
Mobil yang di kendarai Gibran pun akhirnya sampai di rumah ,begitupun dengan Nuri dan Rifki.
"assalamualaikum....mah, pah...kalian dari mana?" tanya Gibran menyalimi kedua orang tua nya bergiliran ,di ikuti Aranta.
"dari bandara,nganter Ari, Yoga pergi ke Pontianak " lirih Nuri
"Pontianak....buat apa?" tanya Gibran
"katanya mau melakukan pengobatan untuk Yoga" sahut Nuri lagi
"oh,...pah,sudah biar aku yang bantu Ari " ucap Gibran saat melihat papa nya membuka pintu untuk Ari ,Rifki pun bergeser dari tempat nya memberikan ruang untuk Gibran agar memudah kan nya menggendong Ari.
"biar aku yang siapkan kursi roda nya " ucap Aranta pula
"sudah gak usah,biar papa saja,kamu temui saja orang tua mu,tuh mereka sedang berjalan ke mari " ucap Rifki menunjuk Seno dan Thalia
"mah... pah...." Aranta langsung memeluk kedua nya
"gimana malam pertama kamu di hotel hem...sukses gak ?" tanya Seno yang ingin menggoda anak nya
"isshh....papa apa an sih " cicit Aranta yang malu
"hey...kau ini,suka banget sih godain anak mu,sudah sayang jangan dengarkan papa mu " ucap Thalia
"ayok...kita masuk " ajak Nuri
Mereka pun berjalan memasuki rumah besar itu,nampak Wewe dan yang lain tengah berdiri menyambut kedatangan pasangan suami istri baru yaitu Gibran dan Aranta.
"assalamualaikum....." ucap Gibran saat melihat nenek nya Dewi keluar dari kamar
"waalaikum salam, akhirnya kalian pulang ,kalian pasti capek ,yuk makan dulu" Dewi meminta kedua nya untuk makan sementara yang lain berkumpul di ruang tamu
"ciee... aura pengantin baru memang terlihat beda ya ,gimana tadi malam sukses bobol gawang ?" bisik Ifel tiba-tiba pada Gibran
"sukses dong om,dari kemarin malam malah"sahut Gibran menanggapi
"waw....gercep banget dong, ADAWWW" tiba-tiba Ifel memekik kesakitan sambil mengusap kepala nya yang terasa sakit dan panas
"kau kenapa?" tanya pak Maman
"tau ih Abang bikin kaget saja,kamu apain sih?" tanya Desi menatap Gibran
"aku gak ngapa-ngapain kok " sahut Gibran
Aranta ,Nuri ,dan Rifki nampak menahan tawa ,sebab yang menjitak kepala Ifel adalah Wowo ,ia merasa gemas pada nya.
Sementara Febry,pemuda itu langsung menunduk namun beberapa kali ia melirik juga pada Wowo.
"lah terus kamu kenapa seperti kesakitan begitu ?" tanya pak Maman lagi
"gak tahu yah,seperti ada yang jitak kepala aku,tuh coba deh sentuh,benjol nih kepala ku " ucap Ifel seraya menujukan kepala nya
"wah iya ya....kok bisa " pak Maman dan yang lain pun merasa bingung dibuat nya
"makanya om ,jangan bicara dan nanya yang macem-macem,masih mending cuma di jitak ,gimana kalau om di lempar terus nyangkut di pohon nangka " cetus Gibran
"memang nya dia nanya apa?" tanya Nuri penasaran,sampai memicingkan mata pada Ifel adik nya
"mama tanya sendiri lah,ayok Aranta kita makan,perut ku sudah keroncongan" Gibran pun menarik lengan Aranta menuju ruang makan
Saat Nuri hendak menginterogasi adik nya,Wowo tiba-tiba memberi tahu alasan nya menjitak kepala adik nya itu,dan Nuri pun menggelengkan kepala dan ingin juga melakukan hal yang sama seperti Wowo.
"dasar " dengus Nuri pelan,kemudian ia melihat Ari yang menggerakkan kursi roda nya keluar menuju halaman belakang,ia pun bergegas menghampiri di ikuti yang lain.
Ari menghela nafas setelah berada di dekat kolam ikan,karena jemari kaki nya sudah mulai bergerak ia pun penasaran apakah jika kaki nya di kerubungi dan di gigit oleh ikan-ikan kecil itu,ia akan merasakan gigitan ikan-ikan kecil itu atau tidak ,sebab selama ia tak bisa berjalan ia tak dapat merasakan apapun pada kaki nya , dicubit pun tak terasa.
