The INDIGO

The INDIGO
Pentas seni


__ADS_3

Ari masih tertunduk tak berani menatap ketiga orang tua yang tengah menyidang nya saat ini.


"tapi kalian jangan khawatir selama aku pacaran aku tak pernah macam-macam kok ,malah aku langsung mutusin mereka saat mereka mulai berani kurang ajar padaku" sahut Ari masih menunduk


"maksud mu kurang ajar bagaimana?" tanya Rifki menelisik ,ia khawatir jika anak gadis nya mendapat perlakuan tak senonoh dari laki-laki


"ya....seperti megang tangan misal nya ,kan papa tahu sendiri aku mana bisa bersentuhan dengan yang bukan muhrim, kak Gibran juga sering bilang begitu,aku paling gak suka sama cowok yang belum apa-apa udah berani sentuh sembarangan meski hanya di tangan " jelas Ari membuat Rifki ,Nuri dan Dewi merasa lega


"ya ampun kamu mutusin mereka cuman karena nyentuh tangan kamu?"tanya Dewi


"iya,yang pertama aku putusin karena berani megang tangan aku,yang ke dua karena baru jadian udah minta aku bayarin makanan nya,aku kesel lah jadi cowok kok gak modal banget makanya aku putusin ,terus yang ketiga .....karena....." ucapan Ari terhenti membuat mereka penasaran


"karena apa?" tanya Nuri


"dia minta cium ...."


"APA....terus kamu kasih ?" tanya Nuri lagi


"ya enggak lah ,mama ini gimana sih ,makanya aku langsung mutusin dia ,enak saja emang nya dia fikir aku cewek apaan ,udah bagus aku mau jadiin dia pacar aku eh malah ngelunjak " ucap Ari menggebu


"syukurlah kalau begitu,lagian kamu itu perempuan sudah sepantasnya kamu tuh menjaga penampilan mu,biar mereka para laki-laki tak berani menyentuh mu apalagi sampai niat minta cium segala " ucap Nuri sedikit menasehati


"gimana ya ....aku belum kefikiran berhijab ma...suka gerah kalau lama-lama pake hijab " sahut Ari kembali menunduk


"ya sudah gak apa-apa,mungkin belum dapet hidayah nya ,yang penting kamu tahu cara menjaga diri dan tahu batasan ,papa sih sebenarnya tak melarang mu pacaran ,hanya saja papa minta kamu bisa menjaga kepercayaan papa,kamu faham ?" tanya Rifki ,dan Ari tentu saja mengangguk


"jadi selama kamu menjalin hubungan dengan ketiga nya kamu tak ada rasa suka gitu sama ketiga nya atau salah satu nya ?" tanya Dewi tiba-tiba


"ya enggak lah nek ,aku hanya kasihan saja sama mereka ,tiap hari ngejar-ngejar aku terus minta aku jadi pacar nya ,ya aku terima saja lah , gak ada salah nya kan aku ngasih kesempatan mereka buat jadi pacar aku ,yah meskipun ujung-ujungnya aku putusin, habis mereka nyebelin " jawab Ari ,ketiga orang tua itu pun hanya menggeleng kan kepala seraya mengembuskan nafas melihat kelakuan anak perempuan satu-satunya


"Masha Allah....solehah banget sih anak nya papa " ucap Rifki gemas


"iih...papa mah ngeledek " Ari pun mengerungkan wajah nya


**


Matahari kini sudah kembali ke peraduan ,Gibran dan yang lain sudah selesai mengemasi barang-barang mereka ,sebab besok pagi mereka akan pergi meninggalkan desa unik itu dan kembali beraktivitas seperti biasa nya.


Kini mereka akan pergi menuju balai desa sebab di sana para warga sudah menyiapkan acara perpisahan untuk melepas mereka kembali ke kota .


"kan...kalau malam horor lagi nih kampung " lirih Luna


"iya kamu benar " sahut Maya


"ingat jangan jauh-jauh " bisik Gibran pada Aranta hingga gadis itu menoleh


"kenapa ...takut kangen yah..." sahut Aranta


"bukan gitu ,aku gak mau kamu kenapa-kenapa jadi kalau kamu mau apa-apa bilang ke aku ok" ucap Gibran lagi


"oh....iya " Aranta nampak lesu mendengar ucapan Gibran ,awal nya Aranta hanya bercanda namun mendengar kata 'bukan gitu' dari Gibran membuat hati nya sedikit mencelos


