
Di halaman belakang rumah
"kapan wacana keberangkatan mu ke luar kota di umum kan? kenapa kamu tak pernah mengatakan apa pun?" tanya Gibran
Saat ini mereka tengah duduk di kursi menghadap ke kolam tempat ikan-ikan kecil yang sering digunakan untuk terapi.
"saat aku pergi menemui dosen beberapa waktu lalu bersama mu ,karena masih belum pasti kapan berangkat nya aku belum mengatakan pada mu ,rencana nya setelah wisuda aku akan memberi tahu mu" jawab Aranta
"tapi jika kita tetap menikah sebelum wisuda apa kamu tetap ingin pergi ke luar kota?" tanya Gibran
"itu kan sudah menjadi tugas ku ,kemanapun aku nanti di tugaskan aku harus pergi ,meski ke desa terpencil sekali pun" jawab Aranta tak ada keraguan
Baginya mau sejauh apa pun ia pergi dan selama apa pun mereka terpisah kalau mereka sudah ditakdirkan berjodoh pasti akan ada jalan untuk bersama,namun jika memang takdir berkata lain,ia pun harus berusaha berbesar hati menerima kenyataan.
"kalau kamu pergi bagaimana dengan ku,bagaimana jika ada perempuan lain yang mendekati ku atau menjadi dekat dengan ku?" tanya Gibran mulai gelisah sendiri
"lalu bagaimana dengan mu ,bagaimana kalau ada laki-laki lain yang mencoba mendekati mu ,dan kamu akan tertarik pada nya ?" tambah Gibran membuat Aranta tertawa kecil
"kenapa malah tertawa ,apa pertanyaan ku ada yang lucu?" tanya Gibran
"semua itu tergantung pada niat diri kita sendiri ,kalau niat nya selingkuh ya pasti selingkuh itu akan ada begitu pun sebaliknya" ujar Aranta
"lagipula kesuksesan sebuah hubungan itu juga terjalin karena adanya saling percaya,aku percaya kamu tak akan berpaling dari ku selama aku tak ada ,begitu pun kamu ,juga harus percaya pada ku" tambah Aranta
"kamu mau menikah dengan ku?" tanya Gibran tiba-tiba
"hah..."
bukan nya menyahut ,Aranta malah terbengong
"aku tanya ,kamu mau tidak menikah dengan ku?" tanya Gibran lagi
"hm...."
"baiklah kalau begitu keputusan nya ,ayo kita temui orang tua kita " ajak Gibran seraya berdiri
"keputusan apa ?" bingung Aranta
"nanti kamu tahu sendiri ,ayok" ajak Gibran lagi
Aranta pun mengikuti Gibran menghampiri kedua orang tua mereka
"jadi bagaimana keputusan nya?" tanya Seno
"kami ikut keputusan kalian " jawab Gibran ,membuat mereka saling lempar pandang,termasuk Ara yang juga langsung menoleh pada Gibran
"maksud nya kalian setuju menikah bulan depan?" seru Nuri
"iya ma..." Gibran menjawab dengan yakin ,sementara Aranta,gadis itu tak bisa berkata-kata ,ia hanya bisa menatap Adnan.
"okelah kalau begitu kita siapkan segala sesuatu nya mulai dari sekarang "seru Seno yang paling bersemangat
"hah....me...me..menikah" gumam Aranta tergugu
"kau itu semangat sekali hah ,siapa yang mau nikah siapa yang semangat! " seru Rifki pada sahabat nya itu
"hehehe....aku tuh seneng banget tahu gak akhirnya cita-cita aku untuk bisa besanan dengan mu terwujud" jawab Seno cengengesan
"sejak kapan kau bercita-cita seperti itu?" selidik Rifki
"hm...sejak aku lihat Gibran bayi ,sejak saat itu aku berharap bisa punya anak perempuan ,tapi mengingat keyakinan kita yang berbeda saat itu membuat ku mengubur cita-cita ku , tapi sekarang aku senang karena apa yang aku harapkan akan terwujud" tutur Seno lagi
"astaga jadi kepindahan keyakinan mu dan keluarga mu itu untuk melancarkan keinginan mu itu ?" tuduh Rifki
"ya enggak lah ,itu sih diluar skenario aku " jawab Seno cepat
"kami benar-benar tulus ingin berpindah keyakinan om , aku sendiri yang mengusulkan nya pada mama dan papa agar jadi mualaf ,dan aku sama sekali tidak tahu kalau papa...."
"iya om mengerti kok ,maaf sudah membuat mu berfikir kalau om menuduh ,maaf juga tadi om hanya bercanda " potong Rifki
"jadi kamu tak marah nih?" tanya Seno
"ya enggak lah ,ngapain mesti marah, gak jelas banget ,ya sudah kalau gitu kalian berdua persiapkan diri kalian masing-masing , jaga kesehatan dengan makan makanan yang bergizi ,tidur yang cukup ,dan jangan banyak fikiran apa pun ,karena semua persiapan akan kita yang urus" seru Rifki melirik pada Gibran dan Aranta
"tapi pa...."