Saat tengah mencoba turun dari kursi roda,Nuri tiba-tiba berseru
__ADS_1
"Ari...sayang ,kamu mau apa?" tanya nya
"aku mau celupin kaki aku ke kolam mah,siapa tahu bisa merangsang syaraf pada kaki ku " jawab Ari
"kenapa gak bilang,jangan lakukan sendiri bahaya,ayo mama bantu "
Dari ambang pintu nampak yang lain memperhatikan,mereka merasa sedih dan prihatin melihat kondisi Ari.
"kasihan anak itu " lirih Thalia
"hati-hati " ucap Nuri saat membantu memasukan kaki Ari ke kolam
Perlahan satu demi satu ikan kecil itu menghampiri hingga di susul ikan-ikan lain nya mengerubungi kedua kaki Ari.
Ari tersenyum kecil saat merasakan rasa geli menjalari kaki nya.
"terima kasih Ya Allah...." lirih nya dalam hati
"bagaimana sayang ,kamu merasakan sesuatu?" tanya Nuri
"em...t..tidak " jawab Ari tergugu
"jangan sedih ya ,besok kita mulai pergi tetapi " ucap Nuri menyentuh lengan Ari
"iya mah" sahut Ari dengan senyum nya
**
Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat.Mereka tengah berkumpul di ruang tengah .
Nuri dan Rifki nampak saling lirik saat mereka melihat Gibran terus mengganggu Aranta.
Ada saja tingkah nya hingga Aranta merasa risih sendiri karena malu terhadap kedua mertua nya.
Contoh nya saja ketika Aranta tengah berbincang Gibran terus mencolek-colek pinggang Aranta,tak hanya itu Gibran juga memilin dan memainkan ujung hijab Aranta sesekali menarik nya hingga kepala Aranta tertarik.
"Adnan.... kamu ih " lirih Aranta pelan ,namun Gibran hanya nyengir dan terus melakukan nya
"rumah jadi sepi ya "lirih Ari tiba-tiba ,ia yang tengah berbaring di sofa dengan kepala yang berada di pangkuan Dewi pun menatap satu persatu anggota keluarga nya
"apa mereka sudah sampai?" tanya Ari lagi
Bu Maryam dan yang lain sudah kembali ke kampung dengan diantar mang Ujang supir mereka tadi siang.
"seharusnya sih mereka sudah sampai,tapi kok gak ada yang ngasih kabar " sahut Nuri
Tak beberapa lama ponsel Nuri berdering
"hallo Bu.... assalamualaikum........ Alhamdulillah kalau begitu ,aku khawatir banget tadi ,ya sudah kalau gitu ibu dan yang lain istirahat ya ....iya Bu....iya waalaikum salam "
"gimana?" tanya Rifki
"Alhamdulillah mereka sudah sampai satu jam yang lalu ,katanya lupa ngasih kabar " jawab nya
"syukurlah .....oh iya Gibran,Aranta....setelah ini apa kalian sudah ada niat untuk mencari rumah?" tanya Rifki
"memang nya kenapa pah?" tanya Gibran
"jadi gini,papa dan mertua mu sudah menyiapkan sebuah rumah, rumah itu sebagai hadiah pernikahan kalian" ucap Rifki membuat Gibran dan Aranta saling tatap
"papa harap kalian belum mencari rumah nya " tambah Rifki
"hm....sebenar nya kami belum kefikiran ke sana sih pah" sahut Gibran menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"baguslah kalau begitu rumah itu jadi tidak sia-sia kita beli sebab kalian pun belum berniat membeli rumah,jadi jika kalian sudah mulai siap kalian bisa langsung menempatinya rumah itu " ucap Rifki lagi
"tapi pah...apa itu tidak terlalu berlebihan,pernikahan kami kalian yang atur dan urus semuanya ,masa rumah pun masih kalian yang belikan" keluh Gibran,ia jadi merasa tidak enak
__ADS_1
"tidak apa-apa ,itu adalah bentuk kasih sayang kami pada kalian,pokok nya kalian terima rumah itu kalau tidak kami semua akan merasa kecewa " ucap Nuri yang sudah tahu apa yang ada di benak putra nya itu
"ya sudah baiklah ,tapi kalau untuk pindah seperti nya nanti saja deh ,kita masih ingin di sini " akhirnya Gibran pun menerima rumah tersebut
"ok ,malam sudah larut , seperti nya papa sudah mengantuk,Ari ayo papa bantu ke kamar,kamu harus segera minum obat dan tidur,karena besok jadwal pertama mu pergi terapi " Rifki pun membopong Ari ke lantai atas
Begitu pun dengan yang lain nya juga turut masuk kamar masing-masing.
