The INDIGO

The INDIGO
Mengunjungi Yoga


__ADS_3

Seperti kebiasaan Dewi jika Ari tak ada,perempuan yang sudah tak muda lagi itu memasuki kamar Ari ,bukan tanpa alasan ia hendak memberi makan Santi,kucing kesayangan Ari.


Namun ia mengerutkan kening saat tak mendapati Santi di kandang nya,Dewi pun mencari Santi ke setiap sudut ruang kamar Ari ,karena meski di sediakan kandang nyata nya Santi tak pernah menempati kandang nya melainkan tidur bersama Ari di atas tempat tidur.


"Santi.....mpuss....meng...meng ...meng... Santi,....dimana kamu?" teriak Dewi terus memanggil nama kucing tersebut


"kemana pergi nya kucing itu,apa di balkon ?" gumam nya karena melihat pintu balkon sedikit terbuka


"kenapa pintu nya tak di tutup,masa bibi lupa menutup nya sih ,tapi perasaan kemarin aku yang tutup deh " batin Dewi lirih


Ia pun berjalan menuju pintu dan hendak menutup nya namun,ia terkejut saat melihat Santi tergeletak di lantai,ia pun sontak berjongkok untuk memeriksa kucing tersebut.


"Santi....Santi...." ucap Dewi seraya menggoyangkan tubuh kucing itu


"astaghfirullah....kenapa Santi bisa meninggal eh mati....?" lirih nya


"Ari pasti sedih " lanjut nya


"kenapa kamu harus mati di saat majikan mu di rumah sakit sih " keluh Dewi memijat pelipisnya


"aku harus minta bantuan Gibran untuk menguburkan Santi " ucap nya lalu beranjak menemui cucu nya tersebut


"nah kebetulan ,sayang,...boleh nenek minta bantuan mu?" tanya Dewi saat melihat Gibran keluar dari kamar nya


"iya nek ada apa?"tanya nya


"tolong bantu nenek kuburkan Santi,nenek menemukan nya mati di balkon" sahut Dewi


"apa... Santi mati,kok bisa ?" kejut Gibran


"nenek juga gak tahu nak,ayo cepat galikan lobang nya ,nenek mau cari kain putih dulu" sahut Dewi lagi


Gibran pun mengangguk namun ia penasaran dan melihat Santi terlebih dahulu sebelum menggalikan lobang nya.


"ada apa dengan mu ?" lirih Gibran seraya memperhatikan mayat kucing itu dengan seksama


Sekelebatan gambaran tentang mimpi Ari di alam bawah sadarnya terlintas jelas di benak nya, Gibran kemudian tersenyum lalu berkata


"jadi seperti itu.....,terima kasih ,semoga kamu bisa kembali dengan tenang ke dunia mu " lirih Gibran


Ia kemudian beranjak menuju gudang untuk mengambil cangkul dan sekop.


"Gibran ,...untuk apa kamu membawa peralatan itu?" tanya pak Maman yang rupanya tak sengaja melihat Gibran


"ini kek,mau menguburkan kucing nya Ari" sahut Gibran


"kucing nya mati?" tanya Ifel yang baru tiba


"ya iya lah ,kau nih ...kalau hidup ya gak mungkin dikubur gimana sih " decak pak Maman gemas


"hehehe....iya juga ya" sahut Ifel pelan


Sementara itu Dewi yang sudah mendapatkan kain putih segera membungkus bangkai Santi,lalu membawa nya ke halaman belakang dimana kini Gibran berada.


"itu apa nek?" tanya anak nya Ifel


"oh ...ini kucing nya aunty Ari ,sayang " sahut Dewi


"kenapa di bungkus ?" tanya nya ingin tahu


"karena kucing nya mati nak " sahut Dewi


"mati itu meninggal ya nek?" tanya nya lagi


"iya sayang,karena ini hewan jadi penyebutan nya mati , berbeda dengan manusia seperti kita maka penyebutan nya meninggal,dan ketika kita mendengar atau mengetahui jika ada yang meninggal maka kita harus mengucapkan innalilahi wainailaihi rajiun" tutur Dewi menjelaskan


"Inna...inaalalahi itu apa nek?" tanya nya lagi


"innalilahi wainailaihi rajiun sayang , yang artinya sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semua akan kembali pada Allah SWT, kalimat innalilahi wainailaihi rajiun juga dapat di ucap kan ketika melihat seseorang terkena musibah ,bukan hanya kematian " jelas Dewi lagi


"oh...seperti itu ya nek , kalau gitu aku akan mengingat nya meski susah ngucapin nya " ucap anak itu lagi


"nanti juga kamu akan terbiasa nak ,kamu mau ikut menguburkan Santi?" tanya Dewi


"Santi?" kening Ariq berkerut ,ya...nama anak laki-laki itu adalah Ariq


"iya ,nama kucing ini Santi ,aunty Ari yang memberi nama" ucap Dewi


"oh....ikut lah nek,kan mau melihat nenek mengubur kucing nya " ucap nya lagi


"ya udah ayok " ajak Dewi


Anak seusia itu memang selalu ingin tahu tentang apa-apa saja yang ia lihat,tak jarang ia pun sering menanyakan banyak hal di saat menemukan benda yang ia anggap baru melihat nya.

