
Malam sudah menyambut ,semua orang sudah berada di kamar mereka masing-masing untuk segera beristirahat,sebab besok mereka akan disibukan dengan acara resepsi.
Di kamar nya Ari terdiam sambil memperhatikan kalung pemberian Yoga sebelum mereka menjadi seperti saat ini.
Ia menghela nafas nya
"kenapa....di saat aku menyadari perasaan ku kamu malah melupakan ku,apa ini ujian untuk kita? kamu juga akan pergi meninggalkan ku ... kenapa sekarang semua nya malah pergi meninggalkan ku,Tante Lasmi, Santi ,sekarang kamu ,kenapa kalian pergi meninggalkan ku,aku sayang kalian.... Yoga.... aku juga mencintai mu,tapi kenapa..... hikkss....sampai kapan kamu akan melupakan ku,....." tangis Ari begitu menyayat hati,bahkan Wewe dan beberapa kuntilanak yang sedang berada di balkon kamar nya pun ikut tersentuh dan menangis.
"ehehehehe....kau gadis yang kuat Ari ,nenek yakin kau bisa melewati nya,bersabarlah sampai takdir menyatukan kalian....." Wewe mengusap air mata nya
"hikkss... hikkss...kamu merusak suasana nek,kami lagi sedih malah tertawa " seru sosok kuntilanak
"tahu nih dasar setan aneh " umpat kuntilanak lain nya
"ehehehehe....kau juga setan masih ngatain ku setan ,dasar setan " balas Wewe
"huuuu....." para kuntilanak pun menyoraki Wewe
Sementara di kamar lain.
Gibran dan Aranta nampak canggung ,keduanya sama-sama tidak bisa memejamkan mata nya.
"khem..." Gibran berdehem untuk mengurai kegugupan
"kamu belum mengantuk?" tanya Gibran
Posisi kedua nya tengah duduk di tempat tidur, Aranta bersandar pada sandaran tempat tidur ,sementara Gibran duduk di tepi tempat tidur.
"belum ,tidak tahu kenapa malam ini aku tidak mengantuk " jawab Aranta kikuk
"sama " sahut Gibran seraya tersenyum tipis
"oh Tuhan ... sampai kapan kita seperti ini terus,masa iya mau sampai pagi ,duh canggung bener " lirih Gibran dalam hati nya
"kalau kamu ngantuk tidur saja" ucap Aranta
"tidur dimana?" tanya Gibran
Sontak saja Aranta gelagapan
"ah...i..iya...di sini lah...memang nya dimana...?" ucap Aranta menggaruk kepalanya yang masih mengenakan hijab instan
"baiklah " Gibran pun merangkak naik ke tempat tidur lebih tepat nya di samping Aranta lalu membaringkan tubuhnya terlentang
Matanya melirik Aranta yang terlihat sangat tegang di tempat nya.
"kamu apa sudah terbiasa tidur dengan menggunakan hijab ?" tanya Gibran menoleh pada Aranta
"hm...tidak " sahut Aranta pelan
Gibran pun merubah posisi nya jadi duduk dan menghadap Aranta
"sini biar aku bantu buka " ucap Gibran meraih tali di belakang kepala Aranta
Sreeetttt'
"eh...." Aranta terkejut dan hendak menarik lengan Gibran ,namun terlambat ,Gibran sudah berhasil menarik hijab nya,bahkan Gibran pun dengan cepat menarik ikat rambut yang mengikat rambut panjang Aranta.
Dalam sekejap rambut panjang nya sudah terurai indah.
"rupanya rambut mu masih saja panjang ya,aku kira kamu sudah memotong nya pendek " ucap Gibran
Aranta terdiam karena semakin gugup
"terima kasih karena kamu tak memotong rambut panjang mu ,sungguh aku menyukai nya " ucap Gibran
"hm..." Aranta pun tersenyum malu
"aku tahu kamu gugup ,sama aku juga ,tapi kalau kita seperti ini terus tidak akan ada kemajuan ,masa kita mau seperti ini terus " ucap Gibran seraya membelai rambut panjang Aranta
Gibran pun meraih tangan Aranta
"coba kamu rasakan ,apa sama dengan punya mu debaran nya ?" tanya Gibran setelah ia menempelkan telapak tangan Aranta pada d*da nya yang berdebar
reflek Aranta mengangguk
Tanpa di sangka-sangka Gibran menarik tubuh Aranta ke pelukan nya, bertambah gugup lah Aranta.
"aku dapat merasakan debaran jantung mu " kekeh Gibran lalu mengecup pucuk kepala Aranta
"aku menyayangimu,aku mencintaimu"lirih Gibran,Aranta pun mengangguk
"kok cuman mengangguk ,jawab dong" ucap Gibran
__ADS_1
"hm..."
