
Masih Nuri POV
Di kamar Ari aku duduk dan bersandar pada tempat tidur ,Ari lalu bergerak mendekat ,dengan penuh perhatian anak bungsu ku ini mulai memijit bagian lengan ku
"mama kenapa kok nangis ,apa pijitan ku terlalu kuat ?"tanya nya ketika tak sadar air mata ku membasahi pipi dengan cepat aku pun mengusap nya
"enggak kok ,malah rasa nya jadi ringan ,kamu memang pandai mijitin mama nak " sangkal ku
"tapi kok mama nangis ,apa papa nyakitin mama ,tadi juga papa seperti nya sedih ,kalian gak berantem kan?" tanya nya lagi
"siapa yang berantem ,mama hanya lelah sayang ,biarkan papa bersama kak Gibran dulu , mama pengen bersama Ari " ucap ku lagi
Terlihat sosok kuntilanak merah yang tak lain adalah Lasmi tengah berdiri di depan jendela dengan menundukkan wajah nya ,entah lah kenapa hari ini hantu-hantu yang biasa berisik mendadak menjadi kalem , bang Popo hanya diam di depan pintu ,Wowo dan Wewe pun nampak diam ,apa hantu-hantu itu tengah melakukan aksi mogok bicara ? entahlah aku tak ingin pusing memikirkan mereka ,kembali hati ku merasa perih bak disayat-sayat saat kembali teringat mas Rifki ,Ya Allah...
"hooaaamm......." terlihat Ari menguap beberapa kali
"ngantuk ? ya sudah sini tidur ,mama juga ngantuk " ucap ku seraya merebahkan tubuh ku
Tak lama pun Ari sudah tertidur namun tidak dengan ku ,perlahan aku bergerak dan turun dari tempat tidur ,lalu melangkah ke kamar mandi ,saat aku membuka pintu kamar mandi dua sosok hantu anak kecil nampak sedang bermain boneka karet punya Ari ,kubiarkan mereka tanpa menyapa nya .Kuambil air wudhu lalu beranjak meninggalkan kamar mandi.
Entahlah sejak kapan rumah ini menjadi tempat persinggahan para hantu ,mungkin karena Gibran yang sedari kecil sering membawa hantu pulang untuk diajak main jadinya rumah ini punya daya tarik tersendiri bagi para hantu .
Ku gelar sejadah di dekat tempat tidur Ari ,lalu aku mulai meraih mukena yang memang sengaja aku menyimpan mukena lain di kamar Ari untuk ku ,setelah itu barulah aku berkeluh kesah dan mengadukan apa yang ku rasakan saat ini kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup,dalam diam aku memohon agar dilapangkan hati ku dan di besarkan sabar dalam dada .
"astaghfirullaah halazim..... astaghfirullaahal'aziim...... astaghfirullaah halazim....." aku beristighfar sebanyak mungkin sampai hati ku merasa tenang.
"Ya Allah kuatkan hamba dalam menjalani ujian ini, hamba memang yakin jika suami hamba tak mungkin melakukan itu ,tapi jika pun kebenaran nya seperti itu ,maka kuatkan dan tambahkan hati ku ,besarkan juga hati anak-anak hamba Ya Allah ,... Amiin" aku pun mengusap wajah
Manusia memang tempat nya salah dan dosa ,manusia bisa saja khilaf dan itu pula yang kini ada di benak ku ,bisa saja mas Rifki memang melakukan itu karena khilaf ,dan aku harus menyiapkan hati dan mental ku jika itu benar-benar terjadi .
Dengan hati gamang aku memberanikan diri untuk keluar dari kamar ,tujuan ku dapur ,karena aku merasa haus saat ini,akan tetapi baru saja aku menuruni tangga aku mendengar suara gaduh seperti bertengkar .
Lantas aku pun menuju arah suara itu .
Aku terdiam melihat Gibran yang sudah tersulut emosi terlihat dari urat-urat hijau di wajah nya yang kontras dengan warna putih kulit nya
"papa yakin tidak berbuat mesum dengan nya ?" tanya Gibran
"yakin ,lagipula terakhir papa bertemu dengan nya itu dulu jauh sebelum papa bertemu mama mu itu pun dia yang pergi meninggalkan papa dan kita tak pernah lagi bertemu sampai waktu kemarin kita melihat nya di rumah makan " jawab mas Rifki
Aku mengerutkan kening
"jadi mereka memang pernah ada hubungan di masa lalu" batin ku
"jadi sangat mustahil jika dia mengatakan anak nya itu anak papa " ucap mas Rifki lagi
"tapi Rifki ,aku masih cinta kamu ,kita balik lagi ya,aku rela jadi yang ke dua ,dan Rendi dia memang anak kamu" ucap Wulan kekeuh mengatakan jika Rendi itu anak mas Rifki,aku tak mau lagi meyebut nya dengan kata mbak.