__ADS_1


Dari balik pintu kamar nampak Desi memperhatikan anak dan mertua kakak ipar nya.


"ya ampun memang nya anak seusia Ariq bisa mengerti,kasihan otak nya ,anak seusia itu kan harus nya main dan bersenang-senang bukan di beri pelajaran seperti itu " lirih nya


"nanti juga setelah dewasa dia akan mengerti " tambah nya lagi


"ekhem ....ya bagus dong ,biar Ariq tahu dan mengerti,malah seharusnya hal sederhana seperti itu memang harus sudah diajarkan,tapi dengan porsi yang juga tak membebankan fikiran nya " celetuk Febry yang tak sengaja mendengar ucapan kakak ipar nya tersebut


"kamu belum punya anak mana mengerti " sergah Desi


"iya aku memang belum punya anak ,nikah saja belum kok ,tapi aku sedikitnya tahu bagaimana cara mendidik anak dengan baik ,kan aku sekarang kerja di klinik anak meskipun hanya sebagai security hehehe...." cengir Febry


"halah....kamu cuman kerja jadi security aja bangga amat " cibir Desi


"ya biarin lah ,daripada nganggur , wleeekk..." Febry menjulurkan lidah nya lalu berlalu begitu saja


"hiiiii....anak itu ,gak ada segan-segan nya sama sekali pada ku" kesal Desi lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar nya


dug'


"aduh....tutup pintu gak bilang-bilang,sakit kepala ku tau " seru bang Popo yang terkena pintu


Sebenarnya salah bang Popo juga ,kenapa ia malah duduk di depan pintu.Febry pun hanya mengacuhkan keberadaan bang Popo karena ia takut pada pocong tersebut.


Sementara di rumah sakit


Ari sudah terlelap tidur,Nuri dan Rifki berada di luar sebab mereka tak mau obrolan mereka mengganggu tidur Ari.


"mas, sebaik nya mas segera menyerahkan Zeky ke kantor polisi,ini sudah dua hari mas menyekap nya,biar polisi yang mengadili nya,aku gak mau nanti mas jadi terlibat masalah ,apalagi aku dengar dari Seno,Zeky adalah keponakan Rudi,aku gak mau Rudi membenci mu mas " pinta Nuri lirih


"hmm....baiklah karena kamu yang minta" mau tidak mau Rifki pun menghubungi anak buah nya dan meminta anak buah nya untuk mengantarkan Zeky ke kantor polisi seperti apa yang istri nya minta


"sudah ,kamu senang sekarang ?" tanya Rifki


"iya ,walau bagaimana pun aku tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan juga mas ,itu tak baik ,biarlah hukum negara dan hukum Allah yang bertindak ,kita serahkan saja semua nya pada Yang di Atas " tutur Nuri


"iya sayang,maafkan aku ya,aku terlalu terbawa emosi,hingga tak memikirkan hal lain nya ,terima kasih karena kamu selalu mengingatkan ku dikala aku salah " ucap Rifki lirih


"iya mas itu sudah kewajiban ku sebagai seorang istri,kamu pun sama ,jika aku salah kamu harus menegur ku" ucap Nuri


"hahaha...kalau itu pasti ,aku bahkan akan memberi mu hukuman kalau melakukan kesalahan " ucap Rifki


"hukuman apa.... ,itu bukan hukuman ,tapi mau mu mas ,tanpa melakukan kesalahan pun,kamu tetap menghukum ku setiap malam,curang " bibir Nuri mengerucut


"hm....seperti nya enggak,hukuman nya cukup itu saja" jawab Nuri tersenyum malu


"haiiissshhhh.....kapan Ari sudah boleh pulang ya ,kok aku tiba-tiba pengen " lirih Rifki memijit pelipisnya


"mas ....kamu tuh ih" kesal Nuri


"kenapa ?" tanya Rifki mengangkat sebelah alis nya


"au ah " Nuri pun mengalihkan pandangan nya namun ia melihat Riswan tengah berjalan tergesa menuju nya


"Riswan " gumam Nuri


"mana....?" tanya Rifki


"assalamualaikum mah...pah....maaf aku baru bisa datang,kemarin penerbangan nya ada gangguan,ini saja hanya aku yang bisa pulang sementara papa masih di Kalimantan " lirih Riswan merasa bersalah


Riswan dan Haris memang baru sampai di Kalimantan untuk melakukan kerja sama dengan salah satu klien nya di Kalimantan saat diberi tahu tentang kecelakaan Ari tempo hari.


