
Di pagi hari matahari nampak malu menampakan cahaya nya, langit pun nampak kelabu sebab tertutup awan hitam yang tebal.
" pagi ma...pa..." ucap Ari menyapa kedua orangtua nya sambil menuruni tangga ,kedua orangtua nya yang sedang berada di ruang tengah pun mendongak pada putri nya
"pagi juga sayang .... kamu langsung saja ke ruang makan ,mama mau panggil Aranta dulu " Nuri pun beranjak
"iya ma...." sahut Ari
"sebentar ya mas ,mas juga langsung saja ke ruang makan " ucap Nuri melirik suami nya
"iya tapi jangan lama-lama nanti aku rindu " sahut Rifki
"idih papa lebay " cibir Ari
"yee....syirik aja ...." sahut Rifki seraya mengacak rambut putrinya gemas
"iiih....papa ....berantakan lagi kan " Ari pun menjauh seraya merapikan kembali rambut nya dengan sisir kecil yang selalu ia bawa kemana-mana
"ya ampun kamu ke sekolahan bawa gituan?" tanya Rifki
"gituan apa pah...ini sisir " ujar Ari
"sudah sih ,namanya juga anak perempuan ,aku juga pernah ada di fase seperti Ari ,selalu ingin terlihat rapih dan kece , kemana-mana bawa cermin dan sisir " ucap Nuri seraya berlalu meninggalkan mereka
"kamu kok centil banget sih ,pasti kamu mau terlihat kece di depan laki-laki lain ?" tuduh Rifki mengejar Nuri
"ya...namanya juga remaja ,wajar lah " sahut Nuri
"hey....aku cemburu nih " seru Rifki saat Nuri mengabaikan nya dan terus berjalan tanpa menengok
"ya ampun papa....ngapain mesti cemburu itu kan kejadian nya sudah lama benget jauh....jauuuh....dan sanggaaaaat....jauh sebelum mama bertemu papa ,ngapain pake cemburu segala sih " ucap Ari tak habis fikir dengan kelakuan papa nya ,namun papa nya itu seolah tak mendengar ucapan putri nya , perasaan nya kini berubah sendu dan kalut karena rasa cemburu nya yang tak mendasar.
"ya ampun papa...." lirih Ari seraya menggeleng kan kepala
"papa kenapa?" tanya Gibran tiba-tiba sampai membuat Ari melonjak kaget
"ya ampun kak ,bikin kaget saja untung aku gak punya riwayat penyakit jantung " seru Ari mengusap-ngusap d*da nya
"amit-amit dek , nauzubillah himindzalik " ucap Gibran
"itu papa kenapa,seperti sedih gitu" tanya Gibran lagi
"biasa lah kak ,bucin papa kumat ,jadi galau sendiri kan" sahut Ari
"haaah....ya ampun ...." ia bingung apa harus bangga atau gimana melihat sikap papa nya namun satu yang ia tahu dan harus di syukuri yaitu papa nya begitu mencintai mama nya hingga hal sekecil apa pun pasti jadi besar
"tapi kakak salut pada mama ,mama begitu hebat bisa mengimbangi dan menyikapi sikap papa yang terlewat bucin " ucap Gibran pelan
"iya kak , kalau aku jadi mama ,punya pasangan kelewat bucin cenderung posesif pasti aku sudah angkat tangan " sahut Ari
"itu karena mama juga sangat mencintai papa ,kamu anak bau kencur mana ngerti sebelum merasakan sendiri apa itu cinta " ucap Gibran
"hm....aku tahu kok rasanya jatuh cinta ,ya....meski aku belum pernah merasakan nya " sahut Ari seraya bergelayut manja pada lengan Gibran
"dasar sok tahu " ucap Gibran seraya mencubit hidung bangir adik nya itu
Sementara itu Nuri yang sudah berada di depan rumah yang di tempati Aranta pun mengetuk pintu
tok tok tok
"assalamualaikum....." meski rumah itu merupakan rumah milik nya ia tetap bersikap sopan terhadap penghuni nya tanpa harus main nyelonong begitu saja mentang-mentang itu rumah nya dan orang lain menumpang ,sebab ia tahu setiap orang punya privasi nya masing-masing ,dan akan merasa tak nyaman jika kita main nyelonong meski itu rumah kita sendiri, dengan begitu orang yang menumpang pun akan merasa di hargai.