"sayang ,kamu mau juga gak di gendong seperti itu naik ke kamar kita ?" goda Gibran berbisik
"ih kamu tuh apa an sih ,malu tahu" lirih Aranta
"kalau di rumah baru kita nanti,kamu malu tidak ?"goda nya lagi
"iisshh....diam lah " Aranta pun jadi kesal sendiri sebab dari tadi Gibran terus menggoda nya
Setelah berada di kamar,Gibran langsung mendorong Aranta hingga jatuh ke tempat tidur.
"astaga , Adnan...kamu ...." kejut Aranta ,namun saat ia hendak protes Gibran sudah lebih dulu membungkam mulut nya dengan bibir nya.
"maaf karena tiba-tiba saja aku pengen,kita ke kamar mandi yuk " ajak nya seraya mengusap bibir Aranta yang sudah basah akibat ulah nya, lagi-lagi Aranta jadi gugup dibuat nya
"hah....ngapain ?" tanya Aranta terkejut
"kita bersih-bersih ,dan yang pasti kita wudhu dulu sebelum ......." Gibran sengaja menggantung kalimat nya sebab ia sangat suka melihat wajah Aranta yang memerah
"aku duluan " tiba-tiba Aranta berlari ke kamar mandi dan segera menutup pintu nya sebelum Gibran ikut masuk
ctak'
"loh kok di kunci " tanya Gibran saat ia mendengar suara pintu nya di kunci dari dalam seraya mengulum senyum
"menggemaskan sekali istri ku itu ....ah....istri ....Ya Allah...gak nyangka aku bakal punya istri secepat ini,jauh dari ekspektasi ku " gumam Gibran terkekeh
Ia memang menarget kan akan menikah di usia nya yang sudah benar-benar matang di usia 30 an,namun rupanya takdir berkata lain,tapi bukan berarti Gibran tak bersyukur,ia justru lebih merasa bersyukur sebab ia tak tahu ke depan nya akan seperti apa,bisa saja jika dia terus menahan perasaan demi ego nya itu ,Aranta akan tetap bersabar menunggu nya,dan yang paling ia takut kan jika ada laki-laki lain yang datang lebih dulu meminang nya.Meski ia percaya jodoh sudah ada yang mengatur namun sebagai manusia ia masih punya harapan dan keinginan terhadap sesuatu termasuk keinginan nya berjodoh dengan Aranta.
Tak lama pintu pun terbuka membuyarkan lamunan Gibran.
"sudah ?" tanya Gibran ,Aranta pun mengangguk
"baiklah kalau gitu sekarang giliran ku,oh iya aku punya sesuatu buat mu " Gibran pun beranjak menuju lemari nya dan meraih sesuatu di dalam nya
Sebuah kotak kado yang dibungkus sangat rapih berwarna pink diberikan nya pada Aranta
"buka dan pakai ini" pinta Gibran
"ini apa?" tanya Aranta hendak membuka nya
"eeiitttss....buka nya nanti kalau aku sudah di kamar mandi ,itu hadiah dari Riswan untuk kita " Gibran pun segera berlalu ke kamar mandi sambil menyunggingkan senyum
"hadiah dari Riswan ....apa isi nya " gumam Aranta lalu mulai membuka kado yang masih terbungkus rapih itu
Sementara di dalam kamar mandi Gibran nampak terkekeh saat membayangkan reaksi Aranta setelah melihat isi nya
"hadeuuh....Riswan ....Riswan ....lagu-laguan ngasih hadiah gituan,tahu darimana dia yang seperti itu ,dasar " kekeh Gibran
Riswan memang tak memberi tahu apa isi kado tersebut,namun bukan Gibran namanya jika ia tak tahu apa isi nya.
"sudah lah ,pastinya dia shock melihat nya,mau dipakai atau tidak pun tak masalah " gumam Gibran lalu berjalan menuju tempat khusus berwudhu
Srreeettt.....
Seeeeettttt......
Aranta merobek kertas kado tersebut lalu mulai mencoba kotak kardus itu dengan perlahan khawatir jika akan merusak isi nya.
Namun Aranta langsung melotot melihat isi nya
__ADS_1
"HAH....masa hadiah nya begini ...."
***