"iya tak apa nak , Ari juga sudah sadar kok ,hanya saja saat ini sedang tidur " ucap Nuri


"kalau papa mu masih di Kalimantan,mamah ibu mu bagaimana ?" tanya Rifki


"ada nenek dan Merlin yang menemani" jawab Riswan


"Merlin menginap di rumah mu?" tanya Rifki lagi


"iya pah,mamah ibu yang minta " tutur Riswan


"oh ya sudah,apa setelah ini kamu ada acara atau mau kemana gitu?" tanya Rifki dengan tatapan tajam


"eng....nggak kok ,ada apa ya pah?" tanya Riswan kikuk


"bagus lah , kami mau pulang sebentar,kamu tolong jaga Ari,sebentar lagi pasti orang rumah juga pada datang ke sini ,gak apa-apa kan jagain Ari ?" tanya Rifki meminta nya menunggui Ari


"ya gak apa-apa sih pah,aku mau sekalian istirahat saja ,di dalam ada sofa kan?" tanya Riswan yang memang merasa lelah dan ingin tidur barang sekejap


"ada,kasur lantai juga ada ,ya sudah kami titip Ari pada mu , hubungi kami jika ada sesuatu" ucap Rifki lalu menarik tangan Nuri


"mas..." lirih Nuri

__ADS_1


"sayang please....kita pulang dulu ok " pinta Rifki


"ok ...ok ...kita pulang,nak,kita pulang dulu ya , assalamualaikum" ucap Nuri


"waalaikum salam ....."


"ada apa dengan mereka " Riswan mengedikan bahu lalu masuk ke dalam ruangan Ari


bruukk


Riswan merebahkan tubuh nya di sofa,lalu memejamkan mata nya,namun ia mengerutkan kening saat tiba-tiba saja terasa ada sesuatu menyentuh wajah nya.


Dengan mata tertutup,Riswan mencoba meraih sesuatu itu dengan tangan nya.


"kok seperti rambut ya,rambut siapa ?" batin Riswan


Ia pun sontak membuka mata,dan betapa terkejut nya ia saat ada sosok wanita dengan tersenyum menyeringai menatap nya tepat di atas kepala nya.


"Allahu Akbar" pekik nya lalu terbangun dan menjauhi sosok wanita tersebut


Karena suara Riswan yang lumayan kencang,Ari pun terbangun


"kak Ris-ris..." lirih nya sosok wanita itu pun pergi


"eh Ari ....haduh Ari kamar ini horor banget deh " ucap Riswan seraya mendekat


"horor kenapa?" tanya Ari


"tadi ada hantu wanita,hidih serem banget ,mana bawa bayi yang udah tinggal tulang lagi,belatung nya sampai loncat-loncat hiiiy...." Riswan bergidik ngeri


"oh...mungkin hantu wanita yang tadi sempat bikin Mama dan papa hampir berantem" ucap Ari


"hampir berantem gimana?" tanya Riswan penasaran


"ya...gitu deh ,masa kata mama hantu itu ngaku-ngaku papa itu papa dari bayi nya" Ari terkekeh sendiri


"lah kok bisa ?" tanya Riswan tak percaya


Ari hanya mengedikan bahu,ia tak mau memberi tahu Riswan mengenai kemampuan penglihatan nya yang sudah hilang,mungkin ia harus merasa bersyukur sebab tak akan ada lagi penampakan yang akan membuat nya terkejut dan takut,apalagi tanpa ada Lasmi bersama nya,membuat ia tak mau melihat lagi yang nama nya hantu meski hanya lewat pantulan.


"kak,bantu aku ke kursi roda dong ,aku mau melihat teman ku" pinta Ari yang kembali mengingat kondisi Yoga


"teman? "


"iya kak,dia dirawat juga di sini ,dia yang terluka bersama ku " ucap Ari lagi


"ok...baiklah " Riswan pun menggendong Ari lalu memindahkan nya ke kursi roda,Ari sudah mulai menerima keadaan nya.


"ini ruangan nya ?" tanya Riswan saat mereka berhenti di depan sebuah pintu ruangan


"iya kak,dia....koma" lirih Ari


"baiklah,kakak ketuk pintu nya ya" ucap Riswan lalu mengetuk pintu


tok tok tok


tak membutuhkan waktu lama ,Bu Nur Aini pun membuka pintu


"Ari...." ucap nya lalu melihat pada Riswan yang berada di belakang Ari


"hai Tante ,aku mau lihat Yoga lagi " ucap Ari


"oh ...iya ...ayo masuk " ucap nya namun dengan pandangan terus mengarah pada Riswan


"siapa laki-laki ini ,lumayan tampan ....?" batin nya


"oh iya Tante ,kenalkan ,namanya kak Ris-ris " ucap Ari


"Ris-ris...." gumam Bu Nur Aini


"hey....kau ini kebiasaan,maaf Tante ,nama saya Riswan,nama Ris-ris hanya anak ini saja yang manggil " ucap Riswan merasa malu


"oh...hai ...kalian....."


"dia kakak ku juga Tante ,sama seperti kak Gibran " ucap Ari


"oh gitu ,ya sudah Tante tunggu di luar ya,sekalian Tante mau ke kantin rumah sakit dulu" ucap Bu Nur Aini


"ya udah ,Tante hati-hati" ucap Ari


"iya sayang " Bu Nur Aini pun keluar


"kata Yoga Ari hanya dua bersaudara,tapi tadi laki-laki itu kenapa katanya kakak nya juga ,apa mungkin sepupu nya ,ah entah lah kenapa aku harus pusing memikirkan silsilah keluarga orang "

__ADS_1


***


__ADS_2