The INDIGO

The INDIGO
Hilang ingatan


__ADS_3

Ke esokan harinya


Sambil sarapan Ari memberitahu semuanya jika semalam Yoga sudah sadar,Ari pun langsung mengutarakan keinginannya untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat Yoga.


"tapi papa hari ini sibuk banget sayang ,kakak dan mama mu juga gak mungkin bisa mengantar mu" ucap Rifki


"kalau gitu aku saja yang mengantar Ari ke rumah sakit" ucap Ifel


"beneran om?" tanya Ari antusias


"iya " sahut Ifel


"memang nya gak apa-apa kalau kamu ngantar Ari ?" tanya Rifki pada Ifel


"tentu saja tidak kak " sahut Ifel


"bang,kalau Abang pergi lalu Ariq bagaimana ?" tanya Desi ,ia akan pergi ikut dengan Nuri ke hotel untuk melihat persiapan resepsi nanti ,karena resepsi akan di gelar satu hari setelah akad


"biar Ariq bersama ibu saja " ucap Dewi


"apa gak merepotkan kan Bu?" tanya Ifel tak enak


"tidak kok , lagipula Ariq anak yang baik ya kan sayang " ucap Dewi melirik pada Ariq yang tengah sibuk mengunyah makanan


"ya sudah ,kalau begitu kalian hati-hati ,mang Ujang akan mengantar kalian" ucap Nuri


Sementara yang lain pergi ,Gibran merasa bosan karena tak ada yang bisa ia lakukan,ponsel nya pun sudah di sita oleh Nuri,jika belum mungkin ia akan menghubungi Aranta.


Gibran pun memutuskan untuk mengambil air wudhu dan mengaji.


Di kamar nya Aranta pun tengah melakukan beberapa serangkaian perawatan tubuh, seperti spa dan pijit ,juga luluran ,itu semua Nuri yang mengatur na.


Sementara pak Maman dan Bu Maryam , pasangan suami istri itu sibuk di halaman belakang bersama para pembantu.


Sedangkan Febry ,pemuda itu malah sibuk tebar pesona saat beberapa gadis melewati rumah itu ,Febry bahkan sampai berpura-pura memotong rumput,bang Popo yang duduk di tembok pagar pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekonyolan adik teman manusia nya itu.


Sementara itu Ari dan Ifel yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pun tiba-tiba kejebak macet.


Suara klakson kendaraan pun saling bersahutan,hawa panas ,debu , dan asap yang berasal dari knalpot kendaraan pun mencemari udara ,beruntung mobil yang Ari tumpangi menggunakan AC dan udara dari luar tak bisa bebas masuk.


"ck...kenapa malah macet sih ,tumbenan banget deh ,biasa nya juga gak pernah macet di jalan ini" decak Ari merasa bosan dan ingin segera sampai di rumah sakit


"iya kah ,mana lama banget lagi " timpal Ifel


"coba kalau aku bisa jalan, pasti aku sudah keluar dan jalan kaki menuju rumah sakit " ucap Ari ,karena jarak dari tempat nya kejebak macet ke rumah sakit juga tak begitu jauh juga tak begitu dekat juga ,bahkan gedung rumah sakit yang menjulang tinggi tersebut sudah terlihat jelas oleh nya


"sabar saja ,orang sabar di sayang Tuhan " ucap Ifel


"kirain om mau bilang orang sabar pantat nya lebar " cetus Ari


"iya kah orang sabar pantat nya lebar? baru denger aku " tanya Ifel


"hm...itu hanya candaan kok" ucap Ari seraya melihat ke luar jendela


"oh gitu " Ifel nampak manggut-manggut


Cukup lama Ari menunggu ,ia pun sampai kesal di buat nya ,apalagi suara bising dari klakson-klakson membuat kepala nya ingin meledak,namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menunggu.


Ifel nya melihat wajah sedih keponakan nya pun merasa tak tega, akhirnya ia keluar dari dalam mobil dan meraih kursi roda di bagasi.


Pintu sebelah Ari terbuka,Ari pun menatap bingung pada om nya.


"kenapa om?" tanya nya


"ayo ,kita jalan kaki saja,kata mu sudah dekat kan" ajak Ifel


"om yakin ?" tanya Ari


"yakin dong ,ayo nanti om yang dorongin kursi roda nya " ajak Ifel lagi


"baiklah ,...mang Ujang nanti mamang langsung saja ke rumah sakit ya ,aku mau jalan kaki saja ,eh om Ifel yang jalan kaki kan aku hanya duduk di kursi roda" cengir nya pada mang Ujang ,supir nya


"iya non , hati-hati " sahut mang Ujang ,ia tak mungkin melarang sebab ia merasa sungkan.


bruugh'


Pintu mobil pun di tutup oleh Ifel,kini Ari sudah duduk manis di kursi roda dengan sebuah topi yang Ifel temukan di bagasi mobil itu tadi.


