
Saat Aranta tengah terdiam seseorang tiba-tiba datang
"aku cari kemana-mana ternyata di sini " ucap nya ,sontak saja mereka yang berada di sana pun menoleh
"Arkan ....Ya Allah....katanya kamu pulang Minggu depan ,kok gak bilang dulu,tau gitu mama masak makanan kesukaan mu " seru si ibu kontrakan lalu merangkul dan memeluk pria bernama Arkan yang rupanya merupakan anak nya itu
"kan kejutan "sahut pemuda bernama Arkan
"Ya Allah....mama kangen banget sama kamu " ucap ibu itu lagi
"oh iya kenalkan ini Aranta yang waktu itu mama cerita kan ,dan mereka ini...."belum sempat si ibu itu melanjutkan kata-katanya Gibran tiba-tiba menyela
"saya Adnan tunangan nya Aranta ,dan ini adik saya " ucap Gibran dingin tanpa menyebutkan nama adik nya
"oh....saya Arkan ,senang bertemu dengan kalian " sahut Arkan seraya menjulurkan tangan nya pada Gibran ,Gibran pun mau tak mau menerima uluran tangan nya
"jadi gimana kak ,mau ya ikut kita?" tanya Ari yang merasa tak nyaman dengan adanya laki-laki bernama Arkan itu ,ikatan batin dengan kakak nya begitu kuat hingga gadis itu dapat merasakan apa yang Gibran rasakan saat ini
"ya sudah aku beres-beres barang aku dulu ya " sahut Aranta akhirnya
"ayo aku bantu deh biar cepet ,yuk" dengan semangat empat lima Ari menarik lengan Aranta
"iya iya sebentar ...Adnan ....aku ke dalam dulu ya ,gak apa-apa kan nunggu?" tanya Aranta tak enak hati
"gak apa-apa kok ,jangan terlalu buru-buru juga nanti yang ada malah ada barang ketinggalan lagi ,tenang saja aku bisa nunggu kok " sahut Gibran mencoba untuk tetap bisa tersenyum pada Aranta ,meski hatinya dilanda kecemburuan,bagaimana tak merasa cemburu ,daritadi ia melihat jika Arkan dari tadi terus saja memperhatikan Aranta,bahkan bukan hanya itu Gibran justru merasakan aura lain dari tubuh Arkan
"kalau begitu kalian ngobrol-ngobrol saja dulu ,saya mau ke dalam dulu" ucap ibu kontrakan lalu menyusul Aranta
"ehehehehe....hati-hati cu.....nenek merasakan aura hitam dalam diri pemuda itu ehehehehe...." suara Wewe memperingati
"iya nek,aku juga merasakan nya " sahut Gibran membatin
Baik Gibran maupun Arkan ,keduanya tampak diam saja tanpa ada yang mengatakan sepatah kata pun
Sementara itu Aranta yang sudah mengemas semua barang-barang nya dalam satu kardus dari mulai buku-buku dan alat tulis lain nya ,tak lupa semua pakaian nya pun ia masukan ke dalam koper juga tas jinjing ukuran besar.
"kamu yakin dengan keputusan mu ?" tanya ibu kontrakan,ia merasa tak enak sebab masih ada sisa dua bulanan lagi untuk Aranta tinggal di kontrakan nya.