__ADS_1
"sudah lah nak , nurut saja pada papa mu ini" ucap Nuri
"baiklah ,yuk Aranta kita ke kamar saja " ucap Gibran tiba-tiba
"HAH....APA?" seru Aranta terkejut ,begitu pun dengan yang lain
"dasar anak nakal ,udah gak sabaran saja ,belum muhrim " seru Dewi yang tiba-tiba menjewer telinga cucu nya
"aduh...aduh ...nenek ,maksud aku ke kamar masing-masing ,maaf aku salah bicara tadi " pekik Gibran
"oh nenek fikir ,kamu sih bicara gak jelas begitu " decak Dewi lagi langsung melepaskan jeweran nya
"yah ...nenek sakit...ma..... " rengek Gibran pada Nuri
"astaga Gibran jaga sikap mu " bisik Nuri
"eh iya maaf ...lupa " ringis Gibran
Seno dan Thalia dibuat melongo akan sikap Gibran yang manja seperti tadi ,tapi tidak dengan Aranta yang sudah mengetahui nya.
"astaga gak nyangka aku ,Gibran bisa bersikap seperti itu...." batin Seno hampir sama dengan Thalia
"hm...kalau begitu kami semua pamit ya " ucap Aranta meminta izin untuk kembali ke rumah di belakang
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam...."
Sementara itu Ari yang hendak pulang pun dibuat terkejut akan sebuah bayangan di cermin ,Ari pun segera memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang berdiri di belakang nya.
"kamu kenapa?" tanya Yoga
"ta...tadi.....ah...sepertinya aku hanya salah lihat" jawab Ari
"memangnya kamu lihat apa?' tanyanya lagi
"entahlah aku sendiri juga tidak mengenal nya ,tapi aku merasa dia mirip dengan mu" tutur Ari
"mirip dengan ku? siapa?" tanya Yoga lagi
Mereka saat ini masih berada di tempat mama nya Yoga jualan
"hm... ini juga kami mau pulang kok Tante " sahut Ari
"nanti kapan-kapan kamu datang lah lagi ke sini ya , tenang saja Tante akan kasih diskon kalau kamu belanja di sini" tutur Bu Nur Aini pada Ari
"wah...jadi tak enak nih ,tapi terima kasih deh ,nanti aku ajak mama aku juga buat belanja di sini " ucap Ari
"aku pulang ya Tante , assalamualaikum" Ari pun pergi setelah menyalimi tangan beliau
"waalaikum salam ...."
Saat sudah di parkiran Yoga membuka pesan yang masuk ke ponsel nya
"cepat utarakan perasaan mu , sebelum keduluan laki-laki lain ,mama sangat menyukai nya ,jangan sampai ada yang menikung" begitu lah pesan yang dikirim mama nya pada Yoga.
Yoga hanya tersenyum miring membaca isi pesan nya
"kenapa kamu senyum-senyum gitu ,aaahh...aku tahu kamu pasti dapat pesan dari cewek yang kamu suka itu kan? goda Ari seraya tersenyum
"apa sih ,bukan dari siapa-siapa kok" sangkal Yoga cepat
"lagian cewek mana yang aku sukai ,kan kamu yang ku sukai " lanjut Yoga pelan ,namun Ari masih bisa mendengar nya meski tak cukup jelas
"hah ,kamu bilang apa tadi ?" tanya Ari membuat Yoga gelagapan
"m...bukan apa-apa , huuuuh....aku hanya mau nawarin kamu itu tuh ,es lilin,kamu mau gak?" sahut Yoga ngasal ,beruntung di sana ada penjual es lilin ,jadi bisa dijadikan pengalihan.
"hm...boleh deh " jawab Ari
Yoga pun melajukan mobil nya untuk menuju ke tempat penjual es lilin tersebut ,karena letak nya ada di sebrang, maka Yoga harus memutar arah dulu.
"kamu tunggu saja di sini ,biar aku yang belikan " ucap Yoga lalu keluar dari mobil nya tanpa mendengar jawaban dari Ari
Saat Ari tengah menunggu ,Ari tak sengaja melihat pada spion kecil di atas nya
__ADS_1
"hah... astaghfirullah" Ari kemudian menengok ke belakang ,namun tak ada siapa pun
"kenapa mirip banget dengan Yoga,apa jangan-jangan.....tidak mungkin" Ari menutup mulut nya seraya menggeleng pelan
"aku harus bilang pada kakak" lirih Ari
Ia sangat yakin sosok laki-laki yang tadi di lihat nya sama persis dengan sosok yang ia lihat di pusat perbelanjaan.
