
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Karena saking sakitnya, pria itu pingsan.
Mereka semua berdiri melihat ke arah Grameisya lalu berlutut.
"Terima kasih karena sudah membantu kami," ucap mereka hampir bersamaan.
"Tidak perlu berterima kasih, karena aku hanya menolong diriku sendiri," ucap Grameisya.
"Tidak! Kau yang menolong kami, jika tidak,tidak mungkin kau menyuruh kami untuk keluar dari ruangan itu. Kami tidak tahu harus membalas kebaikan mu bagaimana," ucap salah satu antara mereka.
"Ah, tidak perlu. Tapi kalian harus datang ke kantor polisi untuk mengurus masalah ini. Katakan pada polisi kalau kalian semua yang menghabisi mereka karena aku tidak ingin terlibat dengan polisi," ucap Grameisya.
"Kenapa begitu? Kalau polisi tahu kamu kan bisa mendapat penghargaan dari polisi karena memberantas kejahatan," ucap mereka.
"Malas, urusannya ribet. Ya sudah, kalian pulanglah, ini sudah larut. Pulanglah kalian beramai-ramai agar tidak ada lagi penculikan," ucap Grameisya.
Krucuk!
Krucuk!
"Hm ... sepertinya ada roti di warung itu, ayo makan dulu," ucap Grameisya menggaruk pipinya yang tidak gatal itu.
__ADS_1
"Boleh di makan kah?" tanya yang lain.
"Boleh lah, kan kemaren kita makan roti itu kemaren di beri oleh mereka," ucap temannya.
Mereka pun mengambil roti dan memakannya karena lapar.
"Perut ku sudah terisi, aku pulang dulu," ucap Grameisya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi pahlawan, kalau boleh tahu siapa nama mu?" tanya mereka.
"Grameisya, ingat ya, namanya Grameisya," sela Defli.
"Ish kau ini," ucap Grameisya. Ia pun melangkahkan kakinya pergi dari warung tersebut. Sedangkan mereka masih menikmati roti dan makanan yang ada di warung itu.
"Grameisya! Tunggu!" teriak Defli berlari mengikuti Grameisya.
"Lain kali kau jangan kabur-kabur lagi," ucap Grameisya.
"Sudahlah, lupakan Papamu. Dia bukan panutan yang harus kau ikuti, jalani saja hidupmu sebagai mana semestinya. Karena kita harus berjuang sendiri kalau mau hidup, tidak akan ada yang benar-benar peduli tentang kita," ucap Grameisya.
"Jika Papa ku tidak bisa di jadikan panutan, tapi ada kamu yang menjadi panutan ku," ucap Defli tersenyum.
"Terserah kau saja," ucap Grameisya datar.
☘️☘️☘️☘️☘️
Perjalanan yang cukup lama itu, akhirnya mereka pun sampai di rumah waktu subuh.
__ADS_1
Ting tong!
Ting tong!
"Eh, siapa itu subuh-subuh begini?" tanya Bi Ena penasaran. Ia pun menuju pintu utama.
"Bi Ena, tunggu dulu! Biar aku yang membuka pintunya, takutnya ada orang jahat," ucap pak Ahmad.
Pelan-pelan Pak Ahmad membuka pintu dan melihat Grameisya dan Defli pulang.
"Ya ampun Nona, akhirnya Anda pulang juga," ucap pak Ahmad senang hingga matanya berkaca-kaca.
"Nona, syukurlah Anda baik-baik saja," ucap Bi Ena yang langsung memeluk Grameisya.
"Aku nggak ada yang nyambut kah?" tanya Defli.
"Udah ayo masuk Nona, Tuan Muda," ajak Pak Ahmad.
"Ayo Nona, Tuan muda duduk dulu, saya buatkan teh hangat ya biar tidak masuk angin," ucap Bi Ena.
Tok! Tok!
Tok! Tok!
"Tuan! Tuan! Nona Grameisya susah pulang!" panggil Pak Ahmad.
"Apa! Grameisya sudah pulang?" tanya Deval yang langsung terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Ia pun buru-buru keluar dari kamarnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...