The INDIGO

The INDIGO
Mengejutkan


__ADS_3

Mau tak mau Riswan pun naik ke atas podium kecil di panggung sebelah kiri ,ia menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah di terima di desa ini dan di perlakukan dengan baik oleh warga nya,setelah selesai Riswan pun turun dari panggung di iringi tepukan tangan para penonton.


Namun setelah Riswan turun dari panggung ia terkesiap saat melihat puluhan bahkan ribuan makhluk astral tiba-tiba ikut berjibun diantara warga.


"Ya Allah....kenapa mereka jadi pada nongol sih bukan nya tadi gak ada satu pun kecuali nek Wewe " lirih nya ,ia bahkan menunduk namun mata nya melihat ada sepasang sepatu berwarna hitam berada tepat di depan nya ,Riswan pun mengangkat wajah nya karena merasa tak asing dengan sepatu itu


"papa...." Riswan terkejut sebab Haris papa nya tiba-tiba hadir di depan nya


"apa kabar nak " Haris lalu memeluk putra nya yang nampak terkejut dengan kedatangan nya


"papa ngapain di sini ?" tanya Riswan setelah sadar dari keterkejutan nya


"papa habis meninjau proyek pembangunan restoran kita yang di sekitaran jalan perbatasan desa ini , karena papa kangen sama kamu jadinya papa datang lah ke sini " jawab Haris


"besok kan aku sama yang lain pulang pa...lagian ini sudah larut apa papa mau langsung pulang ?" tanya Riswan


"tadinya sih iya tapi setelah papa fikir-fikir lebih baik papa nginap saja bareng kamu ,besok kita pulang barengan" ucap Haris


"lalu gimana dengan mamah ibu pa...kasihan mamah ibu ditinggal sendiri di rumah " tanya Riswan yang memanggil ibu sambung nya yaitu Bu Fuji dengan sebutan mamah ibu


"siapa bilang mamah ibu mu ditinggal di rumah ,tuh lagi sama Gibran dan yang lain" tunjuk nya pada Bu Fuji yang tengah berbincang dengan Gibran,Merlin dan Aranta.


"sejak kapan Aranta berada di sini?" bisik Haris pada Riswan


"cerita nya panjang pa,nanti deh aku ceritain ,tapi nih yang jelas ya pa...ternyata Aranta dan Gibran itu sudah bertunangan ..." belum juga Riswan selesai berbicara Haris sudah lebih dulu menyela


"hah yang bener kamu ?" tanya nya


"iya pa...biar lebih jelas nanti deh papa tanyain langsung sama orang nya " ucap Riswan lagi


"tunangan .... kenapa si Rifki tak pernah mengatakan nya " gumam nya dalam hati


meski pun hati nya dilanda ke ingin tahuan yang tinggi Haris tak ingin menanyakan nya langsung pada Gibran sebab ia tahu jika selama ini Gibran cukup sensitif jika di tanyai masalah seperti itu.


"nanti saja deh aku tanyain sama Rifki " ucap nya dalam hati.


Lalu kemudian Riswan dan Haris pun turut bergabung bersama yang lain.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam ,dan acara pun akhirnya selesai, sebenarnya acara tersebut hanya berisi tentang pementasan tarian dan nyanyian namun yang membuat acara nya lama yaitu adanya beberapa kata sambutan dari pihak desa juga pihak yang terkait lain nya ,juga acara joget bersama yang cukup memakan waktu ,bahkan Gibran dan Aranta yang tak terbiasa berjoget pun mau tak mau ikut serta ,meskipun dengan gerakan alakadar nya.


Gibran dan yang lain pun segera pulang ke rumah penginapan mereka setelah berpamitan dengan warga terutama pak kades.


"A...jangan jauh-jauh atuh jalan nya,aku teh kan takut ,ieu teh naha atuh bet bisa nya makam-makam berada di pemukiman " ucap Bu Fuji yang merasa ketakutan berjalan di antara makam-makam


"bukan makam yang berada di pemukiman mamah ibu,tapi pemukiman yang berada di pemakaman" sahut Riswan yang berjalan di belakang nya


"bukan nya sama saja ya" timpal Merlin


"iya juga ya...tapi kalian teh meni hebat pisan bisa betah gitu lama-lama tinggal di sini, apa kalian teh gak takut ?" tanya Bu Fuji yang semakin merapatkan tubuh nya pada Haris


"takut sih sebenarnya tapi mau gimana lagi keadaan yang membuat kita harus bisa beradaptasi di tempat ini" sahut Riswan lagi


"ah kamu mah palingan berani juga karena ada Gibran,coba kalau enggak pasti baru semalam juga udah minta pulang " ledek Haris


"hihihi....papa kamu gaya bicara nya sudah ketularan Bu Fuji ya " bisik Merlin pada Riswan


"ya begitulah" bisik Riswan lagi


Saat mereka tengah berjalan kaki tiba-tiba dari arah belakang yaitu Ana ia menjerit ketakutan


"aaaaaaakkkkhhh....."


