
Grameisya pun pergi dari kantin tersebut.
"Eh tunggu!" panggil Alneozro membuat Grameisya memberhentikan langkahnya.
"Aku ke sini untuk menemui kamu, masa kamu mau pergi aja," ucap Alneozro.
"Kan kita bisa ketemu di perusahaan mu, ngapain kamu ke sini?" tanya Grameisya menatap Alneozro datar.
Alneozro tersenyum. 'Sebenarnya aku ada urusan dengan sekolah ini kok, sampai ketemu di perusahaan nanti," ucap Alneozro meninggalkan Grameisya.
Grameisya menatap punggung pria itu pergi ke kantor kepala sekolah bersama beberapa pengawalnya.
'Entah mengapa setelah kejadian itu, aku merindukan mu. Entah ini perasaan suka atau kagum,' batin Alneozro.
'Dia pergi begitu saja? Benar-benar kaku,' batin Grameisya berbalik badan dan menuju kelasnya.
Para murid yang di kantin tadi ramai, mereka pun bubar karena Alneozro sudah pergi.
Beberapa orang masuk ke dalam kelas tiba-tiba saja mengebrak meja Grameisya.
__ADS_1
Brakkk!
"Dasar perempuan murahan! Beraninya kamu dekatin Tuan Alneozro ku! Kamu itu sadar diri nggak? Kamu itu nggak pantas dekat sama dia!" teriak seorang wanita yang tiba-tiba saja marah-marah padanya.
Grameisya menatap wanita itu datar.
"Heh! Dia ingin dekatnya sama ku, kamu iri?" tanya Grameisya sambil melipat tangannya tersenyum sinis.
"Nggak boleh! Seharusnya kamu sadar diri dan menjauh! Kamu itu jelek! Hanya aku yang pantas. Aku dan dia sedang ada kerja sama perusahaan, jadi kamu jangan dekat-dekat lagi dengannya!" seru wanita itu geram.
"Itu urusanmu, kalau dia sukanya sama aku kenapa emangnya? Kalau kau punya kerja sama dengannya kenapa dia nggak dekat samamu? Atau kau tidak menarik ya? Atau kau bukan tipe dia, tapi justru seperti ku adalah tipe dia," ucap Grameisya tersenyum sinis dengan tangan di dagunya.
"Oh ya? Kau pikir aku takut ancaman mu itu? Hm ... begini saja, mari kita bertaruh, kalau kamu menang aku tidak akan dekati dia lagi. Tapi jika kamu kalah, jangan pernah ganggu aku. Apa kamu setuju?" tantang Grameisya.
"Oke! Aku setuju," ucap gadis itu dengan mata berapi-api.
"Hm ... ayo tinju di ring," ajak Grameisya.
"Apa! Oh tidak masalah, aku terima," ucap gadis itu bercekak pinggang.
__ADS_1
"Tidak perlu kau yang bertarung, tapi cari teman terkuat mu, aku tunggu di tempat latihan tinju pulang sekolah ini," ucap Grameisya.
"Ha-ha-ha, kau yakin? Sok kuat. Kalau kalah nanti jangan menangis ya!" ucap gadis itu.
Grameisya menaikkan bahunya sambil mencibir.
"Ayo kita pergi. Salahkah dia menyuruh kita mencari orang yang kuat. Nanti kita habisi dia babak belur hingga Tuan Alneozro tidak ingin mendekatinya lagi," ucap gadis itu.
"Heh! Dengan begini aku bisa berlatih untuk menjadi kuat lagi. Jadi sarung tinju kok senang," ucap Grameisya menaikkan sudut bibirnya.
Tak lama, guru pun masuk ke dalam kelas. Para murid mengikuti pelajaran. Hari ini pelajaran tentang perusahaan.
Grameisya duduk sambil melihat keluar jendela. Saat ini ia sedang tidak ingin belajar, dalam hatinya masih tersimpan dendam yang mendalam.
Rasanya jika tidak membuat mereka menderita rasa sakit ini tidak akan terbalaskan.
Mereka sangat kejam, ia yang paling banyak berjuang untuk agen rahasia, sayangnya ia menjadi tumbal di sana.
Grameisya menarik nafasnya dan kembali melihat ke layar proyektor.
__ADS_1