
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Keluar? Gimana caranya?" tanya Defli bingung. Karena di luar sana ada beberapa penjaga dengan tubuh besar dan mereka punya senjata tajam.
"Kau nggak mau kan tinggal di sini lebih lama?" tanya Grameisya.
"Iya, aku nggak mau, tapi caranya gimana?" tanyanya pelan.
"Udah, ayo ikut saja," ajak Grameisya.
Sedangkan yang lain menangis meratapi keadaan mereka.
Grameisya mendekati pintu itu dan mengetuknya.
Semua remaja yang tadinya menangis mereka terdiam saat melihat Grameisya.
"Sedang apa dia?" tanya mereka dengan suara pelan kepada remaja sebelahnya.
"Entahlah. Apa dia ingin mencoba untuk keluar?" tanya mereka heran.
"Bagaimana bisa? Mereka punya senjata, kita keluar bisa di bunuh oleh mereka," ucap mereka.
Grameisya mendengar suara yang ia ketuk. Tidak terlalu padat, berarti masih berongga. Itu menandakan jika tembok yang ada di depannya tidak terlalu kuat.
__ADS_1
Grameisya mundur kebelakang dan ia menendang pintu tersebut.
Duak!
Duak!
Karena mendengar suara tendangan pintu tersebut, penjaga itu merasa terganggu.
"Hey! Apa yang kalian lakukan!" teriak pria yang menjaga pintu itu.
"Oh ada yang menjaga rupanya di depan," ucap Grameisya tersenyum.
Grameisya pun ingin menendangnya lagi.
"Berhenti!" Teriak mereka.
"Jangan lakukan itu atau kita semua akan di bunuh!" pekik seorang remaja perempuan itu, matanya sembab karena terus menangis.
"Kau tidak mau keluar?" tanya Grameisya.
"Siapa yang tidak mau keluar? Tapi dari pada mati lebih baik terkurung, setidaknya jika kita di jual, kita akan punya waktu lain kali untuk kabur," ucap remaja itu.
"Lain kali? Aku nggak punya waktu lain kali, kalian tidak mau keluar ya sudah, jangan menghalangi ku untuk keluar," ucap Grameisya.
"Tapi kamu yang seperti ini membuat kami juga ikut terbunuh!" teriaknya dengan mata memerah.
"Kalau kalian tidak mau ikut terbunuh, sana duduk di pojokan, diam dan lihatlah," ucap Grameisya kesal.
__ADS_1
Duak!
"Jangan lakukan!" teriaknya lagi.
Deval dan Pak Ahmad datang ke warung tersebut dan mampir ke warung tersebut.
Penjual itu berdiri saat melihat pria yang tadi sore datang ke warungnya.
"Di sini tadi Tuan, dia bilang mau beli minuman itu," ucap Pak Ahmad.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya penjual itu melayangkan senyumannya.
"Pak, apa Nona yang tadi sore beli minuman di sini ada lewat lagi?" tanya Pak Ahmad.
"Hm ... tidak ada Tuan, saya tidak lihat," jawab penjual itu mengelengkan kepalanya seolah-olah dia beneran tidak tahu.
"Masa iya nggak ad lihat Pak, kan warung bapak cuma sendiri di sini, tidak ada orang lain," ucap pak Ahmad.
"Iya Pak beneran saya nggak lihat, apa bapak curiga kalau saya yang menculiknya?" tanya penjual itu.
"Bukan begitu, masalahnya dia membeli minuman di sini, tapi setelahnya nggak keluar-keluar lagi," ucap pak Ahmad melotot.
"Iya, tapi saya beneran nggak tahu dia kemana setelah membeli minumannya. Setelah dia pergi bisa jadi dia di tangkap orang yang lewat," ucap penjual itu.
"Mana ada orang lewat tadi," ucap Pak Ahmad.
"Tuan-tuan, kalian datang untuk menyalahi saya karena Nona kalian tidak bisa di temukan. Saya tidak terima kalau Anda menuduh saya, akan saya hubungi polisi atas nama pencemaran naik baik," ucap penjual itu.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...