"waalaikum salam....eh Tante aku kira siapa ,masuk tan " Aranta mempersilahkan masuk
"tak usah Tante ke sini hanya ingin mengajak mu sarapan kok ,yuk sarapan bersama " ajak Nuri
"tak usah Tante ,aku gak mau ngerepotin,sudah numpang tinggal di sini saja aku sudah makasih banget ,apalagi harus sarapan bareng" ucap Aranta tak enak
"ya ampun kamu tuh kaya sama siapa saja ,sebentar lagi kan kamu juga jadi bagian dari keluarga Tante ,jangan terlalu sungkan ah, yuk ikut " ucap Nuri seraya meraih tangan Aranta
"tapi Tante itu....aku mau matiin kompor dulu" ucap Aranta karena saat Nuri datang Aranta tengah memanaskan makanan sisa semalam
"ya sudah biar Tante saja yang matiin kompor nya ,sebentar " tanpa menunggu sahutan Aranta , Nuri sudah lebih dulu beranjak ke dapur
__ADS_1
"ya ampun Aranta ....ini ....makanan semalam belum habis ,kamu panasin...emang gak basi?" tanya Nuri karena Aranta turut di belakang nya
"hehehe..... alhamdulilah....sih enggak basi Tante,makanya aku angetin" saut Aranta
"ya sudah yuk kita ke rumah Tante ,yang lain sudah menunggu ,untuk seterusnya setiap sarapan ,makan siang ,dan makan malam harus di rumah Tante ,gak boleh sendirian" pinta Nuri mutlak tak bisa diganggu gugat
"iya....baiklah Tante ..." sahut Aranta akhirnya, akan percuma baginya jika ia terus menolak
"eh iya Tante ,aku mau nunjukin sesuatu ,sebentar " ucap Aranta saat teringat sesuatu ,gadis itu pun mengambil sesuatu yang ia temukan tadi pagi di depan pintu
"apa itu?" tanya Nuri pada bungkusan putih di tangan Aranta
"aku juga tak tahu Tante ,tadi aku belum sempat membuka nya " sahut Aranta memberikan bungkusan putih itu
Nuri meraih dan segera membuka nya ,saat benda itu sudah berada di tangan Nuri , tiba-tiba ibu dua anak itu merasakan sengatan di tangan nya yang membuat nya menjatuhkan benda tersebut
"kenapa Tante?" tanya Aranta terkejut
"sepertinya benda itu cukup berbahaya ,duh kenapa rasa nya panas sekali" ucap Nuri seraya mengibaskan tangan nya
"masa sih Tante,aku kok gak merasakan apa-apa" ucap Aranta setelah mengambil benda yang sudah terjatuh di lantai itu
"mungkin karena itu ditujukan untuk mu ,ya sudah bawa saja bungkusan itu ,kita kasih lihat ke Gibran ,dia pasti tahu sesuatu tentang benda itu" ucap Nuri
Kedua nya pun langsung menuju rumah besar di depan rumah sederhana itu ,akan tetapi saat Aranta hendak masuk ke dalam rumah sudut matanya seperti melihat seseorang yang tengah berdiri mengawasi ,ia pun menoleh namun tak ada siapa pun
"ada apa ?" tanya Nuri
"entahlah Tante ,kok aku ngerasa asa yang ngawasin aku " sahut Aranta
"apa jangan-jangan pengikut sekte nenek masih ada dan mengincar ku?" tebak Aranta
"kalau gitu kamu cepat lah masuk ,mulai saat ini kalau kamu hendak bepergian bilang pada Tante jangan pergi sendirian " ucap Nuri yang tiba-tiba mencemaskan calon menantu nya tersebut
"Wo...apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Nuri dalam hati
"tidak ada apa-apa ,tapi aku merasakan ada aura lain di sekitar tempat ini tapi kamu tenang saja jika ada sesuatu yang mencurigakan aku akan memberitahu mu " sahut Wowo
"tidak ada apa-apa,ya sudah yuk kita masuk " sahut Nuri segera membawa Aranta menuju ruang makan
"assalamualaikum...." ucap Aranta saat sudah berada di ruang makan
"waalaikum salam ...." sahut semua nya
" nah ini dia bintang tamu kita " celetuk Ari seraya beranjak mendekat pada Aranta ,Ari pun langsung meminta Aranta duduk di samping Gibran
"ya ampun Ari jangan bikin malu kakak...." lirih Aranta
"kok malu sih ,gak usah malu-malu apalagi malu-maluin nanti kak Gibran ilfeel " sahut Ari ngasal
"apa sih dek " sahut Gibran
"hehehehe...." Ari nampak cengengesan lalu kembali ke tempat duduk nya
"ya sudah yuk kita sarapan " ucap Dewi
Mereka pun segera menikmati sarapan pagi mereka
"oh iya setelah ini kalian mau ke kampus ?" tanya Rifki
"nanti siang pa, soalnya dosen aku bilang nanti siang aku di minta datang,memangnya kenapa? " sahut Gibran
"tadinya papa minta kamu wakilkan papa buat hadiri rapat para direksi nanti siang ,tapi kalau kamu tak bisa tak apa " ucap Rifki
"memangnya mas mau kemana?" tanya Nuri
"gak kemana-mana sih ,hanya ingin di rumah bersama kamu " sahut Rifki santai
"mas ..." sahut Nuri merasa tak enak pada mertua dan anak-anak nya ,apalagi saat ini ada Aranta bersama mereka
"kenapa...kalau gitu kamu ikut aku saja ke kantor ,biar kafe Agus saja yang handel,biasa nya juga gitu kan" sahut Rifki ,Agus merupakan karyawan yang paling loyal di kafe tersebut ,ia satu-satunya karyawan kafe yang masih setia bekerja di sana dari jaman nya Dewi dulu yang mengelola kafe.