"maaf ya om ,jadi merepotkan" lirih Ari


"tak apa-apa ,sudah lah jangan banyak bicara ,sekarang tunjukan pada om kita harus jalan kemana ,om kan gak tahu jalan " ucap Ifel


"baiklah kita lurus saja ikutin jalan ini ,nanti di depan ada JPO kita nyebrang lewat JPO saja biar lebih cepat " tutur Ari

__ADS_1


"baiklah ,mari kita let's go...." teriak Ifel lalu dengan semangatnya mendorong kursi roda yang di duduki Ari


Setengah perjalanan Ifel sudah mengeluh


"ini...dimana rumah sakit nya kenapa gak sampai-sampai ?" tanya Ifel


"kan aku sudah nanya om yakin gak ?" tanya Ari


"kan kamu tadi juga yang bilang rumah sakit nya sudah dekat " ucap Ifel dengan keringat yang sudah bercucuran


"ya kan itu cuman kiasan doang om hehehe...." Ari tersenyum meringis


"oh ya ampun ...." Ifel pun sudah merasa lemas ,pasal nya ia sudah sangat jauh berjalan,hingga sampai lah mereka di atas JPO Ifel pun duduk beristirahat di sana.


Ia dapat melihat betapa parah nya macet di bawah nya.


"memang nya jalan ini tak pernah macet ya sebelum nya ?" tanya Ifel pada Ari


"tidak om ,malah jalan ini jalan yang paling lancar meski padat kendaraan,tapi sekarang entahlah ,mungkin terjadi sesuatu di depan sana" tutur Ari


"oh gitu ,ya sudah yuk kita lanjut" Ifel pun beranjak kembali meraih pegangan kursi roda ,lalu kembali mendorong nya


Beruntung di JPO tersebut sudah di fasilitasi untuk pengguna kursi roda ,jadi tak menyusahkan Ifel saat membawa Ari ke JPO tersebut.


Sekitar dua puluh menit kemudian mereka pun sampai di depan rumah sakit,sebelum memasuki rumah sakit petugas rumah sakit seperti security memeriksa suhu tubuh dan juga menyarankan Ifel mau pun Ari melakukan prokes terlebih dahulu.


Setelah nya mereka pun di izinkan untuk masuk.


Ruangan demi ruangan Ari lewati,hingga sampailah Ari di depan ruangan Yoga,sungguh hati nya saat ini sangat senang ,ia tak sabar ingin melihat Yoga,jantung nya pun sampai berdetak lebih cepat dari biasa nya.


"Yoga ... aku datang " lirih Ari dalam hati


"ini ruangan nya ?" tanya Ifel


"iya om " sahut Ari


Ifel pun segera mengetuk pintu namun tak lama kemudian suster datang dan memberi tahu kan jika Yoga sudah pindah ruangan.


"jadi di ruangan mana teman saya di rawat suster?" tanya Ari


"di kamar Bougenville lantai lima " sahut suster tersebut


"baiklah ,terima kasih suster " ucap Ari


"iya ,om "


"haduh naik tangga lagi,..." lirih Ifel mengeluh


"siapa bilang naik tangga ,itu ada lift emang nya guna nya buat apa?" tanya Ari menujuk sebuah lift


"ah iya ya ....duh, ada air mineral gak,mungkin om lelah ,jadi gak fokus " ucap Ifel


"ada di kantin,nanti om pergi saja ke kantin di lantai satu " ucap Ari


"ah enggak kok ,om hanya bercanda " sahut Ifel cepat ,dalam hati nya ia berkata


"buset udah jauh-jauh ke lantai lima, mesti balik lagi ke lantai satu ,lebih baik enggak sama sekali "


Ari dan Ifel pun menggunakan lift untuk naik ke lantai lima.


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di lantai lima ,dan segera mencari kamar yang di maksud.


Karena tak ingin repot mencari ,Ari pun menanyakan pada perawat yang ia temui


"suster maaf ,kamar Bougenville sebelah mana ya sus?" tanya Ari


"oh Bougenville, mbak dan mas nya lurus saja ,nanti di depan belok kiri nah di sana kamar nya " tutur suster itu


"maaf kalau boleh saya tahu mbak nya mau jenguk pasien atas nama siapa ya ,soal nya kamar Bougenville itu ada beberapa" tanya suster itu


"Yoga,...Yogaswara " jawab Ari


"oh ,kalau pasien bernama Yogaswara berada di kamar paling kiri ya mbak" ucap suster itu memberi tahu


"iya baiklah suster ,terima kasih " ucap Ari


Setelah suster berlalu Ari dan Ifel pun bergegas menuju ruangan kamar itu.


tok tok tok


Ifel membantu mengetuk pintu ,lalu tak lama kemudian pintu terbuka ,memperlihatkan Bu Nur Aini.