"wuaaahhh......mereka niat banget bikin acara nya ,lihatlah paggung nya lebih besar dari panggung saat pertunjukan wayang kulit waktu itu " seru Lisa


"iya ... kira-kira apa yang bakal mereka tampilkan nanti ya" sahut Merlin


"eh itu pak kades nampak nya berjalan ke arah kita deh " ucap Luna lagi

__ADS_1


Benar saja apa yang di ucapkan Luna , pak kades memang menghampiri mereka


"selamat malam semua nya , wah saya kira kalian belum mau datang ke sini,belum siap soal nya" ucap pak kades


"assalamualaikum ....selamat malam juga pak ,tak apa-apa justru kita datang lebih awal karena mungkin kita bisa bantu-bantu apa gitu buat acaranya " sahut Gibran


"waalaikum salam ,...duh kok jadi tak enak ya ,kita mempersiapkan ini untuk kalian tapi kalian malah ikutan repot" sahut pak kades lagi


"tak apa-apa pak ,tak usah merasa tak enak ,justru kita merasa terima kasih banget karena bapak dan warga yang lain nya sudah mau repot membuat acara ini buat kami" ucap Gibran lagi


"ya sudah kalau gitu apa yang bisa kita lakukan pak?" tanya Riswan


"baiklah ayo ke sebelah sini " ajak pak kades,mereka pun turut mengikuti pak kades ke belakang panggung


Disana sudah banyak anak-anak juga ibu-ibu yang sudah memakai kostum tari mereka .


"nah berhubungan kalian sudah berada di sini juga kebetulan Astri salah satu warga yang akan mengisi acara tak bisa mengikuti acara sebab dia mendadak sakit ,jadi saya ingin salah satu dari kalian ikut berpartisipasi dalam acara ini " ucap pak kades


"memang nya bagian apa yang harus kita main kan nanti?" tanya Ana


"menyanyi ,tapi itu pun jika ada yang berkenan apalagi jika suaranya bagus " sahut pak kades lagi


"nyanyi....ah saya gak bisa pak,suara saya pas-pasan gak enak buat didengar " tolak Maya langsung


"gw apa lagi ,gak ada bakat-bakat nya gue nyanyi " gumam Lisa


"kalau bikin rusuh gw paling bisa " gumam Luna lagi


"lah emang elu itu biang kerok , dimana-mana suka bikin rusuh hahahaha" Dika tergelak


"tapi sejak di sini enggak kan" sahut Luna lagi


"kalau gitu saya saja ,cuman nyanyi kok apa susah nya " ucap Ana dengan PeDe nya


"enggak gw gak setuju ,gw pernah denger suara loe pas lagi nyanyi, jelek ,sumbang , fales , pokok nya jangan elu " ucap Coky langsung membuat Ana jadi bad mood


"ah sialan lu" Ana mendengus kesal


"kamu saja gimana mau kan?" tanya Gibran pada Aranta


"what...dia...ya ampun gw malas denger lagu kosidahan " seru Ana menujuk Aranta


"hey...hanya karena penampilan Aranta yang berhijab bukan berarti Aranta bawain lagu kosidah ,kamu belum tahu saja bagaimana suara Aranta kalau dia sudah nyanyi" seri Merlin


"emang nya apa salah nya dengan lagu kosidah ?" tanya Aranta


"ya enggak salah sih ,cuman mungkin kurang tepat aja bawain lagu nya " ucap Merlin


"betul itu "sambung Riswan


"jadi gimana ini ,siapa yang mau tampil di panggung buat nyanyi ?" tanya pak kades


"memang nya lagu apa yang harus di nyanyikan ?" tanya Aranta


"sebentar" pak kades pun mengambil sesuatu dari salah satu warga yang berada tak jauh dari nya


"ini ,jika tak bisa menyanyikan nya bisa ganti kok lagu nya " ucap pak kades

__ADS_1


"baiklah ,saya bersedia menyanyikan lagu ini" Aranta pun menyanggupi nya


"alhamdulilah...." sahut pak kades


"tapi pakaian saya begini saja ya pak ,gak usah di ganti" pinta Aranta


"iya tak masalah " sahut pak kades lagi


"baiklah kalau begitu kamu segera cek sound ya biar nanti pas mau tampil udah sesuai nada nya " ucap pak kades ,Aranta pun mengerti dan mengikuti pak kades menuju ke bagian musik


Sementara Aranta sedang menyesuaikan nada, mata Gibran tak pernah terlepas dari Gio dan Barra ,bukan nya mau berburuk sangka pada mereka hanya saja Gibran tak ingin hal yang pernah terjadi waktu itu kembali terjadi ,namun ia juga sadar bahwa kejahatan bisa datang dari mana saja maka dari itu Gibran pun mengawasi sekitar apalagi yang berada dekat Aranta ,bahkan makhluk halus serupa Wewe pun turut mengawasi orang-orang yang berada di sana.