"kok cuman hm..." keluh Gibran
"lalu aku harus jawab apa?" tanya Aranta pelan
"ayo katakan kalau kamu juga sayang dan cinta pada ku " pinta Gibran
"memang nya harus?" tanya Aranta lagi
"harus dong,ayo cepat katakan " pinta Gibran lagi
"I love you " lirih Aranta malu-malu
"love you tou " balas Gibran
"ayo tidur ,besok akan jadi hari yang melelahkan untuk kita" ajak Gibran lalu menarik diri dan merebah kan tubuh nya.
"hm...i..iya " sahut Aranta lalu ikut merebah kan tubuh nya di samping Gibran
Karena gugup Aranta pun membelakangi Gibran,namun tiba-tiba ia terdiam saat lengan kekar Gibran memeluk nya dari belakang.
"aku suka wangi rambut mu " ucap Gibran seraya menciumi kepala Aranta dari belakang
"ah....ya ampun...kalau begini caranya sampai pagi pun aku tak kan bisa tidur " lirih Aranta membatin seraya menahan nafas
Gibran mencoba memberanikan diri untuk melakukan hal lebih jauh lagi,sebab ia yakin jika ia begini terus ia maupun Aranta tidak akan bisa tidur.
Perlahan Gibran menyingkirkan rambut panjang Aranta yang menghalangi leher dan tengkuk nya. Aranta pun semakin berdebar di buat nya ,ia bahkan sampai meremas sprei sebagai pelampiasan rasa gugup nya.
cup
cup
cup
Seerrrr.....
Aliran darah Aranta terasa panas saat merasakan tengkuk dan leher nya di kecup, Aranta pun memejamkan mata saat merasakan ada gelenyar aneh pada tubuh nya saat ini.
Kecupan itu semakin lama semakin membuat Aranta maupun Gibran terbawa suasana. Mereka yang baru pertama merasakan gelenyar itu pun semakin menikmati rasa itu.
Hingga kecupan itu berubah jadi hisapan kecil sampai Aranta pun berdesis.
Gibran pun menarik Aranta hingga terlentang, pria yang saat ini berstatus suami nya tersebut membelai rambut dan pipi nya ,dengan tatapan sayu Gibran memandangi wajah cantik Aranta ,hingga Aranta pun merona dibuat nya.
Di kecup nya kening Aranta ,lalu Gibran kembali menatap wajah cantik Aranta seraya berucap
"kau istri ku sekarang ,jadi aku berhak atas apapun yang ada pada diri kamu,aku harap kamu tak merasa keberatan jika aku melakukan hal yang lebih dari ini" ucap Gibran ,sungguh jantung nya kini sangat berdebar berada di situasi seperti ini.
"lakukan lah apapun yang ingin kamu lakukan,tugasku sebagai istri adalah melayani mu...suami ku" jawab Aranta dengan kedua pipi yang bersemu , sungguh ia sangat ingin berteriak saat ini.
"ya ampun apa yang aku katakan " batin Aranta
Tanpa menunda lagi Gibran pun langsung melancarkan aksinya.Hingga malam ini pun sukses menjadi malam panjang yang syahdu bagi kedua nya.
**
Tak lama ritual itu berlangsung,sebab itu adalah yang pertama bagi Gibran , kini keduanya sudah bermandikan keringat ,nafas kedua nya pun masih memburu.
Gibran menarik selimut menutupi tubuh Aranta yang polos.
"maaf ya,tadi pasti sakit " ucap Gibran seraya menarik Aranta ke pelukan nya
"tak apa-apa,karena itu sudah menjadi kewajiban ku " sahut Aranta menempelkan wajah nya pada d*da bidang Gibran
"tapi aku suka suara mu tadi,terdengar sangat seksi " ucap Gibran tersenyum genit,suara rintihan dan d*sa*han Aranta
masih terngiang-ngiang di telinga nya
"ih ...apa sih ,jangan ngeledek deh" Aranta malu ,lalu reflek mencubit perut sixpack suami nya itu
"hehehe.... udah jangan nyubit,gak berasa juga ,nanti malah bangunin yang lain " kekeh Gibran menahan tangan Aranta
"bangunin yang lain, maksud mu ?" tanya Aranta
Tanpa menjawab Gibran menujuk bagian bawah nya dengan mata nya,Aranta yang langsung mengerti pun segera menarik tangan nya.
"ayo kita mandi,aku gak mau kita tidur dalam keadaan seperti ini "ajak Gibran ,ia sengaja mengajak Aranta membersihkan tubuh,sebab ia tak mau mengambil resiko,ia bisa saja kembali menyerang Aranta karena sesuatu di tubuh nya kembali bangkit,ia pun tahu jika Aranta mungkin masih merasa kesakitan.
"kamu saja dulu" ucap Aranta ,sebab ia masih merasa malu
"kita barengan saja ,biar hemat waktu ,kau lihat sudah jam berapa ini,ayo aku bantu " ucap Gibran ,ia meraih handuk dan melilitkannya hanya sebatas pinggang ,lalu ia menggendong Aranta menuju kamar mandi dengan tubuh di balut selimut.