Sontak saja semua nya menoleh pada Ana

__ADS_1


"Ana ,loe kenapa?" tanya Luna seraya menyentuh bahu Ana yang menutup wajah menggunakan telapak tangan nya


"i...i...itu....itu ...tadi ..gue lihat sesuatu" jawab nya terbata


"lihat apa ,orang gak ada apa-apa juga " ucap Coky


"beneran tadi gue lihat bayangan putih melintas di sana " tunjuk Ana


"yang bener ?" tanya Maya


"iya beneran masa gue bohong sih "ucap Ana lagi


Bu Fuji yang tentu sangat ketakutan pun semakin memeluk lengan Haris erat ,hal yang sama pula yang dilakukan Riswan pada Merlin namun tidak dengan Aranta dan Gibran ,kedua nya justru malah ingin tertawa


"Riswan ...kamu apa an sih ,bisa gak ,gak peluk-peluk aku ,aku risih ih " seru Merlin ,meskipun mereka sudah berpacaran lama tetap saja Merlin merasa tak nyaman jika di peluk apalagi saat ada orangtua kekasih nya,baginya berpacaran bukan berarti harus ada kontak fisik ,jangan kan pelukan ciuman saja mereka belum pernah melakukan nya,karena Merlin cukup teguh dalam pendirian nya jika ciuman pertama nya hanya suami nya kelak yang mendapatkan nya ,meski ia juga mencintai Riswan bukan berarti ia harus memberikan ciuman pertama nya pada Riswan ,dan itu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Riswan.


Bagi Riswan tak ada perempuan selangka Merlin.


Haris yang mendengar pun tentu saja menengok ia langsung menjewer telinga anak nya itu


"dasar anak nakal bisa saja ya kamu cari kesempatan dalam kesempitan " geram Haris


"aw...aw...aw...ampun pah...aduh..."pekik Riswan


"makanya jangan curi-curi kesempatan " sahut Haris


"iya pah...ampun ....aku gak sengaja tadi..." pekik Riswan , Haris pun melepaskan tangan nya yang menjewer telinga anak nya itu ,hingga Riswan meringis sakit dengan memegangi telinga nya yang terasa panas


"baru meluk gimana kalau aku apa-apain kamu " keluh nya lirih


"awas saja kalau kamu berani macam-macam sama aku " ancam Merlin


"hehehe.....iya ampun ,mana berani aku macam-macam sama kamu kalau dua macam sih aku berani " cengir Riswan


"eh...enggak ...enggak ...becanda " sahut Riswan lagi-lagi nyengir kuda


Haris hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak nya ,namun ia cukup salut pada Merlin yang tak seperti perempuan kebanyakan ,Merlin selalu bisa menjaga kehormatan nya meski itu dengan kekasih nya sendiri ,selama ini ia juga sering memperhatikan kedua nya,tak pernah melihat kedua nya terlalu intim dalam bersikap.


"sudah-sudah kalian jangan takut itu tuh bukan hantu ,coba perhatikan baik-baik" seru Aranta menahan tawa nya


semua pun memperhatikan apa yang di lihat Ana tadi ,sebuah benda putih tersorot lampu LED dari sebuah rumah di dekat nya yang tertiup angin hingga bergerak ke kanan dan ke kiri ,dan ketika di perhatikan lebih teliti rupanya itu hanya selendang putih yang tersangkut di tali jemuran yang putus ,sepertinya lupa di ambil oleh pemilik nya .


"loh itu seperti nya kain deh ,kok bisa ada di situ,mana pas banget warna nya putih lagi " ucap Davin


"iya ya ,tapi kok tadi pas kita lihat setelah Ana teriak kita gak lihat apa-apa" tanya Lisa


"mungkin terhalang pohon itu deh ,jadi tadi gak kelihatan" ucap Coky


"iya juga ,duh si Ana bikin kaget saja ,kirain lihat hantu eh ternyata cuma kain jemuran yang dilupain pemilik nya " ucap Lisa


"ya udah yuk lanjut lagi ,capek banget nih gw , ngantuk lagi" ucap Luna yang berkali-kali menguap karena sudah mengantuk


"ya udah ayuk"


Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka dengan perasaan yang was-was karena mereka harus melewati banyak kuburan di sepanjang jalan nya.


