat itu masih berharap jika ia melihat Ari pun sempat menengok ke belakang lewat kaca spion.
Yoga terkejut dan langsung menghentikan mobil nya saat melihat Ari yang malah terjatuh.
Tanpa mematikan mesin mobilnya,Yoga keluar dari dalam mobil nya lalu menghampiri Ari.
"Ari...kamu tidak apa-apa,maafkan aku " sesal Yoga
"aku gak apa-apa kok ,maaf ya lama " ucap Ari
Yoga pun segera menghidupkan mesin mobil nya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"maafkan aku ,jika saja aku mau bersabar sedikit lagi mungkin kamu tidak akan terjatuh " lirih Yoga
"sudahlah gak apa-apa,aku ngerti kok ,justru aku yang minta maaf karena sudah membuat mu menunggu" ucap Ari yang malah merasa bersalah
"pelan-pelan saja nyetir nya " serubari ketika merasakan laju mobil nya sedikit mengebut
"maaf " lirih Yoga
"kalau gitu biar aku saja yang nyetir ,kamu tenang kan saja diri kamu " ucap Ari
Yoga oun tak banyak protes ,ia menepikan mobil nya dan segera bertukar posisi dengan Ari.
"kamu bisa bawa mobil ?" tanya Yoga ,ia yang tak pernah melihat Ari mengemudikan mobil pun menjadi sangat was-was
"tenang saja ,aku meski tak pernah bawa mobil tapi aku bisa kok " sahut Ari
Benar saja ,saat Ari melajukan mobil nya ia terlihat begitu lihai dalam mengemudi.
Tak lama mobil pun berhenti di rumah nya Yoga
Tanpa menunggu Ari keluar, Yoga lebih dulu berlari ke dalam rumah nya ,Ari yang ditinggalkan pun tak tersinggung sebab ia mengerti bagaimana perasaan Yoga saat ini.
Ari mengikuti Yoga yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Dari ambang pintu Ari dapat melihat mama nya Yoga yang tengah menangis tersedu di pelukan Yoga ,sampai saat ini Ari belum mengetahui jika Bu Nur Aini hanya lah ibu sambung nya.
Keduanya sama-sama menangis ,Ari pun turut menangis melihat nya.
Perlahan Ari melangkah masuk ,ia mengabaikan tatapan aneh dari para tetangga dan kerabat serta keluarga Bu Nur Aini terhadap nya.
__ADS_1
Saat menyadari keberadaan Ari ,Bu Nur Aini melepaskan pelukan nya dan langsung memeluk Ari.
"Tante yang sabar...." ucap Ari seraya mengusap punggung Bu nur Aini
"huuuhhuuu....Tante tak pernah menyangka jika papa nya Yoga akan meninggal dengan cara seperti ini.... huuhuuu....."tangis Bu Nur Aini kembali pecah di pelukan Ari
"ma...sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa,apa mama masih mau menerima ku sebagai anak ?" tanya Yoga lirih
"kamu ini bicara apa,bagi mama kamu adalah anak mama meski kamu tak terlahir dari rahim mama " sahut mama nya seraya melepaskan pelukan nya lalu mearih tangan Yoga dan menggenggam nya
"jadi maksud nya Yoga dan Bu Nur Aini bukan anak dan ibu kandung ....." batin Ari langsung bisa menebak nya
Setelah keadaan sedikit tenang , mereka pun akhirnya pergi menuju rumah sakit,namun sebelum berangkat ponsel Yoga berbunyi
"ya... hallo...,baik pak,terima kasih atas informasinya ,baik saya dan mama saya akan datang ke sana "
sambungan telepon pun terputus
"siapa?" tanya mama nya
"polisi mah, polisi itu mengatakan jika jenazah papa sedang dalam perjalanan ke rumah sakit di Jakarta ,polisi juga sudah memberi tahu alamat rumah sakit nya"sahut Yoga
"ya sudah sekarang kita langsung menuju rumah sakit nya saja untuk menunggu kedatangan papa mu " lirih Bu Nur Aini
"aku ikut ya Tante " ucap Ari
"iya sayang ,makasih ya " sahut Bu Nur Aini tersenyum tipis
Setelah berpamitan pada keluarga nya Bu Nur Aini bersama Yoga dan Ari berangkat menuju rumah sakit.
"siapa gadis itu ya ,apa pacar nya si Yoga?" tanya salah satu keluarga Bu Nur Aini ketika Yoga dan yang lain sudah pergi
"cantik banget tapi masa iya pacar nya sih ,kebanting banget gak sih sama si Yoga yang super big begitu "tanya keluarga nya yang lain
"eh kalian itu ,kita itu sedang dalam keadaan berduka ,kalian malah bergibah ria ,bagaimana pun Yoga juga keluarga kita ,apalagi sekarang dia sudah tak punya siapa-siapa selain kita" tegur salah satu keluarga nya yang lain
"huuu....." mereka malah menyoraki salah satu anggota keluarga nya yang menegur nya itu
Ia pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka.
Sementara di tempat lain
Gibran beserta kedua orang tua nya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ,mereka mengikuti mobil ambulan yang membawa jenazah Dirga.
"kasihan sekali Yoga,dia pasti sedih banget saat ini" lirih Nuri
"umur kan siapa yang tahu sayang , mungkin sudah waktunya dia meninggal kan dunia fana ini dengan cara seperti ini pula ,kita juga gak pernah tahu kapan ajal menjemput dan dengan cara apa" ucap Rifki
"semoga Yoga dan keluarga nya di beri ketabahan dan keikhlasan " tambah Rifki
"amin...." sahut Nuri
Sementara Gibran dari tadi ia terus saja diam dengan fikiran nya sendiri.
Sesekali Nuri melirik anak sulung nya itu dari balik spion kecil di atas nya.
"Gibran... ada apa nak?" tanya Nuri ,namun rupanya Gibran malah salah fokus ,ia justru menjawab
"Aranta "
Sontak saja baik Nuri maupun Rifki, kedua nya saling bertukar pandang.
"astaga ....anak ini sudah terkena virus bucin rupanya " lirih Rifki dalam hati
***
__ADS_1