
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Tak lama terdengar suara sirine mobil Ambulans datang.
Pegawai rumah sakit datang dengan membawa tandu dan mengangkat pria itu ke dalam ambulans.
Pria itu di pasang selang infus terlebih dahulu dan ia pun di bawa ke rumah sakit Lio.
"Tuan, Anda beneran kan mau membangun di sini?" tanya pemilik karaoke itu memastikan.
"Iya." angguk Amar.
"Kalau begitu minta nomor Anda Tuan, biar nanti saya bisa menghubungi Anda," ucap pemilik karaoke itu.
Amar pun memberi nomornya.
"Terima kasih Tuan," ucapnya senang.
"Untuk masalah pekerja Anda tidak perlu bingung mencarinya, karena pekerja saya cukup banyak kok," ucapnya.
"Iya, iya." angguk Amar.
"Sebagai gantinya, malam ini saya gratiskan untuk kalian semua sampai pagi," ucap pemilik karaoke itu.
"Terima kasih," ucap Jun senang.
"He-he-he selamat uangku," ucap Jun mengelus dadanya.
"Cih! Uangmu itu udah numpuk di ATM. Mungkin orang di bank itu udah bosan lihat uang kamu," ucap Amar.
"Mana ada. Alneozro tuh uangnya yang numpuk, dia itu emang gila kerja. Bersantai saja dia nggak punya waktu," omel Jun.
"Emang dia kayak kamu pengangguran nggak ada kerjaan, kerjaannya cuma godain cewek mulu," ucap Amar sewot.
"Biarin aja, aku ini pengangguran tajir Men. Semua cewek akan mendekati ku, ya kan Grameisya?" tanya Jun menggoda Grameisya dengan menyipitkan matanya sebelah.
__ADS_1
"Ceh! Cewek dekat karena kamu punya uang. tampang mu mah pas-pasan," ejek Amar.
"Idih! Kamu itukan dengan ketampanan ku? Menurut kamu bagaimana Grameisya?" tanya Jun menyisir rambutnya ke depan dengan jari tangannya.
"Kalau aku mencari pun harusnya pria itu lebih kuat dari ku," jawab Grameisya melewati Jun duluan masuk ke dalam ruangan.
"Ha-ha-ha, dasar lemah," ejek Amar tertawa puas.
"Sialan kalian berdua, punya teman kok gini amat," omel Jun manyun.
"Sabar Jun," ucap Lio terkekeh.
Mereka pun kembali ke dalam ruangan tersebut, Lio membuka jasnya dan hanya meninggalkan kaos tipis di tubuhnya dan mencuci tangannya hingga bersih.
"Untung aku pakai baju 2 lapis, kalau tidak entah di mana aku cari ganti," ucap Lio.
Setelah membersihkan tangannya, ia pun kembali duduk.
"Untuk kali ini ayo Grameisya yang nyanyi," ucap Jun.
Grameisya mengambil mikrofon itu, meskipun ia tidak bisa bernyanyi, setidaknya suaranya tidak seburuk Jun.
Setelah bernyanyi, Grameisya kembali duduk.
"Suara mu nggak buruk-buruk amat, masih bisa di nikmati," ucap Amar.
Akhirnya mereka pun menghabiskan waktu malam itu.
"Eh, ini udah jam 11 malam. Saatnya aku pulang, besok aku harus sekolah," ucap Grameisya.
"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Amar.
Mereka pun keluar dari tempat karaoke itu di mana ruangan sebelah sudah di garis polisi. Orang-orang yang di hajar Grameisya juga sudah di bawa ke kantor polisi.
"Selamat malam para Tuan muda dan Nona, hati-hati di jalan," ucap pemilik karaoke itu.
Mereka pun pulang.
☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Ke esokkan paginya, Seperi biasa Grameisya sudah bersiap untuk berangkat sekolah.
Grameisya turun ke bawah dan melihat Mia dan Gladis duduk di meja makan tidak memakai seragam sekolah.
"Kalian tidak sekolah?" tanya Grameisya duduk di kursi.
"Enggak," jawab mereka serentak.
"Kenapa? Tumben?" tanya Grameisya.
"Kalau kamu mau pergi sekolah pergi aja sana," ucap mereka ketus.
Grameisya menghabiskan sarapannya dan ia pun menuju ke arah mobilnya.
Seperti biasanya juga, pak Ahmad mengantarnya ke sekolah.
Sesampainya di sekolah. Grameisya pun turun dari dari mobil. Ia pun berjalan menuju kelasnya.
Belum lagi sampai di kelas, ia di lempari dengan sampah.
"Dasar keluarga pembunuh! Kamu dan sepupumu tidak pantas bersekolah di sini!" teriak mereka yang terus menerus melemparkan sampah makanan ke arah Grameisya.
"Kalian sudah menjelekkan nama sekolah ini! Sekolah ini akan menjadi buruk di pandang orang karena kalian! Pergi dari sekolah ini!" teriak mereka.
"Kami sangat membenci kamu dan keluarga mu! Dasar keluarga pembunuh! Nggak tahu malu! Pergi kamu dari sekolah ini!" teriak mereka lagi yang mengelilingi Grameisya.
"Diaaaaaaaaaaammmmmmm!" teriak Grameisya membuat mereka terdiam sejenak.
"Hey! Yang di bunuhnya adalah keluarganya sendiri, bukan keluarga kalian juga! Kalian ini nggak ada kerja lain apa selain membully orang!" teriak Grameisya kesal.
Kalau bukan mereka anak sekolah dan mereka semua lemah, sudah ia habisi mereka semua.
"Kau kalau sadar diri lebih baik pergi dari sekolah ini! Sekolah ini tidak menerima keluarganya seorang pembunuh!" teriak mereka.
"Kalian ini! Atas dasar apa menyuruhmu pergi, kalau berani ayo kita taruhan. Kalau aku yang kalah, aku akan pergi dari sekolah ini, tapi kalau kalian kalah, jangan pernah membully lagi," tantang Grameisya.
"Oke kalau gitu, ayo kita buat rencana taruhannya," ucap mereka.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1