
Nuri dan Thalia terkejut saat melihat Aranta menangis tersedu dengan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
Kedua wanita yang tak lagi muda namun masih cantik di usia nya kini segera menghampiri Aranta dan Gibran .
"kamu apakan calon mantu mama " seru Nuri lalu segera memeluk Aranta
"huuuuhhuuu......jangan ....salahkan Adnan Tante ....ini bukan salah nya ...aku...ha..hanya merasa bahagia...dan ...terharu saja... huuuhhuuu....." ucap Aranta tersedu-sedu
"ya ampun ...kamu ini....Tante fikir ada apa ,hampir saja Tante marahin Gibran ,cup cup cup sudah ya ....riasan mu jadi rusak nanti " ucap Nuri mencoba menenangkan nya ,sementara Thalia pergi membawakan tisu untuk Aranta
"sudah ya ...." ucap Nuri lagi Aranta pun mengangguk ,ia menghapus air mata nya yang tak pernah berhenti mengalir itu .
"loh kok gak berhenti-berhenti " tanya Nuri , Thalia pun segera memberi kan tisu yang ia ambil
"gak tahu ini air mata nya bandel gak mau berhenti " ucap Aranta masih terisak
Setelah Aranta cukup tenang ,akhirnya Nuri dan Thalia kembali mengingatkan kedua nya di balkon itu,mereka ingin memberi ruang buat pasangan yang baru saja melangsungkan pertunangan itu bicara .
"udahan nih nangis nya ?" goda Gibran
"apa sih ,bukan nya bantu tenangkan aku ,malah diam saja " sahut Aranta sedikit malu
"maaf ,tapi aku benar-benar bingung harus melakukan apa ,aku juga tak mungkin memeluk mu ,jadinya aku diam saja " sahut Gibran apa ada nya
"tapi dulu kamu berani nyentuh aku " cetus Aranta membuat Gibran mengernyitkan dahi
"menyentuh mu kapan?" tanya nya
"kamu bilang aku wanita pertama yang kamu sentuh " ucap Aranta ,Gibran terkesiap ia lupa akan kejadian dulu saat Aranta terluka
"itu loh yang waktu aku diculik dan terluka ,kamu juga menggendongku kamu bahkan menyentuh pipi ku ,aku masih sadar waktu itu " tutur Aranta
"oh itu....ya itu kan terdesak ,kalau aku diemin kamu apa yang akan terjadi pada mu ,meminta Riswan menggendong mu itu tak mungkin karena dia juga tengah sibuk , waktu itu aku panik dan tanpa fikir panjang aku langsung menggendong mu ,tapi untuk kali ini ...aku minta maaf karena tak bisa menyentuh mu" tutur Gibran
"iya ,aku ngerti kok ,eh ponsel mu bunyi tuh " ucap Aranta ketika mendengar dering ponsel dari saku celana Gibran
Gibran merogoh ponsel nya ,ia tersenyum melihat siapa yang memanggil nya
"sebentar ya aku angkat dulu" dengan sedikit menjauh Gibran mengangkat panggilan telepon nya ,hal itu justru malah membuat Aranta tak nyaman
"siapa yang menelpon ,kenapa dia mesti menjauh " fikir Aranta
Namun kemudian Gibran mendekat dan duduk tepat di samping nya hal itu pun membuat detak jantung Aranta berpacu dengan cepat
deg..... deg.....deg.....
"KAK ARAAAA....." pekik Ari pada layar ponsel yang di arahkan Gibran pada kedua nya
"hai dek....apa kabar ... " tanya Aranta sedikit kikuk
"jadi Ari yang menelpon" batin Aranta merasa tak enak
"kak Ara....aaaa......tahu gitu aku juga ikut ....kak Gibran awas ya kak ,pulang nanti aku kasih pelajaran " dengus Ari
"hehehe.....ok tapi jangan susah-susah pelajaran nya ya dek " balas Gibran
"iih kakak apaan sih ,kak Ara....kakak kok gak pernah lagi hubungi aku ,kakak sudah lupa pada ku,kakak mau ingkari janji kakak ,itu kenapa kalian bisa bersama gitu ..."
"dek...udah dulu ya ,nanti kakak bawa pulang kakak cantik mu ,kakak sedang sibuk , assalamualaikum" Gibran pun langsung memutus sambungan video call nya secara sepihak , sementara di Jakarta Ari nampak kesal karena kakak nya main tutup saja telpon nya .