"iya Bu, lagipula papa aku juga sudah meminta ku untuk tinggal bersama mereka,yah ...meski berbeda rumah tapi papa aku akan merasa tenang jika aku tinggal dekat keluarga Adnan" sahut Aranta
"oh gitu ya sudah ,kamu hati-hati di sana ya ,jika ada apa-apa hubungi saja ibu " sahut ini itu
"tenang saja Bu ,kami semua sangat menyayangi kak Ara ,pasti aku dan keluarga ku bisa menjaga kak Ara dengan baik,apalagi orang tua kita bersahabat " ucap Ari yang bisa merasakan jika ibu itu tak rela sebenar nya jika Aranta pergi meninggalkan kontrakan nya
"ih....gadis ini ikut campur saja "batin ibu itu kesal namun ia bisa menutupi dengan senyum palsu nya
Di saat Aranta hendak mengangkat kardus yang berisi buku-buku nya tiba-tiba sosok kuntilanak merah ikut mengangkat kardus tersebut membuat Aranta terkejut
"astaghfirullaah....." Aranta melepaskan kardus yang sudah terangkat sedikit itu
"kenapa?" tanya ibu kontrakan
"eh ...enggak Bu ,bukan apa-apa hanya sedikit kram tangan aku '' jawab Aranta beralasan
"duh Tante Lasmi ini bikin aku kaget saja ,aku fikir hantu mana yang tiba-tiba nongol " batin Aranta
__ADS_1
"ya sudah biar Arkan bantu kan bawa ya " ucap ibu itu hendak memanggil anak nya ,namun Aranta menahan nya
"tak usah Bu ,gak apa-apa tak enak jadi ngerepotin ,lagipula ini hanya berisi buku-buku kok ,gak berat sama sekali" ucap Aranta
"tidak apa-apa,tidak merepotkan kok ,Arkan pasti akan senang bisa membantu kamu" ucap ibu itu lagi seraya pergi ke luar
"duh gimana ini" batin Aranta ,ia cukup mengerti jika ibu itu emang sengaja ingin mendekatkan nya dengan anak nya itu ,makanya Aranta setuju ikut bersama Gibran ,karena ia merasa tak nyaman dengan pria bernama Arkan itu ,entah apa penyebabnya,mungkin juga karena Aranta ingin menjaga hati Gibran dan tak ingin hubungan nya dengan Gibran rusak begitu saja karena kehadiran pria lain.
Tak berapa lama ibu itu kembali bersama Arkan dan juga Gibran di belakang nya ,terlihat jelas dari raut wajah nya jika perasaan Gibran sedang tak baik-baik saja
"mana sini aku bantu " ucap Arkan so dekat dengan Aranta
Akan tetapi di saat tangan nya hendak meraih kardus itu Riswan dan Merlin tiba-tiba datang
"kenapa gak bilang dari tadi kalau kamu mau sekalian berkemas ,tahu gitu kita tadi ikut ke sini " seru Riswan langsung nyelonong masuk dan segera mengangkat kardus yang hendak di angkat Arkan
"biar ini aku yang bantu bawain ya " Merlin segera meraih tas jinjing
"koper ini biar aku saja " timpal Ari sementara Gibran daritadi memegangi tas ransel milik Aranta
"baiklah Bu ,kalau begitu aku pamit ya ,maaf jika selama ini aku selalu merepotkan ibu ,dan terima kasih karena ibu sudah mau di repot kan" ucap Aranta tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap ibu pemilik kontrakan yang mencoba mendekatkan dirinya dengan anak nya itu
"iya tak apa-apa" sahut ibu itu lemas
"kami pamit , assalamualaikum" ucap Aranta lalu pergi meninggalkan kontrakan itu di ikuti yang lain nya
"kenapa mama tak mengatakan jika gadis itu sudah bertunangan ?" tanya Arkan setelah rombongan Aranta memasuki mobil
"ya mana mama tahu ,selama ini mama hanya melihat dia tak pernah membawa laki-laki ,atau pun melihat laki-laki mengantar jemput nya ,mama juga baru tahu jika Aranta sudah bertunangan " sahut ibu nya
"sebelum janur kuning melengkung kesempatan selalu ada untuk siapa saja termasuk kamu" ucap ibu nya itu malah mendukung anak nya
"mama benar , baiklah akan aku tunjukan siapa yang lebih pantas " ucap Arkan dengan mengangkat ujung bibir nya
Sementara itu di dalam mobil
"kalian tahu dari mana kalau aku mau keluar dari kontrakan itu?" tanya Aranta menoleh pada Riswan dan Merlin
"Tante Lasmi dan nek Wewe " sahut Riswan
"oh..." sahut Aranta
"kak kok aku ngerasa aneh ya pada anak nya yang punya kontrakan itu" ucap Ari tiba-tiba
"cowok yang tadi?" tanya Merlin
"iya " jawab Ari
"aneh kenapa?" tanya Riswan
"ya ...gak tahu ,aneh aja ,berasa gak nyaman gitu kalau dekat-dekat dengan nya ,apalagi tuh ya aku kok malah melihat ada sesuatu dalam tubuh nya tapi hanya sepintasan juga sih ,gak yakin aku tuh ,bisa saja kan aku salah lihat " tutur Ari
"masa sih?" tanya Aranta
"aku juga ngerasain hal yang sama ,nek Wewe bilang kita harus berhati-hati terhadap nya , seperti nya memang ada yang tak beres dengan nya "ucap Gibran pula
__ADS_1
"aku jadi khawatir sepertinya dia suka deh sama kakak, pokok nya kakak jangan sampai berurusan dengan nya ya kak ,perasaan ku tak enak dengan laki-laki itu " ucap Ari yang memang merasa was-was.