Acara pentas seni pun dimulai dari mulai kata sambutan yang di lakukan oleh pak kades lalu Gibran selaku perwakilan dari mahasiswa untuk berpidato sebentar ,setelah itu di lanjutkan dengan penabuhan gamelan yang diiringi tarian daerah ,para penonton bersorak-sorai menyaksikan tarian itu ,pun dengan para mahasiswa yang juga menonton tepat di depan panggung.


Aranta yang duduk di samping Gibran pun merasa takjub akan kemampuan para anak kecil yang nampak gemulai menarikan tarian itu,bahkan mata nya terus berbinar menyaksikan nya senyum nya tak pernah berhenti ,serta kedua tangan nya pun tak pernah berhenti menepukan tangan nya .


"mereka pintar sekali...." lirih nya


Gibran terus memperhatikan Aranta dengan tatapan yang sulit diartikan ,Aranta yang menyadari nya pun menoleh dan bertanya


"kenapa?"


"gak apa-apa, seneng aja lihat kamu terus senyum seperti itu " sahut Gibran tersenyum


"ih...apa sih kamu ,sudah sana lihat depan ,yang pentas di sana bukan di sini" ucap Aranta yang sudah mulai salah tingkah dibuat nya.


Tarian demi tarian pun akhirnya selesai di pentas kan kini tiba saat nya giliran Aranta yang tampil ,semua warga yang menonton pun nampak antusias saat mendengar jika salah satu dari mahasiswa itu ada yang akan tampil ,mereka merasa tak sabar melihat nya apalagi saat Aranta beranjak dari tempat duduk nya menuju panggung.


"kita lihat seperti apa suara nya sampai si Merlin terus saja memuji-muji kemampuan nya " batin Ana


Saat Aranta sudah berada di atas panggung ia melihat ke arah Gibran yang juga tengah menatap nya ,sorot matanya mengisyaratkan jika Gibran tengah memberinya semangat ,Aranta yang di tatap seperti itu pun merasa senang ,ia pun mulai melantunkan nyanyian nya .


Semua yang mendengar pun merasa terbawa suasana dengan nyanyian Aranta yang begitu merdu dan menyayat hati , lagu itu menceritakan tentang perpisahan,pas sekali dengan momen saat ini ,dimana acara itu di gelar untuk acara perpisahan.


"gila ....bagus juga suara nya ,gw sampe merinding denger nya" Barra berdecak kagum


"huh....itu sih bisa nya dia aja ,lu tahu sendiri kan siapa cewek itu , yang pasti dia juga bisa kalau buat nyanyi " sahut Gio ,yang masih meyakini jika Aranta itu merupakan perwujudan nenek sihir


"iya juga ya... hiiiy..." Barra pun bergidik ngeri


Prookk ....Prookk....Prookk.....


Suara tepukan tangan pun bergemuruh di akhir lagu ,Aranta membungkuk lalu turun dari panggung


"ehehehehe........suara mu menggetarkan hati nenek cu.... ehehehehe....." ucap Wewe ,namun Aranta hanya menanggapi nya dengan senyuman ,ia tak bisa jika harus berkomunikasi lewat batin seperti yang dilakukan Gibran,sedangkan jika ia langsung menyahuti pasti semua orang akan merasa aneh pada nya .


Gibran ,Riswan dan Merlin pun segera menuju Aranta yang baru turun dari panggung


"wah suara kamu benar-benar bagus Aranta, hebat ,lihat lah semua orang jadi baper " seru Merlin


"ah kamu bisa saja ,enggak kok biasa saja " ucap Aranta


"Merlin tuh bener ,kamu tuh dari dulu suara nya gak pernah berubah ,malah makin bagus ya kan Bran?" tanya Riswan melirik Gibran


"iya " sahut Gibran singkat


Tak berapa lama pak kades meminta salah satu perwakilan dari mahasiswa itu untuk kembali berpidato dan kali ini Riswan lah yang diminta berpidato singkat .

__ADS_1


"kok aku sih ,kamu aja lah Bran....." keluh nya


***


__ADS_2