"gila kamu ya ,dari mana asal nya kalau Rendi itu anak ku" seru mas Rifki menghardik Wulan
"tes DNA " ujar Gibran
__ADS_1
"tapi...." sebelum Wulan menyela aku menyela lebih dulu
"Gibran benar ,kita lakukan tes DNA dengan begitu kita bisa tahu Rendi anak mas Rifki atau bukan " sambung ku akhir nya
"sayang ....aku berani bersumpah aku tak pernah mengkhianati kamu , apalagi sampai memiliki anak dari perempuan lain, senakal-nakal nya aku waktu dulu aku tak akan sampai melakukan hal yang hina seperti itu ,kamu percaya kan sama aku ?" ucap mas Rifki meraih kedua tangan ku
"maka dari itu kita lakukan tes DNA,agar kita tahu siapa yang benar dan siapa yang salah" ucap ku lagi
"aku yakin karena aku masih mencintai Rifki, maka apa pun yang terjadi Rendi adalah anak kandung nya " ucap Wulan tanpa merasa bersalah pada ku ,ia bahkan bersedekap d*da melihat ku dengan tatapan mengejek
"dan mas Rifki,apa mas masih mencintai perempuan itu ?" tunjuk ku
"tidak sama sekali semenjak dia meninggalkan ku , untuk saat ini dan seterusnya rasa cinta ku hanya untuk mu seorang " jawab mas Rifki mencium kening ku
"Rifki ...kamu lupa dengan janji yang pernah kamu ucap kan dulu ,kamu pernah bilang kan akan selalu mencintai aku ,kamu mau mengingkari janji mu begitu saja ?" seru Wulan nampak kesal melihat kami
"aku ingkar janji? bukan nya kamu duluan yang sudah mengingkari janji mu sendiri ,janji ku akan berlaku jika kamu tak lebih dulu yang ingkar " ucap mas Rifki
"tapi aku melakukan itu karena terpaksa ,orang tua ku yang meminta ku untuk menikah dengan Wiliam ,bukan keinginan ku " seru Wulan dengan alibi nya
"bukan keinginan mu ?tak salah kah ucapan mu itu ,bahkan aku sendiri yang mendengar obrolan mu dan kedua orangtua mu ,kamu mendekati ku hanya karena kamu melihat status ku ,setelah ada yang lebih kaya dan sukses dari ku kamu meninggal kan ku ,tapi saat itu aku sadar aku yang masih belum apa-apa ,usahaku juga masih di bawah, gedung perusahaan pun masih nyewa , aku pun mundur karena aku sadar siapa kamu dan keluarga mu itu ,dan kini kamu kembali dan berharap lagi kembali pada ku setelah melihat aku yang sekarang ,tak peduli jika aku sudah berkeluarga ,dasar gila " umpat mas Rifki pada Wulan
"tapi aku sedikit terkejut sih sebenarnya saat mengetahui suami mu bukan lah Wiliam ,tapi laki-laki lain yang tempramen nya buruk " ucap mas Rifki lagi
"Rifki ....dengarkan penjelasan ku ,aku masih sangat mencintai mu ,aku ..."
"diam di tempat mu ,atau kamu rasakan sediri akibat nya jika kamu berani mendekat apalagi menyentuh suami ku " seru ku dengan sedikit mengancam nya
"seandainya saja kamu tahu apa yang dulu pernah kami lakukan bersama " ucap nya
"tapi berkat masa lalu itu kini tercipta Rendi ,jadi ...."
"cukup Bu Wulan ....dari tadi aku diam bukan tak berani ,tapi aku masih menghormati mu sebagai orang yang lebih tua dari ku ,tapi aku tak bisa diam saja melihat mama ku tersakiti, sekarang juga kita lakukan tes DNA ,aku sudah mendapatkan rambut Rendi ,sebentar lagi pihak rumah sakit akan datang membawa sampel nya , dan untuk ibu ,sementara ini tinggal lah di kamar tamu ,jangan kembali ke rumah belakang ,dan ini... ponsel ini aku sita " entah bagaimana cara nya ponsel wanita itu sudah berpindah tangan pada Gibran ,bahkan ternyata diam-diam Gibran berhasil mendapatkan sample rambut Rendi ,aku benar-benar kagum pada putra ku .
"b..bagaimana bisa ponsel ku "
"sekarang Bu Wulan ikutlah dengan ku ,jangan pernah keluar dari kamar ,kamar mandi sudah ada di dalam nya ,untuk makan pun aku sendiri yang akan menyiapkan nya ,jadi ibu ikuti saja permainan ibu sendiri " ucap Gibran lagi
"dasar bocah ,kamu mau mengurungku ,begitu?"