"ya ampun....ya sudah deh aku ikut saja " sahut Nuri pasrah ,ia tak bisa apa-apa jika suami nya sudah kumat
__ADS_1
"kenapa efek mati suri mas Rifki masih berlanjut saja sampai sekarang bahkan makin parah " batin Nuri lirih
"kalau kamu Aranta ,apa siang kamu juga akan pergi ke kampus ?" tanya Nuri mengalihkan pembicaraan
"sebenarnya nanti jam sembilanan aku harus ke kampus " sahut Aranta
"ya sudah kalau gitu ,Gibran kamu antar saja dulu Aranta ,gak apa-apa kan ?" tanya Nuri
"iya mah...tak apa-apa kok " sahut Gibran
"bagus....tapi kamu harus ingat nak ,jangan biarkan Aranta jauh-jauh dari mu ,kalau perlu kamu tungguin Aranta di depan pintu jangan pergi kemana-mana" ucap Nuri
"memangnya kenapa mah?" tanya Ari
Nuri tak langsung menjawab ,namun matanya mengisyaratkan pada Aranta agar Aranta memperlihatkan benda yang terbungkus kain putih temuan Aranta ,Aranta pun mengerti lalu meletakan benda putih itu di atas meja ,beruntung mereka sudah selesai sarapan
"apa itu kak?" tanya Ari
"aku boleh melihatnya?"tanya Gibran ,Aranta pun mengangguk
Rifki , Dewi ,dan Ari pun diam memperhatikan ,sedangkan Gibran tangan nya segera meraih benda itu lalu membuka nya ,Gibran memicingkan mata nya melihat isi dari bungkusan itu
"ini kan....bunga kantil " ucap Gibran
"bunga kantil?" tanya Dewi dan Nuri hampir berbarengan
"iya ...bunga kantil " Gibran mengambil bunga kantil yang masih kuncup itu lalu memperlihatkan nya pada yang lain
"siapa yang menyimpan bunga kantil di depan pintu ,dan ...untuk apa ?" gumam Aranta
"jadi kau menemukan nya di depan pintu?" tanya Gibran Aranta mengangguk
"semalam aku terbangun karena ada yang mengetuk pintu " tutur Aranta
"lalu apa kakak membuka nya ?" tanya Ari
"tidak ,karena Tante Lasmi melarang nya " sahut Aranta
"tidak salah lagi " gumam Gibran
"apanya yang tidak salah lagi?" tanya Aranta yang dapat mendengar gumaman Gibran
"bunga kantil ini ditujukan untuk mengguna-gunai mu ,orang itu berharap dengan kiriman guna-guna ini kamu akan pindah ke lain hati ,yang artinya kamu menyukai pelaku pengirim guna-guna itu sendiri" tutur Gibran menjelaskan
"hah... guna-guna...." seru mereka
"iya ...semacam ilmu pelet gitu ,namanya guna-guna pemikat,dan sepertinya peristiwa semalam itu juga ditujukan untuk pengalihan agar kita tak menyadari apa yang menimpa kamu" ucap Gibran menatap Aranta
"iih....siapa sih yang sudah jahat menggangu kak Ara ,eh tapi ... peristiwa semalam , peristiwa apa ,kok aku gak tahu?" tanya Ari
"yang jelas itu suatu yang berbahaya ,untuk berjaga-jaga ,jangan lupa membaca doa sebelum tidur ,dan perbanyak ibadah mu ,agar makhluk jahat tak bisa mengganggu mu atau rumah ini,mengerti" ucap Gibran pada adik nya
"iya kak ,mengerti , lagipula aku tak pernah lupa baca doa sebelum tidur kok "sahut Ari
"eh...udah siang ,aku berangkat sekolah ya , assalamualaikum" Ari bergegas menyalami satu-persatu yang ada di sana , lalu pergi ke sekolah dengan diantar supir
"kalau gitu aku beresin ini dulu ya " ucap Aranta seraya bangkit lalu mengambil piring-piring kotor
"sudah gak apa-apa,sudah ada bibi yang kerjain ,kamu lebih baik siap-siap gih buat ke kampus biar gak terlalu mepet waktu nya " ucap Nuri ,mereka sudah tak memperkerjakan mbok Marni sebab diusia nya yang saat ini sudah tak memungkinkan untuk bekerja ,apalagi mbok Marni sudah sering sakit-sakitan ,namun bukan berarti keluarga Nuri tak lagi memperhatikan mbok Marni,justru pengobatan mbok Marni seluruh nya ditanggung oleh Rifki.
"aku juga tunggu kamu bersiap-siap ,hari ini pokok nya kamu harus ikut aku kemana pun " ucap Rifki pula
"ya ampun mas ...ya sudah tunggu sebentar ya" mau tak mau Nuri pun menuruti perkataan suami nya untuk ikut ke kantor
"ini beneran gak apa-apa aku tinggalin ?" bisik Aranta pada Gibran menujuk piring-piring kotor di meja
"udah gak apa-apa, kamu nurut saja apa kata mama ,cepat mandi nanti aku jemput " ucap Gibran seraya tersenyum
"terus itu bunga nya mau kamu apain?" tanya Aranta
"akan aku bakar "
***
__ADS_1