
Tak terasa kini waktu pun menunjukan pukul 17:00 acara pun selesai,para tamu pun sudah mulai meninggalkan ruangan ballroom itu. Nuri dan yang lain nya pulang ke rumah namun tidak untuk pasangan pengantin baru Gibran dan Aranta,kedua nya akan menginap selama satu malam di hotel tersebut.
Penampakan kamar tempat mereka menginap sudah di hias sebagaimana kamar pengantin baru pada umum nya. Aranta pun kembali menjadi canggung ,padahal mereka sudah melewati malam panjang bersama,namun entah kenapa rasa gugup juga canggung masih saja menyelimuti nya.
"ayo ,masuk ...kenapa malah diam saja " ajak Gibran menarik tangan Aranta yang diam mematung di ambang pintu
"i..iya..." sahut Aranta ,tangan nya pun menjadi dingin
Gibran tersenyum melihat kegugupan istri nya itu,ia pun gemas dan langsung menggendong Aranta dan membawa nya masuk ke dalam kamar.
Gibran lalu menutup pintu dengan kaki nya ,lalu berjalan menuju ranjang pengantin mereka,setelah meletakan Aranta di tempat tidur,Gibran pun beranjak mengunci pintu.
ctak'
Aranta kembali gugup saat melihat Gibran berjalan ke arah nya.
"kenapa tegang begitu,aku gak akan ngapa-ngapain kok" ucap Gibran seraya menahan senyum lalu duduk di kursi meja rias menghadap pada Aranta.
"aku hanya mau membantu menghapus make up mu" ucap Gibran lalu meraih cairan pembersih wajah yang berada di dekat nya,ia lalu membasahi kapas dengan cairan itu.
Dengan perlahan Gibran melepaskan hijab Aranta dan hanya menyisakan dalaman ciput ninja, lalu dengan lembut Gibran mengusap pipi hingga seluruh wajah Aranta,sementara Aranta hanya diam sambil menatap mata Gibran dengan jantung yang terus bertalu-talu,bak genderang yang hendak berperang.
"sekarang lebih baik kamu cuci wajah mu,takut nya nanti muncul jerawat kalau tak di basuh air " ucap Gibran.
"iya ,terima kasih " ucap Aranta lalu beranjak,namun saat Aranta hendak melangkah tiba-tiba Gibran meraih lengan nya lalu menarik nya hingga Aranta jatuh terduduk di pangkuan nya.
Aranta yang terkejut pun membelalakan mata nya ,apalagi saat ini Gibran sudah melingkarkan kedua lengan nya pada perut Aranta,sambil terus mengusel-ngusel wajah nya pada leher Aranta yang masih tertutup dalaman ciput ninja.
Nafas Aranta terasa tercekat,jantung nya pun semakin berpacu lebih cepat dari sebelum nya,bahkan kini bulu-bulu halus nya turut merinding dibuat nya.
"A... Ad...nan " lirih Aranta
"hem...."
"a..aku ...aku mau ke kamar mandi " ucap Aranta seraya mencoba menarik lengan Gibran yang melingkar di perut nya
Bukan nya menyahut, Gibran malah menarik ret sleting gaun Aranta ,hingga Aranta semakin mematung di tempat nya,karena tak hanya menarik ret sleting nya,namun Gibran juga menyentuh kulit punggung Aranta mengikuti turun nya ret sleting.
Aranta memejamkan mata nya,saat sesuatu mulai terasa menggelitik dan seakan ia menginginkan sentuhan yang lebih dari sekedar itu.
"kata nya mau ke kamar mandi,aku hanya membantu mu agar tak kesusahan saat kamu hendak membuka gaun ini " lirih Gibran berbisik tepat di telinga Aranta
Aranta pun sontak membuka mata,lalu menoleh pada Gibran ,namun karena posisi nya seperti itu,saat Aranta menoleh ia malah mencium hidung bangir Gibran.
cup
"ups....maaf aku tak sengaja " seloroh Aranta dengan wajah memerah, ia pun menutup mulut nya dengan telapak tangan nya
"sengaja juga gak apa-apa kok ,aku malah senang " ucap Gibran tersenyum namun matanya malah fokus pada bibir tipis Aranta
Tanpa berkata-kata Gibran pun langsung menarik tengkuk Aranta lalu menyatukan bibir nya. Mendapat perlakuan mendadak tersebut tentu nya membuat Aranta terkejut ,namun ia tak mungkin menolak sebab sekarang Gibran adalah suami nya dan berhak atas apa pun yang ada pada diri nya.
Aranta pun terbuai oleh ciuman memabukan Gibran ,ia mengalungkan kedua tangan nya pada leher Gibran,rasa canggung dan gugup nya pun perlahan hilang.
Tanpa melepas pagutan bibir nya Gibran membantu membuka gaun yang melekat pada tubuh Aranta termasuk diri nya,setelah itu ia membawa Aranta ke kamar mandi,dan terjadilah mandi panas diantara kedua nya.