"ya ,untuk antisipasi ,orang jahat cenderung akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang di mau ,termasuk menyabotase hasil tes DNA,jadi untuk mencegah Bu Wulan berbuat curang lebih baik Bu Wulan ku kurung " ucap Gibran lagi
"terserah ,apapun yang kalian lakukan meskipun aku dikurung pun hasil nya akan tetap sama ,yaitu Rendi anak kandung Rifki " ucap nya dengan percaya diri
Ya Allah melihat nya berbicara dengan percaya diri seperti itu sebenarnya sudah menciutkan hati ku , apa mungkin mas Rifki memang ayah kandung Rendi ,hatiku kembali gamang
"tutup mulut mu ,sekarang juga cepat masuk kamar ,dan jangan keluar sampai hasil tesnya keluar " ucap mas Rifki
"baiklah , tapi nanti kamu janji ya untuk datang ke kamar ku , aku akan memuaskan mu seperti dulu " ucap nya seraya memasang wajah genit
Ya Allah...
__ADS_1
"jaga ucapan mu ,kapan kita pernah melakukan nya ,dalam mimpi ku pun aku tak mau melakukan nya ,dasar gila " mas Rifki kembali mengumpat
"hahaha....ok baiklah sayang aku ke kamar dulu ,jaga anak kita ok " ucap nya seraya pergi menuju salah satu kamar tamu
ctak'
Gibran dengan cepat mengunci pintu nya
"sayang ... please percaya lah pada ku " lirih mas Rifki menatap ku
Aku tak menyahut nya ,tapi malah berbalik dan beranjak menuju kamar ku
"sayang......" panggil mas Rifki ,suara nya terdengar putus asa ,namun aku sama sekali tak menghiraukan nya
Saat hendak menaiki tangga terdengar pintu di ketuk dari luar ,terlihat mbok Marni berlari untuk membuka kan pintu .
Tak lama kemudian Gibran memberi tahu ku jika petugas rumah sakit sudah datang untuk menjemput sample rambut,entah bagaimana caranya Gibran sampai bisa memanggil petugas rumah sakit ,yang jelas aku sungguh terharu dengan apa yang ia lakukan untuk keluarga ini. Aku yang tadinya hendak pergi ke kamar pun mengurungkan niat ku
Setelah petugas rumah sakit itu pergi Riswan datang .
"assalammualaikum....ma....pa....itu tadi sepertinya dari rumah sakit ,memang siapa yang sakit ma,pa..." tanya Riswan
"waalaikum salam ....iya nak petugas rumah sakit itu datang untuk membawa sample rambut untuk dilakukan tes DNA" sahut ku
"tes DNA ?" kening nya berkerut
"mama ke kamar dulu ya ,mau istirahat " ucap ku lalu segera beranjak ,terdengar Riswan bertanya pada mas Rifki dan Gibran namun keduanya nampak bingung mau menceritakan nya ,hingga akhir nya aku melihat Gibran membawa Riswan pergi.
Melihat itu aku pun buru-buru melangkahkan kaki ku saat melihat mas Rifki hendak menyusul ku .
**
Kumandang adzan isya terdengar syahdu di telinga , aku pun bergegas ke kamar mandi untuk melakukan wudhu ,begitupun dengan mas Rifki ,dari tadi mas Rifki mencoba berbicara pada ku namun hati ku yang kalut membuat ku enggan untuk menanggapi,maafkan aku ,bukan nya aku mau jadi istri durhaka yang mengabaikan suami nya , tapi hati ku benar-benar sakit saat ini .
Selesai shalat aku pun merebahkan tubuh ku di tempat tidur lalu memejamkan mata.
"sayang ,makan dulu yuk ,kamu pasti lapar " ajak mas Rifki
"aku gak berselera makan mas ,mas aja yang makan temani anak-anak " sahut ku
"sayang ,aku berani sumpah demi Allah demi Rasulullah,aku bukan lah ayah kandung Rendi ,kamu percaya ya sama aku ,aku mencintai mu tulus tak pernah terpikirkan di benak ku untuk mengkhianati mu " ucap mas Rifki , ku tatap mata nya untuk mencari kejujuran memang tak ada kebohongan di sana ,aku pun berucap
"kenapa mas gak pernah bilang dari awal kalau wanita itu adalah sebagian masa lalu mu?" lirih ku
"maafkan aku sayang ,aku takut kamu marah, aku memang berencana untuk memberi tahu mu setelah dia pergi ,tapi di luar dugaan dia malah memfitnah ku "
"ya sudah kalau begitu ceritakan seperti apa hubungan mu dengan nya dulu " pinta ku
"kamu yakin sayang ?" tanya mas Rifki
"iya "
__ADS_1
"baiklah, jadi .......
***