
"Terdampar di pondok bagaimana ?" tanya papa
"saat itu aku masih berumur sepuluh tahun ,aku di selamatkan mama dan papa dari Oma yang hendak membunuhku untuk persembahan yang Oma dan kelompok nya lakukan ,melihat ada mobil yang pintu bagasi nya tak terkunci papa memasukan ku ke bagasi mobil itu,aku yang keadaan nya masih sangat lemas karena pengaruh obat bius hanya pasrah saat papa meletakan ku di sana,papa mengatakan akan menjemput ku , sedangkan papa dan mama juga harus bersembunyi dari incaran anak buah Oma ,hingga akhirnya aku pun tak tahu lagi apa yang terjadi ,saat aku membuka mata aku sudah berada di ruangan serba putih dan di kelilingi orang-orang yang tak ku kenal, rupanya mereka para pengurus pondok yang menemukan ku di bagasi mobil ,akhir nya karena mereka merasa iba aku pun diasuh di pondok itu ,namun sampai lima tahun aku di sana papa dan mama sama sekali tak menjemput ku, setiap malam menjelang tidur tak luput doa ku untuk mereka ,meski khawatir dan tak tahu bagaimana nasib mereka ,tapi aku yakin mama dan papa selamat ,mungkin mereka tak bisa menemui ku demi keselamatan ku,hingga akhir nya sebuah kejadian tak terduga pun terjadi di pondok ,semua santri di sana keracunan massal termasuk pengurus pondok beserta utadz dam ustadzah nya ,hanya aku yang tak terpengaruh ,hingga akhirnya datang sekelompok orang tak dikenal aku yakin mereka adalah orang-orang nya Oma , beruntung ada ustadz yang tak ikut keracunan massal , beliau menolong ku dan membawa ku keluar pondok lewat belakang ,tak ku sangka rupanya ustadz itu mengenal papa ,mungkin papa juga yang telah menitipkan ku dengan beliau. Ustadz membawaku bertemu papa ,ada haru dalam jiwa karena bisa kembali bertemu papa setelah lima tahun tak berjumpa, hingga akhirnya aku ikut dengan papa ke sebuah desa terpencil tempat tinggal nya yang baru, setelah kurang lebih setengah tahun aku tinggal bersama kedua orangtua ku ,ketenangan kita kembali terusik , orang-orang suruhan Oma sudah sampai di desa itu ,mereka menyamar sebagai petugas dari dinas kependudukan yang tengah menyurvei jumlah penduduk , namun karena tato segitiga di punggung tangan nya membuat ku bisa mengenali nya ,kami pun segera pergi meninggalkan desa itu ,tak tanggung-tanggung kami pergi sangat jauh hingga ke Kalimantan dengan menumpang kapal nelayan .Kami memulai kembali kehidupan kami di sana ,papa bekerja di ladang orang ,mama mencuci dari rumah ke rumah untuk memenuhi kebutuhan harian kami, bukan tak ada tabungan ,hanya saja kami benar-benar mengatur keuangan kami ,aku pun tak tinggal diam , meski mama dan papa melarang ku bekerja tapi aku sering diam-diam bekerja di pasar setelah pulang sekolah , apapun aku kerjakan ,menjaga toko ,angkut dan bongkar barang ,bahkan jadi juru parkir pun aku jalani ,asalkan aku mendapatkan uang ,saat di tanya kenapa pulang telat aku beralasan ada pelajaran tambahan ,namun rupanya anggota kelompok Oma sudah tersebar di berbagai pelosok ,sampai aku kembali harus bersembunyi saat orang-orang itu mengejar ku . Akhirnya papa memutuskan untuk kembali ke Jakarta tempat kelahiran nya ,namun demi keselamatan ku aku harus tinggal terpisah ,sedangkan mama dan papa harus hidup dengan identitas palsu dengan menyamar sebagai pelayan di rumah papa sendiri yang kini di tempati sepupu papa " tutur Aranta
"astaghfirullaahal'aziim....." gumam kami bersama
"apa jangan-jangan pondok yang kamu maksud adalah pondok pesantren yang berada di daerah Bandung,soal nya nenek pernah mendengar berita tentang keracunan massal di sebuah ponpes di Bandung , tersangka nya pun hingga saat ini belum ketahuan,apa keracunan itu di sebabkan orang-orang yang mengincar mu?" tanya nenek Marni ikut menyimak
"iya,bisa jadi nek"sahut Aranta
"astaghfirullaahal'aziim......kenapa ada orang sampai segitunya ,tega melakukan hal buruk pada cucu nya sendiri " lirih nenek menatap iba Aranta
"aku sendiri juga tak habis fikir nek ,kenapa Oma sampai tega melakukan itu ,hanya demi harta,kedudukan dan kebangkitan entah lah aku sendiri tak tahu ,Oma sampai tega melakukan itu ,bahkan sepupu ku sendiri pun sudah menjadi korban nya " ucap Aranta tak kalah lirih
Allah......