"iya kamu tenang saja ,itu juga alasan kenapa kakak mau ikut kalian ,kakak juga ngerasa aneh saat melihat mata nya " tutur Aranta
"lain kali kalau berbicara dengan orang apalagi orang itu asing jangan lihat langsung mata nya,bisa saja kan orang yang berbicara dengan kita itu punya niat buruk apalagi jika dia bisa menghipnotis ,bisa bahaya " ucap Gibran
"iya ,kamu benar " sahut Aranta
"cie....ada yang cemburu " ledek Ari tiba-tiba
"apa sih kamu dek " sahut Gibran kikuk
"hahahaha" Ari malah tertawa ,sementara Aranta hanya tersenyum
Tak lama kemudian mobil pun berhenti di depan rumahnya Merlin ,setelah berpamitan dengan yang lain Merlin pun turun dari mobil.
Gadis itu melambaikan tangan nya saat mobil itu pergi meninggalkan nya
Setelah mengantar Merlin kini Gibran pun mengantarkan Riswan sampai rumah nya ,nampak mobil Haris sudah terparkir cantik di tempat nya ,tanda nya Haris dan ibu Fuji sudah sampai
"kalian gak mampir?" tanya Riswan
"sepertinya enggak deh ,titip salam saja buat paman dan Bu Fuji " sahut Gibran
"iya sudah aku masuk ya " Riswan pun pergi memasuki rumah nya setelah Gibran dan yang lain pergi ,ia tak mempermasalahkan saat Gibran menolak ajakan nya untuk mampir sebab ia mengerti jika Gibran juga sudah merasa lelah sama seperti dirinya
"assalamualaikum....." ucap Riswan
"waalaikum salam....cucu nenek sudah pulang ,gimana selama di sana kamu baik-baik saja kan?" tanya nenek nya
"Alhamdulillah,seperti yang nenek lihat,aku tidak apa-apa, papa dan mamah ibu di kamar nya ya?" tanya Riswan
"iya ,eeh....kamu mau kemana?" tanya nenek nya saat Riswan hendak beranjak
"ke kamar mereka" sahut Riswan
"jangan dulu ganggu mereka apalagi mamah ibu mu sebab...." belum juga nenek nya menyelesaikan ucapan nya Riswan langsung menyela
"sebab apa nek?" tanya nya
"kamu mau punya adik ,mamah ibu mu ternyata hamil baru dua Minggu " sahut nenek nya bersemangat
"hah....kok bisa ?" tanya Riswan terkejut
"lah ya bisa lah ,orang mereka sudah menikah" seru nenek nya
"bukan gitu nek ,tapi kan mama ibu ini usia nya sudah mau hampir lima puluh apa gak akan jadi masalah kedepan nya ?" tanya Riswan
"selama kita bisa menjaga nya ,kenapa tidak ,lagipula sekarang kan sudah ada metode bedah cesar ,itu pasti aman" tutur nenek nya
"ya ampun......jadi aku di usia segini bakal punya adik " lirih Riswan
Ia jadi merasa lucu sendiri saat membayangkan jika nanti ia akan menggendong adik nya yang masih bayi ,ia pun terkekeh
"aku mau punya adik "
__ADS_1
***