"kok dimatiin?" tanya Aranta
__ADS_1
"gak apa-apa, Ari kalau diladeni bisa sampai subuh entar ,jadi kepaksa di matiin saja " sahut Gibran
"hahaha....kamu jahil banget,kasihan tahu Ari pasti sedang ngomel-ngomel saat ini" Aranta tergelak
"biarin ,daripada dia ganggu kita" ucap Gibran
"ganggu ...memangnya kita ngapain?" tanya Aranta
"ya gak ngapa-ngapain cuma ngobrol aja "
"tuh tahu" ucap Aranta lalu beranjak dari duduk nya ,gadis itu berdiri dengan kedua tangan menopang pada pagar balkon
"Ya Allah....terima kasih ....aku sungguh bahagia malam ini" batin Aranta seraya menatap rembulan yang bersinar dengan bentuk bulat sempurna ,wajah cantik Aranta pun terkena paparan sinar itu menambah kecantikan di wajah nya.
Hal yang sama pun dirasakan Gibran saat ini
"ternyata sangat melegakan jika aku sudah mengutarakan yang sebenarnya , ternyata selama ini aku terlalu naif ,maaf kan aku yang baru mengakui rasa ini" Gibran menatap punggung Aranta yang berdiri belakangi nya
"lihat lah mereka manis sekali " ucap Nuri seraya bersandar pada bahu Rifki
"iya Aranta dan Gibran kedua nya terlihat serasi " sahut Rifki
"bukan mereka ,mereka tak terlihat manis di mataku ,tapi bikin gregetan ,coba aja lihat udah tunangan aja masih jaga jarak begitu " cetus Nuri
"ya itu bagus dong , itu artinya anak kita tahu batasan dan mau menghargai wanita nya dengan tidak menyentuh nya sembarangan ,kamu seharusnya bangga pada nya ,karena dia tak seperti ku dulu dan jauh dengan perangai ku jaman dulu"
"ya iya lah ,awas saja kalau Gibran ngikutin jejak mu mas ,gak kebayang aku tuh , sudah berapa wanita yang kamu sentuh " ucap Nuri
"aku gak sebejat itu loh sayang " keluh Rifki
"maksud nya nyentuh tangan ,emang nya nyentuh apa?" ucap Nuri
"oh aku kira apa ,bikin kaget saja " Nuri memicingkan mata menatap suami nya itu
"eh ....enggak lah ,paling cuman pegangan tangan aja kok ,beneran , sumpah deh " ucap Rifki seraya mengacungkan dua jari tengah dan jari telunjuk nya membentuk huruf V
"masa sih ,kamu itu playboy loh mas ,masa cuman pegangan tangan doang"
"ya ampun sayang beneran deh ,percaya pada ku kalau kamu tak percaya belahlah d*daku " ucap Rifki lagi
"gak mau ,kalau kamu aku belah d*da nya bisa mati nanti ,aku gak mau kamu tinggalin lagi " ucap Nuri lalu memeluk Rifki
"jadi kamu percaya kan ?" tanya Rifki lagi
"iya deh aku percaya " sahut Nuri
"Alhamdulillah.....eh tapi yang kamu maksud tadi itu siapa sayang ,kalau bukan Gibran dan Aranta ?" tanya Rifki akhir nya
"tuh yang lagi pada mojok di pojokan itu" tunjuk Nuri dengan dagu nya
"astaga ,kok aku baru ngeh ya kalau ada dua makhluk yang sedang pacaran " Rifki merasa tak habis fikir melihat nya
**
Keesokan harinya Gibran dan keluarga nya pun kembali ke Jakarta , begitupun dengan Aranta ,sebab keduanya akan langsung menuju ke sebuah daerah untuk menjalani program KKN, teman-teman yang lain nya sudah berangkat kemarin hanya Aranta dan Gibran saja yang terlambat datang ,tadinya pihak universitas tak mau mentolerir keterlambatan ke dua nya namun berkat Rifki yang turun tangan akhirnya pihak universitas pun tak mempermasalahkan nya ,sebab mereka semua tahu siapa Rifki .
"kalian berdua hati-hati di sana ya ,jaga Aranta dengan baik " ucap Nuri pada anak nya yang sudah bersiap menaiki bus menuju kampung yang di tentukan kampus nya , kedua nya sepakat untuk naik angkutan umum sebab mereka tak ingin terlihat sok iyey di depan teman-temannya yang lain jika datang dengan kendaraan pribadi ,mereka baru saja melakukan penerbangan dari Aceh dan langsung menyetop bus
"iya ma ,itu pasti ,kami berangkat , assalamualaikum" ucap Gibran memyalimi kedua orang tua nya di ikuti Aranta kemudian
__ADS_1
Kedua nya segera menaiki bus dengan tas ransel di punggung nya masing-masing juga jas warna biru yang menjadi ciri khas nya mahasiswa/mahasiswi yang hendak melakukan program KKN.
