
Happy reading 🥰🥰
-
❤️❤️❤️
"Aku tidak mengenal kamu lagi Grameisya," ucap Defli pergi meninggalkan Grameisya.
"Tentu saja aku bukan orang yang kau kenal lagi karena aku bukan Grameisya," ucap Grameisya manyun.
Grameisya beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam mobil dengan wajah yang di tekuk.
Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan menuju ke sekolah.
Tririt! Tririt!
Tririt! Tririt!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Grameisya.
"Jangan lupa, pulang sekolah nanti ke rumah ku, kita latihan."
"Dia ini nggak kerja kah? Kok punya waktu untuk menemani ku latihan?" tanya Grameisya.
Ia menyimpan ponselnya kembali.
Tak lama kemudian ia pun sampai di sekolah. Grameisya turun dari mobilnya dan menuju ke sekolah.
Semua mata memandang ke arahnya dan mereka sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
"Mereka ini kenapa sih?" tanya Grameisya merasa heran.
Grameisya masuk ke dalam kelasnya, mereka semua sedang fokus melihat video.
Mereka melihat video itu sambil melihat Grameisya dan berbisik-bisik.
"Ah, biarkan saja," ucap Grameisya yang tidak terlalu peduli dengan mereka yang tampak aneh hari ini.
Seorang datang mendekati Grameisya sambil tersenyum sinis.
"Hey Grameisya, kau tidak kasihan melihat sepupumu itu? Benar-benar menyedihkan," ucap mereka sambil terkekeh mengejek.
Grameisya menekuk alisnya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang sebenarnya ingin kalian katakan?" tanya Grameisya.
"Kamu nggak lihat video yang sedang viral itu?" tanya mereka tertawa menyedihkan.
Ia melihat video Mila yang di jambak oleh seorang wanita dan terlihat Yessy menangis.
Sumpah serapah keluar dari mulut wanita itu mengatakan jika Mila pelakor.
"Mereka benar-benar jadi gelandangan sekarang," ucap Grameisya pelan.
"Kalian keluarga benar-benar parah ya? Bahkan salah satu keluarga kalian jadi pelakor, apa semenyedihkan itu hidup kalian sekarang?" tanya mereka merendahkan.
"Aku tidak punya urusan pada kalian, jadi aku tidak perlu menjawabnya," jawab Grameisya membaringkan kepalanya di meja.
"Bilang saja kau malu sekarang, Ha-ha-ha, kalau keluarga mu sudah sudah sekarang, kau dan para sepupumu tidak bisa sekolah di sini lagi, secara kan sekolah di sini mahal. Orang miskin mana boleh bersekolah di sini," ucap mereka tertawa.
__ADS_1
"Cih! Kalian ini berisik kali ya! Sudah ku bilang, ini adalah masalah keluarga ku. Atau mungkin kalian berbaik hati ingin membiayai sekolahku," ucap Grameisya tersenyum.
"Ogah, rugi membiayai kamu," ucap mereka manyun.
"KALAU NGGAK MAU NGGAK USAH BERISIK! Pergi sana!" usir Grameisya kesal.
"Yuk kita pergi, toh nggak lama lagi dia juga bakal pergi dari sekolah ini, nggak sakit lagi mataku melihat dia," ucap mereka.
Setelah mereka pergi, Grameisya kembali memutar video itu dan melihat keadaan mereka sekarang.
Mereka benar-benar kacau sekarang, entah apa lagi yang mereka lakukan di luar sana.
"Sial! Mila setelah keluar dari rumah masih saja membuat masalah! Moga saja Tuan Alneozro tidak melihat video ini. Tapi bagaimana ia melihatnya? Kira-kira kerja sama ini bisa di pertahankan atau tidak," ucap Andes berpikir keras.
"Tante Mila ini benar-benar memalukan! Dia malah jadi pelakor! Pantas saja mereka melihatku terus," ucap Gladis membanting ponselnya karena geram.
Kini video itu telah menyebar membuat angka persentase perusahaan Andes menurun.
Para wartawan mulai mendatangi perusahaan Andes.
"Tuan! Tuan! Para wartawan datang ke perusahaan," ucap Sekretarisnya datang dengan tergopoh-gopoh.
"Apa! Wartawan datang ke sini? Sial! Ini pasti akan menjadi sulit, apa yang harus aku katakan pada wartawan itu," ucap Andes kesal.
"Kalian para petugas keamanan jaga di depan gerbang, bilang aku tidak ada di perusahaan," ucap Andes.
"Baik Tuan," ucap Sekretarisnya.
Sekretaris menghubungi petugas keamanan agar mereka tetap menjaga para wartawan agar tidak masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kenapa jadi seperti ini!" teriak Andes membanting pas bunga yang ada di meja u ke lantai hingga pecah.
Petugas keamanan menghubungi sekretariat kalau para wartawan semakin banyak dan mereka masuk ke dalam secara membabi buta.