Sementara itu ,Ari yang sedang dalam perjalanan menuju rumah nya nampak diam memandang ke luar jalan lewat kaca mobil nya,namun tatapan nya kosong.
Nuri yang mengadari jika putri nya itu tengah melamun pun memutar tubuh nya ke belakang untuk melihat putri nya.
"kasihan sekali kamu sayang " lirih nya dalam hati ,ia pun turut menitikan air mata melihat nya
__ADS_1
Rifki yang juga tak tega melihat anak perempuan nya bersedih seperti itu pun memikirkan cara agar putri nya tak lagi bersedih.
"sayang,bukan kah kamu bercita-cita ingin menjadi seorang dokter hewan kan ?" tanya Rifki membuat Nuri juga Ari menoleh pada nya
"dari mana papa tahu?" tanya Ari ,ia bahkan tak pernah memberi tahu papa nya akan keinginannya nya itu ,sebab yang ia tahu papa nya ingin ia meneruskan perusahaan bersama kakak nya dan takut jika keinginan nya tak di setujui.
"apa sih yang papa gak tahu tentang mu,meski pun kamu tak pernah bercerita papa atau mama pasti tahu,iya kan mah..." lirih Rifki pada Nuri
"iya sayang papa mu benar, melihat kamu sangat menyukai hewan saja kami sudah bisa menebak nya " ujar Nuri
Sedangkan Dewi yang duduk di samping Ari nampak tertidur
"jadi...apa papa dan mama tidak keberatan?" tanya Ari
"tentu saja tidak ,apapun cita-cita mu,kami selaku orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakan mu,kami tak ingin memaksakan kehendak ,apa pun itu asal kamu bisa menjaga diri dan bahagia kami pasti mendukung" sahut Rifki lagi
"terima kasih ya pah...mah..." ucap Ari nampak senang,sebab apa yang ia khawatir kan tidak seperti kenyataan nya.
Tak lama ,mereka pun sampai di rumah,di susul mobil lain yang berisikan keluarga pak Maman. Wowo and the geng pun mulai turun dari atap mobil. Bang Popo kembali ke tempat pavorit nya sementara Wowo dan Wewe turut di belakang Nuri ,kenapa Wewe ikut bersama mereka,sebab ia tak mau menganggu Gibran dan Aranta ,bahkan agar tak ada gangguan dari makhluk astral lain Wewe sampai memberi pagar ghaib di kamar hotel tempat Gibran agar tak bisa di tembus makhluk tak kasat mata.
**
Langit jingga dikala petang menambah kesan romantis bagi sepasang pengantin baru yang tengah menikmati senja di balkon kamar hotel nya.
Kamar hotel itu termasuk yang ekslusif karena terletak di lantai paling atas dan terdapat balkon juga,berbeda dengan kamar-kamar lain nya.
"perjuangan kita baru akan dimulai,aku harap kedepannya tak akan ada masalah atau drama di antara kita yang akan membuat hubungan rumah tangga kita renggang,kita berdua harus sama-sama terbuka,jika ada masalah apapun itu maka cerita kan biar kita cari solusi bersama-sama" ucap Gibran menatap lurus ke depan ,dengan lengan nya yang mendekap Aranta yang tengah bersandar di bahu nya.
"ehm...iya " sahut Aranta mengangguk
"sebentar lagi adzan Maghrib,sebaik nya kita masuk ke dalam" ajak Gibran
"kamu saja dulu aku bisa nunggu kok,sambil menyiapkan alas shalat buat kita " ucap Gibran ,Aranta pun mengangguk lalu mereka melangkah berdua ke dalam kamar.
Tak lama setelah keduanya berwudhu kumandang adzan Maghrib pun terdengar saling bersahutan dari luar hotel.
Dengan khusyu kedua nya pun melakukan shalat berjamaah,ada haru di hati kedua nya saat mereka mulai sholat hingga selesai.
"assalamualaikum warahmatullah..... assalamualaikum warahmatullah....."
Aranta mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah nya ,lalu meraih tangan dan mencium punggung tangan Gibran saat Gibran menjulurkan tangan nya,Gibran Kun mencium kening dan pucuk kepala Aranta,lalu keduanya tersenyum bersama.
tok tok tok
tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk
"kamu bereskan semua ini gak apa-apa kan ,aku mau bukain pintu dulu,seperti nya pihak hotel mengantarkan makanan " ucap Gibran
"iya gak apa-apa,tapi ...kapan kamu memesan makanan?" tanya Aranta
"tadi saat kamu di kamar mandi,aku sengaja meminta nya mengantar setelah selesai shalat Maghrib,karena aku tak mau waktu shalat kita terganggu " jawab Gibran
"oh gitu ,ya udah sana buka ,kasihan orang nya kalau kelamaan "ucap Aranta
cup
Sebelum beranjak Gibran mengecup pipi Aranta,Aranta pun hanya tersenyum sambil menyentuh pipi nya.