"kamu duduk di sini" ucap Gibran meminta Aranta duduk di sisi dekat kaca,itu sengaja agar ia bisa menjaga Aranta dari penumpang lain nya yang mungkin tak sengaja menyenggol atau mengganggu Aranta , Aranta pun mengangguk dan tersenyum .
"ternyata kita satu kelompok satu lokasi juga ya " ucap Gibran tiba-tiba
"hm...iya ...." sahut Aranta , entah mengapa debaran jantung nya seakan enggan berdetak dengan normal saat berdekatan dengan Gibran ,apalagi mereka kini duduk berdampingan sisi tubuh sampai pundak mereka pun sampai bersentuhan .
Memerlukan waktu beberapa jam untuk bisa sampai di desa yang di maksud ,karena lamanya perjalanan membuat Aranta mengantuk Aranta pun tertidur dengan kepala menempel pada kaca di samping nya ,Gibran yang menyadari jika Aranta tertidur pun lantas menarik kepalanya untuk kemudian ia sandarkan di pundak nya .
Setelah beberapa jam lama nya akhirnya bus yang membawa Aranta dan Gibran pun tiba di tempat tujuan ,namun kedua nya harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk menuju desa yang di maksud , tak ada ojek atau kendaraan lain nya ,meski ada tulisan pangkalan ojek namun nyatanya tak ada satu pun orang di sana ,mungkin semua ojek sedang mengantar penumpang ,begitu fikir kedua nya .
Mau tak mau kedua nya pun berjalan menyusuri jalanan aspal yang penuh dengan lubang dan kerikil tajam .
"ehehehehe..... ehehehehe.... ehehehehe....." Wewe tertawa mengiringi langkah dua anak manusia itu
"bisa diem gak nek " seru Gibran
"udahlah biarin saja " ucap Aranta
"kamu capek?" tanya Gibran
"lumayan sih " sahut Aranta seraya mengibas-ngibas kan tangan nya di depan wajah nya
"sini duduk dulu, ini minum lah " Gibran memberikan minuman rasa jeruk yang sudah dibuka tutup nya pada Aranta
"makasih " Aranta pun dengan senang hati menerima nya dan segera meminum nya
"Alhamdulillah.... seger ,makasih ya " ucap Aranta lagi
"mana aku juga mau dong " Gibran segera menyambar minuman itu dan langsung meminum nya
"eh...itu kan bekas ku " seru Aranta
"kenapa?"
"kamu gak jijik ?" tanya Aranta
"kenapa mesti jijik ,justru rasanya jadi makin manis " sahut Gibran seraya tersenyum
"dih bisa gombal juga ternyata kamu "
"siapa yang gombal,memang beneran kok " sahut Gibran lagi
"udah ah yuk jalan lagi , lama-lama di sini aku bisa diabetes " ucap Aranta seraya beranjak
"lah ....Aranta tunggu..."
"ehehehehe.......mulai micin niyeee...... ehehehehe...." ucap Wewe
"micin ?" Aranta yang sudah berjalan di depan pun menghentikan langkah nya
"ah nek ....bukan micin....tapi bucin ....enggak kok siapa juga yang bucin ,yuk kita tinggalin saja nek Wewe " sangkal Gibran
Tanpa Gibran sadari tangan nya menarik tangan Aranta ,Aranta yang terkejut pun hanya bisa mengikuti langkah Gibran sambil terus memperhatikan tangan nya yang di genggam Gibran
"ya ampun.... jantungku ....jangan jatuh please...." jerit Aranta dalam hati nya
Keduanya terus berjalan menyusuri jalanan berlubang itu ,mereka sudah melewati beberapa rumah penduduk yang masih terlihat jadul ,ada juga beberapa penduduk yang menyapa maupun hanya melihat kedua nya.
Akan tetapi langkah kaki Aranta terhenti setelah melihat pemandangan di depan mata nya , sebenarnya kedua nya tak cukup memperhatikan situasi sebab Gibran yang sadar akan apa yang ia lakukan pun merasa kan apa yang Aranta rasakan saat ini ,namun ia enggan untuk melepas genggaman tangan nya ,biarlah sesampai nya nanti ia akan kembali berwudhu ,begitu fikir nya.
__ADS_1
"astaga....ini...apa kita tidak salah tempat "
***