Lagi-lagi aku menyebut nama Nya , tak dapat ku bayangkan jika itu terjadi pada ku
"yang kuat ya nak....nenek berharap semoga suatu saat Oma mu sadar bahwa apa yang ia lakukan itu salah " ucap nenek Marni ikut menguatkan Aranta
"iya nek ,amin ,aku jadi iri melihat keluarga ini ,kalian terlihat saling menyayangi satu sama lain ,seandainya aku memiliki keluarga seperti kalian " dengan cepat Aranta mengusap pipi nya ,ah ....melihat ia menangis seperti itu hati ku jadi ikut terenyuh,apalagi mendengar cerita nya membuat ku jadi ikut geram campur iba melihat nya
"kami semua juga keluarga mu,tak selamanya keluarga itu harus ada ikatan darah, kamu jangan khawatir karena kita akan melindungi mu " ucap mama seraya menggenggam tangan Aranta
"terima kasih Tante , maaf jika aku merepotkan Tante dan keluarga " ucap Aranta
"enggak sayang ,....kamu sama sekali tak merepotkan kami,malah kami senang ada kamu di sini" ucap nenek yang juga meraih tangan Aranta yang satu nya
"terima kasih " ucap Aranta dengan kembali menitikan air mata
"oh iya mengenai orangtua mu siapa nama nya ,soal nya om merasa tak asing dengan wajah mu ,berasa melihat siapa gitu" ucap papa
"iya mas....kamu benar , aku juga kok merasa familiar,berasa melihat ..... Seno" timpal mama
__ADS_1
"Seno Gumira" sambung papa
"Tante dan om ....tahu dari mana nama itu,jangan katakan jika kalian bagian dari kelompok Oma" Aranta terperanjat hingga menjauh dari kami
"tidak ....bukan Aranta .... Seno Gumira dia salah satu sahabat Om yang sudah lama tak terdengar kabar nya , jadi kau putri nya ?" ucap papa
"a...apa....sahabat?" tanya Aranta tergugu
"iya ....sini nak...duduk lah" mama menarik Aranta untuk kembali duduk ,kemudian mama pun duduk di samping nya
"ma...tolong ambilkan album foto yang di bawah laci deket mama ,maaf ya ma... " pinta mama pada nenek
"iya ...tak apa sayang ,ini" ucap nenek
"coba kamu lihat dan perhatikan baik-baik, ini papa nya Gibran , ini papa nya Riswan ,ini , semua para sahabat papa nya Gibran ,termasuk ini ...kamu pasti tahu siapa ini?" tanya mama menujuk satu-satu foto di album
"ini ....pa...pa" Aranta menitikan air mata melihat sosok papa nya di foto itu,dapat terlihat dari matanya betapa ia sangat merindukan sosok papa nya itu
"jadi benar Seno adalah papa mu?" tanya papa
"lalu bagaimana keadaan papa mu, om sama sekali sudah kehilangan jejak nya " tanya papa
"seperti yang ku katakan tadi ,papa dan mama menyamar sebagai pelayan di rumah papa yang saat ini di tempati sepupu nya papa " jawab Aranta
"Ya Tuhan seandainya aku tahu .... Seno...." lirih papa
"lalu kenapa kamu tinggal sendiri dengan nge kos ,kenapa tak ikut tinggal di rumah itu?" tanya mama
"Karena di rumah itu menantu dari sepupu papa merupakan anggota kelompok nya Oma ,menurut papa tempat teraman untuk bersembunyi adalah di tempat musuh ,papa sengaja tinggal di sana agar ia juga bisa memantau ,kalau papa mengetahui jika aku sudah ketahuan maka papa akan segera menghubungi ku lewat pesan , dan malam itu aku yang baru pulang kerja paruh waktu pun mendapat pesan dari papa jika tempat kos ku sudah diketahui , aku yang sudah berniat untuk segera mengemasi barang pun terkejut karena orang-orang itu sudah ada di sekitar kos san ku ,namun sialnya salah satu dari mereka melihat ku , meskipun aku bisa bela diri karena saat di pondok aku juga mempelajari ilmu bela diri ,karena jumlah nya yang banyak pun akhirnya aku memutuskan untuk berlari karena mustahil aku bisa mengalahkan mereka semua ,hingga akhirnya aku bertemu om dan Tante " tutur nya lagi
"Ya Tuhan .....berarti orangtua mu bisa jadi juga dalam bahaya ,bisa gawat kalau mereka menyadari nya " ucap mama panik
"mas.... gimana ini mas ....." tanya mama pada papa
__ADS_1
"entahlah sayang ....aku juga bingung ....semoga saja Seno bisa menjaga identitas nya tetap aman" ucap papa memijit pelipisnya
"tadi kak Ara bilang tato segitiga di punggung tangan ?" tanya Ari tiba-tiba
"iya ....kenapa memang nya apa kamu pernah melihat nya ?" tanya Aranta
"iya kak,tadi pagi aku melihat nya bahkan orang itu hendak membawa salah satu teman sekolah ku, tapi akhirnya dapat di gagalkan karena papa nya datang menjemput" ucap Ari hingga membuat kami tercengang
"serius dek....?" tanya ku
"iya kak, dan orang itu kabur karena diteriakin penculik"
"astaghfirullah........... bagaimana ini,apa jangan-jangan kasus penculikan yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulah mereka ?" tanya nenek
"bisa jadi ma" sahut papa
"duh bahaya juga ya ....kamu harus hati-hati dek ,jangan mau di ajak ngobrol orang tak di kenal " Riswan ikut risau
"iya kak Risris tenang saja kan ada Tante Lasmi yang jagain Ari,ya kan Tante?" ucap Ari yang melihat Tante Lasmi dari pantulan cermin kecil yang ia rogoh dari saku baju nya
"iya " sahut Tante Lasmi mengacungkan jempol
"Tante Lasmi .... siapa?" kening Riswan berkerut
"kuntilanak merah di belakang kak Risris"
"Allahu Akbar.....dek jangan nakutin ah " seru Riswan melompat ke arah papa
"hahaha....kak Risris takut....."Ari tergelak
"memangnya kamu enggak dek?" tanya ku
"enggak lah,benar yang kak Ara bilang kalau hantu tak perlu ditakutkan,yang jahat bukan hantu tapi manusia yang di kuasai setan , kita hanya harus takut pada Allah" sahut Ari lagi
__ADS_1
***