__ADS_1
Mereka pun mandi bersama ,mandi yang benar-benar mandi dengan saling membelakangi sesuai dengan yang Aranta ingin kan.
Setelah selesai keduanya pun segera mengambil air wudhu ,akan tetapi saat Aranta hendak berjalan tiba-tiba ia meringis sambil memegangi bagian bawah nya.
Gibran yang berada di samping nya pun menoleh.
"kenapa ,masih sakit ?" tanya nya ,Aranta pun mengangguk
"mau jalan pelan-pelan atau aku gendong?" tanya Gibran
"jalan saja " lirih Aranta ,ia masih merasa canggung meski mereka sudah melakukan hubungan suami istri.
"baiklah ,aku pegangin " Gibran pun memapah Aranta ,namun karena merasa tak tega Gibran pun akhirnya menggendong Aranta ,Aranta yang terkejut karena aksi Gibran yang tiba-tiba pun langsung mengalungkan kedua tangan nya pada leher Gibran.
"aakkh..."
"maaf mengejutkan mu ,aku hanya tak tega melihat mu meringis kesakitan,kamu seperti ini juga kan karena ulah ku ,jadi biar aku bertanggung jawab ,dengan menggendong mu ke tempat tidur" ucap Gibran menatap Aranta ,lalu mulai berjalan dengan terus menatap wajah cantik Aranta
"jangan melihat ku terus ,nanti jatuh gimana" ucap Aranta yang merasa tak nyaman sebab jantung nya terus saja berdebar jika ditatap seperti itu.
"tidak akan,karena meskipun jatuh aku malah jatuh cinta pada mu "
Gibran lalu meletakan Aranta di sofa
"sejak kapan kau pintar gombal ?" tanya Aranta
"aku gak bisa gombal ,tapi tadi aku jujur bicara apa ada nya " sahut Gibran
"kamu duduk dulu di sini,aku mau ganti sprei nya dulu" ucap Gibran
"biar aku saja " sergah Aranta
"tak usah ,kamu duduk saja ,biar aku yang melakukan nya ,jangan khawatir aku sudah biasa kok" ucap Gibran seraya menarik sprei nya ,ia pun tersenyum saat melihat bercak merah di sprei putih nya
"Aranta ,lihat lah " seru Gibran tiba-tiba menunjukan noda merah itu
Aranta yang menyadari noda apa itu pun bersemu malu
"terima kasih sudah menjaga nya untuk ku " ucap Gibran tersenyum bahagia ,sedangkan Aranta hanya tersenyum menanggapi
Hingga beberapa saat kemudian
"ayok kita tidur " ajak Gibran seraya kembali menggendong Aranta
"terima kasih , seharusnya kamu tak usah repot-repot menggendong ku segala aku...."
"ssseeetttt......,jangan banyak bicara ,ayo sekarang kita tidur " Gibran membantu Aranta merebah kan tubuh nya ,kemudian Gibran pun merangkak naik dan tidur di samping nya.
"selamat malam,semoga mimpi indah" lirih Gibran sambil memeluk Aranta
"hm..."
Mereka pun akhirnya terlelap setelah membaca doa.
Keesokan hari nya
Jam sudah menujukan pukul 08:30 WIB,Nuri dan yang sudah pergi ke hotel tempat resepsi akan dilangsungkan,acara resepsi tersebut pun akan digelar pada jam satu siang jadi mereka masih ada waktu untuk bersiap.
Sementara Gibran dan Aranta masih berada di kamar,karena semalam mereka tidur terlalu larut , akhirnya Aranta kembali tidur setelah melaksakan shalat subuh. Sebenarnya tak baik jika tidur setelah shalat subuh ,Gibran pun tahu itu,namun karena Gibran merasa kasihan melihat Aranta ,ia pun membiarkan istri nya tidur kembali, sementara dirinya bertadarus sampai matahari menampakan cahaya nya. Sebab Gibran sudah terbiasa tidur larut dan bangun sebelum subuh.
Kini kedua nya tengah bersiap,Aranta tak mengenakan make-up, sebab nanti ia akan di rias ,sementara Gibran pun hanya mengenakan pakaian kasual.
"yuk ,yang lain pasti sudah menunggu ,tak enak juga kan kita malah baru keluar,kita juga melewatkan sarapan pagi kita " ucap Aranta
"mereka sudah berangkat kok , baru saja nih papa kirim pesan " sahut Gibran
"hah...kenapa mereka tak menunggu kita ?" tanya Aranta
Gibran pun mengedikan bahu
"ya sudah yuk berangkat ,kita sarapan di sana saja "ajak Gibran kemudian
"baik lah "
"kamu sudah tak sakit?" tanya Gibran saat melihat Aranta mulai berjalan
"sedikit" sahut Aranta menunduk
Gibran pun tersenyum melihat Aranta yang nampak masih malu-malu itu,ia pun menggandeng tangan Aranta lalu berjalan beriringan.
Dari belakang nampak Wewe mengikuti keduanya.
***
__ADS_1