TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 47


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Oh, dia sedang terluka, jadi aku membawanya ke rumahku untuk di obati, jika telah baikan maka aku akan antar dia pulang," jawab Alneozro.


"Baiklah kalau begitu. Tolong jaga dia Tuan, maaf merepotkan Anda," ucap kakek Andes.


"Tidak masalah," ucap Alneozro.


Alneozro pun memutuskan panggilannya.


"Anda sudah dengarkan, jadi pulanglah dulu, Anda tenang saja, saya akan menjaganya dengan baik," ucap Albazero.


Pak Ahmad menarik nafasnya. "Ya sudah aku pulang dulu, tolong jaga Nona baik-baik," ucap pak Ahmad pergi dengan lesu.


Alneozro mengangguk. "Aku pasti akan menjaganya."


Setelah pak Ahmad pergi, Alneozro pun masuk ke dalam kamar dan ia terkejut saat melihat Grameisya sedang tidak berpakaian. Ia pun langsung menutup matanya.


Dari celah tangannya, Alneozro mengintip jika Lio benar-benar menutup matanya dengan kain.


❤️❤️❤️❤️


Setelah selesai, Lio menarik selimut dan menyelimuti Grameisya. Tak lupa tangan Grameisya ia infus agar ada cairan masuk ke dalam tubuh Grameisya.


Ia pun membuka penutup matanya.


"Selesai," ucap Lio berdiri dan saat berbalik badan, ia melihat Alneozro yang sedang membelakanginya.


"Hey! Dia sudah aku obati," ucap Lio membuat Alneozro tersadarkan.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan transfer uangnya nanti," ucap Alneozro.


"Oke, jangan lupa, 4 digit," ucap Lio tersenyum. Ia pun meninggalkan kamar Alneozro.


"Kau jangan pergi jauh dari rumah ini," ucap Alneozro.


"Iya aku tahu, aku hanya ingin keluar dari kamar untuk menghirup udara segar agar tidak pengap melihat kalian romantis," ucap Lio terkekeh.


"Mau ku sikut," ucap Alneozro pasang badan.


"Enggak!" teriak Lio kabur.


Alneozro berjalan mendekati Grameisya dan duduk di sisi ranjang sambil menatap Grameisya dalam.


'Entah mengapa, perasaan setelah bertemu dengan mu aku merasa ada yang aneh. Perasaan ingin selalu dekat dengan mu, perasaan yang merindukan mu. Aku akan mencari jawaban tentang perasaan ini,' batin Alneozro.


"Eh, di mana ini?" tanya Grameisya ingin duduk.


"Jangan bergerak dulu, kamu masih keadaan terluka," ucap Alneozro menahan bahu Grameisya.


"Kamu? Kenapa aku ada di sini?" tanya Grameisya.


"Kamu tidak ingat ya setelah kamu di ring tinju tadi? Kamu nggak sayang badan apa," omel Alneozro.


"Aaaaaaaaaaaaa!" terima Grameisya panik.


"Eh, ada apa?" tanya Alneozro ikut panik.


"Apa yang kamu lakukan padaku!" teriak Grameisya melempar bantal ke arah Alneozro.

__ADS_1


"Emangnya aku melakukan apa?" tanya Alneozro bingung.


"Kamu menyentuh ku ya!" seru Grameisya terbelalak.


"Kamu ini, kamu lihat tubuhmu itu. Tubuhmu itu di perban, tidak ada yang melihat tubuhmu itu, kau ku bawa ke sini untuk di obati saja," jelas Alneozro.


"Jadi siapa yang membuka baju ku?" tanya Grameisya kembali tenang.


"Oh, temanku, dia seorang dokter. Sebentar aku panggilkan dia." Alneozro kembali keluar dari kamar dan memanggil Lio.


"Lio! Dia sudah bangun!" teriak Alneozro.


"Oh sudah bangun ya, kalian tidak mesraan dulu?" tanya Lio menyeruput kopi hitamnya dan kemudian ia berdiri untuk menuju kamar Alneozro.


"Kau ini bicara apa? Cepat sana periksa!" perintah Alneozro.


"Kau ini, kita itu adalah temanan, tapi kau suka memerintah," ucap Lio manyun.


"Hay Nona Grameisya, sudah bangun ya?" tanya Lio datang mendekat.


"Oh, jadi kau yang membuka baju ku?" tanya Grameisya.


"Iya Nona." angguk Lio tersenyum.


"Ku bunuh kalian berdua!" teriak Grameisya.


Bak!


Buk!

__ADS_1


__ADS_2