TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 84


__ADS_3

...☘️☘️☘️Happy reading ☘️☘️☘️...


...-...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Grameisya keluar dari ruangan tersebut dan mencari di mana ruangan Alneozro.


Ia mengambil ponselnya dan melihat ada 20 panggilan tak terjawab.


Ia menelpon Alneozro kembali.


Tuuut! Tuuut!


Tuuut! Tuuut!


"Halo," jawab Alneozro.


"Kamu di mana?" tanya Alneozro.


"Aku sudah sampai di restoran Mikayla. Kamu di ruang mana?" tanya Grameisya.


"Bukannya tadi aku sudah kasih tahu sama pelayan untuk mengantar mu ke ruangan ku?"


"Lupakan itu, keluar kamu dari ruangan mu," ucap Grameisya.


Alneozro pun keluar dari ruangannya dan melihat Grameisya sedan berada tidak jauh dari ruangannya.


Setelah melihat Alneozro, Grameisya pun memutuskan panggilannya dan mendekati Alneozro.

__ADS_1


"Ayo masuk," ajak Alneozro.


Saat masuk, Grameisya tertegun karena ada wanita lain di ruangan tersebut.


Grameisya pun duduk di sofa. Wanita itu terus menatap Grameisya dengan tatapan tidak suka.


"Oh ya, aku perkenalkan, ini adalah Alina, dia adalah teman kecilku dulu, dan tidak menyangka kami bisa ketemu di sini kembali. Dan ini Grameisya." ucap Alneozro memperkenalkan.


'Kenapa dia ada di sini? Apa kedua orang itu gagal? Benar-benar payah!' batin Alina.


Yang tadi mukanya masam berubah, ia tersenyum manis sambil mengulurkan tangan.


"Aku Alina, aku adalah seorang artis," ucapnya tersenyum ramah.


Grameisya juga ikut tersenyum, ia menyambut tangan Alina dan menyalaminya.


"Wah, sangat senang bisa bertemu dengan seorang artis. Hanya saja Anda berbeda dari artis lainnya, apa dari kecil Anda suka main becek kan ya?" tanya Grameisya mengengam kuat tangan Alina.


"Apa maksud Anda Nona?" tanyanya tersenyum dan menyipitkan matanya dengan menahan nafas.


"Sampai besar Anda main kotor di belakang," ucap Grameisya tersenyum lebar.


'Sial! Ternyata mereka beneran gagal! Mereka pasti mengatakan yang sebenarnya. Mana penggangannya sangat kuat dan sepertinya dia tidak ingin melepaskannya,' batin Alina.


"Oh, itu ya, biasalah," ucap Alina menarik tangannya. Grameisya nampak tersenyum licik dan setelah puas ia pun melepaskan tangan Alina.


Tangan Alina memerah. Ia menyimpan tangannya di bawah meja agar Alneozro tidak melihatnya.


Jika Alneozro melihatnya ia pasti akan bertanya ada apa dengan tangannya. Dengan begitu Grameisya pasti akan mengatakan yang sejujurnya dan terbongkar masalahnya.

__ADS_1


'Sial! Jari-jari ku hampir patah,' batinnya sambil menahan sakit.


"Oh ya, aku ke toilet dulu ya," ucap Alina berdiri dan ia buru-buru pergi.


"Iya, hati-hati ya jangan sampai nabrak pintu, semoga harimu bahagia selalu," ucap Grameisya.


Alina menatap Grameisya tajam, tanpa sadar ia beneran menabrak pintu.


Buk!


"Auuu!"


"Alina, kamu tidak apa-apa?" tanya Alneozro berdiri.


"Iya, aku tidak apa-apa," jawabnya sambil membuka pintu dengan memegang keningnya yang benjol.


Ia pun buru-buru menghilang.


"Kurang ajar! Mereka harus di beri pelajaran karena sudah mengatakan yang sebenarnya!" denggus Alina geram, ia mencari kedua orang tersebut.


"Kamu perhatikan sekali dengan dia," ucap Grameisya.


"Dia itu sudah seperti adikku sendiri," jawab Alneozro.


"Itu bagi mu, tapi tidak dengannya, dia menyukai mu," ucap Grameisya.


"Tapi aku tidak menyukainya."


"Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Grameisya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa menyukai seorang adik. Sudahlah, aku belum pesan apa-apa karena menunggu mu," ucap Alneozro.


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2