"maaf lama nunggu nya ya,ngantri banget ternyata" ucap Yoga seraya membawa satu es lilin rasa vanilla
"kok cuman satu ,kamu enggak ?" tanya Ari
"aku kan lagi nyetir ,gimana makan nya coba " sahut Yoga seraya memberikan es lilin itu pada Ari
"iya juga ya..." sahut Ari ,kemudian gadis itu kembali melirik pada spion di atas nya ,lagi sosok laki-laki itu terlihat tengah tersenyum pada nya
Cepat-cepat Ari pun menunduk
"kamu kenapa ?" tanya Yoga yang bisa melihat kegelisahan pada gadis di samping nya
"eng...nggak kenapa-kenapa kok " sahut Ari sedikit tergagap
"gak kenapa-kenapa kok kamu seperti takut gitu " tutur Yoga lagi
"beneran aku gak apa-apa,ya sudah ayo jalan " ucap Ari yang ingin segera tiba dirumahnya dan menceritakan tentang sosok laki-laki paruh baya yang ia lihat.
Yoga pun menghidupkan mesin mobil nya lalu menjalankan mobil nya tersebut menuju rumah kediaman Ari.
Sepanjang perjalanan Ari terus saja melirik pada kaca di atas nya ,kini tak hanya sosok laki-laki paruh baya itu saja namun sosok Lasmi pun turut duduk di samping pria paruh baya tersebut.
"semoga Tante Lasmi bisa ngajak ngobrol sosok itu" batin Ari
"kok gak dimakan ,udah hampir mencair tuh es nya ,kamu gak suka?"tanya Yoga saat melihat Ari belum memakan es lilin itu
"oh iya...maaf aku lupa ,aku suka kok ,apalagi ini rasa nya vanila ,rasa kesukaan ku " sahut Ari lalu mulai mengemut es lilin nya
"apa kau mau ?" tawar Ari seraya menyodorkan es itu pada Yoga yang tengah menyetir
"emang nya boleh?" tanya Yoga santai
"ya tentu boleh lah, kan kamu yang beliin,masa aku pelitin sih" decak Ari
"ya sudah mana aku minta " sahut Yoga sedikit mengarahkan kepala nya pada Ari dengan pandangan tetap ke depan
Yoga tercenung saat es itu benar-benar mendarat di mulut nya ,ia tak menyangka jika Ari benar-benar memberikan nya,dan hal yang membuat nya lebih melongo lagi saat Ari kembali memakan es lilin itu.
"eh aku kira kamu udah makan nya ,makanya kamu tawarin ke aku ,tahu nya belum ya "ucap Yoga
"kenapa memang nya ?" tanya Ari polos
"kamu gak jijik gitu ,atau kamu gak takut kalau aku punya penyakit apa gitu terus nular ke kamu ?" tanya Yoga lagi
"gak lah ,aku percaya kamu sehat , buktinya kamu subur begini" celetuk Ari
"justru yang gendut seperti aku ini yang rentan terkena penyakit" lirih Yoga
"hm... kalau gitu kenapa kamu gak diet aja ,biar gak rentan kena sakit" usul Ari
"boleh juga tuh ,eh tapi ...ada satu yang aku mau tahu sebenarnya tentang kamu,boleh aku nanya ?" tanya Yoga ragu
"boleh ,nanya apa?"tanya Ari
"sebenarnya tipe cowok yang kamu suka tuh yang seperti apa ,apa yang tampan terus berbadan atletis, atau sebaliknya,jangan salah faham ,aku nanya seperti itu karena aku bingung saja ,karena kamu sering kali gonta-ganti pacar?" tanya Yoga
"gak juga ,aku tuh untuk saat ini hanya ingin menikmati masa muda ku saja , masalah gonta-ganti pacar sebenarnya itu bukan kemauan ku,mereka nya saja yang suka ngejar-ngejar aku ,karena aku tak mau pusing dengan cara mereka ngejar-ngejar aku ya aku terima saja ,kalau pun aku putusin itu juga karena mereka sendiri ,siapa suruh mereka berlaku tak sopan pada ku ,belum apa-apa udah minta cium dan lain nya ,kan aku takut ,ya udah aku putusin saja mereka " tutur Ari panjang lebar , hal itu pun menjadikan perasaan Yoga menjadi tenang ,sebab ia merasa Ari masih belum tersentuh meski hanya di bibir.
Tak beberapa lama mereka pun sampai ,Ari turun dari mobil dan Yoga pun langsung pamit untuk pulang ke rumah nya .
"assalamualaikum....." teriak Ari langsung berlari menuju kamar kakak nya
"perasaan tadi ada suara Ari ,mana anak nya ?" gumam Nuri yang langsung menuju ruang depan saat mendengar suara Ari ,namun begitu ia sampai tak ada siapa pun
Sesampainya di depan kamar Gibran ,Ari tak mengetuk pintu,ia langsung masuk begitu saja
"kakak....aaakkkhhh....."
__ADS_1
***