"akhirnya kita sampai juga ,kenapa rasa nya jadi jauh bener ya ,lama banget sampai nya " ucap Riswan saat mereka sudah sampai di rumah penginapan


"A...ini rumah nya kok horor ya,aku teh takut" bisik Bu Fuji pada Haris


"kamu tenang saja ada aku di sini " sahut Haris


"terus nanti kita tidur nya gimana A ?" tanya Bu Fuji lagi

__ADS_1


"ibu dan paman bisa tidur di kamar ,kita di luar saja ,gak apa-apa kan ?" tanya Gibran pada teman satu kamar nya yaitu Riswan , Rico, dan Adit


"gw sih gak apa-apa " sahut Adit


"gw ngikut saja " sahut Rico


"ya udah aku juga ikut deh " sahut Riswan lemas , sebenarnya ia keberatan jika harus tidur di luar ,tapi keputusan bersama jika mereka malam ini tidur di luar


"ya udah gak apa-apa biar kita yang tidur di sini saja " ucap Haris merasa tak enak


"gak apa-apa paman, biar kita saja yang tidur di luar ,lagipula di luar sangat dingin kasihan Bu Fuji " ucap Gibran yang memang selalu menghormati orang yang lebih tua dari nya


"ya sudah ,kalau gitu aku bawa tikar nya dulu " Gibran pun mengambil tikar yang lumayan besar beserta bantal,namun karena keterbatasan bantal Gibran hanya membawa dua bantal karena dua bantal sisa nya untuk di gunakan Haris dan Bu Fuji


"kok cuman dua bantal nya?" tanya Riswan


"ya kan punya aku dan kamu buat papa mu dan Bu Fuji ,sudah lah jangan banyak ngeluh ,kita kan cowok tidur dimana saja pun bisa pakai bantal atau enggak tak jadi masalah "sahut Gibran


"iya iya " akhirnya Riswan pun menurut ,dan malam ini ke empat nya tidur di luar degan hanya beralaskan tikar tipis


Aranta dan Merlin yang mengetahui kedua kekasih nya tak menggunakan bantal pun berinisiatif memberikan bantal untuk mereka, beruntung Aranta membawa balmut atau bantal selimut ,yaitu selimut yang bisa di lipat hingga menyerupai bantal,akan tetapi berbeda dengan Merlin ,ia harus merelakan bantal nya demi orang terkasih nya .


"kalian ngapain kesini ,sudah malam ,apa kalian belum mengantuk?" tanya Gibran saat melihat ke dua gadis itu menghampiri ,akan tetapi ternyata di sana juga sudah ada Ana yang juga membawa bantal juga selimut .


"aku bawa ini untuk mu " ucap Aranta memberikan balmut itu pada Gibran


"lalu kamu gimana?" tanya Gibran


"aku kan masih ada ,lagian aku biasa pakai ini buat selimut kok " sahut Aranta


"terus nanti kamu gak pakai selimut ?" tanya Gibran lagi


"gampang sih ,aku cukup pakai baju panjang tebal ,celana panjang juga kaus kaki biar gak kedinginan" sahut Aranta


"ya sudah sini ,makasih ya " ucap Gibran meraih balmut itu dengan senang hati ,tadi nya ia hendak menolak nya namun Gibran berfikir lebih baik menerima pemberian Aranta daripada menerima bantal dari Ana ,ya ...Ana sengaja memberikan bantal juga selimut nya untuk Gibran ,dan ia menjadi kesal bukan kepalang ketika Gibran malah menerima punya Aranta ,ya jelas lah orang Gibran suka nya sama Aranta bukan sama Ana.


Dengan kesal Ana pun kembali masuk ke kamar nya


"ih....dasar nyebelin " batin nya


"terus ini buat siapa,buat aku ?" tanya Riswan pada Merlin


"ya iya lah ,masa buat Rico " sahut Merlin


"eiiiittt ....enak aja ,awas aja kalau kamu kasih ini sama dia " Riswan pun langsung meraih bantal nya


"makasih ya " ucap Riswan Merlin pun mengangguk


"ya sudah kita ke dalam ya ,tidur yang nyenyak " ucap Aranta lalu beranjak dan masuk ke kamar nya di susul Merlin kemudian


Rico dan Adit tak berkomentar apa-apa karena kedua nya sudah dilanda kantuk yang berat ,sementara itu Riswan dan Gibran yang sudah merebahkan tubuh nya pun tersenyum dengan perasaan masing-masing


"ya ampun bahkan wangi balmut nya saja sudah membuat hati aku jedag jedug " batin Gibran yang menyentuh d*da nya ia tidur menyamping membelakangi Riswan


"hm...meskipun bau iler tapi aku suka " kekeh Riswan dalam hati


Namun kemudian Riswan terkesiap saat tiba-tiba saja ada sosok yang mengintip nya dari arah dapur


"Allahu Akbar" Riswan pun langsung menutup diri ya dengan selimut,sementara Rico dan Adit keduanya sudah tidur



"apa ngintip-ngintip mau mata nya bintitan " seru Gibran

__ADS_1


***


__ADS_2