"Ya Allah...terima kasih karena Kau mengabulkan permintaan ku untuk bisa bersuami kan Adnan" lirih Aranta dalam hati nya
Aranta pun segera membereskan alas shalat yaitu sejadah nya dan Gibran.
__ADS_1
Setelah itu Aranta menyambar hijab instan nya lalu bergegas menemui Gibran.
"loh kok kamu pakai kerudung sih?" tanya Gibran
"memang nya kenapa?" tanya Aranta tak mengerti
"buka ya,kan di sini cuman ada aku,aku mau melihat mu dengan rambut terurai,terlihat indah dan cantik,jadi terus teringat saat pertama kita bertemu di mini market" pinta Gibran
"tapi nanti kalau ada yang datang gimana?" tanya Aranta
"kan pintu nya juga di kunci, lagipula siapa yang akan datang " ucap Gibran
"ya udah deh iya " sahut Aranta lalu melepaskan hijab instan nya
seet'
Gibran menarik ikat rambut Aranta ,hingga rambut panjang nan lurus itu tergerai indah sampai punggung.
"sudah kan,sini biar aku yang siapin " Aranta meraih makanan di tangan Gibran lalu berjalan menuju sofa.
Gibran terdiam melihat Aranta yang tengah menyiapkan makanan di meja,ia pun tersenyum lalu berjalan menghampiri Aranta.
"bismilah....." kedua nya pun menikmati makanan nya setelah sebelum nya membaca doa
Malam pun tiba,langit cerah bertabur bintang seolah turut bersuka cita akan penyatuan dua insan yang tengah dimabuk cinta,apalagi status mereka yang kini sudah sah dan halal membuat mereka ingin dan selalu ingin mencurahkan perasaan cinta mereka yang membuncah.
Suara erangan dan deru nafas keduanya saling bersahutan,pasangan pengantin baru yang baru merasakan surga dunia itu pun,seakan tak ingin berhenti dari aktivitas mengguncang ranjang.
Hingga beberapa saat kemudian,tubuh keduanya mengejang dan terkulai lemas bersama.
Dengan seulas senyum merekah Gibran mengecup kening Aranta yang nampak memejam kan mata karena tak kuasa menahan kenikmatan yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata,milik nya pun terasa berkedut linu apalagi Gibran yang masih berada di sana.
"aku baru tahu ternyata begini ya rasa nya, aku jadi ingin lagi ,boleh kan?" pinta Gibran dengan kembali menggerakan tubuh nya,Aranta pun hanya bisa pasrah berada di bawah kungkungan suami nya yang halal. Meski lemas dan lelah tapi ia tak mau menampik jika ia pun menikmati permainan itu.
Hingga jam menunjukan pukul 02:00 pagi mereka menyudahi permainan nya,mau tak mau Aranta dan Gibran segera mandi besar,dan tidur sebentar sebelum nanti bangun kembali untuk melaksanakan sholat subuh.
Kita tinggalkan dulu pasangan yang tengah di mabuk cinta ya ,biarkan mereka istirahat dulu ðŸ¤
Di rumah
Ari mengerjapkan mata saat indera pendengaran nya menangkap kumandang adzan terdengar memekakan telinga,namun terdengar syahdu.
"hooaammm......sudah subuh rupanya" Ari pun hanya bisa diam di tempat tidur,sebab kaki nya yang masih belum bisa bergerak membuat nya kesulitan
"huuuhh....sampai kapan aku seperti ini,jangan kan untuk menemui nya ke rumah sakit ,untuk berjalan ke kamar mandi saja aku tak bisa " lirih Ari menatap sendu kedua kaki nya yang nampak enggan untuk bergerak
"aku harus bisa,aku tak mau seperti ini terus,ya...aku pasti bisa " ucap nya meyakinkan diri untuk mencoba bagaimana pun cara nya ia harus bisa turun dari tempat tidur
Dengan susah payah akhirnya Ari dapat turun dari tempat tidur meski harus menjatuhkan diri nya ke lantai,gadis itu pun nampak meringis kesakitan seraya mengusap bagian belakang tubuh nya.
Perlahan Ari pun mengesot menuju kamar mandi
"akhirnya....sampai juga " gumam nya lirih
Ari pun kembali menyeret tubuh nya menuju tempat khusus berwudhu, beruntung keran air nya tidak terlalu tinggi hingga ia dapat meraih dan segera berwudhu.
Saat selesai berwudhu,Ari nampak terperanjat saat merasakan jemari kaki nya dapat bergerak.
"hah.... Allahu Akbar...." lirih Ari , ia pun sontak meneteskan air mata nya seraya mengucap syukur
***
__ADS_1