"assalamualaikum Tante " sapa Ari

__ADS_1


"waalaikum salam ,Ari...." Bu Nur Aini segera memeluk Ari ,nampak tubuh nya bergetar menahan isakan


Ari yang menyadari gelagat Bu Nur Aini pun lantas bertanya


"kenapa Tante ,ada apa?" tanya Ari


"Yoga... Yoga amnesia "lirih Bu Nur Aini


Deg


"a..apa...amnesia...." kejut Ari


"iya ,ayo masuklah " ajak Bu Nur Aini


Ifel pun mendorong Ari menuju ke dekat Yoga


Yoga nampak terdiam dengan tatapan bingung melihat kedatangan Ari.


"Yoga....." lirih Ari


"kamu siapa ,apa kamu mengenal ku sebelum nya " tanya Yoga


Tak ada jawaban dari Ari,hati nya perih saat mengetahui jika Yoga telah melupakan nya.


"Yoga,dia Ari ,teman mu " lirih Bu Nur Aini


"teman ku ?" kening Yoga berkerut


Tak ada kata yang terucap dari mulut Ari ,ia tak kuasa menahan tangis ,hingga air mata nya pun keluar begitu saja.


"hey....kamu kenapa malah nangis ,dasar aneh " seru Yoga


"kamu benar-benar lupa padaku ?" tanya Ari lirih ,tak ada jawaban dari Yoga


"kamu juga lupa kata-kata terakhir yang kamu ucapkan padaku sebelum kamu tak sadarkan diri?" tanya Ari lagi ,Yoga masih nampak terdiam


"apa memang nya ?" tanya Yoga


"percuma aku katakan ,kamu nya saja tak mengingat nya , aku harap tanpa aku beri tahu ,kamu sendiri lah yang akan mengingat nya " lirih Ari lagi


Namun Yoga tiba-tiba saja berteriak sambil mencengkram rambut nya kuat.


"aaakkkhhh......pergi.... pergi..." teriak nya histeris mengusir Ari


Ari tersentak , ia sangat terkejut ketika Yoga tiba-tiba saja bereaksi seperti itu.


"Yoga....kenapa dengan mu ,ini aku Ari ,kau sama sekali tak mengingat ku hah , tega-teganya kamu malah mengusir ku,apa salah ku Yoga ,kenapa kamu melupakan ku?" teriak Ari seraya menangis tersedu-sedu


"DIAAAMMM..... AKU BILANG PERGI....KEPALA KU SAKIT...PERGI...." bentak Yoga


"Yoga...tenang kan diri kamu nak" ucap Bu Nur Aini mengusap-usap punggung Yoga seraya memencet tombol darurat di dekat tempat tidur Yoga


Tak lama dokter dan perawat pun datang ,mereka diminta untuk keluar.


"Ari lebih baik kamu pulang dulu ya , Yoga belum pulih ,bukan hanya kamu yang ia lupakan ,tapi Tante juga ,dia lupa semuanya ,maafkan Yoga karena ia tadi membentak mu ya ,dia tak sadar dengan apa yang ia lakukan " lirih Bu Nur Aini setelah mereka berada di luar


"iya Tante,aku sedih bukan karena Yoga membentak ku ,tapi karena dia sudah melupakan ku Tante " tangis Ari pun pecah ,Bu Nur Aini tak tega ia pun memeluk Ari seraya mengusap kepala nya


"kamu yang sabar ya sayang , kita berdoa saja ,semoga amnesia Yoga hanya sementara " lirih Bu Nur Aini


"hiks...iya Tante " sahut Ari


"kamu pulang ya , istirahat dan minum obat ,kamu fokus saja pada penyembuhan kaki mu ,jangan fikirkan Yoga,biar dia Tante yang urus , meskipun Yoga tak dapat mengingat mu dalam jangka waktu panjang ,Tante akan selalu mengingatkan dan menceritakan tentang mu,siapa tahu dengan begitu,perlahan ingatan Yoga kembali" ucap Bu Nur Aini lagi


"baiklah Tante ,aku pulang" dengan berat hati Ari pun pulang bersama Ifel sebab tetap berada di sana pun hanya akan membuat Yoga kesakitan jika kembali melihat nya.


Tak ada satu kata apa pun terucap dari Ari,selama perjalanan ia hanya menangis dalam diam,sungguh hati nya terasa sakit dan sesak secara bersamaan.


Ifel yang melihat keponakan nya seperti itu pun tak dapat berkata-kata,ia turut sedih melihat nya.


Sesampainya di rumah ,rupanya Nuri sudah pulang ,Ari pun lantas memeluk erat Nuri dengan tersedu.


"ada apa nak ,kenapa pulang-pulang malah menangis begini ?" tanya Nuri menatap Ifel seakan meminta kejelasan tentang apa yang terjadi pada putri nya itu


"teman nya sudah sadar dari koma nya ,tapi dia lupa dengan Ari juga dengan semuanya " jelas Ifel


"apa.... Yoga amnesia?" tanya Nuri terkejut


"huuuhhuuu....iya ma ... Yoga sudah melupakan ku " ucap Ari tersedu


"sayang.... apa kau mencintai nya ?" tanya Nuri tiba-tiba,membuat Ari yang tengah menangis pun menghentikan tangisan nya dan sontak menatap wajah Nuri


"aku......."

__ADS_1


***


__ADS_2